
"Dengan berat hati saya memutuskan pengunduran diri dari bimbingan ini. Saya mempunyai alasan untuk hal ini. Mohon Pak pembimbing bisa memahami kondisi saya dan terimakasih karena sudah memberi saya kesempatan untuk di promosikan menjadi asisten direktur di perusahaan ini."
"Sayang sekali, kau cepat tanggap dan sangat pandai, Lalis. Tapi jika itu kemauanmu maka saya tidak bisa melakukan apa-apa. Konfirmasi direktur juga menyetujui jika kau ingin keluar dari bimbingan ini," ucap Pak pembimbing.
Setelah memantapkan keputusannya, Lalis bisa lega serta banyak sisa waktu yang akan ia habiskan untuk menemukan kakaknya.
Begitu berita sudah sampai di mulut karyawan, tidak akan ada yang mereka lewatkan di obrolan grup. Mengingat Lalis pernah mendapati rumor waktu itu, kali ini lebih dari sekedar rumor.
Obrolan grup semuanya mengarah ke Lalis yang sudah mengundurkan diri.
Lalis tidak lagi merasa tertekan, ia akan telan semuanya tanpa mempedulikannya.
Great mengirim pesan lewat HP.
*Jangan khawatir, aku segera membungkam mereka*
Lalis sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia membiarkan apa yang ingin dilakukan Great.
Tapi akhirnya berita itu tertutup karena karyawan membicarakan teman Pak Great yang baru saja masuk ke ruang direktur. Lalis jadi penasaran siapa yang dimaksud karyawan sehingga mereka begitu heboh membicarakannya.
"Katanya dia teman masa kecil Pak Great. Mereka tumbuh bersama seringkali disebut kembar karena banyak kesamaan dari mereka," ujar Bu Saka yang mengejutkan Lalis.
"Apa pengunduran dirimu lancar, Lalis?" tanya Bu Saka.
"Ya. Semoga keputusan saya tidak akan membuat saya menyesal."
Bh Saka hanya mengangguk. "Sejak kapan kalian bisa dekat satu sama lain?"
Lalis bingung. Apa yang dimaksud Bu Saka adalah dirinya dan Great?
"Saya tidak pernah melihat Pak Great seakrab itu dengan orang lain. Bahkan dengan Pak Joy juga saya tidak pernah melihat Pak Great seakrab ketika sedang bersamamu," lanjut Bu Saka.
"Itu- kami tidak sedekat itu," jawab Lalis.
"Sudahlah. Saya sudah tahu,"
Lalis tidak menghiraukan Bu Saka. Ia lebih kepikiran siapa yang dimaksud teman Great tadi. Lupa kalau dia tidak menanyakan cewek apa cowok ke Bu Saka.
Dan benar saja. Lalis menunggu notif dari Pak Great, biasanya sebelum istirahat siang, Great akan menanyakan dimana Lalis makan. Tapi sekarang tidak. Ia semakin penasaran seperti apa teman Great hingga bisa membuat Great melupakannya.
Ia tunggu sampai kerjaan kantor beres, tetap saja tidak ada notif Great. Biasanya Great akan bertanya pulang dengan siapa tapi sekarang tidak ada notif sama sekali sejak tadi pagi.
Sampai pulang ke rumahnya pun ia terus memikirkan teman Great. Menunggu sebuah notif saja lelah apalagi menunggu jawaban.
Jemin yang tengah belajar harus terganggu karena Lalis terus membuatnya tidak fokus.
"Kak kenapa, sih? kalau ngemil yang bener dong. Jangan kaya anak kecil," kritik Jemin yang merasa terganggu.
Bagaimana tidak keganggu, suara krik-kriuk Lalis saat makan snack terdengar menjijikkan. Beruntung yang sedang bersamanya adalah adiknya.
"Iya, iya."
Daripada memikirkan hal yang membuatnya terbebani, mending ia tidur lebih awal.
Besok hari minggu. Setiap minggu Lalis selalu rutin lari pagi keliling taman di belakang apartemennya. Terkadang Great suka muncul tiba-tiba saat lari, mungkin Lalis harus menunggu hari esok agar bisa bertemu dengan Great.
Dugaan Lalis benar. Keesokan harinya di pagi hari setelah tiga putaran keliling taman, Great menyamakan ritme larinya dengan Lalis. Betapa sumringahnya hati Lalis namun ia tidak memperlihatkan rasa senang itu.
Mereka tersenyum sebagai tanda sapaan di pagi hari.
"Aku tidak heran jika tinggi badanmu sangat bagus," ujar Great.
"Kakak saya lebih tinggi, saya hanya ingin seperti kakak saya," jawab Lalis dengan nafas yang masih stabil.
"Bagaimanapun tinggimu lebih cocok jika berpasangan denganku."
Tahan dulu jika jantungmu ingin berdebar, Lalis!
Lalis terdiam karena tidak tahu harus jawab apa.
"Oh, ya. Jam berapa kamu mau ke rumah sakit?"
"Sekitar pukul 2 nanti,"
"Minggu ini aku tidak bisa jenguk,"
Meskipun tidak berharap, tapi mendengar hal ini membuat Lalis terkejut. Lalis terdiam.
"Aku tidak pernah mendengar Pak Great tidak bisa kecuali hari ini," batin Lalis.
Untuk bertanya 'kenapa?' pun Lalis merasa tidak berhak karena ada batasan di antara mereka.
"Lagipula Pak Great selalu menemaniku menjenguk ibu tiap minggu," batin Lalis.
"Iya. Tidak masalah. Lagipula setiap minggu Pak Great selalu menemani saya," jawab Lalis.
"Kamu tidak tanya alasannya?" tanya Great.
Entah mengapa Lalis merasa lemas padahal baru 5 putaran, biasanya 10 putaran pun ia kuat. Bukan soal Great kan alasannya?
Akhirnya Lalis terhenti dengan nafas ngos-ngosan. Great juga kaget padahal baru 5 putaran.
"Ayo duduk dulu, sepertinya kau sudah lelah," ajak Great.
"Memangnya Pak Great mau kemana?" tanya Lalis setelah merasa berhak karena Great seolah membuka pintu pertanyaannya.
"Temanku datang dari Eropa, dan ada hal penting yang perlu kami bicarakan," jawab Great.
Wajah Lalis menahan rasa tidak senang, ia gelisah, tatapannya tidak naik, terus melihat ke tanah sejak duduk tadi. Entah cemburu jika teman Great cewek, tapi kenapa Lalis peduli hal itu. Mau cewek atau cowok itu bukan urusannya, lagian Lalis punya pacar.
"Cewek atau cowok?"
Setelah bertanya hal ini Lalis tersadar. Bukankah akan sangat jelas terlihat tidak senang jika Lalis mengatakan hal itu. Great terdiam sejenak sampai akhirnya ia tersenyum kesenengan mengira Lalis akan cemburu jika temannya cewek.
"Temanku cowok, dia bernama Willie. Sebenarnya dia pulang sebulan yang lalu tapi karena banyak urusan di tanah air, ia baru menemuiku kemarin."
Lalis membuang nafas lega karena jawaban Great adalah hal yang ingin ia dengar.
"Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Bisakah kita ke luar nanti malam,"
***
Kediaman Great Joul.
"Apa kau punya kembaran?"
Great tercengang dengan pertanyaan Willie yang menurutnya tidak masuk akal.
Willie memberi sebuah polaroid poto kepada Great, langsung diterima Great.
Keningnya mengerut, siapa wanita yang terbaring sakit di poto ini.
"Dia terlihat mirip denganmu jika dilihat secara langsung," ujar Willie.
"Siapa dia?" gumam Great.
"Bora Kirei," ucap Willie.
Jadi ini yang ingin dibicarakan oleh Willie, dia bilang ini lebih penting dari apapun bagi Great. Dan memang iya, bahkan membuat Great merasa terbebani.
"Kakek menyuruhku untuk tidak bilang kepada siapa-siapa jadi jangan lakukan apapun agar aku bisa aman dari kakek," lanjut Willie.
Great masih terdiam sambil terus mengamati poto itu.
"Aku merasa aneh dengan kakek karena dia dengan sukarela merawat wanita asing di kediamannya secara tersembunyi. Bukankah kau juga merasa aneh,"
"Kau benar. Papa tidak mungkin bertindak tanpa ada alasan," jawab Great.
Great bangkit, tapi Willie menghentikan Great setelah langkah kaki pertamanya.
"Bukan ini saja. Kamu harus tahu kejadian sebulan lalu saat aku menemukan wanita di poto itu," ujar Great.
"Kita akan pergi tanpa sopir. Ikutlah denganku," ujar Willie sambil berjalan melewati Great yang masih terdiam di tempat.
Merasa Great berhak tahu, Willie mengajak Great ke tempat dimana terjadi kecelakaan waktu itu.
"Tunggu, aku pernah melewati jalan ini sebelumnya," ucap Great.
"Kau pernah ke pedesaan?" tanya Willie.
Tentu pernah, malam itu kan ia mengantar Lalis ke rumah ibunya saat mendapat kabar kecelakaan. Seharusnya ia diam dulu untuk saat ini. Yang ditunjukkan Willie lebih penting.
"Nanti aku ceritakan," jawab Great.
Willie tidak hanya memberitahu tempat dan waktu ia menemukan wanita itu. Ia bahkan menggambarkan sesuai dugaannya bagaimana awal mula kecelakaan itu terjadi.
Meskipun ia tidak melihat dan menyaksikan waktu penyelidikan, tapi ia yakin dengan dugaannya.
"Polisi tidak bisa menemukan dia karena posisinya terkurung dedaunan serta jauh dari jangkauan orang-orang. Ini sepertinya bukan tanpa sengaja," ujar Willie.
Ia menunjukkan tempat wanita itu terbaring penuh luka dan darah, menjelaskan bagaimana polisi tidak bisa menemukannya, dan menduga bahwa ini bukan hanya kecelakaan saja.
"Lalu bagaimana kamu bisa menemukannya?" tanya Great.
Mereka sampai rela turun ke jurang hanya karena ingin mengungkap sebenarnya apa yang terjadi kepada wanita itu yang tak lain Bora Kirei.
"Ada kejanggalan, meskipun sulit dijangkau orang-orang, tapi darah dari tubuh dia menyebar, dengan itu saja bisa dijadikan petunjuk letak korban ada dimana," jawab Willie.
Great paham. Mereka kembali ke atas.
"Si korban akan pergi ke desa, arah itu menuju pedesaan. Kejanggalan lainnya adalah, kendaraan di sini tidak seramai di kota, bukan? di sini juga tidak terbilang rawan, jalanan lurus tidak ada belokan selain perempatan di depan."
"Dengan artian bahwa korban bukan kecelakaan, dan ... ada petugas palsu di sini?"
Bukan bertanya kepada Willie, justru Great menduga bahwa ada petugas atau polisi palsu untuk ikut campur kasus ini.
"Kenapa kau bisa ada di sini waktu itu?" tanya Great.
"Aku turun ke lapangan untuk memastikan. Sepertinya aku dan dia akan ke tempat yang sama,"
Great tidak melihat jejak-jejak kecelakaan di sini, mungkin karena waktu itu ia kembali ke ibukota pukul 3 dini hari. Mungkin penyelidikan dilanjut esoknya.
"Sekarang bertindaklah dan cari tahu," titah Willie.