You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA | Hanya Sebatas Rindu



Takku sangka pertemuan singkat itu menjadi kisah yang panjang



Bruuukkkkk....


Tubuh mungil Silvia terpental ke lantai, sesuatu yang cukup keras menubruk tubuh rampingnya . Orang itu pasti tidak punya mata sampai\-sampai menabrak tubuhnya, ya walaupun tubuhnya mungil tapi, setidaknya masih bisa di lihat dengan mata manusia.



"Awwww.." ringisnya. Dalam hati dia merutuki orang yang menjadi penyebab sakit pada sekujur pantatnya.



Silvia mendongakkan kepalanya menatap seorang laki\-laki berjas abu\-abu yang saat ini sedang terpaku di hadapannya. Dari raut wajahnya, sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah karena telah menjadi penyebab orang lain terluka.



Silvia langsung berdiri, matanya membulat sempurna menatap nanar pria itu, sementara bibirnya sudah siap melayangkan kalimat berbagai makian. Tapi, Silvia mencoba menahan diri agar tidak bersikap sembrono di tempat sepenting ini.



"Maaf harusnya Anda bisa lebih berhati\-hati." ujar Silvia masih dengan kesabaran penuh



Laki\-laki itu hanya menatap Silvia dengan tatapan datar dan wajah sedingin es. Silvia mengerutkan dahinya tidak mengerti. Apa kalimatnya sebegitu sulitnya untuk dicerna? Dia jadi berpikir apa orang di hadapannya ini adalah penderita tuna rungu atau tuna wicara?



"Hei.." ucap Silvia lagi



Tapi, laki\-laki itu malah berlalu pergi dengan gaya penuh kesombongan. Bagaimana bisa dia bersikap setenang itu seolah dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Membuat darah Silvia mendidih setiap kali memandang wajah laki\-laki itu.



"HEII....Dasar laki\-laki kurang ajar...." teriak Silvia sembari mengejar laki\-laki itu. Tangannya sudah bersiap memukul punggung pria sombong itu namun, tertahan karena pria itu tiba\-tiba menoleh dan menangkis tangan Silvia.



"Mau saya panggilkan keamanan atau kantor polisi?" tegasnya dengan Hazel dinginnya



Silvia mendengus, "maaf pak, bukannya di sini yang salah Anda. Seharusnya Anda minta maaf pada saya bukan malah sebaliknya."



"Mungkin Anda mengalami amnesia sementara, biar saya ingatkan. Saya berjalan dengan aturan yang sudah ditetapkan dan Anda menabrak saya."



"Jelas\-jelas Anda yang menabrak saya hingga jatuh ke lantai." teriak Silvia tidak terima



Laki\-laki itu memutar bola mata malas, "Saya tidak punya waktu untuk memperdebatkan hal yang tidak penting."



Dia kemudian berlalu pergi begitu saja, menyisakan Silvia dengan rasa kesal yang melanda hati perempuan itu.



"Dasar laki\-laki sombong!"




"Orang kaya sombong! Tidak tau sopan santun!"



"Dasar lintah darat! Awas saja kalau aku bertemu dia lagi, akan ku cabik\-cabik perutnya."



Nathan sama sekali tidak memedulikan ucapan perempuan asing yang baru saja ia temui. Bahkan ia tidak peduli kalau perempuan itu mencaci makinya dengan segala kata yang ada di kamus besar bahasa Indonesia.


Jangan heran. Begitulah Nathan. Jika dia bersikap baik dengan seorang wanita, hal itu perlu dipertanyakan. Karena sepanjang perjalanan kariernya hal itu tidak pernah terjadi.


Ada beberapa hal yang tidak pernah dia lakukan di dunia ini. Minta maaf, memaafkan dan berterima kasih. Jangan pernah mengharapkan tiga hal itu dari seorang Nathan, karena sampai kiamat pun hal itu tidak akan pernah terjadi.


Laki-laki berjas Abu-abu itu memasuki sebuah ruangan yang terletak di lantai dua belas sebuah gedung pencakar langit di Jakarta. Ruangan dengan label namanya tertempel di depan pintu itu, begitu mewah dengan dekorasi bertema warna kayu dan beberapa miniatur favoritnya. Dari sana bisa di nilai jika Nathan sangat menyukai hal-hal berbau alam.


Nathan duduk di bangku kebesarannya, tak lama kemudian ponselnya berdering, memperlihatkan sebuah nomor tak dikenal.


"Halo.." sapanya lebih dulu


"Apa kabar? Aku dengar kamu sudah kembali ke Indonesia." seorang laki-laki di seberang sana menjawab dengan aksen khas yang tentunya tidak pernah Nathan lupakan.


Nathan meremas genggaman tangannya erat, mencoba menahan emosinya agar tidak terpancing dengan situasi saat ini.


"Tidak usah berbasa-basi, aku tidak punya waktu mendengarkan ocehanmu."


"Ternyata kamu masih saja tidak berubah. Dingin dan pemarah, benar-benar tidak seru. Ckckckck... pantas saja anak buahnya selalu kabur."


Tuttt.....tuttt...


Nathan memutuskan panggilannya tiba-tiba. Orang itu selalu saja berusaha mengganggu ketenangannya.


"Kemarilah." ujarnya setelah menekan angka nol pada tombol telepon kantornya.


Dan tak lama kemudian seorang laki-laki berbadan kekar lengkap dengan menggunakan seragam keamanannya datang memenuhi panggilan atasannya yang tidak lain adalah Nathan Bagaskara.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Carikan saya nomor baru dengan mode privat dan keamanan tingkat tinggi hingga tak sembarangan orang bisa menghubungi saya." tegasnya


"Baik, Tuan." dia mengangguk sopan


"Dan satu lagi, saya tidak mau sembarangan orang menelepon saya terutama dua bocah sialan itu!"


"Siap, Tuan. Segera saya laksanakan."


Nathan mengangguk sembari mengibaskan tangannya untuk memberi sinyal pada ajudannya agar segera keluar dari ruangan kerjanya.


Selepas ajudan itu pergi, kini Nathan malah memandangi kaca besar yang ada di belakang kursinya, yang memperlihatkan pemandangan Ibukota di pagi hari.


Pikirannya jauh menerawang. Tak ia sangka bisa kembali lagi ke sini setelah sepuluh tahun lamanya. Ia masih ingat jelas, ketika pertama kali Nathan meninggalkan kota kelahirannya. Saat itu dirinya masih menjadi mahasiswa disalah satu fakultas terbaik di Indonesia.


Nathan menarik sedikit sudut bibirnya, hanya per sekian mili saja. Ada sebuah kenangan yang memaksanya untuk kembali dan kenangan itu juga yang menahannya untuk tidak pernah kembali lagi.


"Aku sudah kembali tapi, hatiku tetap saja kosong." bisiknya lemah


Angin yang berembus menerbangkan kelopak-kelopak dedaunan di jalan seakan menjadi tanda kalau kenangan itu tidak akan pernah kembali seperti bunga. Sama halnya dengan daun kering yang tak kan lagi kembali pada batangnya.


"Rindu hanyalah sebatas rindu."


Dan itulah kenyataan yang harus dia terima saat ini. Nathan tau betul jika masa lalu tidak akan pernah bisa terulang kembali.