You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA EMPAT | Trauma



Matahari mulai menampakkan dirinya, perlahan naik ke puncaknya dan menebarkan sinar keemasan.  Menciptakan hawa panas yang semakin lama membakar kota Jakarta. Hiruk-pikuk jalanan pusat kota membuat Jakarta begitu  padat di hari kerja maupun hari libur.


Nathan berdiri dihadapan sebuah foto berukuran sangat besar, foto itu sudah lama terpajang di dalam ruang rahasianya, ruangan yang tersembunyi dibalik indah kamarnya.  Dia memandangi foto itu dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca melihat gambaran perempuan cantik yang tengah tersenyum menghadap kamera yang saat itu tengah memotretnya. 


Wanita itu sangat cantik dengan rambut brown panjangnya, senyum manis dan ukiran wajahnya yang menawan yang membuat siapa saja akan jatuh cinta dan terkagum-kagum melihatnya.  Perempuan itu terlihat sangat bahagia di foto itu dengan pemandangan laut kebiruan dibelakangnya. 


Nathan melipat kedua tangannya di dada, masih setia menatap foto wanita itu dengan senyum pilu dan tatapan sendunya.  Entah ada apa dengan foto itu hingga membuat Nathan seolah menatapnya dengan tatapan sedih dan menyakitkan.  Sangat jelas terlihat Nathan acap kali menangis memandangi foto cantik itu. 


Ada sederet luka yang terlukis dari wajah tampannya,  sebuah kenangan yang berawal indah namun berakhir menyedihkan.  Cahaya remang-remang di ruangan itu seakan mendukung kesedihan di balik foto cantik itu, gelap dan suram. 


Tidak banyak yang tau tentang ruangan rahasia milik Nathan, sejak dulu laki-laki itu sangat menyembunyikan kenyataan dan tentang siapa perempuan itu.  Meski sudah berlalu bertahun-tahun, tapi sedetikpun Nathan tidak pernah bisa melupakan perempuan itu, perempuan yang memiliki sejarah dalam hidupnya. 


"Sahara, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. " bisiknya lemah


Angin kemudian bertiup melalui celah-celah jendela membuat tirai-tirainya berdayun-dayun karenanya. 


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakanmu."


Nathan kemudian menarik kembali tirai foto itu untuk menutupinya, tirai khusus yang di pasang di atas foto itu berhasil membuat siapapun tidak akan menemukannya dengan mudah.


Nathan berbalik, melangkahkan kakinya, lesu ke arah pintu keluar. Kegiatannya pagi ini di awali dengan suasana hati yang tidak baik.  Seperti layaknya mendung yang menutupi langit, seperti itulah hati Nathan saat ini, gelap dan bergemuruh. 




Semua pelayan berbaris rapi di tempatnya, menyambut Nathan yang baru saja turun dari kamarnya  di lantai dua. Pelayan\-pelayannya telah siap dengan sarapan mewah untuk majikannya.



Nathan mengerutkan dahinya merasakan ada yang kurang saat dia duduk di meja makan.  Semua pelayan menarik nafas mereka seolah takut mereka melakukan kesalahan yang akan membuat majikkannya marah besar seperti kemarin. 



Arum, kepala pelayan yang baru diam\-diam melirik sajian makanan di atas meja. Meneliti dan mengingat satu demi satu makanan itu, mungkin dia melupakan sesuatu yang seharusnya tidak ada di makanan itu.  Tapi, setelah beberapa saat berpikir, tidak ada hal yang salah pada makanan itu semuanya sudah sesuai dengan aturan di rumah itu. 



"Silvia, dimana? " akhirnya para pelayan itu bisa bernafas lega karena bukan makanan yang mereka sajikan yang salah tapi, rupanya majikkannya itu sedang memikirkan istrinya. 



Ratna tidak menyangka kalau majikkannya masih menanyakan Silvia setelah keributan besar kemarin. 



"Nyonya Silvia sejak kemarin mengurung diri dikamar, dia juga tidak menjawab semua pertanyaan saya. Sejak kemarin dia belum memakan sesuatu, saya khawatir tapi, Nyonya Silvia hanya diam saja saat saya membawakan makanannya. Tidak sedikitpun dia menyentuh makanannya"



Nathan bangkit dari kursinya meninggalkan meja makan dan mengurungkan sarapannya.  Pelayan itu mulai berbisik\-bisik, mulai menebak\-nebak apa yang akan dilakukan majikkannya lagi terhadap istrinya.  Sebagian besar dari mereka mengira akan terjadi perang dunia lagi karena melihat wajah Nathan yang di penuhi kekesalan dan amarah yang terpendam. 



BRAAAAAKKKKKKK!!!!



Dengan kasar Nathan mendorong pintu kamar Silvia, tapi betapa terkejutnya dia saat melihat Silvia meringkuk ketakutan disudut kamarnya. Gadis itu duduk sembari memeluk kedua tangannya dan membenamkan kepalanya di antara kakinya.  Keadaannya benar\-benar tidak terduga oleh Nathan, gadis itu masih menggunakan pakaiannya semalam, rambutnya berantakan, dan wajah pucat yang tersembunyi di balik rambut panjangnya.



Ketika itu Nathan mengurungkan perasaan kesalnya, dia sendiri bingung apa yang terjadi pada Silvia saat itu.  Nathan mengerutkan dahinya dan perlahan mulai mendekati Silvia yang bertingkah aneh.



Silvia menunjukkan pergerakkannya yang semakin menarik tubuhnya saat Nathan berjalan mendekatinya, ada hal yang benar\-benar aneh yang terjadi dalam dirinya.



"Jangan! Jangan! Aku minta maaf, jangan sakiti aku, ampun!  Ampun! Menjauh dari ku!  Aku tidak melakukan kesalahan itu! " Silvia merancu histeris membuat Nathan benar\-benar bingung dengan sikap Silvia



Silvia berteriak histeris sembari menangis dan menatap Nathan ketakutan seolah Nathan adalah pembunuh yang akan membunuhnya saat itu juga.



Nathan maju satu langkah, Silvia mundur dua langkah. Tubuhnya gemetaran, wajahnya pucat pasi dan tak henti\-hentinya menangis sambil mengucapkan kata\-kata yang tidak Nathan mengerti



"Silvia... " panggil Nathan pelan



"Jangan\-jangan...aku tidak bersalah!  Jangan sakiti aku!  Menjauh dariku aku mohon!  Ampuni aku jangan sakiti aku... " kata\-kata itu terus keluar dari mulutnya membuat Nathan kali ini benar\-benar khawatir dengan kondisi Silvia



"Aku tidak akan menyakitimu Silvia. Tenang Silvia, sadar." Nathan berusaha membuat Silvia sadar dari rancuannya, tapi Silvia tetap menangis ketakutan. 



Nathan tidak menyerah, dia berusaha terus mendekati Silvia, namun semakin didekati gadis itu semakin histeris dan menangis membuat Nathan tidak tega melihatnya. 



Nathan keluar dari kamar Silvia dengan seribu pertanyaan dikepalanya. Apa yang terjadi pada Silvia?  Mengapa hanya dalam semalam gadis itu bisa berubah begitu aneh?  Apa semua ini karena dirinya?



"ARUUMM...! " teriak Nathan



"Iya tuan? " dengan langkah tergesa\-gesa Ratna menghampiri tuannya



Nathan melipat kedua tangannya didada, dengan sebelah tangannya menopang dagu,  "apa yang terjadi pada Silvia? Kenapa dia bertingkah aneh seperti itu? "



Ini semua gara\-gara Anda, Tuan. 



Ingin rasanya Arum mengatakan itu pada Nathan yang menurutnya telah berlaku kejam pada perempuan yang berstatus sebagai istrinya sendiri.  Arum sangat kesal setiap kali melihat laki\-laki yang dengan teganya berlaku kasar pada perempuan, apalagi itu dilakukan oleh seorang Nathan yang tidak pernah memikirkan perasaan siapapun. 



"Saya kurang begitu mengerti Tuan, yang jelas sejak pertengkaran itu Nyonya Silvia tidak berbicara dengan siapapun dan mengurung dirinya dikamar. "  jawab singkat Arum



"Apa dia juga terlihat ketakutan saat bertemu denganmu? "



Arum mengangguk. Dia berkata jujur, bukan hanya dirinya, pelayan yang lain juga merasakan hal yang sama. Silvia selalu histeria setiap kali seseorang mendekatinya. 



Wajah Nathan seketika berubah dingin, "kenapa kamu tidak memberi tahu saya? "



"Maaf tuan, saya tidak berani mengatakan itu, apa lagi melihat bagaimana hubungan tuan dan Nyonya. " jawab Ratna sambil menunduk takut




Arum mengangguk mengerti masih dengan badannya yang sedikit merunduk. Nathan mengibaskan tangannya,  sebagai tanda untuk Ratna agar segera pergi dari hadapan  Nathan.



Ratna mengerti dan beranjak pergi melanjutkan pekerjaannya. 



•••



Nathan berdiri gusar didepan kamar Silvia, menunggu dengan cemas bagaimana hasil pemeriksaan dokter tentang masalah yang di alami Silvia.



Beberapa menit yang lalu, Nathan menelpon Kinara, sahabat sekaligus dokter pribadinya. Satu\-satunya dokter yang dipercayanya hanyalah Kinara, teman masa kecilnya sejak bangku SD.



Setelah beberapa lama, akhirnya Seorang wanita dengan rambut pendek polwan berwarna brown, keluar dari kamar Silvia dengan tetoskop yang menggantung dilehernya. 



Nathan menunggu dengan penasaran, menunggu Kinara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya yang terjadi. 



Kinara paham maksud dari tatapan Nathan, dia menghela nafas pelan sebelum memulai pembicaraaan dengan sahabat sekaligus pasien langganannya itu.



Kinara menggeleng\-gelengkan kepala pelan. 



Nathan mengerutkan dahinya, "apa maksudnya geleng\-geleng? Kalau bicara tolong yang jelas, aku tidak suka bahasa isyarat. " kesal Nathan



"Sabar dong Nath, mana enak bicara sambil berdiri. Duduk dulu lah, "Kinara berjalan mendahului Nathan dan duduk di sebuah sofa panjang di ruang tengah yang tidak jauh dari tempat mereka semula



Nathan memutar bola mata malas, mengikuti apa mau Kinara walaupun sebenarnya dia tidak suka dengan sikap Kinara yang bertele\-tele.



Kinara. Adalah seorang gadis yang merupakan putri kedua dari seorang jaksa terkenal di indonesia.  Ibunya adalah keturunan spanyol yang membuka usaha butik dibeberapa daerah di indonesia dan juga spanyol. Kinara adalah gadis yang sangat cerdas dan juga berparas cantik dan baik hati, sejak dulu dia menentang keputusan ayahnya yang memintanya menjadi seorang pengacara, namun Kinara malah memilih profesi Dokter sebagai cita\-cita nya. 



Gadis itu bekerja disalah satu rumah sakit ternama di indonesia, dia merupakan lulusan dari Universitas kedokteran terkenal di Jerman.  Selama 8 tahun kemarin dia meneruskan pendidikannya hingga jenjang S2, dan kini telah kembali ke indonesia sebagai dokter yang sangat handal. 



Perlu diacungi jempol dan Nathan mengakui kehebatan dan kecerdasan sahabat kecilnya itu. 



"Nathan sejak kapan kamu menikah?  Dan kenapa kamu tidak mengundangku? Dasar Bedebah sialan. " kesal Kinara



Nathan menyenderkan kepalanya malas, "Come on Kinara, now is not time to speak about that. Yah... Kamu tau semua ini terlalu mendadak dan akan aku jelaskan semuanya nanti, tidak sekarang.  Yang terpenting sekarang bagaimana kondisinya. "



"Aku benar\-benar tidak habis pikir, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu hingga berakibat fatal seperti ini? "



"Apa maksud kamu? " Nathan penasaran



Kinara memperbaiki posisi duduknya agar lebih meyakinkan dihadapan Nathan, "dia mengalami trauma berat, dan kondisi psikisnya sangat terganggu.  Dia akan selalu beteriak ketakutan dan histeris setiap kali seseorang mendekatinya. Untung saja tadi aku bisa menanganinya.  Dia harus mendapatkan perawatan serius dari dokter kejiwaan. "



Nathan masih tidak habis pikir dengan semua penjelasan Kinara, baginya itu semua tidak mungkin.



"Nathan, sebelum semuanya terlambat dia harus mendapatkan perawatan untuk menghilangkan traumanya, kalau tidak dia benar\-benar akan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. " Kinara menatap Nathan serius



"Sebenarnya apa yang terjadi, Nath? " lanjut Kinara



Nathan menghela nafas berat, "aku bertengkar dengannya kemarin. Tapi,  bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? "



"Nathan,  aku sangat mengenali kepribadianmu. Dari dulu kamu memang tidak pernah bisa mengontrol emosimu, sekali\-kali berpikir lah dulu sebelum kamu melampiaskan emosimu. Dia itu perempuan, usianya masih sangat muda dan aku yakin pasti ada yang tidak beres dengan pernikahan kalian. "



"Kenapa kamu jadi memarahiku. " kesal Nathan



Kinara menatap Nathan emosi, "tentu saja ini salah mu. "



"Ya sudah lebih baik kamu pergi, aku pusing mendengar ocehanmu. Secepatnya kirim dokter kesini. " perintahnya



Kinara memajukan mulutnya, mendumbel sendiri dan bangkit dari duduknya.



"Segera akan ku kirim dokter kesini, tapi kamu juga jangan bertindak macam\-macam pada dia. "



•••



Silvia tengah teridur pulas ketika Nathan masuk kedalam kamarnya.  Dengan tubuh yang dibalut oleh bed cover bermotif bunga berwarna ungu,  Silvia terlihat sangat damai dalam tidurnya. Gurat kelelahan terpancar dari wajahnya yang pucat dan membentuk lingkaran hitam disekitar matanya. Mulutnya yang kering dan tanpa sengaja Nathan melihat  bekas memar dipipi kiri Silvia. 



Nathan duduk dipinggir ranjang Silvia, tangannya bergerak menyentuh pipi kiri Silvia. Ada noda biru kemerah\-merahan disana, itu adalah bekas tamparannya pada Silvia kemarin.  Entah kenapa, Nathan merasakan perih dihatinya ketika melihat kondisi Silvia seperti ini.  Dia tidak menyangka perbuatannya begitu kejam pada Silvia. 



Ada sedikit penyesalan yang tersirat dihatinya, seandainya malam itu dia bisa lebih menahan emosinya, semua ini tidak akan terjadi pada gadis malang itu.  Seandainya kemarin dia mau mendengarkan penjelasaan Silvia dan tidak terbawa emosi, pasti semuanya masih akan baik\-baik saja.



■■■TBC■■■