
Derap langkah kaki mereka begitu cepat. Ini bukan lagi jalan, melainkan berlari. Bagaimana tidak, mereka berniat ingin menjenguk ibunya di rumah sakit sore nanti, tapi dokter menelpon mereka dan mengatakan bahwaibu Lalis dan Jemin sudah siuman. Bahkan ibunya sudah bisa angkat suara meskipun tidak lancar.
Mendengar kabar baik itu, Lalis dan Jemin bergegas menuju rumah sakit dengan antusias.
Tangis Lalis pecah saat melihat ibunya dari luar. Saat itu juga ia masuk ke dalam ruang ibunya di rawat.
"Ibu," satu kata yang diucapkan Jemin sambil memegang tangan ibunya yang diinfus.
Ia tidak bisa berkata-kata selain rasa syukurnya. Ia menangis haru di hadapan orang penting baginya.
Baru beberapa menit, dokter masuk untuk mengecek kondisi ibu Lalis dan Jemin.
"Izinkan saya memeriksanya, ya," ujar sang dokter.
Dokter menjalankan tugasnya dengan baik. Betapa berterimakasihnya Lalis kepada dokter yang dibawa Great untuk ibunya terkhusus.
"Denyut nadinya lancar, nafasnya mulai stabil. Mungkin, beberapa luka akan membekas dengan waktu yang lama. Pasien harus berhati-hati dengan lengannya karena itu luka patah yang cukup serius."
"Lalu bagaimana efek dari operasinya, Dok. Apakah itu bukan masalah besar?"
"Untuk sementara, setelah tubuhnya stabil, ibu anda tidak boleh beraktifitas berat, seperti mengangkat beban atau lainnya."
"Baik, Dok. Tolong terus rutin periksa ibu saya," ujar Lalis.
Dokter itu pergi. Lalis duduk di samping Jemin yang tengah berinteraksi dengan sang ibunda meskipun ia tidak terlalu paham apa yang dikatakan ibunya.
Lalis senang karena telah melihat senyuman ibunya lagi setelah beberapa bulan tidak ia temui. Saat bertemu pun itu karena kecelakaan.
"Sudah lama." Suara rintih ibu Lalis membuat matanya berkaca-kaca. Semampunya ia harus menahan air mata itu agar ibunya tidak khawatir.
"Maaf, karena sibuk bekerja aku jarang pulang kampung," jawab Lalis.
Hanya senyuman saja sebagai respon dari Lalis.
Beberapa jam sudah mereka menemani ibunya. Lalis ke luar cari makan untuk dirinya dan Jemin. Sekalian ia mau menelpon Great untuk memberitahu kabar baik ini.
Lalis tidak menyadari sikapnya akhir-akhir ini. Dulu ketika ada suatu hal yang dicari dan yang ingin ia beritahu adalah Kent, tapi sekarang ia seolah melupakannya.
Tatapannya terhenti sejenak menatap HP Lalis. Nomor kontak kekasihnya yang ia sematkan paling atas, tapi kenapa Lalis hanya memikirkan Great. Yang pertama berhak tahu bukankah Kent, secara Kent adalah kekasihnya.
Dengan setengah hati Lalis menelpon Kent terlebih dahulu.
^^^"Halo, Sayang," ujar Kent setelah mengangkat telpon Lalis.^^^
Lalis terdiam sejenak.
"Ibuku sudah sadar, dokter bilang dia bisa cepat sembuh karena penanganannya tepat dan cepat."
Cara bicara Lalis kepada Kent juga sedikit berbeda, terasa asing.
^^^"Syukurlah. Kuharap kedepannya ibumu bisa terus sehat."^^^
Tidak ada lagi kata yang ingin dikatakan Lalis, entah kenapa itu.
"Iya."
^^^"Sayang, aku tutup dulu, ya. Aku sedang mempersiapkan untuk test perguruan. Kamu di sana jangan lupakan aku, tolong dukung dan doakan aku ya agar bisa memberimu kehidupan yang layak setelah menikah nanti,"^^^
Entah kenapa Lalis jadi canggung dan belum siap. Kent memang orang yang dapat di percaya, hanya saja sekarang ia sangat sibuk hingga lupa bagaimana perasaan Lalis saat ini. Apa yang dilakukan ayah Kent pada Lalis itu bukanlah hal wajar, jika ada bukti kuat yang merujuk pada ayah Kent, ia ingin sekali melaporkannya. Tapi ia tidak bisa apa-apa untuk membalas perbuatan ayah Kent, ia hanya bisa mengandalkan polisi bahkan dalam kasus pencarian kakaknya.
***
"Sudah ketemu, Tuan. Wanita itu menjadi pasien di rumah sakit pusat dan ternyata ia memiliki dua anak putra dan putri. Saat ini anaknya berada di rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa ibunya sudah sadarkan diri," lapor skertaris Kevin Joul.
Bukan lagi skertaris, mungkin lebih ke tangan kanan dan kepercayaan Kevin Joul. Itu karena lamanya bekerja serta kinerjanya yang selalu membuat Kevin mantap dengannya.
"Dua?"
"Ya. Saya tidak yakin dengan namanya, tapi saya mendengar bahwa dia bekerja di perusahaan TL yang dipimpin Tuan Great," lanjutnya.
"Apa?"
"Ya, Tuan."
"Siapa itu?" batin Kevin Joul.
Butuh beberapa informasi lagi, Kevin belum puas dan belum yakin.
"Papa." Suara Great menggema di kediaman Kevin Joul, ia memanggil ayahnya dari lantai bawah.
Kevin yang sedang memegang sebuah kertas di tangannya, langsung menyembunyikannya di bawah ranjang. Lalu beranjak ke luar kamar.
"Jangan berteriak. Kau bukan anak kecil," jawab ayah Great.
Great berlari menaiki tangga demi menghampiri ayahnya.
"Dokumen mama, bukankah ada di papa?"
"Yang mana?"
"Riwayat hidup mama. Semuanya,"
"Ya. Masih di kamar mama,"
Tanpa basa-basi, Great beranjak menuju kamar mamanya yang sudah meninggal sekitar puluhan tahun lalu. Ia masih ingat dimana kamar mamanya. Meskipun suami istri harus satu kamar, tapi mama Great memiliki kamar itu untuk kepentingannya. Di kamar itu terdapat semua tentangnya. Riwayat hidup anak-anaknya sampai mereka tumbuh dewasa dan akhir hayatnya.
"Kenapa tiba-tiba tertarik dengan mamamu?" tanya ayah Great baru masuk ke kamar yang dimaksud Great.
"Aku pernah membaca hal penting," jawab Great sambil mencari apa yang dia mau di lemari yang hanya terdapat buku-buku saja.
"Papa pergilah. Ini tidak ada hubungannya dengan papa,"
"Akhir-akhir ini kau terlihat manja, Great. Papa tidak menyukai hal itu."
"Itu bukan urusan papa, jika papa tidak ingin aku pergi ke Eropa, berhentilah mengomel!"
Kevin Joul hanya menggelengkan kepalanya karena sikap Great yang semakin berani. Tanpa berkata lagi ia pun pergi memenuhi keinginan Great.
HP Great berdering. Lalis menelponnya.
"Ya, Lalis," ucapnya.
^^^"Bisakah saya menerima bantuan dari anda lagi," ujar Lalis dengan isakan tangisnya.^^^
"Lagi dimana? aku ke sana sekarang," ujar Great.
^^^"Rumah sakit pusat ibu kota di taman belakang,"^^^
Segera Great beranjak dari sana. Satu buku jatuh karena Great menyenggolnya secara tidak disengaja. Ia mengambil itu, kebetulan matanya langsung membaca.
Apakah ini buku yang Great cari?
Tanpa berlama-lama karena hal lain lebih penting, Great berjalan tergesa-gesa dengan membawa buku sampul merah.
"Tuan, anda ditunggu Tuan Kevin di bawah," ucap kepala pelayan yang menunggu Great sejak Kevin menyuruhnya tadi.
Great tidak menjawab. Kevin yang terduduk pun merasa rendah, beruntung ia bisa menahan diri. Ia tahu tidak penting marah dengan Great. Sikap Great tidak sama seperti dulu. Yang patuh dan disiplin ketika berhadapan dengannya.
Sesampainya Great di tujuan, matanya sangat mudah untuk menemukan Lalis. Ia tengah terduduk di bawah pohon dengan kepala yang menunduk dan kedua tangan Lalis menutupi wajahnya.
Great berlari menghampiri Lalis.
"Ada apa?" tanya khawatir Great setelah tubuhnya.
Lalis mendongak dengan raut wajah sedihnya serta air mata yang membasahi pipi Lalis.
"Saya tidak punya siapa-siapa untuk diminta bantuan kecuali Bapak. Bisakah anda membantu saya lagi? saya akan melakukan apapun yang Bapak inginkan," ucap Lalis.
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Kakak saya. Polisi menyerah mencarinya padahal dia korban," jawab Lalis.
"Kau mau aku bantu cari?"
Lalis mengangguk.
"Berhentilah menangis dan ceritakan semuanya," ucap Great sambil mengusap air mata Lalis. Orang akan melihat mereka sebagai pasangan.
Lalis perlahan berhenti menangis. Setelah tenang ia mulai berbicara.
"Satu jam lalu polisi menelpon, saya kira kabar baik akan terdengar di tekinga saya. Ternyata mereka menghentikan penyelidikan terhadap kasus yang menimpa kakak saya,"
Great jadi keinget tentang kecelakaan yang menimpa Bora Kirei. Tentu itu kakak Lalis tapi Great tidak mengetahui hal itu.
Tempat dan waktu kecelakaan sama persis dengan apa yang diceritakan Willie dan Lalis padanya. Lalis juga menyebutkan jalan menuju pedesaan yang ia selidiki bersama Willie tadi. Great jadi berada di dua jalur sekarang.
"Aku akan menemukan kakakmu. Beritahu semua tentangnya. Semuanya,"
Lalis mulai menceritakan semua tentang kakaknya. Ia kaget ketika nama kakaknya disebutkan. Nama yang sama dengan wanita itu. Wanita kembaran Great yang disebutkan Willie.
Bukankah jelas Great tahu dimana wanita itu. Bagaimana Great membantunya sedangkan ia juga butuh kepastian dari wanita itu. Ia menunggu ayahnya sibuk urusan luar, baru bisa masuk ke kamar bawah tanah di kediaman Kevin Joul.
"Kenapa? bagaimana ini bisa kebetulan?" batin Great.
"Pak," ucao Lalis uang melihat Great melamun setelah kisahnya.
"Pak," sekali lagi.
"Ya." Great menatap mata Lalis. "Ah aku paham. Aku akan berusaha semampuku, Lalis."
Lalis tersenyum lega saat Great bersedia membantunya.
Tidak terasa malam mulai menggantikan terangnya dunia. Mereka sama-sama senggang malam ini. Tapi bukankah Great tadi sibuk?
Ia lupa dengan kesibukannya jika bersama Lalis. Bagaimanapun tidak masalah untuk Great.
Great mengajak Lalis nonton di bioskop agar Lalis tidak terbebani dengan pikirannya. Ia ingin Lalis enjoy menjalani apa yang dijalaninya. Tapi anehnya Great, ia malah memilih film horor. Tentu Lalis ketakutan dan panik saat sedang menontonnya. Tidak jarang Lalis terus berteriak.
"Bagaimana? seru tidak?" tanya Great setelah filmnya selesai.
"Apanya yang seru sih, Pak," kesal Lalis. Ia males dengan Great saat ini.
Tapi Great berhasil membujuk Lalis yang ngambek terhadapnya. Ia mengajak Lalis ke danau naik perahu sederhana dan seadanya meskipun ini sudah malam. Tapi danau bukanlah lautan yang menyeramkan jadi tidak masalah untuk hal itu.
"Yang ini seru, kan?" tanya Great.
"Iya."
Great meraih tangan Lalis dan berpindah tempat duduk ke depan. Ia dan Lalis duduk saling berdampingan.
"Lain kali aku bawa kamu naik kapal ke lautan," ujar Great.
"Tidak. Jangan seperti itu, Pak," jawab Lalis.
"Aku akan memaksa," pungkas Great.
Lalis terdiam tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Tiba-tiba tangan Great menggenggam tangan Lalis. Sejenak ia terkejut, ia akan melepaskan genggaman itu tapi Great mengeratkan-nya.
"Apa perasaanmu masih sama?" tanya Great yang membuat hati Lalis berdebar-debar dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Pak," ujarnya.
"Iya. Aku tahu,"
Lalis geram entah kenapa. Tapi ia bimbang dengan perasaannya sendiri.
Tangan Lalis terangkat mendarat di pipi Great dengan lembut lalu membuat tatapan Great mengacu padanya.
"Kita sama-sama belum tahu siapa kita," ujar Lalis.
Tangan Lalis turun, tapi Great menahannya agar tetap diletakkan di pipinya.
"Beri aku izin untuk mengenalmu lebih dalam,"
Lalis terdiam dengan rasa bimbangnya. Tatapannya mengarah ke bibir Great. Lalu muncullah dorongan hasrat Lalis untuk mencium bibir Great. Bukan mencium tapi hanya mengecup.
Great yang kaget tidak terima Lalis memberi harapan saja. Ia membalas dendam, Great mencium bibir Lalis. Membuat Lalis membuka jalan untuk mengizinkannya bertindak lebih jauh.
Great membawa tubuh Lalis ke pangkuannya. Ia terus mengelus punggung Lalis meskipun terhalang pakaian. Tidak jarang ia memeluk erat Lalis di sela-sela ciuman mautnya itu. Nafasnya terengah-engah seolah menahan apa yang ingin ia keluarkan.
Lalis sempat kewalahan, tapi ia menikmatinya.