Your Name

Your Name
Repot



Sudah satu minggu Great tidak masuk kantor demi menemani Lalis yang masih di rawat di rumah sakit. Keberadaan kantor baik-baik saja tanpa Great. Akan tetapi ada beberapa perubahan. Beberapa pemegang saham perusahaan terus menunggu pernyataan dari Great mengenai skandal produk.


Seharusnya Great mengadakan rapat dengan pemegang saham terlebih dahulu sebelum dengan setiap ketua tim. Skertaris Joy mengatakan masalah kantornya adalah rumor mengenai Great dan Lalis yang masih menjadi perbincangan kantor meskipun awak media sudah bungkam.


Dan ya, skertaris Joy sudah mengetahui wanita yang sebelumnya bicara dengan Lalis. Ia sedang mengintimidasinya secara halus agar tetap tenang.


Saat ini Great sedang berbicara di telpon dengan skertaris Joy. Tapi bukan berarti Great tidak bekerja, ia hanya tidak masuk kantor. Pekerjaannya diselesaikan di rumah sakit menemani Lalis.


"Lalis hanya mengatakan bahwa mereka bertengkar biasa sebagai teman. Bagaimana Kenya berbicara padamu?" tanya Great di telpon.


Membicarakan hal ini tentu saja tidak dihadapan Lalis, ia izin pergi untuk membeli makanan di luar kepada Lalis yang lima hari lalu tersadar.


^^^"Saya tidak bisa memaksanya, Pak. Dia hanya bicara sedikit. Setelah mengetahui bahwa Pak Great dan Lalis berhubungan dekat, Kenya tidak menyukai Lalis. Tapi bukan berarti dia ingin mencelakakan Lalis, setelah mereka berdebat, Kenya langsung menuju ruang tim pemasaran. Dia mengatakan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, lalu selang waktu beberapa menit berita itu muncul."^^^


Great paham. Great tidak percaya jika memang Kenya yang mencelakainya. Sekarang rumor mengenai hubungan dirinya. Bisakah ada yang mengatasi rumor itu, tapi perlahan rumor itu bisa hilang dengan sendirinya.


"Tugaskan Tall untuk berhadapan dengan pemegang saham. Kau temani dia,"


^^^"Baik, Pak."^^^


Great menutup telpon lalu kembali ke dalam rumah sakit. Ia tidak pergi untuk mencari makan, ia bersandar di dinding belakang rumah sakit. Kemudian orang yang dia suruh untuk beli makan sudah datang.


Sesampainya di ruang rawat Lalis, ia disambut senyuman hangat Lalis. Sudah satu minggu lengannya harus diperban karena tulang Lalis terasa ngilu. Belum lagi cedera bahu yang dialaminya.


"Karena kamu sedang sakit, makanlah dengan banyak. Aku beli banyak sayuran lalu nasi dan steak kesukaan sayangku," ujar Great sambil membuka satu persatu makanannya.


Tidak masalah Lalis memakan makanan luar, satu minggu mungkin mengubah makanannya setelah menu bubur rumah sakit setiap hari.


"Perutmu baik-baik saja. Jadi tidak masalah jika makan makanan ini," ujar Great.


Lalis perlahan mendudukkan tubuhnya, Great dengan sigap membantu Lalis. Lalis menatap wajah Great sambil tersenyum. Great melihat itu, ia pun ikut senyum lalu mengecup kening dan bibir Lalis. Kemudian kembali dengan makanannya.


"Kamu beberapa hari ini belum masuk kantor, apa tidak masalah?" tanya Lalis.


"Jangan khawatir. Aku punya asisten sekarang," jawab singkat Great.


Mereka terdiam. Great yang menyiapkan makanan dan Lalis yang menunggu.


Great menyuapi sesendok nasi ke mulut Lalis disusul steak daging sapinya. Lalis memang sedikit lokal, makan steak dengan nasi.


"Enak, tidak?" tanya Great yang hanya dibalas anggukan oleh Lalis.


"Maaf merepotkanmu," ujar Lalis.


Tidak. Great sama sekali tidak merasa di repotkan. Untuk Lalis ia siap melakukan apapun itu. Meskipun hal itu berbahaya untuknya, bagaimanapun Lalis adalah cinta pertama yang membuatnya menumbuhkan keinginannya untuk hidup.


"Aku ini pacarmu. Berhentilah merasa tidak enak padaku."


Lalis tersenyum lagi. "Ibu belum menemuiku," ujar Lalis.


"Mungkin sedang istirahat. Tadi pagi dokter sudah melakukan pemeriksaan bahwa ibumu bisa pulang dalam dua hari ini."


"Benarkah?"


Lalis sangat senang karena ibunya kembali sembuh normal setelah perawatan dua bulan di rumah sakit. Disaat ibunya sembuh, Lalis malah masuk rumah sakit.


"Iya."


"Syukurlah."


"Ibumu nanti mau tinggal di mana, apa dia akan kembali ke desa?" tanya Great.


"Tidak. Aku memiliki kunci rumah kakak, sementara ibuku harus tinggal di sini dulu. Berhubung Jemin pindah sekolah."


Great mengangguk paham. Saat tersebut nama kakak Lalis, Great sedikit takut dan tidak mau membicarakannya. Itu karena dari awal Great tahu keberadaan kakaknya tapi ia tidak sanggup untuk melawan ayahnya. Bodohnya Great seolah ia menjadi tawanan ayahnya lagi karena masih memiliki rasa takut kepada ayahnya.


"Aku- ayo pindah ke rumahku, Sayang!"


Secara tiba-tiba yang membuat Lalis berhenti mengunyah makanannya. Lalis terdiam, bukannya tidak mau tapi tidak layak karena belum sah menjadi suami istri.


Meskipun dengan melamar, tetap saja. Hanya saja mereka saling terikat satu sama lain setelah lamaran.


"Tapi Kent belum menjawab pesanku," batin Lalis.


Lalis mengirim pesan untuk mengajak Kent putus, tapi tidak ada jawaban setelah tiga minggu. Entah sesibuk apa Kent di Amerika. Sebelumnya Kent hanya bilang akan mencari pekerjaan baru dan mengendalikan perusahaan dari sana meskipun tidak maksimal.


"Apa kau ragu?" tanya Great.


Lalis sontak menjawab, "tidak. Bukan begitu."


Karena raut wajah Lalis seolah tidak mau diajak Great, jadi ia berprasangka seperti itu.


Satu suapan lagi dari Great tapi Lalis menolaknya. "Aku sudah kenyang," ujarnya.


Great meletakkan makanannya di nakas. Ia memberi minum Lalis perlahan lalu kembali meletakkan gelasnya setelah sudah. Lalis membuka kedua tangannya meskipun sedikit sakit akibat cedera lengan dan bahu. "Peluk aku, Sayang," ucapnya.


Great tersenyum, sontak memeluk Lalis perlahan. Ia ingat tubuh Lalis sedang rapuh sekarang.


"Lebih erat lagi," pinta Lalis.


Great menuruti apa yang Lalis mau.


"Kamu sudah membuatku jatuh lebih jatuh cinta lagi," ucap Lalis dalam pelukannya. "Tolong terus peluk aku."


Ingat Great! Hati-hati dengan infusan di tangan Lalis. Jangan sampai bergerak lebih dan membuatnya sakit.


"Lalis," ucap Great sambil melepaskan pelukannya.


Ia menatap lekat wajah Lalis sembari memegang kedua tangan Lalis.


"Ayo menikah denganku."


***


Tim pemasaran sudah satu minggu kekurangan anggota. Pekerjaan yang seharusnya Lalis kerjakan, mereka membaginya. Sejak berita Lalis jatuh, Kenya terus mengkhawatirkannya meskipun ia tidak suka. Ingin rasanya pergi menjenguk Lalis, namun perasaannya sangat takut setelah ditegur tegas oleh Skertaris Joy.


Di keheningan mereka tiba-tiba Jovi angkat bicara. "Kenapa pekerjaan ini menjadi beban kita, seharusnya Lalis yang kerjakan," ujarnya.


Mereka terdiam setelah mendengar pendapat Jovi.


"Pak Great memberi perintah itu, bukankah kita setuju dengan penawaran Pak Great," jawab Bu Saka.


Penawaran bonus tambahan untuk tim pemasaran dari Great senilai lima juta masing-masing anggota. Itu sudah seperempat dari gaji mereka.


"Saya sebenarnya tidak setuju, Bu," sahut Selia dengan raut wajah menyesal.


"Kita rekan kerja, dan ini juga tugas di tim pemasaran," timpal Veronika.


"Karena tugas yang seharusnya Lalis kerjakan, kita jadi setiap hari lembur. Saya sangat memprioritaskan kesehatan, Bu. Saya tidak mau kelelahan karena orang lain," imbuh Selia.


Veronika menatap Selai tidak suka. Bukan ia membela Lalis, tapi kerja sama antar tim sudah menjadi tugas mereka juga. Orang yang sakit pun akan sembuh seiring berjalannya waktu.


"Tidak adil rasanya. Uang lima juta tidak menjanjikan tubuh kita tetap fit. Bukankah kita selalu mengeluh keesokan harinya karena setiap hari lembur sampai larut," ucap Jovi.


"Iya. Tugas Lalis sangat banyak hingga membuat badan saya terus sakit," ujar Selia.


Hanya mereka berdua yang tidak setuju. Kenya baik-baik saja jika harus menggantikan tugas Lalis. Dan karena ia merasa bersalah, ini seperti kewajiban baginya.


"Kau sadar tugas Lalis sangat banyak, kenapa tidak berpikir bagaimana rasanya jadi Lalis? rekan kerja kita sedang sakit, tidakkah kita meringankan bebannya dengan menggantikan tugasnya," tegas Bu Saka.


Bu Saka tidak ada di pihak Lalis. Akan tetapi sebagai pemimpin, sudah seharusnya ia bersikap netral. Bagaimanapun Lalis ada di tim pemasaran, jadi tugas Lalis, tugas mereka juga.


"Sampai Lalis sembuh, kita tidak akan lembur lagi. Dan kau Jovi, kenapa kali ini merasa keberatan, sebelumnya kau menggantikan tugas anggota lain. Apa kau sudah berubah?" lanjut Bu Saka.


Jovi menunduk terdiam tanpa rasa bersalah. Justru ia mengumpat dalam hatinya.


"Jangan berpikir egois! lanjutkan pekerjaan kalian!"