
Aku tidak pernah tau jika rasa khawatir itu adalah bagian dari cinta.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, langit semakin lama menjadi semakin gelap, namun tidak ada tanda\-tanda akan turun hujan. Udara berubah menjadi lebih dingin dan matahari sedikit demi sedikit mulai tak terlihat ditutupi oleh awan tebal.
Layaknya seorang pencuri, Silvia berjalan mengendap\-endap menuruni anak tangga hingga bagian belakang rumah. Sepertinya dewi fortuna tengah berpihak kepada gadis cantik itu, semua staff dirumah itu tidak memperlihatkan batang hidungnya satu pun. Senyum manis merekah di wajahnya, dia berjalan menuju kolam renang lengkap dengan pakaian kimono berwarna coklat.
Perlu diketahui, Silvia adalah gadis yang sedikit aneh, semakin dilarang dia akan semakin tertantang untuk melakukannya. Dia juga tipe orang yang keras kepala, karena itulah saat ini dia berada di pinggir kolam renang. Seolah sedang jatuh cinta, Silvia tersenyum lebar, dia sangat senang dan tidak sabar ingin segera melompat kedalam air.
BYUUURRRRRRR...
Gadis yang pernah menjuarai olahraga renang itu, melemparkan tubuhnya masuk ke dalam kolam, layaknya seekor lumba\-lumba betina. Dengan leluasa, Silvia menggerakkan tangan dan kakinya mendayung di dalam air, bergerak kearah kiri dan kanan, menyelam dan mendongakkan kepalanya ke udara. Silvia terlihat sangat bahagia, hingga tak terasa sudah empat jam dia berada di tengah kolam. Udara yang berhembus semakin menusuk tulang dan butiran\-butiran hujan mulai membasahi bumi.
"Nyonya......! " dari jarak dua meter, seorang kepala pelayan meneriakinya. Dia adalah pelayan menyebalkan yang beberapa jam yang lalu menggagalkan rencanya.
Silvia membalas teriakan pelayan itu dengan senyum mengejek. Hujan mulai turun, semakin lama semakin deras tapi, Silvia sama sekali tidak memperdulikannya.
Sementara pelayan itu mulai panik di tempatnya melihat istri majikannya tidak mendengarkan peringatannya. Dia menatap ke sekelilingnya, berusaha mencari seseorang yang sekiranya bisa menghentikan Silvia.
Tak lama kemudian seorang ajudan berseragam lengkap melintas di belakang pelayan itu. Ajudan itu berjalan sambil bersiul, menyanyikan sebuah lagu.
"Albert!" wanita itu berseru, membuat ajudan itu langsung menghentikan langkahnya. Dia menaikkan dahinya sembari mengangkat kepalanya.
"Cepat kemari!" perintahnya
Ajudan itu menghela nafas malas, dan setengah hati berjalan ke arah kepala pelayan itu, "ada apa ibu Shopia?'
"Lihat! Perempuan itu sedang melakukan apa?" Shopia menunjuk ke arah Silvia
"Sudahlah Bu Shopia, biarkan saja. Lagi pula dia tidak apa\-apa, Tuan Nathan sedang di luar kota, jadi nikmati saja waktu santai kita." Ucapnya acuh tak acuh
Shopia melotot, "Albert kalau terjadi sesuatu pada gadis itu, semuanya berakhir! Kau tau!"
"Iya\-iya...." Dia menggerakan kepalanya selaras dengan bahunya.
Shopia semakin geram dengan sikap Albert, "iya\-iya apa? Cepat lakukan sesuatu!"
"Melakukan apa? Aku harus berbuat apa?" Albert menggerutkan dahinya
Shopia berdecak kesal, dia tau seharusnya dia tidak memanggil Albert si pria bodoh yang memiliki krisis kepedulian. Laki\-laki itu tidak bisa diharapkan di saat genting seperti ini, bahkan dia tidak perduli jika nanti Nathan mengetahui semua ini.
Shopia berbalik, kembali melihat ke arah kolam renang. Mata membulat sempurna, nafasnya tertahan di ujung tenggorokkannya, dari kejauhan dia melihat Silvia tenggelam. Hanya kedua tangannya yang berada di permukaan, sementara tubuhnya mengapung didalam air. Tangan Silvia bergerak\-gerak cepat di permukaan meminta pertolongan. Shopia menepuk keras pundak Albert hingga membuat laki\-laki itu terjungkat dan memandang ke arah kolam. Dalam hitungan detik, Albert langsung berlari dan melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan istri majikannya itu. Sementara Shopia memanggil beberapa bawahannya dan meminta mereka menyiapkan handuk, teh hangat, dan menelpon dokter secepatnya.
Albert di ikuti oleh Shopia membawa Silvia ke dalam kamar. Gadis itu terlihat sangat pucat dan seluruh tubuhnya dingin tidak seperti biasanya orang kedinginan, hal itu membuat Shopia semakin khawatir. Bukan apa\-apa, Nathan sudah memberinya perintah, kalau perintah itu tidak di laksanakan, sudah bisa di pastikan Nathan akan marah besar
"Iya dok,.." Shopia berjalan menghampiri dokter Hendra, dokter pribadi Nathan
"Tuan Nathan dimana? Kita harus memberi tahu keadaan Silvia kepadanya."
Shopia terdiam, mempertimbangkan ususlan dokter Hendra, "memangnya apa yang terjadi pada Nyonya Silvia, dok? Apa itu serius?"
Dokter Hendra duduk di sofa ruang tamu, mengeluarkan selembar kertas, "ini surat rujukan, kita harus segera membawa pasien ke rumah sakit. Karena itu kita memerlukan persetujuan Tuan Nathan untuk menangani administrasi rumah sakit sekaligus wali yang bertanggung jawab. "
Shopia menghela nafas pasrah. Pasrah mendapatkan masalah setelah Nathan mengetahui kejadian hari ini. Shopia tidak mempunyai cara lain untuk menangani masalah ini.
"Baik dokter, saya akan mengabari hal ini kepada Tuan Nathan. Tapi, sementara menunggu Tuan Nathan, kita bawa Nyonya Silvia ke rumah sakit sekarang juga."
Malam itu Nathan sedang menghadiri rapat penting dengan beberapa kolega bisnisnya, ketika salah satu anak buahnya memberikan kabar prihal Silvia. Saat itu juga, Nathan langsung membatalkan semua schedule-nya dan mempercepat perjalanan bisnisnya. Yang seharusnya tiga hari menjadi satu hari.
Jam 2 pagi, adalah satu-satunya penerbangan yang paling cepat. Dia tidak bisa menunggu sampai besok pagi, yang ada di pikirannya sekarang bagaimana caranya sampai di Indonesia secepat mungkin. hampir 12 jam penerbangan, dia tidak bisa duduk tenang. Pikirannya melayang memikirkan bagaimana keadaan Silvia.
Gadis keras kepala itu memang tidak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Di sepanjang perjalanan, Nathan tidak tidur sama sekali. Berkali-kali laki-laki itu mencoba, berkali-kali pula dia gagal. Yang dia lakukan hanya mengonfirmasi keadaan Silvia pada anak buahnya setiap satu jam sekali.
"Sir, you want something?" seorang pramugari asal belanda, yang khusus di pekerjakan oleh Nathan menghampirinya.
"No, thank you!" jawabnya acuh.
Nathan melempar pandangannya ke luar jendela pesawat, meneliti setiap gumpalan awan-awan yang dilewatinya. Dalam hati Nathan mengumpat, kenapa pesawat itu lama sekali mendarat.
"Robert!" serunya memanggil pengacara sekaligus asistennya
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan
"Setelah tiba di Indonesia, tolong pecat pilot dan co-pilot pesawat ini. Cari pilot pengganti lain yang lebih baik. Tingkatkan kualifikasi persyaratannya, saya tidak mau tau bulan depan sudah harus ada." Ucap Nathan dengan gaya maskulinnya.
"Baik Tuan. Ada yang lain?"
Nathan memijit pelipisnya sembari merebahkan kepalanya pada kursi, kedua kakinya disilangkan. Wajahnya berkerut menandakan stres yang berlebih.
"Segera minta Shopia menghadap pada saya dan tolong kosongkan jadwal saya selama seminggu."
Robert mengerutkan dahinya sambil memeriksa Ipad-nya untuk melihat apa saja jadwal Nathan minggu depan.
"Maaf Tuan, tapi minggu depan ada pertemuan dengan pangeran William. Apa kita akan tetap menundanya?"
Nathan mendesah berat, kembali memijat pelipisnya, berpikir sejenak karena memang pertemuan dengan pangeran inggris itu adalah pertemuan yang sangat penting dan akan sangat sulit untuk me-reschedule ulang pertemuan itu.
"Tunda saja." Akhirnya Nathan memutuskan
Keputusannya membuat Robert sedikit heran dan tidak setuju, karena itu adalah salah satu pertemuan penting yang Selama ini membutuhkan perjuangan untuk membuat pangeran William mau menyempatkan waktu untuk mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan Nathan.
"Tuan-"
Nathan mengangkat tangan kirinya memberikan isyarat agar Robert tidak meneruskan ucapannya, "aku tau apa yang akan kamu katakan. Tapi, kali ini ada yang lebih penting dari pertemuan itu."
Robert kemudian menghela nafas dan dengan berat hati mengangguk, menyetujui perintah Nathan.
BRAAAKKKKKKK!!!!!!!
Suara gebrakan meja itu membuat jantung Shopia seakan lepas dari tempatnya, tubuhnya merinding dan ia hanya bisa menunduk takut, tak memiliki keberanian untuk menatap sepasang mata di depannya. Hari ini dia telah melakukan kesalahan terbesar sepanjang 12 tahun ia bekerja bersama keluarga Nathan.
Nathan menjatuhkan tubuhnya kasar di atas kursi kebesarannya, mencoba meredakan api yang membara di hatinya. Hari ini rasanya dia ingin mengumpat, menghantam apapun yang ada di hadapannya. Tapi, dia tidak mungkin melakukan itu. Perbuatan yang menurutnya tidak berpendidikan.
"Shopia, kamu sudah bekerja dengan kakek saya sudah sangat lama, perintah sekecil ini saja tidak bisa kamu jalankan? Saya sangat kecewa sama kamu." ucap Nathan dengan intonasi dingin
"Maafkan saya, Tuan." hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.
"Maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki semuanya. Kamu pikir, Silvia akan bangun dengan kata maaf kamu itu? Kalau terjadi hal yang lebih buruk lagi, apa yang akan kamu lakukan? Hanya meminta maaf? Tidak segampang itu Shopia. Untuk apa ada polisi kalau kata Maaf itu berguna?"
Shopia membatu.
"Mulai hari ini, kamu saya berhentikan dan kembalilah ke kampung halaman mu. Semua sudah saya siapkan, besok jam 5 pagi Albert akan mengantar mu pulang ke tanah kelahiranmu dan terimakasih atas kerja keras kamu selama ini" Nathan membalikkan badan, membelakangi Shopia. Menjadi tanda kalau tidak ada hal lagi yang ingin dibicarakan.