
Tidak terasa hari sudah pagi. Waktu tidur yang singkat tidak memuaskan waktu istirahat Lalis. Berhubung hari ini ia diperbolehkan cuti oleh Great, ia bisa beristirahat lebih lama lagi. Tapi hatinya tidak bisa tenang karena situasi saat ini belum memuaskan hati Lalis.
Sudah berapa banyak Lalis menulis pesan untuk Kent lewat HP, tapi tidak ada satupun balasan dari Kent. Itu yang mmebuat Lalis tidak tenang dan khawatir. Jika Kent membiarkan Lalis pergi ke rumahnya mungkin Lalis sedikit bisa melihat keadaannya.
Klek, pintu kamar terbuka. "Lalis, aku membeli makanan kebanyakan jadi aku ingin membaginya denganmu," ujar Great sambil menghampiri Lalis yang masih berbaring di tempat tidur.
Lalis sedikit terkejut karena Great masuk tanpa permisi. Dan mengapa Great belum bersiap untuk ke kantor. Pakainnya masih menggunakan baju tidur juga rambutnya acak-acakkan.
Mata sembab dan tubuhnya sangat lemah, itu yang dilihat Great di diri Lalis.
"Ah, Tuan." Lalis bangun dan terduduk di tempat tidurnya.
"Sepagi ini kenapa anda bisa ke sini?" tanya Lalis.
"Aku semalam tidak pulang."
Lalis menyukai pembawaan Great yang selalu tenang. Meskipun sedang kesal, Great tidak buru-buru untuk meluapkan kemarahannya. Hanya saja raut wajah Great akan berbeda jika Great sedang kesal atau marah. Great bukan tipe orang yang suka basa-basi.
"Aku tidur di kamar sebelah."
"Bukankah kamar sebelah ada yang mendiami?" tanya Lalis.
"Katanya dia sudah pindah kemarin, jadi kamar itu kosong," jawabnya sambil duduk di sofa, meletakkan makanannya di meja lalu membukanya satu persatu.
"Memang benar, ya? bukannya orang itu bilang sudah membelinya," batin Lalis.
"Kenapa masih berbaring? kemari dan makan denganku," pintanya.
Tentu Lalis harus ke kamar mandi dulu. Setidaknya membersihkan wajahnya dan memastikan tubuhnya tidak bau di depan atasannya agar tidak membuatnya tidak nyaman.
"Saya ke kamar mandi dulu, Tuan," ujarnya sambil berjalan.
Lima belas menit sudah Great menunggu. Akhirnya Lalis keluar. Kenapa cewek selalu lama jika sudah masuk kamar mandi?
Lalis duduk di hadapan Great. Lalis bingung kenapa Great terus menatapnya dari mulai ia keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya kelihatan tidak menyenangkan hingga membuat Lalis sedikit takut. Dan- kenapa Great belum menyantap makanannya? apa dia menunggu Lalis?
"Apa semua cewek selalu lama ketika sudah masuk kamar mandi?" tanyanya sambil melahap pelan makanannya tanpa menatap wajah Lalis.
"Dia menungguku, ya?" batin Lalis.
"Itu karena cewek harus pandai merawat kulitnya," jawab singkat Lalis.
"Steak itu aku pesan dari cafe yang kita kunjungi beberapa hari yang lalu. Kau tampak sangat suka waktu itu jadi aku membelinya dari sana," ujar Great.
"Terimakasih banyak."
Hening beberapa menit lalu Lalis mencairkan suasana.
"Anda tidak masuk kantor lagi?" tanya Lalis.
"Hmm." Great menjawabnya singkat karena sedang makan. Sedangkan Lalis seolah tidak berselera makan karena terlalu lamban.
"Kenapa?"
"Karena kamu masih sakit," jawaban Great yang membuat jantung Lalis deg-degan.
Jadi semua karena Lalis hingga Great tidak bisa melakukan kerjaannya dengan normal di kantor. Tidak perlu bekerja di kantor untuk beberapa hari tidak masalah baginya.
"Tuan, kenapa berlebihan terhadap saya? saya hanya karyawan biasa juga masih baru di kantor."
Tanpa menghentikan makannya Great berkata, "sudah berapa lama kamu bekerja di kantor saya?"
"Dua minggu."
Hening kembali. Lalis tidak berbicara lagi, ia lanjut fokus sarapan sampai akhirnya mereka berdua selesai. Lalis membereskan semuanya sampai bersih dan ada Great yang terus menunggu di sofa.
Lalis heran kenapa beberapa hari ini Great terus berada dengannya. Mereka tidak seakrab itu hingga harus terus bersama dan saling merawat.
Setiap menit Lalis melirik Great yang sibuk dengan laptopnya dimana pekerjaannya tertera di laptopnya. Lalis kembali setelah selesai cuci piring. Ia berjalan menuju tempat tidur untuk merapikannya.
"Kau sudah harus mengganti perban, Lalis.," ujar Great.
Lalis terhenti sejenak. "Aku harus mandi dulu, setelah itu baru ganti."
Great menghampiri Lalis. Ia menghentikan tangan Lalis yang tengah beres-beres. "Jangan banyak bergerak dulu. Dokter menyarankan kau untuk banyak istirahat," ujar Great.
Situasi ini membuat Lalis canggung. Sebenarnya bagaimana pemikiran Great saat ia perhatian terhadap Lalis. Lalis saja yang mendengarnya sangat canggung dan jika harus menatap Great, Lalis tidak bisa.
"Itu terlalu berlebihan, saya hanya beres-beres kamar saja," ucap Lalis sambil melepaskan cengkraman lembut tangan Great.
Lalis menghindar.
"Tuan, apa kau ingin kopi?"
"Boleh."
Karena Great tidak bisa membiarkan Lalis banyak bergerak, maka ia yang harus bergerak jika Lalis ingin kamarnya rapi. Tanpa pikir panjang, Great memulainya. Ia mulai dari tempat tidur Lalis.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat kamar Lalis rapi kembali. Lalis terkejut, baru saja ia tinggal ke dapur untuk buat kopi, kamarnya sudah rpi aja di tangan Great.
"Anda kenapa melakukan hal ini?" tanya Lalis.
"Karena kau keras kepala," jawabnya.
Lalis menggelengkan kepalanya. "Kopinya saya taruh di meja, saya harus mandi dulu."
Singkat cerita. Lalis terduduk di depan cermin dan Great berdiri di belakang Lalis sambil membantu Lalis memakaikan perban di punggungnya.
Great menelan ludahnya sendiri. Punggung mulus Lalis seolah menggodanya tapi ia tidak berhak atas itu. Sementara Lalis gugup dan tidak bisa bernafas lancar ketika Great membantunya.
Setelah selesai Great menaikan kemeja Lalis lalu membawa hairdaier di meja rias.
"Anda tidak perlu melakukannya, biar saya saja," ujar Lalis sudah terlanjur karena Great yang melakukannya.
Perhatian Great padanya membuat Lalis memiliki banyak pertanyaan untuk Great.
"Tuan. Kenapa anda perhatian ke saya? apa anda menginginkan sesuatu dari saya?" tanya Lalis tiba-tiba.
Great terhenti sejenak. "Iya."
"Apa yang anda inginkan dari saya?"
"Kamu."
Deg. Lalis terkejut. Ia menoleh ke belakang dengan raut wajah penuh pertanyaan itu. Great menyimpan alat itu lalu membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Lalis.
"Aku menyukaimu sejak lama," ujarnya.
"Maaf- ta-tapi saya tidak menyukai anda."
Lalis berdiri lalu berjalan ke dapur begitu langsung menolaknya. Seharusnya Lalis bertanya mengapa Great berbicara seperti itu. Namun agar mempersingkat waktu dan menghindari hal-hal yang lebih jauh lagi, Lalis langsung menolaknya. Demi menghindari Great, Lalis langsung pura-pura ingin masak.
Tapi Great menghampirinya lagi.
"Apa kau tidak melihat semua yang kulakukan untukmu?" tanya Great tepat setelah berdiri di samping Lalis.
"Apa yang sebelumnya anda lakukan untuk saya?" Lalis sama sekali tidak menoleh ke samping.
"Itu tidak penting. Lalis bisakah kau menerim cintaku dan menikah denganku."
To the point sekali Great.
Lalis terkejut sampai harus terhenti ketika sedang memotong tomat.
"Tuan, sepertinya saya tidak nyaman dengan apa yang anda bicarakan. Bisakah tinggalkan aku sendiri."
"Kamu menolak karena Kent, ya?"
Lalis refleks menoleh ke arah Great. Bagaimana Great tahu kekasihnya.
"Kau terlalu berbahaya jika terus berada di sampingnya, Lalis."
"Cukup, Tuan." Great menyadari Lalis kesal dan tidak menyukai ucapannya barusan. "Maaf jika saya tidak sopan tspi tolong pergilah. Kita baru saja kenal, kita tidak sedekat itu untuk berbicara santai satu sama lain."
Great menyadari bahwa memang sekarang bukan waktunya untuk menyatakan perasaannya. Tapi ia sedikit lega karena telah mengatakan apa yang ia rasakan.
"Saya akan anggap anda tidak berbicara apapun hari ini."
*Keesokan harinya*
Lalis kembali bekerja setelah cuti 3 hari. Rekan kerja di tim pemasaran khawatir dan menanyakan keadaan Lalis sekarang.
"Maaf karena tidak bisa menjenguk ya. Karena kami tidak tahu alamat rumahmu," ujar Bu Saka si ketua tim pengertian.
"Tidak masalah. Saya yang harus minta maaf karena beru bekerja sudah absen begitu lama," ujar Lalis.
Mereka menuju ruang tim pemasaran. Lalis menunduk berpura-pura tidak tahu saat Great berjalan tepat jauh di depannya. Lalis tidak ingin seseorang tahu mengenai masalahnya dengan Great.
Bu Saka membungkukkan tubuhnya saat Great lewat. Begitupun dengan Lalis.
"Bu Saka," ujar Great.
Lalis terus menunduk ketika Great berhenti di sampingnya.
"Tolong laporan hasil mingguan diberikan ke saya tepat pukul 11 sebelum istirahat siang."
"Baik, Pak. Lalis yang akan memberikan laporan itu nanti."
Lalis kaget. Mana bisa?
Great melirik Lalis. "Ya terserah saja." Kalimat terakhir yang dijawab Great.
Mereka berdua kembali berjalan. "Jam 11 nanti saya ada urusan sebentar, jadi tolong ya Lalis."
Dengan jujur Lalis tidak mau. Tapi karena Bu Saka yang minta, tidak enak saja jika menolak.
"I-iya tidak masalah, Bu."
Sepanjang perjalanan menuju ruangan tim, Lalis mendengar beberapa orang yang membicarakan Great. Salah satu omongan yang membuatnya takut dan tertekan adalah 'katanya Pak Great tidak masuk ke kantor 3 hari. Ia mengerjakan tugasnya di rumah. Tumben kan Pak Great begitu, biasanya dia tak pernah absen masuk kantor'.
Ini mengingatkan dirinya bersama Great selama 3 hari. Ia takut kalau semua orang menyadari bahwa ia dan Great bersamaan tidak masuk kantor.
"Yang diomongin mereka benar. Selama kau sakit, Pak Great tidak masuk kantor. Skertarisnya mengatakan bahwa Pak Great sedang bad mood," ujar Bu Saka.
Singkat cerita. Lalis perlahan masuk. Ia benar-benar canggung setelah kejadian kemarin.
"Ini, Pak. Hasil laporan tim pemasaran," ucapnya sambil meletakkan berkas di meja kerja Great.
"Direktur membutuhkan asisten untuk membantu tugasnya. Akhir-akhir ini kerjaanku terus bertambah karena perusahaan ini mengalami kemajuan pesat. Jika kau berkenan, aku akan mempromosikanmu."
Lalis terkejutlah. Apa yang ia bisa lakukan di jabatan asisten direktur itu. Ia saja belum berpengalaman banyak mengenai perusahaan. Dua tahun lalu ia baru lulus kuliah, pertama kerja di perusahaan Kent, itu pun cuma bertahan satu tahun. Memang perusahaan itu tidak menyangkal bahwa kinerja Lalis dalam bekerja sudah maksimal. Ia cepat paham dan cepat tanggap.
"Kenapa harus saya. Saya masih belum memahami perusahaan ini ditambah lagi saya baru bekerja di perusahaan ini."
"Berdasarkan CV dan kinerja kamu bekerja di perusahaan sebelumnya kau sangat jenius dan memiliki potensi untuk itu. Ditambah kau sangat jenius di universitas, seharusnya kau pantas mendapat jabatan seperti itu. Universitasmu bukan universitas rendah, Lalis. Itu universitas bergengsi, yang mengeluarkan orang-orang terbaik. Kau tahu di perusahaan ini 72% berasal dari universitas itu."
Lalis bingung. Jabatan ini yang ia inginkan meskipun hanya asisten. Perusahaan lain bahkan memperebutkan Lalis sebelum ia masuk ke JT Nether karena nilainya cukup tinggi dan berada di 10 teratas semua mahasiswa meskipun tidak di tingkat 1 2 dan 3.
"Aku menyadari hal itu. Tapi- tunggu-" batin Lalis, "kenapa aku sulit mencari pekerjaan setelah keluar dari JT Nether?" lanjutnya.
"Kalau begitu akan ada banyak orang yang mempertanyakan mengapa anak baru tiba-tiba di promosikan untuk menjadi asisten direktur?"
"Aku sudah membaca situasinya. Sebelum dipromosikan, kau akan dibimbing oleh seseorang agar kau paham betul tentang perusahaan ini juga pekerjaan ini."
"Berapa lama bimbingannya?" tanya Lalis.
"Sampai kau paham semuanya."
Kesempatan Lalis. Tapi jika harus bersama dengan Great setiap hari, itu membuatnya canggung kecuali Great tidak membahas ungkapan perasaannya pada Lalis.
"Akan kuberi waktu agar kau memikirkan kesempatan ini baik-baik. Karena di sini tidak ada kesempatan untuk kedua kalinya."
"Jika banyak yang masuk dari universitas itu, kenapa bapak hanya memilih saya?"
Lalis mulai curiga Great sengaja agar bisa mendekati Lalis.
"Siapa bilang. Jika kau setuju, kau akan bersaing dengan ke dua karyawan TL."
"Baik. Saya akan pikirkan baik-baik tawaran bapak."
Lalis membungkuk lalu membalikkan badan untuk keluar dari ruangan Great.
"Tunggu." Lalis terhenti dan menoleh ke belakang.
"Aku sekarang tinggal di apartemen yang sama denganmu, kamarku di sebelah kamarmu," ujarnya.
Apa sebenarnya rencana Great?
"Baik, Pak."
"Dan ya. Jangan panggil aku dengan sebutan bapak disaat hanya ada kita berdua," lanjut Great.
"Baik, Pa- , baik, Tuan."
Seperginya Lalis, Great menggerutu. "Aku sudah tidak sabar lagi. Aku menginginkannya," gumamnya.
Langkah kaki Lalis kenapa terburu-buru sekali. Mungkin karena Great terus berusaha untuk mendapatkannya. Atau ia memiliki urusan lain?
"Ini kesempatan bagus tapi- jika menjadi asistennya, aku harus terus bersama dengannya." Lalis membuka pintu ruangan tim-nya.
"Lalis, kenapa lama sekali?" tanya Kenya yang sebelumnya tengah fokus dengan pekerjaannya.
"Ada sedikit masalah di ruang Pak Great tadi."
"Kau tidak dibentak olehnya, kan?" tanya Kenya lagi.
"Tidak, tidak. Hanya memintaku untuk memeriksanya kembali."