
Silvia tersenyum hangat menyambut ke datangan Anastasya, sudah cukup lama mereka tidak pernah lagi bertemu setelah pesta para pembisnis beberapa minggu yang lalu. Gadis dua puluh tahun itu mempersilakan Anastasya masuk, sebenarnya menurutnya itu semua tidak perlu. Toh, rumah ini milik Anastasya juga, statusnya sebagai adik satu-satunya Nathan adalah alasan terbesar kalau dia juga memilik hak yang sama seperti Nathan
Anastasya mengikuti intruksi kakak iparnya yang memintanya untuk segera masuk, sebenarnya dia agak canggung dan sedikit takut, namun Anastasya hari ini memberanikan dirinya untuk datang ke rumah di mana dia dulu di besarkan. Pertemuan Anastasya dengan Silvia bisa di hitung dengan jari, karena itulah kedekatan hubungan mereka juga hanya sekedar tau satu sama lain.
Sejak awal Anastasya tidak begitu paham kenapa kakaknya tiba-tiba menikah dengan perempuan biasa seperti Silvia. Bukan berarti Silvia tidak baik di mata Anastasya, tapi karena Anastasya tau bagaimana sifat kakaknya yang tidak mau berkomitmen, meskipun dengan cara apapun kakeknya dulu meminta Nathan untuk menikah. Di bandingkan dengan kakak iparnya sekarang, wanita-wanita Nathan dulu jauh di atas Silvia, mereka semua berasal dari kalangan orang berada dan terhormat, yang pastinya high qulity. Anastasya tau betul kalau Nathan sangat memilih siapa teman kencannya, dan kenyataan itulah yang membuatnya tidak mengerti sampai saat ini. Dulu, Anastasya tidak begitu perduli dengan urusan kakaknya meskipun kakaknya selalu memberikan perhatian lebih padanya karena itu saat pernikahan itu digelar, Anastasya tidak ikut hadir merayakannya. Dan dia sedikit menyesali itu.
Ratna, pelayan dirumah itu membawakan secangkir teh hijau kesukaan Anastasya, meski beberapa hari belakangan ini para pelayan dirumah itu tidak lagi menghidangkan minuman itu, tidak membuat mereka lupa akan minuman favorit majikkannya itu.
"Sudah lama kamu tidak pulang ke rumah, Anastasya." Silvia tersenyum hangat menatap wajah cantik Anastasya. Raut ke bule-buleannya memang sangat mirip dengan ibu Nathan, sama-sama cantik. membuat Silvia sedikit iri pada adik iparnya
Anastasya meletakkan cangkirnya setelah menyeruputnya seteguk "iya, sebenarnya aku datang ke sini untuk bertemu dengan kakak."
Silvia mengernyitkan dahinya, "ada hal apa? Kalau memang itu hal yang sangat penting, kamu sampaikan langsung saja pada Nathan." Anastasya menggeleng cepat
"Kakak ingat ketika pertemuan kita di pesta itu? Aku minta tolong sesuatu pada kakak kan?"
Silvia memutar memorinya kembali, mengingat-ingat peristiwa yang terjadi di pesta megah itu. Ya, sekarang dia ingat saat itu Anastasya yang datang bersama ayahnya, menghampirinya dan memohon padanya untuk bicara pada Nathan agar Nathan mau mengerti dan memaafkan Anastasya.
"Tapi, Anastasya, maafkan Kakak karena hingga saat ini kakak belum bisa menyampaikan semua itu pada Nathan." Jawba Silvia dengan wajah penuh penyesalan, kenapa dia bisa lupa akan hal penting itu? Silvia merutuki kebodohannya dan merasa sangat bersalah pada Anastasya karena tidak bisa membantu apa-apa.
Anastasya menggeleng lemah, "tidak perlu minta maaf kak. Aku tau tidak mudah melakukan itu, apalagi dengan sikap Kak Nathan yang keras dan tempramen, aku bisa mengerti itu."
Jawaban Anastasya benar-benar membuat Silvia lega. Sebenarnya dia takut kalau nanti Anastasya berpikir kalau dirinya tidak mau menolongnya.
"Tapi, bukan hal itu yang ingin aku bicarakan" lanjutnya lagi
Silvia menunggu dengan penasaran kalimat selanjutnya dari mulut adik iparnya
"Kak, aku tau caraku memang salah, memutuskan semuanya dengan gegabah sampai membuat Kak Nathan marah besar. Tapi, aku sama sekali tidak ingin meninggalkannya, aku hanya ingin Kak Nathan mau memaafkan Papa. Aku pikir dengan aku pergi dari rumah, hati Kak Nathan akan luluh, tapi ternyata tidak." Mata Anastasya mulai berkaca-kaca
"Meskipun aku tidak pernah mendengarkannya dan selalu membantah perintahnya, aku sangat menyayanginya karena dia Kakak terbaik yang pernah aku punya. Sejak,kepergian Mama dan Kakek dia menjadi sosok orang tua bagiku.'' Satu air mata mulai menetes dari sudut matanya,
Silvia masih setia mendengarkan, membiarkan Anastasya menarik nafas beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Tapi, sekarang Kak Nathan salah paham mengenai Papa. Aku hanya ingin Kak Silvia membantuku agar Kak Nathan mau mendengarkan penjelasan Papa, setelah itu aku tidak akan meminta apa-apa lagi kalau memang sampai saat itu Kak Nathan tetap pada pendiriannya." Bola mata abu itu menatap Silvia dengan penuh binar, membuat Silvia tidak tega untuk menolak atau mengatakan 'tidak'
Silvia mengangguk, melukiskan senyum diwajah Anastasya. Silvia bisa melihat betapa besar harapan Anastasya untuk membuat kakak dan papanya berbaikan. Meskipun, Silvia tidak tau jelas seperti apa permasalahannya, yang jelas hati kecil Silvia berkata kalau dia harus membantu adik iparnya itu.
"Kakak akan usahakan yang terbaik, kamu tenang saja jangan khawatir atau sedih lagi." Silvia tersenyum hangat membuat Anastasya tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk memeluk kakak iparnya itu. Sikap keibuan Silvia mengingatkannya pada sosok Mama yang telah lama meninggalkannya
Pertemuan itu pun terus berlanjut, namun kini suasana lebih santai. Mereka tidak lagi membicarakan hal-hal yang bersifat serius, tapi melainkan membicarakan hal-hal kecil yang mengundang canda tawa. Anastasya menceritakan bagaimana dulu masa kecilnya bersama Nathan, hal-hal konyol yang mereka berdua alami, hingga peristiwa besar yang mengundang air mata. Silvia sangat senang bisa mengenal Anastasya lebih dalam lagi, kehadiran Anastasya membuat kesehatannya berunjung membaik.
Dari jarak ke jauhan, para pelayan dirumah itu hanya bisa menyaksikan keakraban diatara kakak dan adik ipar itu. Mereka hanya bisa mendengar suara cekikikan dari ruang tengah, untuk pertama kalinya mereka melihat Anastasya bisa seakrab itu dengan seseorang. Dan itu adalah sebuah keajaiban dunia yang lebih langka daripada tembok besar di Cina.
^_^
Sebuah sedan hitam memasuki rumah besar itu, menampakkan sosok tuan rumah yang sangat tampan dan dihormati. Nathan. Tidak ada nama lain yang bisa membuat semua orang tunduk dan hormat. Seorang ajudan setianya membukakan pintu mobil untuknya, memberikan hormat sambil sedikit membungkuk kearahnya.
Dahi Nathan berkerut ketika melihat sebuah mobil berwarna rose gold terparkir di halaman rumahnya, mobil yang terlihat sangat familiar dan tidak asing di matanya. Namun, sayangnya Nathan tidak ingat di mana dia pernah melihat mobil itu. Nathan sangat tau itu bukan mobil sembarangan dan hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya.
Para pelayan menarik nafas, seolah ada sesuatu yang menghalangi tenggorokan mereka, mereka berharap semoga majikkannya tidak bertanya siapa pemilik mobil itu. Dan doa mereka dikabulkan. Mereka bernafas lega ketika Nathan melewati mobil itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
langkah kakinya berhenti ketika mendengar suara tawa renyah dari ruang tengah, tak berpikir ulang Nathan langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju sumber suara. Dari kejauhan Nathan bisa melihat dua perempuan tak asing sedang asik bercanda tawa ria diruang tengahnya, mereka tampak sangat akrab dan sedang membicarakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Nathan tidak suka pemandangan itu.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke rumah ini?" suara dingin itu mengintrupsi kegiatan dua perempuan dihadapan Nathan. Suara tawa yang terdengar sangat bahagia itu, enyah begitu saja ketika suara menyeramkan Nathan mengintrupsi mereka.
"Nathan?" Silvia menatap suaminya terkejut
Sementara Anastasya menatap Nathan ketakutan. Betapa bodohnya dia, karenaa terlalu asik mengobrol, dia jadi lupa kalau ini adalah jam pulang Nathan. Kalau sudah begini, perang dunia pun tak terhindarkan
"Berani sekali kamu menginjakan kaki dirumah saya!" mata Nathan menatap tajam Anastasya, sementara gadis remaja itu hanya bisa menunduk takut
Silvia menatap tidak suka, "Nathan! Tidak pantas kata-kata itu kamu lontarkan pada adik kamu sendiri"
"Saya tidak pernah punya adik pembangkang seperti dia. Nona Anastasya Zacht yang terhormat, saya minta keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum saya mengusir anda dengan paksa."
Hati Anastasya langsung mencelos ketika mendengar kalimat itu dari bibir kakaknya sendiri, dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia tidak menyangka kalau kakaknya akan sebenci itu dan hujan pun turun diwajah cantiknya
"Nathan, apa kamu sadar ucapan kamu itu menyakiti hati adik kamu?'' Silvia merasa iba pada Anastasya yang harus menerima perlakuan kasar dari Nathan. Dia sangat tau bagaimana perasaan Anastasya saat itu.
"that's not my business and I don't care!" bentaknya
Mata Nathan seolah memancarkan kobaran api, kehadiran Anastasya benar-benar menyulutkan emosinya.
Anastasya bangkit dari duduknya, mengumpulkan keberaniannya untuk menatap kakaknya yang diselimuti amarah.
"Terimakasih atas ucapannya Tuan Nathan Alexander yang terhormat. Saya berjanji kepada anda, saya tidak akan datang kesini lagi. Tadinya saya datang ke sini karena merindukan seseorang, tapi setelah melihat anda saya rasa dia juga tidak perduli. Terimakasih sudah menyadarkan saya kalau saya sudah salah datang ke sini. Permisi..." mati-matian Anastasya menahan air matanya agar setidaknya tidak tumpah dihadapam Nathan. Anastasya pergi dengan rasa sakit hati, dia tidak pernah berpikir kalau Nathan akan setega itu padanya. Apa secepat itu rasa sayang berubah jadi kebencian?
Nathan dan Silvia masih terpaku ditempatnya selepas kepergian Anastasya, Silvia menatap Nathan yang menghela nafas berat. Sampai saat ini, Silvia masih tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang seperti Nathan? Dan sialnya Nathan adalah suaminya.
"Tidak seharusnya kamu memperlakukan Anastasya seperti itu, apapun alasannya." Sikap keterlaluan Nathan membuat rasa takut dalam diri Silvia sirna begitu saja.
Nathan menoleh, menatap Silvia tidak bersahabat tapi, Silvia tidak gentar dengan tatapan itu
"Suara kamu terdengar mengintimidasi" ucap Nathan dingin masih dengan sorot mata mautnya
Silvia membuang muka beberapa detik, "lalu kenapa?" tantang Silvia
Nathan memutar tubuhnya menghadap Silvia, menyilangkan kedua tangannya didepam dada, "kamu tidak tau apa-apa tentang masa lalu ku Silvia, jadi jangan ikut campur."
"Apapun masa lalu kamu dan seberapa besar pun sulitnya itu, tidak bisa mengubah kenyataan kalau Anastasya itu adalah adik kamu dan Papa kamu tetap akan menjadi ayah kamu selamanya. Seberapa besar pun keinginan kamu untuk mengubah kenyataan itu, kamu tidak akan bisa melakukannya. Karena darah mereka, mengalir dalam darah kamu. Kalian itu keluarga!"
"Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku Silvia!" sorot mata Nathan menajam
Silvia menghela nafas kasar, dia tidak tau harus bagaimana lagi membuat Nathan mengerti kalau apa yang dilakukannya saat ini adalah salah.
"Kamu akan kehilangan mereka dan semua harta yang kamu punya sekarang tidak akan ada artinya dibandingkan mereka."
^_^
■■■TBC■■■