
Tidak sampai di situ saja. Great membawa pulang Lalis ke apartemennya. Ia sudah cukup sabar menahan hasratnya saat perjalanan pulang. Kali ini Great tidak bisa mengalihkan prioritasnya. Ia sudah terhanyut dalam wajah mempesona Lalis.
Setelah pintu tertutup, Great menarik tubuh Lalis lalu menciumnya kembali. Semesta tidak tahu betapa menikmatinya Great saat memporak-porandakan bibir Lalis. Bahkan untuk sekedar melepasnya satu detik pun Great enggan melakukannya.
Lalis tidak memberikan obat atau racun pada Great hingga ia tidak bisa berhenti pada Lalis. Saking bersemangatnya Great, Lalis harus terhanyut buaian Great.
Great memangku tubuh Lalis sampai kakinya menyilang di tubuh Great. Ia membawa dan membaringkannya di ranjang tanpa melepaskan ciuman itu.
"Pak," ucap Lalis yang bergairah saat ciuman Great mulai turun ke leher Lalis.
Great tidak menggubrisnya. Ia masih tidak ingin menghentikan apa yang dia sukai.
Great membuka jaket sampai kaos oversize-nya. Dari situ terlihatlah betapa sempurnanumya tubuh Lalis. Banyak ototnya.
Lalu tatapannya tertuju pada wajah Lalis. Ia mengelus pipi Lalis dengan kehangatannya, menberikan senyuman sederhana untuknya.
"Matamu sembab dan sayu," ujar Great yang berbicara kepada Lalis tepat di bawah kungkungan Great.
"Apa wajah saya terlihat lusuh dan tidak nyaman sehingga membuat Pak Great berhenti?" tanya Lalis.
Great membuka kancing kemeja Lalis secara perlahan. "Aku merasa kamu mengijinkanku untuk hal ini," pungkas Great.
Lalis sedikit gugup karena ia tidak berpengalaman dalam hal ini. Tapi ia juga tidak mau melewatkan momen ini. Ia sudah terlanjur bergairah dan menikmatinya.
Great melihat ekspresi wajah Lalis berubah. Ia menduga bahwa Lalis tidak ingin melakukannya.
"Kita tidak perlu melakukannya," ucap Great sambil turun dari kungkungan Lalis. Akan tetapi Lalis menariknya kembali tanpa berpikir panjang. Ia secara langsung mencium bibir Great sampai melumatinya.
Lagi-lagi Great terhanyut kepada Lalis karena tingkah berani ini.
"Tolong beri saya waktu," ucap Lalis setelah melepaskan ciuman itu.
"Waktu apa dan untuk apa?" tanya balik Great.
Lalis terdiam sejenak.
"Apa ungkapan perasaan Bapak waktu itu masih berlaku?" tanya Lalis.
"Ya. Perasaanku selalu menginginkanmu," jawab Great.
"Jika begitu- tolong beri saya waktu untuk berpikir menerima perasaan Bapak," ujar Lalis.
Great kaget plus senang bukan main. Pertanda baik sedang menghampiri dirinya. Meskipun bukan jawaban yang sangat Great inginkan, tapi jawaban ini cukup membuatnya berharap untuk kedepannya. Selanjutnya Great tidak akan sulit mendekati Lalis lagi. Masa bodoh dengan Kent pacarnya, mau belum putus atau tidak, ia harus tetap memiliki Lalis.
"Aku akan menunggumu," jawab Great sambil memeluk tubuh Lalis meskipun Lalis harus menahan nafas saking beratnya tubuh Great.
Malam semakin malam tapi mereka belum bisa tidur. Great yang menyandar di tubuh Lalis dalam posisi terbaring, memeluk erat Lalis.
Tunggu. Posisi mereka terbalik, seorang pria seharusnya membiarkan ceweknya menyandar, bukan seperti itu.
Lalis mengelus lembut rambut Great yang sudah acak-acakan sejak mereka datang ke kamar. "Terlalu banyak urusan yang harus saya utamakan, maka dari itu saya mengundurkan diri dari bimbingan," jawab Lalis.
"Sebenarnya papa merekomendasikan kamu dari dulu agar terus berada di sisiku. Papa tahu prestasimu bukan main-main. Hanya saja wajahmu tidak menggambarkan bahwa kau seorang jenius," ujar Great.
"Bukan begitu. Hanya saja kau- sedikit pemalu tapi di sisi lain kau sangat berani, apalagi terhadapku,"
"Bagaimanapun juga jangan menganggap saya seperti itu. Saya juga tidak tahu seperti apa kepribadian saya."
"Sebelumnya beberapa perusahaan menolak lamaranmu karena perusahaan JT memberi rating buruk terhadapmu. Mereka membuat semua perusahaan besar di tanah air menolak lamaranmu,"
"Bagaimana Bapak tahu kebenarannya seperti itu?"
"Aku tahu semuanya tentangmu jauh sebelum kau masuk ke TL Income."
Lalis terdiam. Apa yang membuat Great terkesan padanya hingga hal yang Lalis ketahui pun bisa diketahui Great.
"Jujur saya terkejut karena Bapak bisa menyukai saya secepat itu, bahkan kita baru kenal waktu itu," ujar Lalis.
"Sudah hampir satu tahun aku menyukaimu, Lalis." Lalis terkejut dengan pernyataan Great. "Hanya saja aku menahan perasaan itu sebelum aku berhasil. Tanpa kutahu kau masuk ke perusahaan papaku, dan sejak itu aku tidak bisa mengontrol perasaanku," lanjut Great.
Lalis menduga bahwa Great adalah pria di malam itu. Ia melihat sekali lagi style pria yang depresi di malam itu. Dan itu ada pada diri Great. Ya, sekitar hampir satu tahun kejadian itu.
"Tidak mungkin karena pelukan di malam itu, bukan?"
Great mendongak lalu terdiam dengan apa yang dimaksud Lalis.
"Di jembatan kota baru, kau memelukku. Benar, bukan?" lanjut Lalis.
"Kau sudah tahu itu aku?" tanya Great.
"Setelah cara Bapak berpakaian dan memakai masker saat berbelanja, aku menduga pria itu adalah Bapak," jawab Lalis.
Ya, Great mengingatnya. Style waktu itu memang terlihat sama dengan malam itu, tapi merek jaket yang dulu sama waktu berbelanja itu berbeda. Mungkin bentukannya sama.
"Kau memiliki ingatan yang baik," puji Great.
"Jadi Bapak menyukai saya sejak malam itu?" tanya Lalis.
"Ya. Bukan karena aku memelukmu, tapi karena support-mu."
Lalis terdiam lalu tersenyum. Great mengubah posisinya dan menarik Lalis untuk berbaring, bukan hanya menyandar di kepala ranjang saja.
"Cium aku," ujar Great.
Semanja ini Great kepada Lalis. Sikap dinginnya luntur ketika sedang bersama Lalis.
Setelah satu ciuman terakhir, Great malah menginginkannya lagi. Lagi dan lagi. Apa yang tidak disukainya dari Lalis, yang ia lihat hanya kelebihan Lalis.
"Jangan terus bermain, Pak. Kita bisa kesiangan besok," ujar Lalis setelah melepaskan ciumannya.
Great memeluk erat tubuh Lalis lalu memejamkan matanya. "Jangan panggil aku 'pak' terus!"
"Iya,"