
Anastasya duduk seorang diri dipinggir kolam, pikirannya melayang jauh ke dalam dasar kolam yang tenang dan biru. Setengah kakinya dicelupkan ke dalam air dan sesekali menggerak-gerakkannya.
Tampak raut kesedihan terpancar di wajahnya, ada satu hal yang membuatnya tidak bahagia dan tidak bersemangat hari ini.
Ini sudah hari kesekian dia dan Kakaknya tidak pernah bertemu setelah pesta kalangan bisnis itu. Jujur, Anastasya sama sekali tidak bahagia meninggalkan kakaknya seorang diri, meskipun kenyataannya sekarang dia sudah menikah.
Terbesit perasaan bersalah dihatinya, dia akui dia telah begitu jahat pada kakaknya, tapi semua yang Anastasya lakukan hanya untuk membuat kakaknya sadar kalau apa yang selama ini dia pikirkan salah.
Reyhan melihat putri bungsunya tengah asik melamun di pinggir kolam, hingga muncul rasa penasaran tentang apa yang dipikirkan anaknya itu, hingga membuat putri cantiknya murung sepanjang hari.
Reyhan duduk disebelah Anastasya membuat gadis itu sedikit terkejut dengan kehadiran ayahnya yang tiba-tiba.
"Papa ngagetin Anas aja. " ujarnya dengan senyum manis
Reyhan membalas dengan senyuman yang sama, kemudian Anastasya kembali sibuk dengan ritual melamunnya.
"Anas lagi mikirin apa? " Reyhan menatap putrinya sembari mengelus rambut panjang Anastasya
"Nggak lagi mikirin apa-apa kok Pa, Anas cuma lagi pengen santai aja. " jawab Anastasya berkilah
"Jangan bohong sama Papa. Cerita sama Papa, ada apa? Papa ini bukan cuma orang tuanya Anas tapi juga sahabatnya Anas."
Anastasya menatap Papanya Ragu-ragu, apa tidak apa-apa jika dia menceritakan keluh kesahnya pada Papanya? Sementara Reyhan menunggu putrinya mengucapkan sesuatu.
"Pa, Anas kangen sama kakak Nathan. Sekarang kak Nathan udah nggak peduli lagi sama Anas, dia bilang Anas bukan adiknya lagi. Sebenarnya Anas cuma pengen kak Nathan juga ikut ke sini, aku pengen kak Nathan juga bahagia. "
Reyhan tersenyum lembut menatap putrinya, sejujurnya Reyhan juga merasakan hal yang sama. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah duduk bersama dengan putra sulungnya, Nathan. Tapi, meskipun begitu bukan berarti Reyhan tidak pernah berusaha untuk melepas tanggung jawabnya sebagai ayah. Hanya saja Nathan tidak pernah memberikannya kesempatan untuk menjelaskan dan memaafkannya.
Anastasya yang saat kejadian itu masih sangat belia, hingga dia tidak menyimpan dendam yang sama seperti Nathan. Putri bungsu nya itu sangat polos dan selalu merindukan pelukkan kasih sayangnya. Kalau bukan karena Anastasya nekat datang ke rumahnya, mungkin Reyhan tidak bisa seperti ini dengan Anastasya, putri satu-satunya.
"Pa, sebenarnya apa yang membuat Kak Nathan benci dengan keluarga ini? Kalau hanya karena Papa menikah dengan Mama Maya, aku rasa kebencian kak Nathan nggak akan sebesar ini. "
Pertanyaan Anastasya seketika membuat Reyhan membungkam, dia tidak tau harus menjelaskan apa pada putrinya itu. Dia tidak mau Anastasya salah mengartikan situasi dan masalah yang sebenarnya terjadi. Beberapa saat Reyhan hanya terdiam, bimbang memikirkan apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya pada putrinya. Jika memang iya, apakah itu keputusan yang terbaik untuk mengutarakan kejujuranya?
"Kok Papa diam aja? Anas yakin pasti ada yang kalian sembunyikan dari Anas."
Sekali lagi dia menatap putrinya, menarik nafas sebentar sebelum memutusakan untuk mengucapkan kalimatnya.
"Kakak kamu salah paham Anas, sejak dulu Papa berusaha menjelaskanya tapi, Nathan tidak mau mendengarkan penjelasan Papa." Reyhan diam sejenak, laki-laki setengah baya itu melihat lurus ke arah kolam, mengingat kembali masa-masa sulit yang dia lalui beberapa tahun silam.
"Salah paham soal apa Pa? " Anastasya semakin tertarik dengan topik pembicaran Papanya
Reyhan kembali menghela nafas berat, "Kamu tau sayang, Papa sangat mencintai Alexandra Mama kamu. Papa tidak pernah sedetikpun meninggalkannya bahkan ketika Papa tau dia sakit, mana mungkin Papa bisa melakukan itu. Tapi, saat itu Mama kamu yang meminta Papa menikah dengan Maya sahabatnya sendiri, dan itu permintaan terakhirnya. Awalnya Papa menolak keras, tapi Mama kamu malah semakin drop dan kritis, hingga akhirnya Papa menikah dengn Maya. Dan sejak saat itu Papa tidak diizinkan melihat Mama kamu dirumah sakit, katanya itu permintaan Mama kamu yang tidak ingin bertemu dengan Papa. Dan Nathan salah paham, menganggap Papa yang meninggalkan kalian. " raut kesedihan masih tampak jelas diwajah Reyhan yang mulai berkerut
Anastasya memeluk Papanya sembari meneteskan air matanya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan papanya selama ini, pasti sangat berat baginya menjalani Hari-hariny selama ini.
Anastasya merasa sangat bersalah karena selama ini telah membiarkan Papanya melewati masa sulit itu sendirian. Selama ini dia dan Nathan sudah sangat salah paham menilai Papanya sendiri dan membuang banyak waktu berharga mereka hanya karena dendam dan kebencian yang belum tentu kebenarannya.
Dia telah membuang banyak waktu yang seharusnya bisa dia nikmati bersama papanya. Anastasya semakin yakin jika Nathan tau kebenaran yang sesungguhnya kakaknya itu pasti akan menyesal dan merasa bersalah karena selama ini telah bertindak kurang ajar pada Papanya sendiri.
"Tenang aja Pa, Anas pasti akan bawa Kak Nathan kembali. Apapun resikonya!" tekat Anastasya
•••
Sejak pagi hingga siang ini, Nathan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Semua yang dia lakukan pasti ada saja yang salah membuat para karyawannya menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi pada bos mereka.
Sepanjang rapat direksi, Nathan hanya melamun dan tidak mendengarkan dengan serius isi presentasi yang di sampaikan oleh kepala bagian marketingnya. Pikirannya hanya tertuju pada kondisi Silvia, sampai saat ini gadis itu masih mengalami trauma berat. Dan semua itu karena ulahnya. Entah kenapa, Nathan juga tidak tau, dia merasa sangat bersalah dan iba dengan kondisi Silvia. Dia merasa sangat brengsek sebagai seorang laki-laki. Hanya karena mengikuti amarahnya, dia mempertaruhkan keselamatan gadis kecil itu. Dia tidak tau bagaimana masa depan Silvia nanti kalau gadis itu tidak kunjung membaik.
"Bagaimana menurut Pak Nathan? " suara itu menyadarkan Nathan dari lamunannya, dan sialnya dia tidak tau harus menjawab apa karena dari awal hingga tadi dia sama sekali tidak menyimak apa pokok pembicaraan dalam rapat itu.
"Saya akan mempertimbangkannya. Rapat akhiri saja sampai di sini, saya masih punya banyak urusan. Lagipula, saya rasa penjelasan tadi sudah lebih dari cukup. "
Semua orang yang ada di ruangan meja bundar itu menggangguk setuju. Nathan keluar dari ruang rapat diikuti oleh sekretaris dan direktur pemegang perusahaan. Mereka berpisah setelah sampai di lift pribadi yang khusus diperuntukan bagi para petinggi perusahaan. Nathan kembali ke ruangannya diikuti oleh sekretaris nya dan Direktur pimpinan perusahaan juga kembali melanjutkan pekerjaannya.
Nathan menghempaskan tubuhnya kasar disofa, dia menengadahkan kepalanya dan tangan kanannya meminjat pelipisnya yang entah kenapa rasanya sangat sakit dan berat padahal tidak banyak pekerjaan yang dia lakukan hari ini. Karena hampir semua pekerjaannya berantakan.
Bayangan wajah terluka Silvia muncul di kepalanya, suara tangisnya seolah menghantui Nathan membuat laki-laki itu lagi-lagi mendesah frustrasi. Cukup lama dia berpikir, Nathan memutuskan untuk pulang, dia tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk melihat bagaimana kondisi Silvia saat ini.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, mobil sport Nathan yang berharga milyaran itu mendarat sempurna di depan istana megahnya. Seperti biasa banyak bodyguard Nathan yang berdiri sikap disetiap ujung rumahnya, mereka semua mengenakan pakaian serba hitam dan bertubuh kekar. Membuat siapa saja tidak akan berani memasuki rumah itu tanpa permisi.
Wajah Nathan sangat kusut ketika turun dari mobil, supirnya membukakan pintu untuknya, Nathan berjalan tanpa perlu menghiraukan pelayan-pelayannya yang membungkuk memberi hormat.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis tengah duduk seorang diri di pinggir kolam. Gadis itu mengajunkan kakinya yang setengah basah menyentuh kolam. Dari jarak sejauh itu, tidak sulit bagi Nathan untuk mengetahui siapa gadis itu. Itu adalah Silvia.
Apa gadis itu sudah sembuh?
Tiba-tiba ada hasrat dihati Nathan yang berharap besar kalau Silvia sudah sembuh atau setidaknya membaik dan tidak histeris lagi ketika melihatnya.
Ragu-ragu Nathan melangkah mendekat seraya dalam hatinya berharap semoga Silvia tidak akan berteriak histeris saat melihatnya.
"Silvia... " panggil Nathan dengan suara lemah
Gadis itu menoleh sejenak menatap Nathan dengan tatapan tanpa arti, kemudian dia melengos kembali menatap genangan air didepannya.
Nathan meletakkan tas dan jasnya di atas sebuah kursi santai di pinggir kolam, dia menarik kedua ujung celananya dan ikut merendam kakinya sama seperti hal yang dilakukan oleh Silvia. Gadis itu tidak bergeming, masih fokus dengan pikirannya sendiri.
"Kamu udah makan?" Nathan menoleh menatap Silvia, wajah gadis itu masih pucat dan terlihat lemas, membuat Nathan merasa semakin bersalah.
Silvia tidak berniat menjawab, tenggorokkanya terlalu kering untuk mengimbangi percakapan Nathan. Di tambah lagi kejadian beberapa hari yang lalu masih melekat jelas di ingatannya, rasa marahnya pada Nathan tidak bisa menyurut begitu saja meskipun akhir-akhir ini Nathan bersikap lembut padanya.
Nathan menghela nafas, dia bisa mengerti kalau Silvia tidak ingin bicara dengannya. Yang terpenting bagi Nathan, Silvia bisa kembali normal lagi dan bisa beraktivitaslagi seperti biasanya.
Nathan menyentuh tangan Silvia, Silvia menoleh, kedua pasang mata itu bertemu dan saling bertautan. Entah kenapa Silvia tidak ingin melepas matanya dari mata Nathan, dia bisa melihat raut penyesalan diwajah laki-laki itu.
"Maafkan aku.. " lirih Nathan, "aku benar-benar tidak menyangka apa yang aku lakukan akan berakibat sefatal ini. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti mu atau bertindak kasar, Silvia. Hanya saja... "
"Hanya saja apa? " akhirnya Silvia membuka suaranya, nada suara terdengar sarkasme
Nathan menatap Silvia tajam, tanpa ragu dia mengatakan, "aku hanya tidak suka kamu dekat dengan laki-laki bernama Dilan itu."
"Kenapa? " tanya Silvia dingin dan datar
"Karena kamu istriku, laki-laki mana yang rela melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain. "
"Tapi kenapa Nathan? Bukanya pernikahan ini hanyalah sebuah perjanjian di atas kertas? Kamu sendiri kan yang bilang aku tidak lebih dari sekedar pembantu buat kamu, iya kan? " mata Silvia berkaca-kaca, mulutnya bergetar setelah mengatakan kenyataan yang pahit itu
"Silvia.. " Silvia kembali memalingkan wajahnya, dia malas mendengarkan penjelasan dari Nathan, semua itu hanya akan membuat kepalanya bertambah pusing
"Sudahlah Nathan. Aku lelah. Aku ingin istirahat. " Silvia bangkit dan meninggalkan Nathan yang masih terpaku ditempatnya
Nathan tidak tau harus senang atau sedih dengan situasi ini. Disisi lain dia bersyukur karena tidak harus menjawab pertanyaan Silvia, karena jujur dia tidak punya jawabanya untuk saat ini.
Ego selalu mematahkan cinta, namun hati akan selalu membuat kamu mengerti tentang perasaan yang tidak terucapkan
■■■Tbc■■■