Your Name

Your Name
Khawatir



Karyawan kantor terus membicarakan kejadian satu jam lalu. Apalagi platform mereka sudah banjir berita, video terjadinya kecelakaan satu jam lalu. Pihak perawat langsung ambil langkah pertama kepada korban. Hingga akhirnya mereka membawa Lalis ke rumah sakit agar segera di tangani dokter.


Great yang panik sontak pergi ke rumah sakit setelah Joy memberitahunya. Perasaannya sudah tidak karuan mendengar berita itu.


Sudah tiga puluh menit Great menunggu. Dokter belum selesai pemeriksaan. Great sudah tidak sabar dan tidak bisa tenang. Sejak awal ia terus mondar-mandir dengan wajah yang gelisah.


"Duduk dan tunggulah! tidak akan terjadi apa-apa," ucap Willie yang terduduk menemani Great di rumah sakit.


Lalis di bawa ke rumah sakit pusat ibukota di mana ibunya masih di rawat disana.


HP Great berbunyi. Kevin Joul kembali menelponnya.


^^^"Ini hanya peringatan untukmu, Great. Tenang saja, Lalis tidak akan berujung di penjara, karena ia tidak mengonsumsinya."^^^


Great marah besar kepada Kevin Joul. Emosinya sudah memuncak kala Kevin Joul dengan tenang mengatakan 'tenang saja'.


"Keterlaluan. Kenapa harus kepadanya. Lakukan hal itu kepadaku, dia tidak ada urusannya dengan papa," pekik Great.


"Great. Pelankan suaramu, ini di rumah sakit," timpal Willie kala Great membentak ayahnya di akhir kalimat.


Great tidak menghiraukan Willie.


Pekikan tertawaan ayahnya terdengar jelas di telinga Great. Bagaimana Great tidak marah saat ayahnya membuat orang yang dicintainya terluka seperti itu. Bahkan Great tidak tahu bagaimana kondisi Lalis saat di bawa ke rumah sakit, apalagi mengetahui kejadiannya.


"Ingat ini, Great. Kau bukan satu-satunya orang yang bisa kuandalkan."


Telpon itu ditutup Kevin Joul secara sepihak. Great muak. Perasaan menyesal membuat dirinya prihatin terhadap dirinya. Sampai kapan ia akan bertahan dengan marga Joul di belakang namanya.


Skertaris Joy baru datang setelah ditugaskan Great mengendalikan kantor. Ia membawa Tall yang menjadi asisten direktur di perusahaannya sekarang.


"Pak, beredar rumor di platform perusahaan mengenai Bapak. Seseorang merekamnya dan sudah tersebar di grup chat perusahaan,"ucap Joy. Kemudian ia memberikan ponselnya, memperlihatkan video yang tersebar.


Itu adalah video waktu Great dan Lalis berbincang di tangga mengenai kantor polisi. Yang menjadi pertanyaan Great adalah mengapa ada orang di saat jam kerja, sempat-sempatnya orang itu merekam Great dan Lalis.


Great mengelus jidatnya. "Kenapa diam saja? sematkan obrolan di grup dan cegah berita itu agar tidak tersebar luas."


Great menoleh ke arah Tall. Kenapa Joy membawa Tall?


Joy menunduk paham. "Tall. Dia yang lihat bagaimana kejadian Lalis satu jam yang lalu hingga bisa terjatuh dari tangga, Pak."


Merasa tidak perlu didengarkan lagi setelah tahu ini perbuatan ayahnya, Great menyuruh Joy dan Tall pergi membiarkan Great berpikir jernih.


"Saya rasa tidak perlu. Kalian kembalilah ke kantor!"


"Tapi, Pak. Saya lihat Kak Lalis berbincang dengan seorang perempuan, sebelum dia jatuh dari tangga. Dia sepertinya rekan kerja Kak Lalis, dan ... waktu itu Kak Lalis di bentak oleh orang itu," sahut Tall.


Great terkejut. Apa mungkin ada hal lain yang direncanakan ayahnya? apa ayahnya mengirim orang lain?


"Siapa? siapa perempuan itu?" tanya Great seolah mengintrogasi Tall. Raut 0 paniknya itu berubah menjadi benci.


"Saya rasa rekan kerjanya. Entah itu siapa, tapi saya yakin dia rekan setim-nya."


Great berpikir mungkin seseorang di tim pemasaran ada yang tidak menyukai Lalis. Selama dia memperhatikan, semuanya baik-baik saja apalagi mereka welcome terhadap Lalis. Apalagi Bu Saka yang pengertian dan paling mencurigakan mengenai mereka berdua.


Dokter ke luar dari ruang pemeriksaan. "Apa ada pihak keluarga di sini?" tanya dokter.


Great sontak menyahut. "Saya. Bagaimana keadaan Lalis?" tanya panik Great.


"Mohon ikut saya ke ruangan sebentar. Sambil mengambil resep obat," jawab dokter.


"Bagaimana, Dok?"


Dokter menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Great.


"Kami menemukan ini di lehernya." Dokter mengulurkan sejenis koyo, tapi bukan koyo untuk badan yang pegal.


Great tidak tahu apa ini, tapi sedikit familiar di matanya.


"Pasien memakai fentanil narkotika dosis tinggi yang menyebabkan tubuhnya mual dan mengantuk. Mungkin dari itu pasien tidak bisa mengendalikan tubuhnya,"


Begitu terkejutnya Great saat mendengar alasan dibalik terjatuhnya Lalis. Tidak mungkin Lalis seceroboh itu untuk berjalan, dari awal ia sudah menduga bahwa Lalis sedang dalam masalah sebelum terjatuh.


"Setelah pemeriksaan ia didiagnosis tidak mengkonsumsi obat-obatan."


Yang dimaksud ayah Great adalah ini?


"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?"


"Beruntung tubuhnya tidak mengalami luka yang serius. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tubuhnya mungkin beberapa hari ini tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya. Jadi pasien hanya perlu istirahat beberapa hari."


Great menghela nafas lega. Setidaknya Lalis akan kembali sehat dan normal setelah istirahat beberapa hari.


"Tapi bahunya, ada sedikit luka. Entah karena benturan saat terjatuh atau sebelumnya dia cedera di bahunya?"


Great menggelengkan kepalanya. "Tidak, kenapa dengan bahunya?"


"Tidak apa-apa. Mungkin jika terasa sakit artinya pasien memang mengalami cedera. Dan kemungkinan setelah baru sembuh, pasien akan sering mengalami sakit di kepalanya, atau pusing. Jika terjadi sesuatu yang membuat pasien kesakitan, segera bawa ke rumah sakit."


"Baik, Dok."


Great kembali. Ia masuk ke ruang UGD dimana Lalis masih berbaring tidak sadarkan diri di sana. Ternyata Jemin adik Lalis sudah lebih dulu menemui Lalis. Great menghampiri Jemin lalu menepuk pelan pundak Jemin. Jemin menoleh, raut wajahnya terlihat panik dan khawatir. Ya, Great memberitahu Jemin saat tiba di rumah sakit tadi. Ditemani Willie, Jemin masuk ke ruangan Lalis.


"Kenapa kakak tidak sedang bersamanya. Ke mana kakak pergi waktu itu?" tanya Jemin kepada Great.


"Maafkan aku, Jemin. Untuk kedepannya aku akan selalu berada di sisinya."


Menghadapi Jemin, Great harus tenang dan jangan membuat Jemin khawatir serta panik.


"Sudah seharusnya kakak begitu," ujar Jemin sambil menoleh ke Lalis lagi yang terbaring tak sadarkan diri.


Ia duduk lalu menyilangkan kedua tangannya sambil menunduk lalu berdoa tanpa suara. Jemin sudah sangat takut jika kakak yang satu ini terluka parah atau tidak bangun lagi. Mengingat kakak pertamanya hilang dan ibunya masih di rawat. Jemin tidak mau sendirian meskipun mereka jarang akur ketika sudah bersama.


***


Jovi dan Tall berpapasan setelah Jovi keluar dari ruang tim pemasaran. Ia dan Tall saling berhadapan memberi salam dengan menundukkan kepala mereka. Jovi melihat di sekitar, tidak banyak orang yang berkeliaran.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Jovi dengan nada pelan.


"Pak Great tidak membiarkanku dan skertarisnya menemani. Dia menyuruh kami kembali," jawab Tall.


Jovi melirik ke belakang di mana di balik pintu itu rekan kerjanya sedang fokus masing-masing.


"Kau menyuruh siapa untuk mempost rekaman video itu di platform kantor?" tanya Jovi.


"Username, aku menyuruh orang lain dalam akun anonim," jawab Tall.


Takut ada yang curiga, Jovi beranjak pergi setelah mengatakan, "jangan terlihat mencurigakan, pergilah!"