
Vinsca tidak menyerah ketika ia mau menginginkan sesuatu meskipun ia harus berbuat curang. Apapun itu Vinsca tidak pernah tidak mendapatkan keinginannya.
"Kau boleh menyebutku gila, apapun itu akan kulakukan," ucap Vinsca saat tengah menelpon sejak 2 menit yang lalu.
Setelah ditinggalkan Kent begitu saja, ia mencari kafe dan duduk sebentar lalu menelpon Great. Ia bukannya meminta bantuan, tapi meminta saran menghadapai masalah ini. Bukan tanpa alasan Vinsca meminta saran ke Great daripada sepupu-sepupunya yang lain. Karena mereka berdua menyukai orang yang terikat hubungan satu sama lain.
^^^"Ini disebut memperkosa. Apa kau tidak punya harga diri?"^^^
"Tidak ada jalan lain. Aku sudah tidak tahan lagi. Meskipun aku belum melakukan apa-apa demi mendapatkan perhatian Kent, aku sudah tidak sabar," jawab Vinsca.
^^^"Kau sudah gila. Kau memang gila. Hentikan itu, jika suka, lakukan dengan akal sehat. Jangan membuat keperawananmu hilang sebelum menikah,"^^^
Vinsca sudah memikirkan itu dengan matang. Karena Kent sangat mencintai Lalis, sampai beberapa kali pun ia menggoda Kent, Kent tidak pernah tertarik dengan ajakan Vinsca.
Vinsca sudah menawari kepemimpinan Kent di perusahaan New York, memberikan beberapa saham kepada Kent, menawarkan bantuan untuk perusahaannya yang masih bernama ayahnya. Bahkan jika Kent mau tetap melanjutkan training nya sebagai dosen di universitas, Vinsca bisa membantunya agar cepat diangkat menjadi dosen.
Sejak awal bertemu juga ia menawarkan tempat tinggal sementara untuk Kent tinggal di sini. Alasannya karena ia mengetahui tempat tinggal Kent di Amerika, dia mengontrak sebuah rumah kecil, mungkin di tanah air disebut kosan. Itu karena Kent sedang menghemat agar pengeluarannya tidak banyak.
Apalagi jika Vinsca melihat Kent bekerja sebagai karyawan kantor biasa, itu membuat Vinsca kasihan padanya. Mengingat Kent di tanah air adalah direktur di perusahaan milik ayahnya.
"Ya. Aku sudah gila. Kau tahu kenapa? dia sangat mencintai Lalis yang kau cintai itu," bentak Vinsca, "Asal kau tahu dia mengatakan bahwa 'sampai kapanpun ia akan mencintai Lalis meskipun Lalis menjadi milik orang lain, ia akan merebutnya sampai mati' Kau harus hati-hati Great," lanjutnya.
Great terkejut. Ia takut, sejak saat ini ia harus bertindak cepat. Membuat Lalis menjawab ungkapan perasaannya dengan jawaban yang ia inginkan.
^^^"Aku sudah mendapatkan Lalis, jadi aku tidak perlu sekhawatir itu," jawab Great..^^^
"Lalu bagaimana jika Kent pulang ke tanah air dan bertemu Lalis? apa Lalis akan yakin denganmu? Aku tidak yakin bahwa Lalis sepenuhnya terpikat padamu,"
Seolah jadi provokator, Great terlihat khawatir saat ini. Tidak mau mendengarkan perkataan Vinsca, ia menutup telpon itu sepihak. Ia khawatir Vinsca membuatnya lebih takut lagi.
Raut wajah Great mulai memanas dan rahangnya mengeras, Great menahan emosinya dengan menarik nafas lalu menghembuskannya.
Ia mencari kontak di HP-nya. Yang ia cari adalah nama Lalis. Ia menekan panggilan di tengah pekerjaannya. Satu kali telpon tidak menjawab. Sampai 20 panggilan tak terjawab. Padahal biasanya Lalis tidak pernah jauh-jauh dari HP-nya.
Ia sampai menelpon skertaris Joy, memberi perintah agar melihat Lalis di tim pemasaran.
Sekitar 10 menit kemudian Skertaris Joy melaporkan bahwa Lalis ada di ruangan tim-nya.
"Dia masih fokus dengan pekerjaannya, Pak. Seperti biasa tim pemasaran selalu tenang dalam bekerja," ujar Joy.
"Tolong cepat panggil ke sini," ucap Great dengan nada tergesa-gesa sambil menutup telponnya.
Sengaja Great memindahkan skertaris Joy ke ruangan lain agar mereka terpisah. Meskipun skertaris selalu di perlukan dalam keadaan darurat, tapi Great lebih senang jika Joy terpisah. Ia suka sendirian. Apalagi setelah Lalis sering keluar masuk ruangan Great karena keinginannya.
Sampai kapan Great harus merasa sesak begini. Rasanya ia tidak tahan lagi sekarang.
Dalam waktu dekat ketukan pintu berbunyi, Great tidak bicara, ia berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu itu. Ia sontak menarik tangan Lalis untuk masuk ke dalam lalu menutup pintunya.
Great langsung mendaratkan bibirnya di bibir Lalis. Bukan sekedar menciumnya, ia melumatinya dengan ritme tidak karuan. Setiap kelembutan bibir Lalis yang ia cium terus membuatnya tidak ingin berhenti. Rasanya ia ingin menggentarkan semua anggota tubuh milik Lalis sampai Lalis berkata 'jangan berhenti'
Kaget dengan Great yang tiba-tiba, Lalis mencoba membalas ciuman itu. Ia merasa ada yang tidak benar, ia mendorong tubuh Great agar memberi jarak di antara mereka.
"Pak, sebentar!" ujarnya.
Great tidak bisa menahan ini, deruan nafasnya sangat memburu setelah Lalis melepaskannya.
"Aku tidak bisa menahannya lagi," jawabnya. Wajah Great terlihat menyedihkan sekarang.
"Kenapa tiba-tiba? apa ada masalah?"
"Ya. Masalahnya adalah aku. Aku ingin melanjutkannya," jawab Great.
Lalis tidak mengerti Great yang saat ini di hadapannya. Ia menatap Great dengan tanya-tanya di raut wajahnya.
Great sudah tidak bisa menahannya lagi, ia mengabulkan keinginan hasratnya lagi. Lalis tidak menolak sedikit pun. Setiap suara kecupan itu membuat hasrat mereka semakin melonjak naik tanpa berpikir bahwa ini di kantor.
Great mengangkat tubuh Lalis sampai kaki Lalis menyilang di pinggangnya. Ia mengunci pintu lalu membawa tubuhnya duduk di sofa hingga Lalis duduk di pangkuannya. Remote di sofa ia ambil tanpa melepaskan ciuman itu, lalu ia tekan turn off untuk menutup semua jendela di ruangannya.
Great sudah benar-benar tidak bisa menahannya. Sepertinya bukan cuma hasratnya, tapi ketakutannya terhadap ucapan Vinsca tadi. Ia jadi menginginkan lebih dari sekedar ini.
Ia membaringkan tubuh Lalis di sofa tanpa melepaskan ciuman itu. Sampai ciuman itu terlepas karena Lalis terkejut saat Great membuka kemejanya tanpa melepas satu-persatu kancingnya bahkan satu kancingnya ada yang copot hingga terjatuh ke bawah.
Ciuman Great turun ke bawah sampai bawah lagi. Bukannya menikmati sentuhan Great, Lalis justru terus memikirkan apa yang dilakukan Great barusan. Saat tangan Great mulai membuka kancing celana jeans yang dipakai Lalis, ia menghentikannya.
Lalis menahan tubuh Great hingga mereka saling menatap penuh tanya.
"Pak, apa ini terlalu berlebihan, ya?" ujar Lalis.
"Kenapa?"
Lalis terdiam sejenak sampai ia mau menjawab tapi Great mendahului ucapan yang ingin ia keluarkan.
"Karena kamu masih mencintai pria itu?" lanjut Great.
Alis Lalis mengernyit. Dulu saja Great bisa menahan hasratnya padahal Lalis sudah merasa pas dan siap waktu itu. Tapi kenapa Great membawa-bawa nama Kent. Sejauh ini Great baik-baik saja.
"Jangan mempermainkan perasaanku seenaknya, Lalis. Kau pikir ini mudah bagiku?"
Nada bicara yang tidak pernah ia dengar dari mulut Great membuatnya kaget bukan main.
"Saya tidak mempermainkan perasaan Bapak."
"Lalu apa? aku sakit hati karena kau terus menggantungkan perasaanku padamu."
"Bukankah Bapak setuju saat saya minta waktu untuk memikirkannya."
"Waktu berapa lama yang kau maksud? apa waktu itu untuk berpikir apa kau akan memilih Kent atau aku? Kau memang tidak memiliki hati untukku. Jika Kent kembali dari Amerika, kau sudah pasti akan kembali kepadanya," ujar Great sambil bergerak dari kungkungan Lalis. Ia terduduk lalu memalingkan wajahnya dari Lalis.
Lalis terduduk sambil mengancingkan perlahan kemejanya, lalu melihat Great yang marah padanya.
"Sepertinya anda salah paham," ujar Lalis.
Lalis sedikit tersinggung ketika Great mengatakan 'enyahlah!' itu membuat luka di hati Lalis seolah dia bukan orang yang tidak dipercaya.
"Apalagi kau sangat mencintainya. Kau bahkan sudah memberiku peringatan," lanjut Great,"
"Perkataan Bapak menyinggung saya,"
"Lebih bagus, agar kau sadar diri, Lalis. Aku tidak sesabar itu menunggu jawabanmu. Sekarang kau sudah menjawabnya, jadi aku mengerti sekarang,"
"Anda benar-benar membuat saya sedikit tersinggung. Saya meminta waktu karena saya memikirkan bagaimana saya mengatakan putus dengan pacar saya,"
Great sontak menoleh setelah pernyataan itu.
"Saya menunggu waktu untuk mengumpulkan keberanian dengan mengatakan bahwa saya mencintai Bapak kepada pacar saya," lanjut Lalis.
Great membelalakkan matanya sejak tadi. Yang Lalis katakan benar bahwa ia salah paham. Great memeluk tubuh Lalis dengan erat. "Aku minta maaf," ucapnya.
Apapun yang terjadi sekarang, ia tidak ingin kehilangan Lalis. "Maafkan aku," lanjutnya.
"Pak. Saya tidak mungkin mempermainkan perasaan Bapak meskipun belum yakin bahwa saya menyukai Bapak."
Great melepaskan pelukannya. Raut wajahnya penuh pertanyaan.
"Tapi saat melihat Bapak begitu banyak disukai wanita lain, saya tidak rela dan tidak suka melihatnya. Perasaan kali ini begitu aneh karena saya negitu cepat menyukai seseorang ... bahkan ketika saya masih memiliki pacar yang sudah satu tahun dengan saya," ujar Lalis.
"Tolong jangan membuatku takut dengan mengatakan bahwa kau tidak yakin dengan perasaan sukamu padaku, Lalis," ucapnya lagi sambil memeluk tubuh Lalis.
"Saya yakin karena perasaan saya begitu berdebar saat dekat dengan anda. Hasrat saya selalu naik kala bersama anda. Lalu para gadis yang berada di sekitar Bapak membuat saya sakit mata kala melihatnya. Apa ini belum termasuk rasa suka, ya?"
Great semakin mengeratkan pelukannya. "Saya suka Bapak. Dan tolong buat saya lebih suka lagi agar perasaan saya lebih yakin meskipun sudah yakin seperti saat ini," lanjut Lalis.
"Aku akan membuatmu sangat suka padaku karena aku teramat suka padamu, Lalis. Jangan berhenti menyukaiku walaupun kau belum yakin bahwa kau mencintaiku," jawab Great.
Lalis membalas pelukan Great. Setelah 1 jam ia berada di ruang Great. Lalis tersadar bahwa ia sedang membuat konsep penjualan untuk produk yang akan diluncurkan perusahaan.
"Sudah dulu, Pak. Saya lupa bahwa tugas saya numpuk," ujar Lalis.
"Nanti saja. Sampai jam pulang tetaplah di sini," jawab Great.
Lalis bangkit lalu merapikan rambut yang semula acak-acakan karena Great. Ia jadi mengikat rambutnya uang semula ia biarkan terurai.
"Mereka pasti curiga. Apalagi Kenya sudah tahu kita memiliki hubungan dekat,"
"Kenya tahu?"
"Iya. Dia menguping pembicaraan kita waktu makan siang."
"Jika mereka bertanya, katakan saja bahwa aku menyuruhmu menemani skertaris Joy dalam perbaikan laporan tim pemasaran yang dikerjakan olehmu," ujar Great
Salah satu yang membuat Great kagum adalah sikap tenang Lalis dalam menghadapi masalah. Lihat saja sekarang, ia terus mengomel takut dengan orang-orang yang akan membicarakannya, tapi ia masih bisa tenang.
"Bagaimana ini? kancing kemejanya copot satu. Mereka pasti beranggapan sembarangan," ujarnya.
"Aku banyak kemeja cadangan di lemari."
Greta menghampiri lemari lalu melihat-lihat kemeja yang memiliki ukuran kecil untuk Lalis. "Coba yang ini," lanjut Great.
Lalis membuka baju di depan cermin yang hanya mengenakan bra saja. Ia tidak malu lagi karena Great sudah dua kali melihat tubuhnya tanpa baju. Bahkan satu kali tanpa bra.
Great memeluk Lalis dari belakang sambil meraba-raba perut rata Lalis sebelum kemejanya dikancingkan. Ia kembali menciumi leher Lalis.
"Aku tidak kuat kalau rambutmu diikat begini," ujar Great.
"Saya jadi semakin berani karena anda memanjakan saya," ucap Lalis
"Tidak apa-apa."
"Ah,"
******* itu tidak sengaja keluar saat Great memegang apa yang tidak seharusnya ia pegang. Lalis menghindar secepatnya.
"Pak, sudah cukup," ucap Lalis.
"Satu ciuman lagi," pinta Great.
Lalis mendekat dan mencium bibir Great sejenak. Lalu beranjak ke luar ruangan Great.
Benar saja. Saat masuk ke ruang tim pemasaran, rekan timnya pada bertanya.
"Apa yang dilakukan kamu sehingga 1 jam tidak kembali?" tanya Bu Saka.
"Pak Great meminta saya untuk merekap ulang laporan yang dikerjakan saya. Beruntung Pak Joy membantu saya jadi kerjaan ulang saya jadi mengirit waktu," jawab bohong Lalis.
"Kau yakin hanya itu di sana?" tanya Kenya seolah mengintimidasinya.
"Kurasa bukan hanya itu karena kemejamu jadi kebesaran," sahut Jovi.
"Ah ini, ini- kopi Pak Joy tumpah ke kemeja saya, jadi dia meminjamkan kemejanya,"
Tidak ada yang 100 persen percaya dengan alasan Lalis kecuali Veronika dan Seila. Jika gaya rambut Lalis tidak di komentar, itu artinya mereka memaklumi karena setiap cewek pasti akan seperti itu.
"Beberapa hari ini kerjaan kamu selalu kau gantung, Lalis. Jadi untuk kedepannya tolong jangan meremehkan pekerjaan di tim ini. Kau karyawan baru di sini jadi tolong jangan bersikal santai,"
Tunggu. Seharusnya yang mengucapkan hal itu adalah Bu Saka. Tapi ini Kenya. Memang ada benarnya. Mengingat Lalis baru 4 bulan di perusahaan seharusnya ia harus sigap dalam segala hal.
"Iya. Maaf kalau kinerja saya menurun,"
"Syukurlah kalau tahu diri," gumam Kenya yang masih bisa mereka dengar.