
Silvia memandang takjub pantulan dirinya di cermin. Dia tidak menyangka kalau dirinya bisa sepandai itu berhias. Wajah mungilnya kini sudah terlukis sempurna dengan berbagai jenis perlatan make up yang khusus dibawakan oleh salah satu pegawai Nathan. Silvia berdiri, berputar-putar didepan cermin bak seorang cinderella yang sebentar lagi akan menghadiri pesta dansa.
Gaun cantik berwarna biru langit, dengan manik-manik kecil yang menghiasi setiap permukaannya, bagian depannya hanya sebatas tulang kering dengan ekor yang panjang dibelakangnya-membuat bagian belakang gaun itu menyentuh lantai. Gaun ini adalah gaun yang sengaja dipesan oleh Nathan untuknya, yang Silvia sendiri tidak bisa membayangkan berapa harganya.
Awalnya Silvia menolak untuk menggunakan gaun itu dalam acara bergengsi nanti malam, bahkan Silvia sama sekali tidak berniat untuk menghadirinya. Namun, melihat tatapan setan Nathan dan nada suara datarnya yang menyebalkan itu, membuat Silvia tidak memiliki keberanian lain selain mengikuti kemauannya.
"Silvia, kamu tau kalau aku tidak suka di bantah. "
Silvia sebal dengan kalimat itu, kalimat yang selalu diucapkan Nathan untuk memperingatinya. Kalimat yang sudah seperti kutukan baginya-kutukan yang tidak mengenakkan. Mengingat semua itu, mrmbuat senyum diwajah Silvia menguap. Namun, tiba-tiba rona merah menggantikan senyum yang tadinya menghilang ketika dia ingat kejadian tadi malam. Dimana dia tidur dikamar Nathan.
Rasanya Silvia malu sekali. Dia tidak akan sanggup melihat Nathan malam ini, kalau bayangan kejadian kemarin tidak kunjung menghilang dari pikirannya. Pagi ini saja dengena susah payahnya, Silvia mengumpulakan keberaniannya untuk duduk bersama menikmati sarapan dimeja makan. Setelah itu, dia habiskan dengan berdiam diri dikamar sampai akhirnya Nathan memintanya untuk bersiap-siap.
"Dasar Serigala gunung. tidak dikenyataan, dipikiran juga mengganggu ketenanganku. " gerutunya pada dirinya sendiri.
''Siapa Serigala gunung? "
Silvia tercekat, suara dingin dsn datar itu jelas bukan berasal dari mulutnya. Dia tau betul siapa pemilik suara itu, tidak mungkin Silvia tidak mengenali suara yang setiap saat mengeluarkan kalimat kutukan yang paling dibenci Silvia.
Silvia menarik nafas perlahan sambil dalam hati dia berharap Nathan tidak mendengarkan ucapannya yang lainnya tentang dirinya. Seharunya Silvia lebih menjaga ucapannya selama dia tinggal dirumah besar ini karena dirumah itu tembok pun bisa bicara.
Silvia berbalik kearah sumber suara. Disana didekat pintu, Nathan menyenderkan tubuhnya dengan tangan yang dilipat didepan dada. Tak lupa dengan tatapan elangnya yang penuh kecurigaan dan yang paling dibenci oleh gadis itu.
"Aku sedang bertanya. Dan aku rasa setiap pertanyaan membutuhkan jawaban, bukan begitu? "
Silvia memutar bola matanya malas. Entah kenapa setiap kali melihat laga angkuh Nathan, membuat keberanian Silvia terpacu lebih cepat.
"Apa pentingnya pertanyaan itu? "
"Kalau tidak penting, mana mungkin aku bertanya? Kamu pikir aku mau membuang waktu ku untuk hal-hal yang tidak penting. "
Silvia mendesah. "sejak kapan serigala gunung jadi objek penting buat kamu, Nathan?" Silvia mengerutkan dahinya kewalahan.
Nathan masih setia menatap Silvia membuat Silvia ingin segera beranjak dari hadapan suaminya itu. Beberapa detik kemudian, Nathan melangkah mendekat tanpa mengalihkan fokusnya, sementara jantung Silvia saat itu juga rasa seperti genderang perang dizaman Mahabaratha.
Nathan mendekatkan mulutnya ditelinga kanan Silvia, tidak perduli dengan nafas Silvia yang berhenti ditenggorokkannya.
"Apapun yang kamu lakukan dan ucapkan, semua itu penting bagiku. Ingat itu. "
Silvia tidak tau, kalimat itu kutukan atau anugrah baginya. Yang jelas setiap kali Nathan berbicara, hanya rasa takut yang menggelenyar ditubuhnya. Tatapan Nathan selalu berhasil membuat tubuh Silvia seolah berubah menjadi batu.
Nathan menatap Silvia dari ujung rambut hingga ujung kaki, "ternyata kamu cantik juga menggunakan gaun itu. Ya... Setidaknya aku tidak rugi membeli gaun itu mahal-mahal."
Silvia berdecih, memutar bola mata malas. Bukan dia tidak suka dipuji, tapi suara dan gaya angkuh Nathan membuatnya benar-benar merasa muak mendengarnya.
Dengan gerakan cepat, Nathan mengecup lembut dahi Silvia. Entah kenapa saat melihat Silvia berpenampilan seperti ini membuatnya ingin melakukan itu. Lagi-lagi Silvia dibuat terkejut, lagi-lagi jantungnya berpacu seperti kereta kuda dan lagi-lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mematung dengan mata yang membulat sempurna.
"jangan tegang seperti itu. Bukanya perempuan suka diperlakukan seperti ini? " ujar Nathan santai tidak perduli dengan wajah merona Silvia.
The Best Entrepreneur of The Year
Adalah acara bergengsi yang diselenggarakan setiap tahunnya sebagai ajang penghargaan bagi para pengusaha terbaik tahun ini. Acara itu diselenggarakan dengan sangat meriah dan mewahnya disebuah hotel bintang lima ternama di Jakarta. Tamu\-tamu undangan yang datang berasal dari kalangan pembisnis luar dan dalam negri. Ajang ini juga dimaafkan oleh para pengusaha baru untuk mencari mitra bisnis dan memperbanyak relasi mereka.
Ballroom hotel yang luas disulap menjadi ruangan bergaya eropa yang didominasi dengan warna merah dsn dark, menimbulakan kesan mewah dan Elegan. Ada lebih seribu undangan yang datang, tua\-muda, pria\-wanita memenuhi ruangan itu.
Nathan menggenggam erat tangan Silvia sejak memasuki pintu utama hotel. Sedetikpun dia tidak membiarkan Silvia lepas dari pandangannya, dan Silvia harus bersyukur untuk itu karena jujur saja dia kesulitan berjalan memakai high hill 10 cm yang menempel di kakinya.
Para undangan sedang asik mengobrol dengan kenalan\-kenalan mereka, ketika Nathan dan Silvia memasuki Ballroom yang membuat semua orang menatap takjub dekorasinya.
"Hai Nathan.. " seseorang menepuk pundaknya yang dengan spontanitas membuat Nathan mau tidak mau harus menoleh
"Dave, kamu ada ada disini juga? Setahuku kamu tidak tertarik dengan dunia bisnis. " Nathan menguntai senyum terhangat yang dia punya pada laki\-laki berjas silver yang dipanggil 'Dave' barusan.
"Aaa.. Tentu saja. Mana mungkin aku lupa, aku tidak ada apa\-apanya dibandingkan William. "
Dave mengangguk, fokusnya kemudian terpecah pada sosok wanita yang berada disebelah Nathan. Silvia hanya tersenyum kaku saat Dave menatapnya penuh tanda tanya.
"Dia\-\-? " Dave menggantung Kalimatnya sambil melirik Nathan
"Istriku. " Nathan menggenggam tangan Silvia semakin erat
"Kamu benar\-benar kejam Nathan, bagaimana mungkin kamu tidak menggundangku? " Dave pura\-pura memasang wajah kecewa
Nathan celingusan, sedikit merasa bersalah karena pasalnya Dave adalah salah satu teman baiknya. "Sorry Dave, semuanya terjadi begitu cepat. Mungkin dipernikahan kedua ku akan ku undang. "
Kalimat Nathan disambut tawa kegurauan Dave, "heyy... Hati\-hati, istri pertama itu selalu yang terbaik. Tidak boleh disia\-siakan." Dave tertawa renyah.
"Oya, Silvia perkenalkan ini Dave, dia teman baikku. " Nathan memperkenalkan dua insan dihadapannya itu
"Silvia. "
"Dave. "
Sebelum Dave beranjak pergi, dia sempat membisikkan sebuah kalimat pada Nathan.
"Kamu beruntung Nath, bisa melihat istrimu tersenyum dan mendengar suaranya setiap saat. Jangan sia\-siakan karena itulah yang tidak bisa aku lakukan. " Nathan bisa merasakan luka yang teramat dalam dari balik intonasi bicara Dave. Dan sebelum pergi, tak lupa Dave menepuk pundak Nathan.
\*
"Kak Nathan... "
Suara itu terdengar sangat familiar ditelinga Nathan. Dia tidak menyangka akan bertemu adiknya diacara bergengsi seperti ini, yang itu tandanya ada keluarga besar Papa juga ikut hadir diacara ini.
Tiba\-tiba mood Nathan langsung berubah menjadi tidak baik, dia menggoyang\-hoyangkan gelas yang berisi wine ditangannya dengan gerakan cepat. Dan bahkan Nathan tidak mau melirik adik perempuannya itu.
"Aku minta maaf Kak. Sama sekali aku tidak berniat untuk meninggalkan Kakak. "
Ucapan Anastasya barusan membuat Nathan melemparkan tatapan mematikan pada gadis belia itu. "Jangan memberikan alasan untuk hal yang jelas\-jelas adalah fakta." Nathan kembali memalingkan wajahnya
Dengan wajah memelas, Anastasya hanya berharap kakaknya mau mengerti dan mendengarkan penjelasannya. "aku hanya ingin Kakak memaafkan Papa, aku hanya ingin kita berkumpul lagi Kak."
"Ya sudah, silakan pergi. Kalau kamu ingin melupakan semuanya, terserah! Yang jelas Kakak tidak. " ujar Nathan dengan suara dingin
Anastasya hanya bisa menunduk sembari samar\-samar menghapus air matanya."Kak, aku mohon. Sampai kapan Kakak akan diperbudak oleh dendam?"
Kali ini tak tanggung\-tanggung, Nathan menatap adiknya seolah dia akan menelan Anastasya begitu saja. "Hentikan ocehan kamu itu dan pergi dari sini sekarang. Mulai sekarang, kamu bukan adik Nathan Alexander, jadi berhenti memanggilku kakak. "
Akhirnya, apa yang ditakutkan Anastasya pun terjadi. Kini dia tak kuasa menahan air matanya dikala kalimat serasa kutukan itu terucap dari bibir Nathan. Anastasya tau kakaknya terlalu keras kepala untuk mendengarkan kebenaran yang sebenarnya. Nathan berlalu begitu saja meninggalkan adik perempuannya,bahkan dia sama sekali tidak perduli akibat dari ucapannya telah menyakiti Anastasya.
Silvia menatap pangling disekitarnya, sejak tadi dia sibuk mencari\-cari sosok Nathan diantara kerumunan tamu undangan. Tadi Nathan terpaksa meninggalkannya karena ada teman bisnis yang harus disapanya. Hal hasil, disinilah Silvia sekarang, berdiri sebuah bar counter sambil menunggu dengan cemas.
Perempuan itu sedikit tersentak ketika ia berasakan jegalan dipergelangan tangannya.
"Anastasya?" Silvia menatap bingung gadis dihadapannya yang menatapnya dengan wajah sendu.
"Kak Silvia, tolong aku." kalimat yang diucapkan Anastasya semakin membuat Silvia bingung. Bagsimana tidak, setelah beberapa lama menghilang dan sekarang Anastasya tiba\-tiba muncul meminta pertolongan padanya.
"Aku tidak mengerti."
"Tolong menangkan hati Kakakku. Aku mohon. Aku ingin Kak Nathan bahagia, selama ini dia tidak percaya cinta dan selalu menganggap kalau dia bisa hidup tanpa orang lain." Anastasya menatap Silvia lekat, "aku yakin, Kak Silvia bisa membuatnya berdamai dengan masa lalu. Berjanjilah kak, kakak tidak akan pernah meninggalkannya."
Silvia benar\-benar bingung, dia tidak tau harus memberikan jawaban apa pada adik iparnya itu selain mengangguk. Dan dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.