
"Bu Saka?"
Ketua tim itu menyahut dan menoleh ketika Kenya memanggilnya.
"Bu Saka kan ketua tim pasti sering bicara dengan Pak Great saat sedang meeting?" tanya Kenya.
"Tidak begitu. Kami bicara seperlunya saja, itu tidak sering."
"Apa Bu Saka tahu kalau Pak Great memiliki pacar?"
Mengingat anggota tim belum pada masuk, jadi Kenya menanyakan hal ini hanya saat ada mereka berdua. Tapi tidak hanya mereka berdua, Kenya kaget begitu Jovi terduduk di depan meja kerjanya. Beruntung Jovi yang masuk, ia tidak akan tertarik dengan hal itu sekalipun itu direktur perusahaan tempat ia bekerja.
"Jangan canggung. Aku tidak akan mengatakan apapun kepada orang lain, lanjutkan saja percakapan kalian," ujar Jovi sambil memakai kacamata kerja lalu membuka komputernya.
Sudah Kenya duga. Seberapa dinginnya Jovi, sih? tapi pembawaannya yang dingin ini membuatnya berkarisma. Tidak jarang ada wanita yang memberinya surat cinta tapi selalu Jovi tolak.
"Kenapa Kenya mengatakan hal seperti itu?" tanya Bu Saka.
"Karena saya melihat Pak Great semalam bersama wanita. Mereka sedang makan malam di restoran."
Mau pacaran atau tidak, Bu Saka tidak peduli tentang hal itu. Tapi satu hal yang Bu Saka ingat, dideketin wanita saja Great selalu menolak dan merasa jijik.
"Bisakah anda tanyakan itu ke Pak Great, Bu.?"
"Mengaps begitu?"
Kenya terdiam sejenak dengan wajah sedihnya, tangannya meremas rok pendek yang ia kenakan.
"Saya sadar ini mustahil untuk saya. Tapi ... saya menyukai Pak Great akhir-akhir ini."
Jovi yang sudah lama menyukai Kenya dan diam-diam menyimpan perasaannya, mematung sejenak. Hatinya berdebar kencang karena perkataan Kenya membuatnya sakit. Wanita yang ia sukai menyukai orang lain, bukankah itu menyedihkan?
Perkataan itu memancing tatapan Jovi.
"Bukan tanpa alasan kalau saya menyukai Pak Great. Perasaan saya tumbuh begtitu saja," lanjut Kenya.
"Sejak kapan Kenya menyukai Pak Great?" tanya Bu Saka.
"Hmm ... mungkin sejak Pak Great menenangkan saya ketika di lift. Saat itu liftnya rusak dan gelap, saya memiliki trauma kegelapan."
Tatapan Bu Saka dan Jovi bertemu. Beberapa minggu yang lalu Jovi curhat dengan Bu Saka saat makan siang. Memang Bu Saka punya banyak rahasia anggota tim-nya, ya?
Waktu itu Jovi mengatakan bahwa ia menyukai Kenya sejak saat mereka bertemu, itu cukup lama tapi Jovi masih memendam perasaanya.
Bu Saka tahu kalau Jovi akan sakit hati mendengar pengakuan Kenya tentang isi hatinya yang menyukai Great.
"Aku akan menanyakan hal itu nanti jika kebetulan berdua," jawab Bu Saka.
***
Persiapan penjamuan sudah selesai. Tinggal menunggu tamu yang akan datang ke kediaman Joul. Suasana keriaman Joul masih sama hanya saja mereka menyiapkan sedikit penjamuan untuk tamu istimewa.
Kediaman Joul sangat mewah, di dalam rumah semuanya bernuansa emas meskipun bukan rumah emas. Luasnya mungkin setsra dengan lapangan sepak bola. Kediaman Joul sudah tidak ramai seperti dulu. Semua putra-putri Joul sudau menikah, tersisa Great si bungsu jenius.
Joul sendiri memiliki 8 anak semuanya tinggal di Eropa kecuali Great. Makanya sudah pantas jika Joul selaku ayah Great sudah sangat tua berjalan saja sudah memakai tongkat. Nyonya Joul selaku istri Joul yang ia cintai sudah lama meninggal, saat itu usia Great masih 2 tahun.
"Kakek, aku memilihnya bukan sembarangan. Pria yang aku sukai bukan orang jahat seperti ayahnya," ujar Vinsca cucu Joul yang akan dijodohkan dengan Kent.
Ciri khas dia adalah rambutnya yang pirang dan bergelombang layaknya putri disney di kehidupan nyata. Kehidupannya begitu sempurna. Di Eropa saja ia masuk 10 besar jajaran wanita tercantik. Yang dimaksud cantik bukan hanya cantik saja, melainkan pintar dan bijaksana.
"Kakek tahu. Tunggu dan lihat calon suamimu."
Vinsca, beserta ayah ibunya tidak sabar menunggu kedatangan Kent sampai akhirnya Ayah Kent dan Kent datang.
"Mohon maaf kedatangan kami telat, Pak, Tuan, Nyonya. Ada sedikit masalah, jadi sekali lagi maaf membuat kalian menunggu," ucap ayah Kent sambil membungkukkan tubuhnya.
Tatapan Kent dan Vinsca bertemu. Tidak ada senyuman di antara mereka.
Wajah familiar Vinsca membuat Kent teringat masa SMA saat dia sekolah di Amerika. Waktu itu dia dikalahkan oleh seorang wanita dalam latihan tinju. Ya, Kent ingat itu.
Vinsca tersenyum miring kepada Kent.
"Orang yang tidak menghargai waktu itu orang pemalas dan tidak disiplin," ujar Vinsca.
Tatapannya mencerminkan keluarga Joul. Meskipun ia terlihat feminim dan anggun, kenyataannya ia memiliki hobi yang didominasi untuk cowok. Mulai dari tinju, basket, sepak bola, Vinsca bisa semuanya. Kecuali satu yaitu memasak.
"Duduk dan mari bicara," ujar Joul.
Oh ya perlu diingat bahwa semua anak Joul memiliki nama belakang namanya. Itu karena ia ingin memulai dan membangun keluarga yang berbeda. Kata leluhur, nama yang memiliki marga akan mendapat keberuntungan dan mudah mendapat keinginan.
"Mari jalan-jalan di taman belakang, Kent," ujar Vinsca.
"Mari. Kebetulan ada yang ingin saya bicarakan," jawab Kent sama halnya dengan Vinsca, menatap dingin kaya kulkas hidup.
Singkat cerita.
Kent terhenti setelah berjalan berdampingan sehingga Vinsca harus melangkah sendiri.
"Batalkan keinginanmu!" Langkah Vinsca terhenti. Kent disenyumi remeh oleh Vinsca.
"Ternyata kakek memberitahumu bahwa aku yang menginginkannya, ya?" ujar Vinsca. Wajah Vinsca sudah dipenuhi kelicikan, mulai dari senyuman dan raut wajahnya.
"Sejak SMA kau sama sekali tidak bisa melangkahiku," lanjut Vinsca sambil membalikkan badannya ke arah Kent.
Kent sudah menduganya. Dia adalah Vinsca yang terkenal hebat di SMA. Si pelindung orang yang dirundung. Mereka dulu satu sekolah berbeda kelas. Kent sangat terkesan dengan Vinsca waktu dulu. Namun Vinsca terus menolaknya untuk berteman sampai akhirnya Kent membencinya karena menurutnya Vinsca sombong. Mentang-mentang anak miliarder.
"Meskipun aku pernah terkesan kepadamu, aku tidak pernah suka denganmu," ujarnya.
"Siapa yang pernah menyukai siapa?" ujar Vinsca sambil menghampiri Kent sampai tepat di hadapannya.
Kent terdiam.
"Cih," umpat Vinsca.
Memang ya percakapan orang pintar dengan orang pintar tuh sangat singkat tapi penuh makna.
Alis Kent mengernyit. "Aku sudah punya calon istri, jadi jangan berharap untuk menjadikanku calon suamimu."
"Aku tahu." Vinsca mengumpat. "What the- kau tidak bisa menolakku!"
"Bisa. Aku bisa. Mengapa harus tidak?"
"Karena ayahmu. Aku menawarkan beberapa saham milik ayahku dan menjadikanmu pemilik salah satu perusahaan ayah di Amerika, pemilik sepenuhnya."
"Sekalipun ayah mau, aku tidak akan patuh pada ayah."
Raut wajah Vinsca mulai kesal. "Kukira kau akan berubah saat sudah dewasa, tapi sama saja. Cih, sayangnya orang-orang yang menyukaimu karena berhati malaikat tidak tahu bahwa sisi Vinsca yang sebenarnya adalah ini," ucap Kent yang membuat mental Vinsca terjatuh.
Ia terlihat menghembuskan nafas panasnya akibat kesal dan marah, bahkan tangannya sudah mengepal bersiap untuk memukul Kent.
"Percuma jika kau terus memaksaku untuk menjadi calon suamimu, karena sampai kapanpun aku tidak mau menikah denganmu. Sudahi saja, cukup-"
"Kau pikir aku akan berhenti. Kau pikir mengapa aku belajar tinju, kau tidak tahu untuk siapa aku belajar tinju," tegas Vinsca memotong pembicaraan Kent. "Kau pria lemah waktu itu. Yang hanya kau tahu hanyalah pelajaran, meskipun kau melawan saat di buli. Kau tetap kalah dan berakhir babak belur," lanjutnya.
Kent jadi mengingat waktu SMA, apalagi saat duduk di bangku kelas 2. Ia sering diganggu perundung hanya karena Kent tidak memiliki rasa takut pada mereka. Kemampuan yang pas-pasan membuat Kent tidak terlihat lemah. Tatapan dan pembawaan Kent sangat dingin waktu dulu. Waktu pelajaran olahraga saja Kent selalu mendapat nilai kecil.
"Sudah cukup, Vinsca. Jangan mengungkit masa lalu lagi," ujsr Kent.
"Itu karena aku menyukaimu. Aku ingin melindungimu karena aku tahu kau tidak minat dengan aktifitas lain kecuali belajar. Kau memang bodoh waktu itu."
Tentu saja Kent kaget kalau ternyata Vinsca menyukainya sudah sejak lama, itu sudah ada sekitar 10 tahunan, mungkin.
"Mungkin aku juga bukan sekedar ingin berteman denganmu," gumam Kent.
"Lalu apa?"
Kent tersadar saat Vinsca mendengar ucapan Kent padahal suaranya pelan. Yang anehnya Kent tidak sepenuhnya sadar mengatakan hal itu di depan Vinsca.
"Bukan apa-apa. Aku akan kembali ke dalam dan langsung pamit. Aku akan mengatakan kalau aku menolak perjodohan ini."
"Tidak." Vinsca langsung merespon cepat. Ia tidak rela jika harus membatalkan perjodohannya.
"Kent aku sangat gila beberapa tahun ini karenamu."
"Kau memang sudah gila. Lihat dirimu, tidak ada pria yang tidak menyukaimu. Bahkan seorang pangeranpun akan tergila-gila padamu. Kenapa menyukaiku yang tidak memiliki apa-apa."
"Kau punya segalanya."
Pertengkaran mereka akhirnya di mulai. Kent masih dengan pembawaan tenangnya. Sedangkan Vinsca mulai menggila.
"Aku tidak perlu pria lain selain dirimu. Kau bisa perlahan menyukaiku jika kau menerimaku, Kent."
"Kau gila, ya?"
Kent tidak pernah menyangka bahwa wanita hebat yang didambakan satu SMA dulu menangis di hadapan Kent, sedang memgemis cintanya. Wanita yang dikenal berjiwa pria ini kini tengah lemah di hadapan Kent.
"Dadaku sakit karena terus merindukanmu selama ini. Setelah semua kemauan ayahku tercapai aku bebas dan ingin kembali melihatmu," ujar Vinsca.
Semakin Kent menjawab pertanyaan Vinsca, semakin gila wanita ini. Kent memalingkan wajahnya, dari dulu sampai sekarang ia tidak bisa melihat wanita menangis.
"Aku akan pergi dan menolak perjodohan ini. Kuharap kau paham."
Saat Kent akan pergi, Vinsca menahan kepergiannya. Ia merengkuh tangan Kent.
"Jangan. Aku tidak mau,"
Kent melepaskan tangan Vinsca lalu pergi secepat mungkin meninggalkan Vinsca. Tangisan Vinsca bukan tangisan lebay, ia hanya mengeluarkan air mata meluapkan kesedihannya.
Sampai akhirnya di dalam, Kent mendaratkan bokongnya di samping ayahnya. Tidak membuang waktu Kent berkata, "aku menolak perjodohan ini."
Semua terlihat kaget seolah dipermainkan. Joul menampar pipi Kent dengan tongkatnya sampai hidungnya berdarah.
"Biasakan diri ketika kau bicara denganku," ucap Joul.
Ayah dan ibu Vinsca terlihat marah sehingga menjatuhkan kata-kata kasar dari mulutnya. "Hei, brengsek. Tarik kembali kata-katamu," ucap ayah Vinsca.
Ayah Kent berbisik dengan nada bicara yang kuat dan tegas. "Jangan membuat luka untuk diri sendiri, Kent. Dengarkan kata ayah," ujar Gwart.
"Tidak ada yang ingin aku bicarakan lagi. Aku akan pamit," ujar Kent setelah berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan semuanya termasuk ayahnya.
"Tutup semua pintu kediaman Joul," perintah Kakek Vinsca. Semua anak buahnya bergerak cepat.
Langkah Kent terhenti karena kaget. Tapi suara Vinsca menghangatkannya, membuat Kent lega.
"Biarkan dia keluar dari kediaman Joul," ucap Vinsca sambil menghampiri mereka semua.
Air mata sudah tidak ada lagi di pipinya. Seperti biasa, ia akan terlihat dengan wajah datarnya.
"Tapi bukan berarti dia bebas di luaran sana," lanjut Vinsca. Tanpa menghiraukan ucapan Vinsca. Kent melanjutkan langkahnya karena sudah diberi jalan untuknya.
Ia memesan taksi agar ayahnya bisa pulang dengan mobil yang mereka pakai saat datang ke kediaman Joul. Di dalam mobil ia menelpon Lalis yang sudah lama tidak ia beri kabar.
Tahukah bagaimana perasaan Lalis saat ada telpon dari Kent setelah sekian lama tidak ada kabar darinya. Lalis yang panik terus berkata bahwa ia mengkhawatirkannya.
"Iya. Tenanglah, Sayang. Aku baik-baik saja jangan terlalu khawatir," ujar Kent.
^^^"Bagaimana tidak khawatir, kami menghilang dan tidak membalas pesanku," jawab Lalis. ^^^
"Ceritanya sangat panjang jadi aku ingin menemuimu sekarang. Aku sedang menuju apartemenmu sekarang. Sambut kekasihmu ini, ya."
Lalis sangat senang.
^^^"Tentu saja. Aku akan buat makanan enak untukmu, datanglah." ^^^