Your Name

Your Name
Bulying.



Great tidak sepenuhnya percaya bahwa Kevin Joul ke rumah sakit hanya untuk diperiksa. Ia curiga ada yang disembunyikan Kevin Joul. Sepanjang perjalanan menuju kantor, ia terus dihantui rasa penasaran. Yang dilakukan Kevin Joul adalah hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.


Willie sudah berpesan padanya untuk jangan terburu-buru jika ingin mencari tahu. Setelah Kevin Joul merasa terancam, ia tidak akan tinggal diam. Justru ia yang akan bertindak lebih dahulu. Dan besar ketidakmungkinan bahwa Putra ataupun cucunya bisa menang dari Kevin, mengingat dia adalah leluhur di keluarga.


"Pak, lima menit lagi rapat dimulai."


Great tersadar dari lamunannya ketika skertaris Joy berbicara kepadanya. Kemudian ia bangkit lalu beranjak pergi menuju ruang rapat.


Rapat kali ini pembahasan mengenai skandal produk dan lepasnya 5 persen saham TL Income. Great berencana menunda peluncuran produk baru setelah skandal ini, lalu dia ingin memperkuat produk sebelumnya yang sudah terjual di pasaran.


Bagaimanapun jenis makanan pasti akan laris dan disukai masyarakat. Tetapi jika ingin mendapatkan respon baik dari masyarakat, perusahaan harus membangun strategi bagaimana produk itu bisa laris terjual.


Saat masuk ke ruang meeting, Great sudah di tunggu setiap ketua tim di perusahaan ini. Bukan, ini bukan meeting antar pemilik saham, melainkan rapat rutin setiap ketua tim paling penting di perusahaan ini.


"Saya akan langsung ke inti. Saya tidak ingin kalian berbicara masalah yang terjadi di perusahaan melainkan saya ingin kalian mengatakan solusi terbaik untuk perusahaan," ujar Great memulai pembicaraan.


Setiap ketua tim paham, juga mendengarkan dengan seksama.


"Hentikan setiap produk yang akan di luncurkan setelah skandal ini tuntas dan masyarakat tidak membicarakan produk itu lagi. Hentikan produksi produk baru, lanjutkan produksi produk lama."


Ketua tim produksi pusat angkat tangan untuk mengutarakan pendapat atau pikirannya. "Jika memungkinkan, perusahaan bisa mencoba untuk meluncurkan produk baru yang sudah terlanjur di produksi. Kita bisa melihat respon masyarakat setelah peluncuran produk baru."


Bu Saka si paling pintar angkat bicara. "Saya tidak setuju, Pak."


"Kenapa? apa pendapat anda, Bu Saka?" tanya Great.


"Meluncurkan produk baru memungkinkan memperburuk nama baik perusahaan. Produk lama saja menjadi pertimbangan masyarakat untuk di konsumsi akibat skandal produk baru perusahaan."


Skertaris Joy tidak akan mengatakan apapun karena ini bukan urusannya. Sebaliknya jika Great meminta sarannya. Ia pikir rapat ini akan berlangsung dengan cepat, tidak disangka masalah skandal ini akan jadi masalah rumit perusahaan.


Sekitar dua jam sudah berlalu. Tidak ada solusi yang benar-benar menguntungkan baginya, alhasil ia akan menggunakan pikirannya mengenai masalah ini.


Semua ketua tim sudah ke luar ruangan. Tinggallah Great dengan Joy di sana. Great menghela nafas panjang. Lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan yang membuat dirinya pusing. Diikuti Joy di belakang Great.


HP Great berbunyi saat menerima notif pesan. Setelah ia lihat ternyata dari Lalis, kekasihnya. Ia menghentikan langkahnya.


*Rapatnya berjalan lancar, kah? apa ada yang membuatmu sulit?*


Isi pesan dari Lalis membuat Great tersenyum.


*Aku kesulitan sekali*


***


Jemin memiliki bakat di bidang seni. Bukan menggambar atau melukis, melainkan bernyanyi dan bermain gitar. Salah satu Jemin banyak diidamkan wanita di sekolah barunya karena terlihat romantis saat bernyanyi.


Beberapa gadis membayangkan Jemin menjadi kekasihnya, namin satu pun tidak ada yang Jemin minati.


Di jam istirahat Jemin selalu masuk ke studio musik di sekolah ini. Mungkin lebih tepatnya studio ini tempat untuk ekstrakurikuler musik. Jemin menjadi salah satu dari anggota musik di sekolah ini.


Suara jeritan wanita di luar membuat Jemin berhenti memainkan musik dan nyanyiannya.


"Ahahaha, wajahmu sangat mirip dengan sampah."


Umpatan yang didengar Jemin.


"Siapa suruh kamu centil. Ya gini akibatnya kalau Jemin hanya mengingat namamu."


Apalagi saat namanya di sebut. Jemin penasaran. Ia melangkah menuju pintu lalu membuka sedikit untuk mengintip.


"Glora, ya?" gumamnya.


Bukan hal baru ia melihat Glora membuli murid. Tapi kali ini Glora terlihat kelewatan apalagi yang membuat Jemin kaget adalah Ketty yang dibulinya. Setahu Jemin Ketty termasuk geng mereka bertiga.


Ia membuka lebar pintu itu hingga membuat suara. Karena hal itu Glora melirik Jemin yang melangkah kepada mereka bertiga sampai Jemin tepat di hadapan Glora.


Senyuman yang membuat Jemin muak yang berasal dari Glora. Perempuan sok paling berkuasa ini tidak membuat Jemin terkesan.


"Jangan buat keributan di sini. Aku terganggu," ujar Jemin dengan tatapan datarnya.


"Aku sudah muak melihatmu bertingkah seolah kau berkuasa di sekolah ini. Kau bukan apa-apa jika tanpa ayahmu, Glora. Maka hentikanlah!"


Glora bertingkah tidak paham. Ia melirik Ketty yang terduduk di lantai dengan tubuhnya yang basah kuyup. Rambutnya juga basah dsn berantakan.


"A-apa yang kau maksud, Jem?"


Jemin menatap lekat wajah Glora yang membuatnya muak.


"Simpan tenagamu untuk melawan dirimu sendiri. Pergilah sebelum aku mengatakan kejadian tadi," jawab Jemin. Jemin sedang menggertak Glora, tapi tidak membuat Glora takut karena ia yang mempunyai kekuasaan di sekolah ini.


"Para guru tidak akan membantumu. Kau bukan apa-apa untukku. Jangan mentang-mentang aku selalu bertingkah suka padamu, Jemin, hingga kau berani bersikap seperti itu padaku."


"Kata siapa aku akan melapor ke guru?"


Glora menengadah angkuh menatap Jemin.


"Aku akan pergi ke pusat kantor polisi jika kau tidak menghentikan tingkahmu," imbuh Jemin.


Glora mengendus mengumpat kasar. "Kau tidak punya bukti."


"Aku sudah merekam semuanya."


Glora merasa kalah. Ia terus menerus mengumpat kasar. Mata yang melotot tidak membuat Jemin gentar dan takut meskipun ayah Glora adalah orang atas.


Glora pergi tanpa berucap diikuti teman, bukan, mungkin teman yang diperbudak Glora.


"Bodoh. Kenapa diam saja?" tanya Jemin tertuju untuk Ketty yang masih duduk di lantai.


Ketty mendongak dengan raut wajah kesal dan marah. Ia lalu bangkit berdiri perlahan sembari meringis menahan sakit.


"Ini semua karena kau, Jemin. Enyahlah!"


Ketty beranjak pergi meninggalkan Jemin yang sudah menolongnya. Jalannya terpincang akibat luka di kakinya. Yang dilihat Jemin, tubuh Ketty terlihat kesakitan dan bercak darah di bajunya terlihat luntur karena basah. Rambutnya jadi pendek dan terlihat tipis serta potongannya tidak beraturan. Seperti ... habis dibakar?


Tidak sampai di situ, ternyata Jemin bertemu Ketty malam-malam begini di apotek. Entah kebetulan atau apa, tapi mereka benar-benar datang bersamaan dengan arah yang berbeda.


Ketty melirik ketus Jemin lalu fokus dengan apa yang ingin ia beli.


"Bu, 2 betadine dan alkohol untuk luka," ucap Ketty.


Jemin mendengarnya dan ia menduga bahwa obat itu pasti untuk luka yang diberikan Glora padanya.


"Iya boleh. Sebentar saya cari dulu."


Mereka menunggu. Rasa penasaran Jemin muncul sehingga membuat pertanyaan di otaknya. Ketty sama sekali tidak ingin melihat Jemin. Kupluk di kepalanya terlihat kebesaran bahkan bisa menutupi mata Ketty.


"Setahuku kau dekat dengan Glora, kenapa bisa jadi mangsanya?"


Ketty tidak menoleh, ia hanya menyudutkan bola matanya melirik Jemin.


"Sudah kubilang itu semua gara-gara kau, Bodoh."


"Apa yang kulakukan?"


Pertanyaan Jemin tergantung karena ibu penjual sudah menemukan obat yang diinginkan Ketty.


"Ini, Nak. Totalnya 54 ribu."


Ketty merogoh saku di hodie-nya. Lalu mengulurkan uang pembayarannya


"Terimakasih, Bu."


Ia melirik ketus Jemin lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Jemin.


.