
Satu minggu kemudian.
"Jangan lakukan itu!"
"Lalis adiknya. Selama satu bulan dia menderita karena kakaknya belum di temukan. Sedangkan kita tahu dimana kakaknya, apa aku dan kau harus diam saja?" Nada tinggi Great mulai keluar.
Willie paham jika Lalis menderita. Pasalnya Kevin Joul tidak akan memberikan gadis koma itu secara mudah. Kevin Joul bisa saja memanjakan Great sekarang, tapi ia tidak bisa memberikan apa yang dia miliki.
"Jelas kita tidak pernah kejam tanpa paksaan," jawab singkat dan dingin Willie.
Kantor direktur ini terus menjadi tempat paling sering mereka berbicara ketimbang kediaman Great. Willie tidak akan menetap lama di tanah air. Ia kembali hanya untuk mengamati pekerjaan yang akan di luncurkan di tanah air.
"Kau tahu itu, kenapa sulit mendukungku untuk melakukan hal ini." Great terduduk kembali.
Willie menatap tajam Great lalu berbalik badan untuk pergi dari sana. "Aku tidak akan mendukungmu. Lakukan saja apa yang kau mau," ujarnya.
Great terkejut. Baru pertama kali sahabatnya berbeda keyakinan dengannya. Sebenarnya seberapa serius masalah ini sampai Willie mengatakan bahwa Kevin Joul akan marah besar jika wanita koma itu terlepas darinya.
Great terlihat menahan amarahnya. Tangannya mengepal keras.
Great sudah memikirkan hal itu secara matang. Karena tidak bisa menolak desakan Lalis, Great berpikir bahwa ia akan mengambil Bora Kirei dari ayahnya meskipun ayahnya belum selesai dengan urusannya dengan kakak Lalis.
Bukan karena desakan saja, Great tidak bisa melihat seseorang yang ia cintai terus terbebani dengan kakaknya. Apalagi karena kakaknya, Lalis tidak bisa fokus dalam hal apa-apa.
Setiap hari Lalis akan bertanya dan mengharapkan jika Great menemukan jejak kakaknya.
Sementara itu, Lalis tengah mengerjakan apa yang harus ia kerjakan di ruang tim beserta rekan kerjanya.
"Lalis," ujar Jovi secara tiba-tiba.
Lalis menengok.
"Akhir-akhir ini kau terlihat terus bersama Pak Great," ujar Jovi.
Anggota tim termasuk ketua tim pemasaran sontak menatap ke arah Lalis sehingga membuat Lalis tidak nyaman dengan tatapan mereka.
"Tidak. Kurasa kau salah," jawab Lalis.
"Begitu, ya?" ujar Jovi.
"Tapi sejak kau bekerja di sini, Pak Great jadi sering makan di luar. Bahkan kemarin aku lihat dia sarapan di kafetaria," sahut Selia.
"Ah- kemarin bukannya Lalis sarapan di kafetaria juga," lanjut Veronika.
Lalis merasa terpojok meskipun hanya dua orang yang membicarakannya dengan Great.
"Apa itu, Lalis?" tanya Kenya dengan tatapan mengintimidasi.
"Tidak. Mungkin kami kebetulan," Jawab Lalis.
"Berhenti memojokkan Lalis seperti itu. Dia bisa terganggu karena kalian. Pak Great bukan sembarang orang yang bisa mendekati wanita asing," sahut Bu Saka yang selalu menjadi pembicaraan terakhir mereka.
Mereka kembali bekerja.
Sampai akhirnya jam istirahat tiba. Mereka akan biasa makan di cafe depan kantor. Ini bukan kewajiban tapi mereka akan kompak mengenai hal seperti ini. Mereka termasuk tim solidaritas tinggi. Intinya tim pemasaran adalah tim terbaik di perusahaan.
"Tidak mungkin perusahaan melakukan diskon besar-besaran," ucap Bu Saka.
"Tapi kenapa tidak dicoba? kita bisa membuat laporan untuk itu," tanya Kenya.
"Diskon besar-besaran bisa mengundang banyak pelanggan ke pasar tersebut," sahut Veronika.
"Saya tidak setuju. Memang akan banyak peminat akan tetapi hanya sesaat. Jika diskon itu sudah berakhir, kemungkinan peminat akan menurun. Ketika harga pasar kita naik, banyak orang mungkin tidak akan mampir kecuali produk itu sudah terkenal," sahut Jovi.
"Bukankah itu yang kita maksud. Mengadakan diskon besar-besaran agar barang yang tak terjual menjadi terjual," tambah Lalis.
"Tapi merek ini belum cukup terkenal semenjak skandal itu," lanjut Jovi.
"Perusahaan sudah membuat pernyataan dan mengklarifikasi bahwa rumor itu tidak benar," jawab Lalis.
"Rumor sangat kuat untuk diingat masyarakat. Kau sendiri sering mendapat rumor dan karyawan yang tahu tidak bisa melupakan itu. Rumor buruk akan tetap diingat meskipun kau menjadi baik,"
Jovi menjadi keterlaluan setelah tidak terima karena Lalis terus menjawab ucapannya. Karena kepercayaan diri Lalis, Jovi jadi sedikit kesal. Seberapa tidak sukanya Jovi ke Lalis?
"Jovi, Lalis diamlah! Lanjutkan makan kalian. Bagaimanapun juga saya tidak akan setuju dengan ide itu. Saya akan memikirkan hal lain," pungkas Bu Saka.
Yang lainnya pada diam seperti penonton saat Lalis dan Jovi berdebat.
"Mereka bersikeras terhadap pemikirannya masing-masing," bisik Veronika ke telinga Seila.
"Ssst," timpal Selia.
"Saya angkat telpon dulu," ijin Lalis.
Setelah di toilet, Lalis mengangkat telpon dari Great.
"Halo," ucap Lalis.
^^^"Aku menaruh satu botol minum vitamin di meja kerja. Jangan lupa diminum, itu bagus untuk tubuh," ucap Great.^^^
"Iya, saya minum nanti. Sudah dulu, ya,"
^^^"Jangan tutup dulu. Aku bisa ngasih tambahan waktu istirahatmu jika terganggu."^^^
"Tidak, tidak perlu. Ada yang ingin di sampaikan lagi?"
^^^"Tidak. Hanya saja aku rindu,"^^^
Great sudah benar-benar dimabuk cintanya Lalis. Padahal mereka sering bertemu, berpapasan bahkan sering duduk bersama di malam hari. Bisa-bisanya Great merasa kurang.
"Kenapa Pak Great merindukan saya, bukankah kita tidak jarang bersama di malam hari," ujar Lalis.
^^^"Masih kurang buatku. Sudah kubilang pindah saja ke kamarku,"^^^
"Tidak. Jemin masih terlalu kekanak-kanakkan. Dia butuh seseorang untuk mengurusnya."
^^^"Ya sudah. Tapi jangan marah kalau aku akan sering masuk kamarmu."^^^
^^^"Sudah dulu, ya."^^^
"Sebentar, Pak." Lalis mencegah Great untuk menutup telponnya.
^^^"Kenapa?"^^^
"Itu, orang yang mencelakai kakak dan ibuku ... tidak pernah muncul lagi. Bukannya aku menantikan, tapi-"
^^^"Lupakan hal buruk itu. Jangan takut dan jangan berpikir bahwa kau sendirian," pungkas Great.^^^
Great sebenarnya tidak enak menyembunyikan hal ini. Tapi karena telah mengusik Lalis, dia harus turun tangan menangani Jey Gwart. Great tidak bisa bilang kalau Jey Gwart dalam tangannya, ia tidak mau Lalis tahu bahwa ia ikut campur sejak awal.
"Baiklah. Tutup dulu, ya. Sampai jumpa nanti,"
Setelah telpon itu ditutup, Lalis berniat kembali ke meja makannya di cafe. Tapi ia terhenti dan terkejut saat seseorang berdiri di belakangnya kemungkinan sejak tadi.
Lalis seolah tertangkap basah. Apa itu tatapan sedih atau benci? kenapa matanya berkaca-kaca?
"Ke-Kenya. Sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak kau mengatakan bahwa kalian selalu menghabiskan malam bersama," jawab Kenya.
"Ka-kau mendengar semuanya?" tanya Lalis penuh gugup.
"Kalian berdua pacaran?" tanya Kenya.
"Tidak. Kami tidak pacaran," bantah Lalis.
"Lali menghabiskan malam bersama itu-"
"Tidak. Kau salah paham, aku tidak menghabiskan malam bersama Pak Great," pungkas Lalis.
Air mata Kenya mulai tumpah. Pantas saja ia tidak pernah dilihat Great, ternyata orang yang Great sukai adalah Lalis. Padahal ia begitu tulus menyukai Great.
"Kau harus tahu bahwa aku menyukai Pak Great. Seharusnya kau sadar diri posisimu," jawab Kenya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Lalis.
"Kenapa kau tega dengan sesama perempuan,?" lanjut Kenya.
"Aku sungguh tidak tahu bahwa kau suka Pak Great," ujar Lalis.
"Sekarang kau tahu. Bisakah kau mundur, biar aku yang maju,"
Lalis merasa bersalah tapi ia tidak mau terpisah dengan Great.
"Bukankah kau memiliki pacar. Apa kau selingkuh?" tanya Kenya.b
"Bukan. Kamu salah paham," sangkal Lalis.
Lalis terdiam melihat isakan tangis Kenya. Apa ia melakukan hal buruk karena membuat cewek lain menangis. Serta cewek itu benar, Lalis memiliki pacar tapi ia dekat dengan Great.
"Kalau kai mengerti, mundurlah!" ujar Kenya.