Your Name

Your Name
Bagaimana itu cinta?



Di malam yang sama jam yang sama. Vinsca menunggu bodyguard nya di bar yang sedang menjalankan perintahnya dengan 3 botol anggur di meja nya. Satu botol sudah habis, Vinsca membuka botol ke dua lalu menuangkan anggur itu ke gelasnya.


Setelah minum, pintu masuk ruang VIP di bar ini terbuka menampakkan orang yang sedang ia tunggu dengan membawa kabar baik.


"Sudah selesai, Nona. Pemilik bar juga sudah menyiapkan kamar."


"Bagus." Vinsca berdiri ia melangkah perlahan, "berjaga di setiap sudut. Pastikan cctv tidak mendapatkan gambarku dan Kent," imbuhnya.


"Baik."


Vinsca ke luar. Ia melihat gerak-gerik Kent di tengah keramaian orang berjoget dengan alunan nada keras merusak gendang telinga yang mendengarnya.


Kent sudah bereaksi. Ia berjalan mendekati Kent. Setiap sentuhan yang ia berikan di tubuh Kent membuat deruan api dalam tubuhnya membara sampai puncak.


Siapa yang menemaninya?


Hasratnya sudah naik ke puncak ditambah Vinsca sedang menggodanya. Semakin memanaslah api dalam tubuh Kent.


Sampai akhirnya Vinsca berhasil membawa Kent masuk ke kamar dengan hasratnya.


Kent sudah tidak bisa menahannya lagi. Ia tidak tahu siapa orang yang menjadi pelampiasan hasratnya. Dalam keadaan mabuk ia menjadi samar ke semua orang. Sambil menahan diri ia mengingat Lalis, tapi tidak bisa.


"Siapa yang mencampur obat padaku?" batinnya tersadar kalau dirinya diracun.


"Panas sekali. Obatnya cepat bereaksi dengan kuat."


Tidak bisa menahannya lagi.


"Siapa wanita ini?"


Wanita yang berhasil membawa Kent ke kamar itu adalah Vinsca. Vinsca perlahan membimbing Kent untuk membuka bajunya.


Ia melepas semua apa yang ia kenakan sampai terjadilah kejadian yang tidak ia inginkan. Ia menghantam wanita yang tidak ia kenali di bawah kukungannya dengan cepat bak terdesak.


Kamar ini kini dihiasi oleh rintihan suara kenikmatan dua orang dewasa. Ini sebuah kecelakaan karena Kent djjebak Vinsca.


Hingga akhirnya Kent mencapai puncaknya, ia ambruk di samping Vinsca. Nafas mereka tersengal-sengal karena merasa lelah dengan apa yang dilakukannya barusan.


Vinsca memeluk tubuh Kent yang sudah tertidur pulas dengan hanya balutan selimut menutupi tubuhnya yang berkeringat.


"Jika aku mengandung anakmu, kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu," gumam Vinsca.


***


Lalis terbangun lebih awal sedangkan Great masih menempel di dada Lalis. Tidurnya sangat lelap sampai ia lupa untuk bangun.


Ada waktu satu jam lagi untuk masuk kerja, Great bisa masuk siang. Tapi Lalis tidak bisa, dia hanya karyawan biasa di perusahaan.


Lalis melepaskan pelukan Great perlahan lalu beringsut dari ranjang setelah memakai pakaian.


Setengah jam sudah berlangsung. Karena waktunya mepet, Lalis mandi hanya sebentar sisanya ia habiskan untuk dandan. Ia duduk di depan cermin sambil sesekali melihat Great yang masih tertidur lelap hingga ia tidak tega me.bangunkannya.


Ia menyadari dari pantulan cermin bahwa leher Lalis ada beberapa bercak merah. Harus bagaimana Lalis menutupinya. Meski membiarkan rambutnya diurai, itu masih terlihat. Kalau memakai beberapa hansaplast akan terlihat aneh. Daripada tidak ditutupi, lebih baik terlihat aneh.


"Lalis," ucap Great setelah bangun dari tidurnya.


Lalis melihatnya dari pantulan cermin. "Iya," jawabnya.


Raut wajah Great penuh senyuman di pagi hari begitupun dengan Lalis. Semua beban seolah menghilang, walaupun sejenak setidaknya Great merasa enjoy sekarang.


"Sudah mau berangkat, ya?" tanya Great.


"Iya. Lima belas menit lagi waktu masuk kerja," jawab Lalis.


"Pacarku sibuk banget," ujarnya sambil meregangkan kedua tangannya.


Lalis tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah memakai lip tint peach andalannya Lalis beranjak menghampiri Great.


"Wajah Pak Great begitu bersinar ketika sedang tidur. Saya selalu ingin melihatnya."


"Kau menggodaku, ya?"


"Tidak."


"Jangan panggil aku bapak lagi, Sayang."


Terasa aneh saat panggilan itu terucap di mulut Great sekaligus Senang mendengarnya. Lalis tidak menyangka bahwa ia bisa secepat itu jatuh hati kepada seseorang apalagi saat ini dia masih pacar Kent.


Karena tidak adanya kabar dari Kent, Lalis jadi merasa kesepian. Di saat itulah Great muncul dan selalu ada untuk Lalis. Hingga akhirnya Lalis tidak bisa memendam rasa untuk Great.


"Panggil saja namaku, apalagi panggil sayang," lanjut Great.


Akan sangat canggung bagi Lalis. Berhubung Great atasannya, jadi mana mungkin ia memanggil namanya. Tapi di sisi lain juga Great sekarang pacarnya.


Lalis menengok jam tangan di tangannya. "Ah, 10 menit lagi. Saya berangkat dulu, ya. Bisa terlambat kalau tidak sekarang, di jalan juga pasti memakan waktu," ujar Lalis mengalihkan pembicaraan.


Ia beranjak perlahan. "Jangan lupa sarapan. Karena tidak sempat masak, makanlah beberapa roti dan susu pisang. Saya pamit sekarang, ya."


"Curang apanya?" tanya Lalis.


"Makan siang nanti, ke luar bersama, ya."


"Boleh."


Great menggoda Lalis, "sekarang gampang di ajak, ya. Dulu aja selalu nolak, jika mau pun karena aku yang nyeret."


"Itu dulu. Sekarang kita pacaran ... sudah, ya. Nanti saya kabarin."


Lalis membuka pintu lalu pergi berangkat kerja.


"Sudah pacaran pun sikapnya tetap santai. Apa dia tidak bisa bercanda, ya?" gumam Great.


***


"Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu,"


Ucapan Great terjeda oleh pelayan restauran yang datang meletakkan pesanan makan siang mereka.


"Sangat serius, ya?"


Pelayan pergi setelah memberi salam pada mereka.


Mereka ke luar mencari restauran enak di jam makan siangnya. Great mengajak Lalis ke restauran yang sering ia kunjungi. Meskipun sederhana tapi rasa makanannya sangat mewah.


"Aku menahan Jey Gwart di China. Alasannya karena aku khawatir padamu. Kau selalu khawatir saat HP-mu berdering. Saat kutanya, kau khawatir jika Jey Gwart yang menelpon. Maka dari itu, papa mengirimnya ke China untuk mengurus perfilman di sana. Saat itulah kesempatanku. Dan ya sampai sekarang aku masih menahannya."


Sebenarnya Lalis tidak peduli mau kemanapun pergi ya ayah Kent. Waktu itu ia bertanya karena sudah lama ia tidak mendapat kabar darinya.


"Aku khawatir jika dia tiba-tiba muncul di hadapanmu, kau akan ketakutan. Melihatmu bicara dengannya di telpon, aku jadi khawatir," imbuh Great.


Lalis terdiam. Bagaimanapun ia tidak merasakan apapun. Hanya saja ia harus berterimakasih karena Great menahan Jey, membuatnya damai dsn sedikit menghilangkan stres di pikirannya.


"Saya tidak tahu apakah cara Pak Great salah atau tidak. Tapi saya sangat bersyukur bahwa anda sangat memperhatikan, bahkan setiap detail kecilpun anda begitu peka terhadap saya."


"Aku tidak hanya menyukaimu, Lalis. Aku juga menyayangimu, kau orang penting bagiku."


Pikiran Lalis jadi membanding-banding Great dan Kent. Perhatian Kent dan Great hampir terlihat sama. Hanya saja Kent tidak bisa menahan emosinya saat sedang capek. Mungkin bisa dibilang risih. Tapi rasa sayang Kent ke Lalis tidak jauh berbeda dengan Great. Perbedaannya hanya di mood mereka.


"Tolong jangan bicara formal saat kita sedang berdua. Setidaknya bilang aku kamu," imbuh Great.


Lalis diam sejenak. "Apa ka-kamu tidak pernah berpikir bahwa aku akan kembali lagi ke cinta pertamaku?" tanya Lalis.


"Tidak. Kuharap kau tidak membuatku kecewa. Aku melihat keraguanmu, Lalis."


"Jika aku ragu aku tidak akan bersedia jadi pacarmu."


"Kau pernah bilang, bagaimana bisa secepat itu menyukai seseorang."


"Aku penasaran denganmu sejak malam itu."


Great dan Lalis terdiam sejenak. Mungkin Great belum paham ucapan Lalis sementara Lalis menunggu Great paham.


"Sejak saat itu aku mulai memikirkan pria yang outfit serba hitam yang tak lain adalah kamu."


"Jadi, dari dulu?"


"Iya. Bukan tanpa alasan. Tapi kamu hebat. Kamu orang pertama yang mendengarkan pesan dariku. Itu sangat membuatku merasa dihargai. Kau orang pertama yang memelukku waktu itu ... Di saat semua orang mengataiku gila karena papan tulisan itu. Kau dengan tulus melakukannya dengan isi hatimu."


Kebenaran yang sebenarnya mulai terungkap. Pada kenyataannya mereka saling menaruh rasa suka sejak pandangan pertama.


"Walaupun aku hubungan dengan Kent. Tapi hatiku telah di luluhkan oleh orang lain. Entah karena Kent yang sering mengabaikan ku, atau aku yang mengkhianatinya," imbuh Lalis.


"Apa maksud Kent mengabaikanmu?"


"Dia sangat bekerja keras. Itu bagus. Tapi saat keinginannya belum terpenuhi ia akan melupakanku dan membuatku kesepian. Seperti malam itu. Dia berjanji mau menemaniku, tapi pada akhirnya aku sendirian," jawab Lalis.


"Tapi kau terlihat begitu mencintainya. Dari caramu memamerkannya padaku dulu."


"Ya. Rasa cintaku sangat besar kepadanya. Efort and support nya sangat besar sehingga aku tidak sanggup meninggalkannya."


Great terdiam menahan sakit di hatinya. Ketakutannya mulai muncul jika Lalis kembali lagi dengan Kent.


"Ucapanmu menyakiti hatiku, Lalis."


"Maaf tapi kamu harus tahu kebenarannya. Dan kebenaran yang sekarang aku hanya ingin terus melihatmu selamanya. Aku akan mengatakan bahwa aku mengkhianati Kent. Itu tidak masalah asalkan kamu terus melihatku."


"Seberapa yakin dirimu padaku?"


"Aku akan mengatakan 50 persen dulu."


"Kemana 50 persen lagi?"


"Ada di dirimu. Cari 50 persen itu untukku. Buat aku lebih mencintaimu melebihi cintamu padaku."