
Para penjaga kediaman Joul menegaskan bahwa pemilik rumah ini tidak ada di kediamannya tetapi Lindora ngotot ingin masuk ke dalam. Ia tidak percaya ucapan dari beberapa pria berjas rapi di halaman kediaman Joul. Sebelum ia melihatnya sendiri, ia tidak akan percaya.
"Ada apa berkerumun di sini?" tanya seorang pria yang sedang menghampiri mereka.
Pria yang terlihat usia empat puluhan itu tidak asing bagi Lindora. Bukankah dia orang yang sama tiga puluh tahun lalu. Keriput di wajahnya membuat Lindora hampir tidak mengenali pria itu.
Sama halnya, pria itu tahu siapa Lindora setelah berdiri di hadapannya. Hampir tidak ia kenali, mungkin karena penglihatannya sedikit minus, itu karena usianya mulai menua. Dia sudah bekerja sebagai orang kepercayaan keluarga Joul tidak sepuluh atau dua puluh tahun. Melainkan empat puluh tahun sejak ia usia dua belas tahun.
"Po masih bekerja dengannya?" batin Lindora.
Sebut saja pria itu Po. Awal mula ia bisa berada di kediaman Joul selama puluhan tahun karena ayahnya sopir ayah Kevin waktu itu. Po selalu merasa berhutang budi karena ekonomi keluarganya banyak dibantu ayah Kevin waktu di masa lalu.
Usianya mungkin sama dengan usia Lindora, hanya saja dia terlihat usia empat puluh tahunan karena memiliki wajah yang segar.
"Kalian pergilah, aku yang akan urus," titah Po kepada beberapa bawahannya.
Mereka sontak pergi setelah membungkukkan tubuhnya kepada Po. Kini tinggallah mereka berdua. Po tidak bermaksud apa-apa ia ingat siapa Lindora, ia juga yang jadi saksi percintaan Kevin dan Lindora.
"Nyonya sudah lama tidak bertemu," ucapnya sambil menundukkan kepala. Ia ingat apa yang dikatakan Kevin Joul sebelumnya. Dan benar terjadi, Lindora datang sendiri disaat Kevin Joul tidak ada di kediamannya.
"Dimana Kevin?" tanya Lin langsung ke intinya. Ia juga penasaran dan banyak yang ingin ditanyakan. Tapi lebih penting menemui Kevin dulu.
"Tuan tidak ada di rumah, Nyonya. Saya harus memberitahu Tuan kalau Nyonya ada di kediamannya," jawab Po.
Po mempersilahkan Lin masuk, dia duduk di sofa yang tidak pernah ia sentuh meskipun dulu pernah jadi bagian dari hidup Kevin. Dan ... ia baru menginjakkan kakinya di kediaman Joul. Sejak dulu ia hanya tahu alamat dan desain luar rumah ini. Tidak ia sangka hari ini ia berani menginjakkan kakinya di rumah ini.
Ia melihat bingkai yang diisi poto leluhur Kevin Joul. Semuanya nampak asing kecuali Joul dan ayahnya, bukannya dulu hubungannya tidak direstui ayahnya karena Lin bukan dari kalangan atas. Lin sudah tulus dan masih mempertahankan Kevin meski dia tidak diterima oleh ayahnya.
Lin disambut penting di rumah ini. Tidak hanya disajikan teh, bahkan mereka menyajikan beberapa makanan itali yang terkenal.
"Izinkan saya menelpon dulu, Nyonya," ucap Po yang masih berdiri.
Lin mengangguk. Tak terasa air matanya jatuh perlahan. Beruntung Po sudah pergi. Bukan menangisi nasib dulu yang hanya dijadikan orang kedua oleh Kevin, melainkan ia mengasihani betapa bodohnya dia di masa lalu. Sudah berhubungan lama dengan Kevin, tapi sama sekali ia baru tahu kediaman Joul seperti ini.
Beberapa menit Po datang lagi.
"Nyonya, tuan ingin bicara dengan anda. Silahkan," ujar Po sambil memberikan ponsel yang masih terhubung dengan Kevin di Jepang.
Lin perlahan mengambilnya. Dengan pergerakan santai ia mendekatkan ponsel Po ke telinganya.
Lin seolah lupa tujuannya ke sini untuk apa.
"Ha-halo?" ujarnya.
^^^"Aku sudah menduga kau akan datang. Bora baik-baik saja. Aku mengirimnya ke rumah sakit di luar negeri dengan fasilitas terbaik. Tunggu aku satu minggu lagi. Akan ku ceritakan semuanya."^^^
Lin terdiam. Separah apa sebenarnya kondisi Bora. Kenapa Kevin tidak bilang penyakit apa, hanya terluka parah yang ia katakan pada Lin. Itu terus membuatnya khawatir. Selagi ia belum melihat keadaan putrinya, hatinya tidak bisa full tenang.
Tubuhnya seolah kaku dan mematung. Lin sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya, kenapa selalu bersikap lemah saat berbicara atau berhadapan dengan Kevin. Setiap ada masalah, selalu saja Lin pendam dan kabur tanpa mengutarakan kekesalannya.
"Aku akan pergi menemuinya. Katakan saja di negara mana?"
***
Pencahayaan dari mana hingga membuat mata Lalis sulit terbuka. Berapa jam ia tidak sadarkan diri. Setelah kuat membuka mata, ia melihat sekeliling ruangan yang asing baginya.
Sangat luas dan rapi, semua barang tertata rapi dan teras yang cerah. Dimana ia berada kini?
Kamar ini cantik, Lalis menduga ini kamar pria karena sangat kalem. Bukan apartemen Great, apartemen Great bukan begini.
Ia bangun dan terduduk menyandar di kepala ranjang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang wanita tua rambut cepol sudah beruban dengan nampan makanan ditangannya tersenyum kepada Lalis. "Nyonya sudah bangun?" tanya bibi pelayan di rumah ini sambil menghampiri Lalis.
Lalis tertegun karena tidak tahu siapa wanita tua yang memanggilnya Nyonya barusan. Lalis tidak merasa punya pelayan meskipun di rumahnya.
"Saya harus segera memberitahu Tuan kalau Nyonya sudah sadarkan diri," lanjut bibi pelayan itu.
"Tuan Great sedang ada rapat di kantornya. Beliau bilang kalau anda sudah siuman, bibi harus memberitahunya. Tunggu sebentar, ya!" Bibi pelayan itu merogoh HP di celemek yang ia pakai lalu menelpon Great.
Lalis membuang nafas lega. Ia pikir sedang ada di mana ternyata di kamar rumah Great.
Great menghentikan rapat yang sedang berlangsung hanya untuk mengangkat telponnya. Ia berdiri dan membiarkan Joy dan Tall mewakilinya sementara, beberapa menit saja setelah ia berbicara dengan Lalis.
"Iya, Bi. Lalis sudah sadar?" tanya Great di luar ruang rapat.
"Iya. Dia sudah baik-baik saja, saat ini sedang di periksa dokter di kamar Tuan," jawab bibi pelayan.
"Katakan padanya tiga puluh menit lagi aku pulang."
"Baik, Tuan."
Singkat cerita. Setelah mempercepat menyelesaikan rapat penting dengan para pemegang saham, Great langsung pulang. Karena ini sudah malam, jadi wajar ia langsung pulang meskipun kerjaannya masih ada. Tidak banyak.
Perasaanya sudah tidak sabar ingin segera menemui Lalis. Meskipun sedang kecewa, Great tidak pernah tidak mengkhawatirkan Lalis dalam kondisi belum pulih seperti itu.
Great membuka pintu kamar, Lalis melihat kedatangannya. Ia masih berbaring di tempat tidur. Karena Great datang, ia perlahan bangun, terduduk dengan selimut yang menyelimuti kakinya.
Setelah menghampiri Lalis, Great terduduk di hadapan Lalis sambil menarik dasi agar terlepas dari leher Great.
"Sudah makan?" tanya Great.
Lalis tidak nyaman dengan raut wajah datar Great. Ia merasa Great kembali seperti orang asing lagi baginya jika terus tanpa ekspresi begini.
"Kau ingin makan apa? aku akan bilang ke bibi," tanya Great.
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang, kok."
Great bangkit, lalu melangkahkan kakinya menuju lemari. Ia membuka lemari, Lalis melihat Great mengambil pakaian.
"Kau harus mengganti pakaianmu sebelum tidur," ucap Great.
Kaos hitam yang diambil Great ternyata untuk Lalis.
"Aku akan mandi terlebih dahulu, setelah itu aku akan memakai kaos itu," jawab Lalis.
"Baiklah."
Lalis menuju kamar mandi setelah turun dari tempat tidur. Great sedikit khawatir jika terjadi apa-apa di kamar mandi karena Lalis bisa saja tiba-tiba pingsan. Namun Great membuang pikiran seperti itu.
Dua puluh menit sudah berlalu Lalis masih berkutik di kamar mandi. Lima menit lalu bibi mengantarkan buah-buahan yang dipinta Great. Saat ini Great tengah memakan buah apel yang menjadi kesukaannya kalai ngemil.
Tiba-tiba ponsel berdering, nada dering ini milik Lalis. Ia mencari ponsel itu, ternyata suara itu berasal dari tempat tidur, dibawah selimut. Great mengambilnya. Nomor tak dikenal, dan lagi ini nomor luar negri.
Ia mengangkatnya.
^^^"Sayang ... maaf karena tidak ada kabar selama beberapa bulan ini. Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan praktek mengajar. Sebentar lagi aku akan resmi menjadi dosen. Ini nomor baruku, HP-ku hilang kemarin. Sekali lagi maaf kalau membuatmu khawatir,"^^^
Great terkejut. Itu pasti Kent pacarnya. Bukannya Lalis bilang sudah mengirim pesan mengajak Kent putus, tapi kenapa Kent masih baik-baik saja pada Lalis. Selama empat bulan Kent tidak buka pesan Lalis?
Great membuka HP Lalis, lalu melihat riwayat pesan. Lalis tidak bohong soal mengirim pesan itu. Great melihatnya sendiri, tapi tidak ada jawaban dari Kent, bahkan dilihat juga tidak.
"Apa ada yang nelpon, ya?" tanya Lalis saat keluar dari kamar mandi. Sudah memakai kaos yang dipinjamkan Great.
Segera Great mematikan telepon dari Kent. Tapi Kent mendengar ucapan Lalis meskipun dari kejauhan. Di apartemennya, Kent berpikir siala yang mengangkat telponnya jika suara dari kejauhan tadi adalah suara Lalis.
Kent kembali menelpon Lalis tapi HP Lalis sudah mati. Bukan mati, tapi Great mengaktifkan mode pesawat.
"Tidak ada apa-apa. Ponselmu terduduki tadi," jawab Great.
Great tidak tahu harus melakukan apa. Yang pasti ia tidak mau Kent bisa berbincang lagi dengan Lalis, apalagi saat ia tidak ada.
"Aku akan mandi dulu," imbuh Great.
Sekitar tiga puluh menit Great di kamar mandi. Hanya dengan mengenakan kimono, Great menghampiri Lalis yang terduduk di depan cermin. Ia sedikit mengoleskan sleep mask, lipbalm, dan lotion nigth sebelum tidur. Itu sudah menjadi kebiasaan Lalis sebelum tidur.
"Sudah selesai, kok. Kamu berbaringlah dulu," ujar Lalis.
Setelah selesai Lalis bangkit lalu merangkul tangan Great menuju tempat tidur.
"Kau tidak pakai bra?" tanya Great yang membuat mata Lalis membelalak dan malu atas perkataan Great.
"Kau mana mungkin punya bra, jadi aku lepas saja," jawab Lalis.
Mereka berdua berbaring. Lalis sedikit memberi jarak dengan Great. Entah kenapa meski sudah berhubungan badan dengannya, Lalis masih merasa canggung dan takut.
"Kita begini, ya. Ayo tidur," ucap Lalis.
Great memejamkan matanya. Lalis lega Great tidak akan melakukan apa-apa. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Great lalu memejamkan kedua matanya berniat untuk tidur.
Lalis terkejut saat tangan kekar Great menarik tubuh Lalis, membawa ke pelukannya. Ia mengendus leher putih mulus Lalis. Tangan Great mulai nakal, ia membuka sedikit kaos di tubuh Lalis.
Tangannya mulai menjelajah. Semakin naik dan naik sampai ke titik inti area sensitif Lalis.
Baru bergerak sedikit untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Great menegur Lalis agar tetap diam.
"Jangan bergerak! tetap dengan posisi seperti ini," ucap Great sambil meremas apa yang ia raba sejak awal.
Lalis sangat sensitif jika seperti ini. Tapi semakin ke sini ia tidak bisa menolak sentuhan Great lagi. Lalis jadi semakin ingin lebih dari ini.
Nafas Lalis mulai tidak beraturan saat satu tangan yang nganggur bergerak perlahan ke bawah hingga **** ***** Lalis.
Beruntung Great meminjamkan celana yang mudah diakses olehnya.
Lalis mendesah kala Great memainkan jemarinya di sana. Melihat Lalis yang menggeliat, Great semakin terbawa nafsu.
"Aaah, Great," desis Lalis.
Kala mendengar ini Great semakin bersemangat. Kedua tangannya semakin bergerak cepat.
Karena ******* Lalis, ia tidak bisa menahannya lagi. Ia mendaratkan bibirnya ke bibir Lalis yang membelakangi dirinya. Posisi apa jika seperti ini?
Setelah beberapa lama, Great bangkit, ia membuka bajunya. Setelahnya, Great membuka kaos Lalis lalu langsung menyantap apa yang ia lihat di depan matanya.
Lalis terus menggeliat antara geli dan nikmat.
Sampai keduanya tanpa busana sehelai pun. Mereka melakukan apa yang mereka inginkan malam ini. Meskipun melelahkan, tapi sebenarnya lelah ini selalu mereka kerjakan.
"Perlahan," ucap Lalis kepada Great ditengah gerakannya.
Lalis masih merasakan sakit ketika berhubungan intim, mungkin karena tidak sering melakukannya. Great tidak menghiraukan Lalis. Sedikit lagi, sedikit lagi ia keluar. Gerakannya semakin cepat dan cepat hingga akhirnya Great mengeluarkan apa yang seharusnya ia keluarkan. Nafasnya terus menderu sampai akhirnya tubuh Great lemas. Dengan perlahan tubuh Great rumbang di atas tubuh Lalis.
Deruan nafas mereka beradu kencang. Sampai Lalis terlelap tak sadar.