Your Name

Your Name
Malam Menghangatkan



'Kabar yang tak selesai menjadi pembicaraan masyarakat, yaitu produk TL Income yang diduga mengandung obat agar orang yang mengonsumsi dan menggunakannya ketagihan. Dikabarkan hari ini direktur TL Income akan melaporkan pihak yang menyebarkan fitnah dan menangkap siapa orang yang bertanggung jawab atas produksinya.'


"Hanya satu skandal tidak akan membuat citra TL Income buruk. Semua orang tahu siapa pemilik dan direktur perusahaan itu."


"Setidaknya aku berhasil membuat produk baru meluncur tanpa nama baik. Aku bisa mencegah peluncuran beberapa produk lagi. Terutama 5 persen saham sudah didapatkan oleh temanku."


"Apa kau meminta bantuan orang lain?"


"Tidak. Aku yang membantunya, ayahnya menginginkannya jadi aku membantu seidikit."


"Berhati-hatilah saat di kantor. Sebelum kau dipilih sebagai asisten direktur, kau harus waspada dan terus amati semua yang dilakukan Great di kantor."


"Dia pasti memilihku. Setidaknya sainganku tinggal satu. Keputusan Lalis keluar dari bimbingan untuk promosi calon asisten direktur membuatku lega dan lebih mudah menjalankan tugas."


"Bagus,"


"Kak Jov. Aku ingin berhadapan dengan ayahnya, Kevin Joul."


"Tidak boleh sekarang."


***


Great mengurut keningnya pening. Ia mengambil HP lalu menelpon Joy skertarisnya.


"Bagaimana? sudah selesai?" tanya Great.


^^^"Awak media sudah kami bungkam. Beberapa orang sedang saya kirim untuk mengamati setiap pabrik milik perusahaan di tanah air."^^^


"Amati karyawan yang mencurigakan, dan lihat data karyawan yang ke luar. Kita harus pastikan apakah ada karyawan yang menjadi pengkhianat."


^^^"Baik, Pak."^^^


Malam sudah berlalu tapi masalah tetap mengelilingi kepala Great. Selama ia bekerja puluhan tahun, tidak ada hal seperti ini. Bahkan citra perusahaan hampir rusak di mata masyarakat karena skandal tidak jelas itu.


Deringan HP Great terdengar nyaring. Ayahnya menelpon.


"Iya, Pa."


^^^"Selesaikan dengan baik pekerjaanmu! Jangan sampai citra perusahaan menjadi buruk. Kenapa denganmu? kau tidak seteledor ini sebelumnya?"^^^


"Aku sedang menyelidikinya. Jangan membuatku pusing, Pa."


^^^"Jangan jadi manja hanya karena papa membiarkanmu. Papa hanya menunggumu lekas sembuh. Dan ... jangan bilang hanya karena Lalis kau-"^^^


"Diam, Pa. Ini bukan tentang Lalis."


^^^"Selesaikan dengan cepat!"^^^


Banyak yang dialami Great hari ini. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia beranjak menuju kulkas membawa beberapa anggur dan soju lalu keluar dari kamarnya.


Setelah ketukan pintu itu, terbukalah dan terpampang Lalis di dalam.


"Mau minum denganku?"


Lalis melihat betapa menyedihkannya raut wajah Great. Ia paham, mungkin karena berita beberapa hari ini yang terus menyebutkan perusahaan TL Income sebagai perusahaan tidak bagus direkomendasikan.


"Ayo di kamar Bapak. Di sini ada Jemin," jawab Lalis.


Mereka beranjak ke kamar Great terduduk di sofa. Great menyandarkan tubuhnya di punggung sofa sejenak lalu menuangkan satu gelas anggur hanya untuk dirinya. Ia pikir Lalis tidak akan mau ternyata ia menuangkan anggur untuk dirinya.


"Kau bisa minum, ya?" tanya Great.


"Sebenarnya tidak. Saya akan cepat mabuk," jawab Lalis.


"Kalau gitu jangan banyak minum."


"Iya.


Hening.


Great tidak banyak bicara malam ini. Ia sudah minum satu botol tapi masih kuat untuk meminumnya lagi.


"Bagaimana penanganan skandal produk baru yang diluncurkan?" tanya Lalis mencairkan suasana.


"Aku tidak ingin membahas hal itu."


Lalis terdiam. Lantas bagaimana nasibnya dalam pencarian kakaknya, Great belum bicara apapun setelah ia meminta tolong untuk mencarinya.


Apa ia terlalu egois jika menuntut Great lebih cepat lagi pergerakannya supaya Lalis dengan cepat menemukan kakaknya.


"Aku tidak tahan lagi," ujarnya.


Lalis terdiam mengelus rambut Great.


"Rasanya aku ingin kabur bersamamu lalu menjalankan kehidupan kita bersama tanpa gangguan papa dan keluargaku," imbuh Great.


"Kamu tidak senang menjalani hidup yang sekarang?"


"Hidup atas dasar kemauan papaku tidaklah menyenangkan. Jika bukan karena kamu, aku ingin mati dari dulu."


"Jangan lakukan hal itu. Berjanjilah!"


"Asalkan kamu terus berada di sisiku."


Wajah merah Great sangat memesona saat wajahnya mendongak menatap wajah Lalis. Great mengambil gelas berisikan anggur itu.


"Jangan minum lagi, kamu sudah mabuk," cegah Lalis.


Great mengangguk patuh, ia taruh lagi gelas itu lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.


"Lalis, Maaf."


"Untuk apa?"


"Karena kakakmu belum aku temukan."


Lalis terdiam sejenak.


"Apa itu yang membuat pikiranmu tidak sehat?"


"Tidak. Aku muak dengan papaku."


Lalis mencium bibir Great kala masih bersandar di punggung sofa itu hingga Great menekan kepala Lalis agar tetap menciumnya.


Karena hal kecil itu hasrat Great kembali melambung tinggi. Ia memulai permainannya perlahan.


Ia mengambil alih permainan. Ia membawa tubuh Lalis ke atas ranjang dalam kukungannya.


"Anda bisa melakukannya malam ini," ujar Lalis di tengah berhentinya permainan Great.


"Dengan senang hati."


Sontak Great membuat Lalis telanjang bulat dalam sekejap.


Seluruh jemari Great tidak ingin melewatkan satu pun anggota tubuh Lalis. Setiap sentuhan yang ia berikan membuat kehangatan bagi Lalis begitupun sebaliknya.


Alangkah cantiknya saat raut wajah itu mengatakan bahwa kenikmatan malam ini tidak akan ia lupakan.


Suara-suara indah yang terdengar dari mulut Lalis membuat gerakan Great semakin cepat dan bersemangat. Membangkitkan jiwa yang menggelora, menyalakan api yang membara dalam tubuh Great.


"Sebut namaku," ujar Great dengan nafas tersengal-sengal di tengah pergerakannya.


"Gre-Great ... mmhsshh,"


"Lagi,"


"Huh, Great-"


Sebut terus Lalis agar Great semakin bersemangat.


"Kamu menyukainya?" tanya Great.


"Hah, hah, mmhh, ya. Iya."


Semakin cepat gerakan Great, semakin keras suara ******* yang keluar dari mulut Lalis. Setiap suara itu ke luar dari mulut Lalis, semakin ia mempercepat goyangannya sampai menuju di puncaknya. Great ambruk ke atas tubuh telanjang Lalis.


Lalis memeluk erat tubuh Great, lalu menciumi lehernya.


"Lalis, ayo pacaran denganku," ujar Great tepat di telinga Lalis.


Lalis mau menerimanya tapi hubungannya dengan Kent bagaimana. Ia selama ini bungkam.


"Jangan pedulikan Kent. Dia tidak akan tahu kita pacaran di sini," imbuh Great.


"Iya. Saya mau," jawaban yang diinginkan Great akhirnya terdengar juga meskipun Lalis terlihat ragu karen masih berhubungan dengan Kent.


"Kalau begitu aku bisa tidur nyenyak." Great turun dari kukungan Lalis lalu menyenderkan kepalanya di dada Lalis. Belum beberapa menit, Great sudah terlelap dengan senyuman di mulutnya.