Your Name

Your Name
Kecelakaan



"Aww,"


Great membungkukkan tubuhnya membelakangi Lalis.


"Ayo kembali ke apartemen," ajak Great sambil menawarkan tubuhnya.


Lalis tidak bisa menolak karena untuk berdiri saja ia tidak mampu.


"Pegangan yang erat," ujar Great setelah Lalis berada di punggungnya. "Kenapa ke luar tidak pakai celana panjang, sih. Kakimu sangat dingin."


Jujur, jika bukan karena kepepet, Lalis tidak akan mau digendong Great.


"Pak, seharusnya kita tidak begini, kemungkinan ada karyawan kantor yang bisa melihat kita sedang bersama."


"Sengaja kugendong di belakang. Jika kugendong di depan mungkin orang-orang akan mengira kita pasangan," ujar Great mengalihkan pembicaraan.


Lalis terdiam mengabaikan apa yang Great katakan.


Sesampainya di apartemen, Great justru membawa Lalis ke kamarnya, bukan kamar Lalis.


"Jangan protes, nanti juga kubiarkan kembali ke kamarmu," ujar Great seolah menjawab pertanyaan Lalis.


Lalis terdiam, Great mendudukkan tubuh Lalis di tempat tidurnya.


"Aw, akh. Sakit sekali," gumam Lalis.


Ia coba baringkan tubuhnya dikala Great membuka lemarinya. Entah mau ngapain.


"Kenapa seceroboh itu, sih. Seharusnya jika ingin menarik tubuhku, kau wajib tidak lemah," ujar Great sambil menghampiri Lalis tanpa membawa apa-apa.


Lalis terduduk saat Great duduk. Ia membuka jaketnya karena ribet.


"Aku panik jadi begitu. Anak itu mau menabrak Bapak,"


"Kau tinggal bilang saja. Akibatnya kan gini,"


Lalis terdiam dengan raut wajah kesal.


"Pak Great nih gatau terimakasih, ya?" batin Lalis.


"Lain kali jangan melakukan hal tanpa berpikir dulu," lanjut Great.


Great melihat Lalis yang terus memijat pinggangnya sendiri. Raut wajahnya terlihat kesakitan.


Great mengubah duduknya, ke belakang Lalis yang terduduk. Ia perlahan memijit pinggang Lalis. "Bagian mana yang sakit?" tanya Great.


Lalis kaget. Bagaimana bisa Great seberani itu ingin memijat pinggang Lalis.


"Jangan kaget. Aku bisa mijit dan sepertinya kau perlu bantuan, kan?" lanjut Great.


"Tidak. Saya tidak mau dipijat Bapak," jawab Lalis sambil menjauh sedikit dari Great.


"Jangan berpikir mesum. Kau sedang kesakitan,"


Melihat Lalis yang terdiam, tanpa berpikir lagi Great perlahan memijat pinggang Lalis dari belakang. Lalis kaget dong, tangan Lalis menutup mulutnya, wajahnya mengernyit karena pijatan Great.


Great menelan ludahnya melihat tubuh Lalis bereaksi serta ekspresinya membuat otak Great traveling. Ia memalingkan tatapannya agar menghindari apa yang tidak diinginkan. Great baru sadar bahwa kemeja putih Lalis begitu nerawang hingga punggung Lalis sedikit terlihat olehnya.


"Lalis,"


"Iya, Pak."


"Aku-" Entah kenapa Great enggan untuk bicara. "Ah tidak," lanjut Great.


"Aku ingin memeluk tubuh mungilnya," batin Great.


HP Lalis berbunyi. Siapa yang menelpoj malam-malam begini. Setelah dilihat ternyata adiknya. Wajah Lalis memgerutu karena di malam begini adiknya belum tidur.


"Pak, saya angkat dulu, ya? adik saya nelpon." ijin Lalis.


"Jangan harap kakak akan memenuhi keinginanmu kalau kamu saja belum tidur jam segini," ucap Lalis.


Lalis terkejut setelah mendengar isakan tangis sang adik. Lalis tidak pernah mendengar adiknya yang begitu kebal menangis tersedu-sedu seperti ini. Adik cowok Lalis tidak pernah menangis, sekalipun ia kena buli, pasti adiknya akan membungkam si pembuli.


"Why? Ada apa, hah? kenapa kau menangis?" tanya panik Lalis.


^^^"I-ibu, hiks. Kecelakaan," jawabnya.^^^


"Apa?" Saking terkejutnya, Lalis sampai berdiri dari duduknya.


^^^"Aku tidak tahan melihat ibu selemah itu ketika berbaring di ranjang rumah sakit. Kakak aku takut,"^^^


Lalis beranjak tanpa mengatakan apa-apa terhadap Great. "Kakak akan ke sana sekarang,"


Great angkat bicara, "mau kemana malam-malam begini?" t


"Besok mungkin akan ambil cuti lagi. Ibu saya mengalami kecelakaan di desa. Jadi saya mohon pamit, Pak," ujar Lalis sebelum keluar dari kamar Great.


Great menyusul Lalis ke luar, ia berlari mengejar Lalis yang berjalan buru-buru.


"Aku akan antar," ujar Great.


"Tidak perlu, saya ada kendaraan motor, Pak."


Great secepatnya menghubungi sopirnya. "Dalam 2 menit segera jemput saya di apartemen, cepat!" titah Great lalu memutus telponnya.


"Motor terlalu dingin, saat kita di bawah, mobil akan datang."


Dan karena keadaan dan situasi membuat Lalis memaksa untuk cepat, akhirnya Lalis setuju jika Great mengantarnya untuk pulang kampung. Tidak lupa Lalis menelpon Bora.


"Kak, ibu,"


^^^"Aku tahu. Jemin baru saja menelponku. Aku baru mau jalan. Dimana apartemenmu?"^^^


Ya, jangan lupa. Adik mereka bernama Jemin, 17 tahun SMA kelas 2. Meskipun di telpon terlihat lemah, kenyataannya Jemin sangat galak apalagi dia disebut sebagai pahlawan waktu sekolah SMP.


"Tidak perlu jemput, Kak. Aku sedang dalam perjalanan," jawab Lalis.


Bora mematikan HP-nya tanpa basa-basi. Lalis begitu panik, ingin rasanya ia segera sampai di kampung halamannya. Great menyadari hal itu. Ia terus melirik Lalis ditengah mengemudi karena khawatir.


"Minumlah, Lalis. Jangan panik."


Lalis yang patuh. Ia segera mengambil air minum di kursi belakang lalu meminumnya perlahan.


Great menggenggam tangan Lalis. "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," ucap Great.


Begitu sampai di rumah sakit sekitar rumah ibunya, Lalis berjalan terburu-buru setelah bertanya kepada suster yang bertugas sebagai administrasi.


Lalis terhenti setelah menemukan kamar ibunya, di sana terdapat Jemin yang tengah menunggu sambil duduk di kursi. Ternyata ini bukan cuma kamar, tetapi ruang operasi.


Jemin melihat kedatangan kakaknya. Tiba-tiba ia menangis, lalu Lalis menghampirinya sambil memeluknya.


"Kak, aku takut," ucap Jemin ditengah isakannya.


"Jangan khawatir. Ibu akan baik-baik saja dan itu pasti," jawab Lalis.


Great berdiam diri sambil melihat betapa Lalis menyayangi adiknya. Ia jadi iri karena belum pernah sama sekali dipeluk oleh kakak-kakaknya meskipun punya saudara banyak.


Setiap kali Great ingin perhatian kakaknya, ia selalu caper agar dinotice oleh kakaknya.


"Tenanglah dan ceritakan apa yang terjadi hingga membuat ibu kecelakaan?"


"Seseorang menerobos lampu merah saat itu juga ibu mau menyebrang. Mereka kabur tidak bertanggung jawab, Kak."


"Apa kau ingat plat nomor mobil itu,?"


"Tidak. Aku tidak sedang bersama ibu saat kejadian itu. Pak kepala desa yang mengatakan hal itu padaku,"


Lalis terdiam sampai lupa bahwa Great sedang bersamanya.


HP Jemin berbunyi. Pak kepala desa yang menelpon.


"Pak kepala desa," ucap Jemin kepada Lalis.


"Berikan! Biar kakak yang bicara," jawab Lalis.


Jemin memberikan HP-nya. Semuanya Lalis yang tanggung.


Lalis terkejut setelah apa yang dikatakan pak kepala desa padanya. Nafas Lalis terengah-engah.


"Saya ke sana sekarang,"


Lalis menutup telponnya lalu mengembalikkan ke Jemin.


"Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana, Kak Bora sebentar lagi datang," ucap Lalis ke Jemin.


Lalis menatap Great lalu berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Great dengan raut wajah penuh pikiran dan pasrah. Ia menunduk di hadapan Great.


"Bisakah saya memanfaatkan anda malam ini?" tanya Lalis.


Great terdiam.


"Saya minta tolong antar ke rumah ibu," lanjut Lalis dengan isakan tangisnya.


Ia malu terhadap atasannya. Kenapa hanya dia yang selalu ada buat Lalis. Di saat tidak ada yang memperhatikannya, Great selalu datang bahkan disaat tidak dibutuhkan.


Great meraih tangan Lalis, "Ayo. Bergegaslah!"


Lalis mengangguk lalu mereka berdua langsung pergi.


"Sakit sekali rasanya dada ini," batin Lalis.


Ia tidak berhenti mengeluarkan air mata dengan lamunannya. Ia berpikir bahwa semua ini terjadi bukan karena kecelakaan tapi dicelakakan. Entah kenapa firasat Lalis seperti itu.


Sesampainya di rumah sang ibunya, Lalis tertegun dari kejauhan. Rumah yang selama ini menjadi saksi pertumbuhannya kini telah hangus. Kenangan yang tak terhitung kini sudah lebur hilang bahkan sekedar jejak pun hilang.


Great terkejut. Ternyata di telpon tadi Lalis mendapat kabar kebakaran rumahnya. Berumunan warga menyaksikan rumah Lalis yang akan selesai di padamkan oleh pemadam kebakaran.


"Ini putrinya Bu Dora, ya?" tanya salah seorang pria tua berbadan besar dengan dua orang pemuda di belakangnya.


Lalis mengusap air matanya sambil menjawab pertanyaan itu. "Iya, saya Lalis."


"Tetap kuat ya, Nak. Polisi akan segera datang untuk menyelidiki kasus ini, mereka saksi mata bagaimana awal mulanya rumah Bu Dora kebakaran," ujar Pak Kepala Desa sambil menunjuk saksi yang ia maksud.


"Jadi ini bukan kecelakaan tapi di sengaja?" tanya Lalis.


"Ya, mereka melihat pelaku melempar korek api. Dan mereka yakin sebelum mereka datang, pelaku itu sudah membasahi rumah anda dengan bahan bakar."


"Ah,"


Lalis terdiam. Rasanya ia ingin menangis sekarang. Siapa yang tega melakukan hal ini kepadanya.


Kerumunan warga sudah mulai pulang satu per satu. Pemadam kebakaran juga sudah selesai menjalankan tugasnya. Sampai pak kepala desa pun turut pulang setelah berbicara dengan Lalis.


HP Lalis berbunyi menandakkan pesan masuk.


*Itu hadiah dari ayah mertua untuk menantu yang tidak direstui*


Hanya dengan ini Lalis sudah tahu siapa yang melakukan ini padanya. Lalis tidak pernah menyangka bahwa ayah Kent akan sejauh ini. Segitu tidak sukanya ayah Kent.


*Bukan hanya ini, ada hadiah lain lagi*


Deringan HP Lalis berbunyi. Tertera nama Jemin di sana.


^^^"Kakak, Kak Bora mengalami kecelakaan saat menunu ke sini. Polisi mengatakan bahwa ada truk yang ugal-ugalan hingga menabrak mobil Kak Bora."^^^


Lalis terkejut. Apa ini yang dimaksud ayah Kent? hadian lain lagi?


Lalis memegang dadanya yang sesak setelah kabar ini. "Sekarang Kak Bora ada di mana?"


^^^"Polisi mengatakan Kak Bora belum di temukan karena mobil Kak Bora masuk ke jurang."^^^


Isakan tangis Jemin mengharuskan Lalis untuk tetap kuat padahal hatinya begitu trauma mengalami kejadian ini. Sekuat mungkin Lalis menahan tangisnya.


"Dengarkan kakak, Jemin. Jangan kemana-mana. Tetap di sana dan tetap waspada. Kakak akan segera ke sana."


Telpon itu sudah berakhir. Lalis menutup matanya lalu menangis tersedu-sedu. Great rasanya tidak tahan melihatnya, namun ia paham bahwa Lalis pasti sakit. Apalagi kecelakaan ini bertubi-tubi untuknya.


Great membawa tubuh Lalis ke dalam pelukannya. Ia akan senang jika Lalis terus mengandalkannya. Tangan Great mengelus puncak rambut Lalis dalam pelukannya.


"Kau boleh memanfaatkanku lagi, Lalis."


Apa ini mengharukan untuk Lalis? sejak kapan Great bisa sebaik ini terhadapnya hingga isakan tangis Lalis semakin tersedu-sedu.


Great memeluk erat Lalis begitupun Lalis. Bahkan pelukan Lalis ebih erat.


"Lalis, ijinkan aku untuk ikut campur?" batin Great.