
"Selamat malam semuanya... Ini adalah persembahan spesial untuk Anastasya. Happy Birthday sayang.... " suara Roy yang tiba-tiba naik ke panggung membuat semua orang sontak menjadikannya pusat perhatian
Tak terkecuali Nathan yang langsung mengakhiri obrolan pentingan dengan salah satu teman bisnisnya. Laki-laki dengan tuxedo hitam itu berjalan mendekati panggung, di sana sudah ada Anastasya dan yang lainnya yang sama-sama menyiratkan wajah kebingungan mereka. Pasalnya seperti yang mereka tau, semua pengisi acara sudah selesai tampil satu jam yang lalu dan selanjutnya acara dilanjutkan dengan menikmati hidangan makanannya. Tapi, ini?
Semua tamu bertepuk tangan riuh saat musik mulai dimainkan. Roy menuruni tangga sembari tersenyum miring. Seluruh anggota keluarga menatapnya penuh tanda tanya tapi, dia hanya diam dan mengedikkan bahunya
In the perpect story book, the world is good and brave
The hero take your hand, sweet love will follow
But live is different game, the sorrow and the pain
Only you can change your world tomorrow
Let your smile light up the sky
Keep your Spring soaring high....
Trust in your heart and your sunshine forever and ever
Hold fast to kidness your light shine forever and ever
I believe you and me.. Wee are strong...
Suara dengan nada melow itu kemudian terdengar merdu di telinga para tamu. Namun, sosok si pemilik suara merdu itu belum juga menampakkan dirinya karena set panggung yang sengaja dibuat sedemikian rupa.
Musik kemudian berganti lebih energejik dari sebelumnya, saat itulah sosok seorang perempuan dengan dresss pink selutut muncul membawakan sebuah tarian yang membuat mereka semua terpukau
Tarian itu merupakan perpaduan antara dance dan balet hingga membuat sebuah kesinambungan seolah si penari adalah putri di film-film disney.
Semua mata tertuju padanya, seolah terkunci tak ingin beranjak. Nathan membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Begitu juga dengan reaksi anggota keluarga lain yang menatapnya kagum dan terkejut dengan penampilannya.
Tepuk tangan riuh kembali terdengar ketika perempuan itu mengakhiri tariannya di panggung. Dia tersenyum bangga kemudian menundukkan kepala sebelum menuruni panggung.
Terlihat para penonton sangat mengagumi penampilan perempuan itu, mereka bahkan tak henti-hentinya memberikan kalimat-kalimat pujian untuknya.
Sementara Roy ditempatnya hanya tertawa bahagia menyaksikan wajah menderita Nathan. Sekali-kali dia harus memberikan pelajaran untuk Nathan agar dia tau bagaimana caranya menghargai seseorang
* * *
"Haiiii" segerombolan pemuda menghampiri Silvia
Silvia tersenyum kaku menyambut pemuda-pemuda kaya itu
"Tadi itu penampilan yang sangat memukau." puji salah satu dari mereka
"Terimakasih" jawab Silvia canggung, merasa tidak enak karena terlalu banyak yang memujinya
"Oya, aku Zidan." salah satu pemuda yang mengenakan jas Silver memgulurkan tangannya
"Silvia."tidak berpikir panjang Silvia langsung menjabat tangannya
"Tolong tinggalkan kami berdua. " perintahnya
Pemuda-pemuda itu memutar bola mata malas, "Come on Nathan. Setiap kami punya kesenangan kamu selalu menghalanginya."
"Dia istriku jadi, jangan coba-coba mendekatinya! " Nathan melayangkan sorotan mata tajam nya memberi tanda agar mereka segera pergi dari sini.
Empat pemuda itu pun tidak punya pilihan lain selain pergi dari sana. Kalau tidak, Nathan bisa menghancurkan hidup mereka sesuka laki-laki itu. Kekuasaan yang dimiliki Nathan memang tidak bisa dipungri, kata-kata nya bisa membuat siapa saja tunduk padanya.
Nathan beralih menatap Silvia tajam, ada gurat kemarahan dimatanya. Silvia hanya bisa menunduk, kesalahan apa lagi yang dia buat kali ini? Semua yang dia lakukan selalu salah dimata Nathan. Entah kali ini apa lagi yang akan dilakukan Nathan untuk menyakiti hatinya lagi.
"Apa-apaan semua ini Silvia? Kamu pikir kamu hebat dengan melakukan semua ini?"
Ya. Mungkin Silvia sudah salah menyetujui ide Roy yang memintanya untuk menampilkan sebuah tarian di panggung. Menurut Silvia tidak ada yang salah dengan ide itu, toh dia hanya menari di panggung dan sudah lama sekali Silvia tidak pernah menari. Mau tidak mau, naluri penarinya pun memaksanya untuk mengiyakan permintaan Roy. Disisi lain Silvia juga berharap apa yang dia lakukan itu bisa menarik perhatian Nathan tapi, yang terjadi malah membuat semuanya menjadi semakin kacau dimata Nathan. Seperti saat ini, bukan pujian yang dia dapat tapi, amarah
"Jawab Silvia! " ujar Nathan setengah membentak
Silvia menarik nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan kekuatannya, "aku tau aku tidak hebat Nath, tapi yang ku lakukan hanya menari Nath. Tidak ada niat lain, apalagi untuk mempermalukan keluarga kamu"
Nathan mencengram lengan Silvia keras, "berapa kali harus ku katakan, jangan pernah melakukan hal-hal yang tidak aku suka. Kamu seperti perempuan murahan yang melenggak-lenggok dibpanggung, memamerkan tubuhnya. Kamu tau? "
PLAAKKKKKKKK!!!!!!
tamparan itu mendarat sempurna dipipi kiri Nathan.
"Kali ini kamu sudah sangat keterlaluan Nath. Kamu adalah laki-laki terbrengsek yang pernah aku temui. Kamu tau?"
Aksi Silvia yang menampar Nathan mengundang perhatian para tamu. Tapi, Silvia tidak perduli sama sekali. Dia sudah tidak perduli dengan harga diri atau hal semacamnya, yang jelas kesabarannya Sudah mencapai titik terendah saat ini
Silvia melepas cicin yang tersemat di jari manisnya, meleparkan cicin itu ke wajah Nathan hingga cicin itu menggelinding tidak beraturan dilantai.
"Sudah cukup semuanya! Perjanjian kita selesai! Aku akan dengan senang hati menunggu surat pengadilan dari kamu."
Silvia hendak beranjak pergi namun, Nathan menjegal tangannya
"Silvia, apa kamu sadar dengan ucapanmu? "
"Kenapa? " jawab Silvia menantang "bukannya itu yang selama ini yang kamu inginkan? Selama ini kamu hanya menganggapku pembantu dan parasit dalam hidup mu, iya kan? Aku tidak akan membiarkan harga diriku diinjak-injak lagi oleh ego mu. Cukup kamu menghina ku selama ini Nath, dan aku sudah muak melihat wajahmu." air mata mengalir deras di pipi Silvia, namun gadis itu cepat-cepat menghapusnya. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan semua orang terutama Nathan
Tak terduga Nathan menarik Silvia dalam pelukkannya. Memeluk istrinya erat meskipun Silvia meronta-ronta minta di lepaskan. Bukan itu maksud dari semua pekataannya, Silvia telah salah paham. Dan entah kenapa saat Silvia mengatakan akan pergi, hatinya seolah hancur dan sakit seperti dihujam ribuan pisau
"Lepaskan aku Nath! "
"LEPASKAN...!!! "
"Maafkan aku Silvia... Maafkan aku"
■■■TBC■■■