You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DELAPAN BELAS | Berdamailah, Nath.



Matahari perlahan kembali keperpaduan, tergantikan oleh malam yang perlahan memperlihatkan kerlap-kerlip bintang dilangit.  Cahaya terang dan memudarnya menjadikan langit tampak begitu indah di malam hari. seperti taburan berlian yang indah. Malam,  terkesan dengan sebuah kenangan, malam seolah membangkitkan ingat masa lalu yang terkubur jauh dilubuk hati.  Jika siang adalah sebuah kenyataan yang hakiki,  maka malam adalah ingatan yang hakiki. 


Hal yang sama juga terjadi pada Nathan, ingatannya tiba-tiba terlempar jauh ke masa lalu, dimana dia dan keluarganya hidup harmonis. Dia masih ingat ketika Mamanya setiap pagi menyiapkan roti selai kacang kesukaannya dan Papanya, dan kemudian Anastasya akan merengek karena paling terakhir disiapkan sarapan.  Saat itu, tidak pernah terpikirkan dibenaknya kalau keluarganya akan berakhir dengan perpisahan seperti ini. 


Masih jelas diingatannya bagaimana senyum Mamanya setiap pagi menyambutnya, suara tawa Papanya dan Anastasya setiap sore ketika hari libur.  Suasana itu,  dangat dirindukan Nathan. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah lagi tau bagaimana caranya tersenyum. Sekarang,  lihat lah.  Semuanya berubah 180 derajat. Nathan yang ada  saat ini adalah Nathan yang hidup seorang diri disebuah rumah besar.  Natham yang kesepian dan menyedihkan. 


Tanpa dia sadari air matanya jatuh, dengan cepat Nathan menghapsnya. Dia tidak ingin keadaan membuatnya lemah dan akhirnya menyerah dengan takdir. Laki-laki itu duduk disebuah sofa kecil berwarna abu,  menghadap kaca besar dikamarnya. Dari kaca itu terlihat jelas suasana sebuah jalan di depan rumah Nathan yang dipenuhi oleh cahaya dari kendaraan yang berlalu-lalang.  Pandanganya kosong menatap lurus kedepan, pikirannya masih melayang jauh kebelakang.  Keadaan Nathan benar-benar tidak baik,  penampilannya berantakan seolah tidak ada lagi semangat dalam dirinya. 


"Nathan... "


Suara setengah serak itu milik Robert, orang kepercayaan dan pengacara kakek Nathan semasa hidupnya dulu. Mungkin, saat ini hanya Robert lah yang tetap bertahan disisi Nathan, setelah semua perlakuan Nathan pada pak tua itu.


"Jangan ganggu aku! " peringat Nathan, dia sedikitpun tidak perduli dengan pengacaranya itu


Meski kalimat itu sudah seperti titah raja yang tidak boleh dilanggar, Robert tetap melangkah masuk ke dalam ruangan yang khusus milik Nathan.  Laki-laki setengah baya itu tau betul bagaimana sifat Nathan dan bagaimana cara mengatasinya. Hal semacam ini sudah berulang kali terjadi, setiap Nathan bermasalah dengan adik perempuannya,  sikap Nathan yang seperti ini pasti akan muncul sebagai penolakan dalam dirinya. 


Sebelum Kakeknya meninggal, Robert telah diwasiatkan untuk melindungi Nathan apapun yang terjadi, dan tetap berada disisi cucunya yang keras kepala itu. Hubungam Robert dan Kakek Nathan tidak hanya sekedar hubungan pengacara dengan kliennya, tapi mereka adalah sahabat baik sejak masa muda dulu.  Karena itu bagi Robert,  melindungi Nathan adalah salah satu tujuannya hidup. Bahkan Robert tidak pernah keberatan untuk mempertaruhkan nyawanya untuk Nathan. 


"Robert, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Sebelum aku bertindak kasar padamu, lebih baik segera pergi dari sini." peringat Nathan lagi ketika mendengar langkah kaki Robert yang semakin mendekat.


Robert hanya tersenyum simpul sambil terus berjalan mendekati Nathan.  Tangannya memegang sebuah gelas yang berisi cairan berwarna hijau tua kecoklatan. 


"Minum ini untuk menenangkan pikiranmu." Robert menyodorkannya kepada Nathan. Beberapa saat Nathan menatap Robert dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Namun,  kemudian dia menyambut gelas itu dari uluran tangan Robert. 


Robert tersenyum puas,  dia berbalik dan berjalan menuju sebuah sofa panjang berwarna abu yang letaknnya agak jauh dari tempat duduk Nathan. 


"Bukankah seharusnya kamu mendengarkan penjelasan dari Tuan Ryan? " Robert mencoba membuka pembicaraan


Pertanyaan Robert langsung membuat Nathan menatap pengacaranya itu dengan tatapan tidak suka seperti singa yang tidak suka dengan kehadiran orang baru diareanya.  Namun, Robert tidak memperdulikan tatapan itu walaupun harus dia akui kalau tatapan Nathan sangat tidak mengenakkan untuk dipandang. 


"Sebenarnya apa tujuamu datang ke sini, Robert? Aku tidak mau membahas ini sekarang." jawabnya dingin dan kembali fokus menatap keluar jendela.


Robert menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimat yang akan diucapkannya, "Nathan, berdamailah dengan masa lalu. Amarah kamu hanya membuatmu tersiksa, sampai kapan kamu akan menyimpan amarah itu?  Tidak ada gunanya Nathan.  Semua sudah terjadi,  berdamailah Nathan."


Nathan memutar kursinya, "berdamai?  Bagaimana aku bisa melupakan semua itu begitu saja? Penghianatan yang dia lakukan sudah terlalu menyakitkan bagiku, Robert." Nathan berusaha menahan emosinya, dia tidak ingin melampiaskan amarahnya pada orang tua dihadapannya itu. Sudah terlalu sering Nathan menjadikan Robert sebagai pelampiasannya dan dia masih punya hati nurani untuk tidak melakukan semua itu lagi. 


"Tuan Ryan sejak dulu ingin memberikan penjelasan, tapi kamu sendiri yang menolaknya. Cobalah dengarkan penjelasaannya, pasti ada alasan dibalik semua itu. Dia itu Papa kamu, orang tua satu-satunya yang kamu miliki. Jangan menyiksa diri sendiri seperti ini Nathan. "


Jujur, Robert tidak tega melihat kondisi Nathan setiap kali memikirkan masa lalu keluarganya.  Dia kasihan pada Nathan yang hidup seorang diri tanpa orang-orang yang disayanginya. Tanpa keluarga disisinya,  karena itu tidak heran kalau hati Nathan sekian lama membeku.


 


Silvia termenung di kamarnya, memikirkan semua ucapannya yang telah dia lontarkan pada Nathan.  Apa dia berlebihan mengatakan semua itu?  Apa dia sudah melukai hati Nathan karena ucapannya? Silvia merasa dia sudah keterlaluan kepada Nathan, tidak seharusnya dia mengucapkan kata\-kata itu. 


Sepanjang kembali dari ruangan Nathan,  Silvia merasa sangat gelisah dan Khawatir.  Dia merasa tidak enak pada Nathan, lebih tepatnya merasa bersalah.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Silvia memutuskan untuk ke kamar Nathan untuk meminta maaf kepada laki\-laki yang tidak lain adalah suaminya itu. 


"Bagaimana? "


Seolah mengerti maksud ucapan Silvia,  Laki\-laki setangah baya yang menggunakan pakaian lengkapnya itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahu.  Setelah itu Robert melangkah pergi begitu saja.  Sementara Silvia melanjutkan langkahnya untuk menemui Nathan di ruangannya. Sejujurnya dia takut tapi, apapun alasannya dia tetap harus meminta maaf karena ucapannya yang sudah sangat keterlaluan.


Ruangan Nathan terbuka lebar, masih sama seperti beberapa jam lalu ketika Silvia keluar dari ruangan itu.  Ruangan itu tampak sangat tenang dengan pencahayaannya yang sengaja diredupkan untuk menambahkan kesan sunyi di dalamnya.  Jujur, Silvia benci ruangan itu. Mengingatkannya pada film horor yang pernah ditontonnya. 


"Nathan...? " Silvia melangkah dengan ragu.


Tidak ada jawaban, ruangan itu sangat sunyi seolah tidak berpenghuni. 


Apa Nathan tidak ada disini? 


Tapi,  dia pergi kemana? 


Mata Silvia menyelidiki disetiap sudut ruangan itu, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada sofa dekat jendela yang dari belakang mempeihatkan kepala Nathan yang sedang bersender disana.


Silvia melangkah maju,  menghampirinya, "Nathan,  aku minta maaf. Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu. "


Tidak ada jawaban.  Hanya kesunyian yang mendengung di ruangan itu.  Silvia merasa ada yang agak janggal, dia sangat yakin orang yang duduk di balik sofa itu adalah suaminya. Tapi,  kenapa Nathan tidak menjawab ucapannya? Biasanya Nathan akan menatapnya tajam dan marah menggebu\-gebu setiap kali Silvia melakukan kesalahan. 


Silvia melangkah lebih dekat,  betapa terkejutnya perempuan itu melihat kondisi Nathan yang pingsan di sofa.  dengan wajah panik Silvia langsung menyentuh wajah suaminya,  suhu badan Nathan sangat panas membuat Silvia sedikit tersentak saat menyentuh dahi laki\-laki itu. 


Tidak berpikir lama,  Silvia langsung berlari ke dapur untuk menyiapkan kompres.  Dia meraih sebuah baskom kecil yang kemudian berisi air hangat dan sebuah handuk kecil. Sesampainya di ruang tengah,  Silvia meraba\-raba laci dan menemukan sebuah kotak obat. Silvia membawa serta kotak obat itu kekamar Nathan. 


Tubuh Nathan yang tinggi membuat Silvia kesulitan untuk memindahkan laki\-laki itu ke ranjangnya. Namun,  Silvia tidak menyerah, setelah bersusah payah akhirnya perempuan yang hobi menari itu berhasil membaringkan suaminya di atas king size milik Nathan.  Dengan penuh perhatian,  Silvia menyelimuti Nathan , kemudian mulai mengompresnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Nathan? " ucap Silvia sembari memeletakkan handuk basa di dahi Nathan. 


Nathan tampak sangat damai ketika dia tidur,  kelihatan sangat lelah. Sebuah senyum samar terlukkis diwajah mungil Silvia.  Jujur,  dia lebih menyukai wajah Nathan saat tidur daripada ketika laki\-laki itu sadar.


"Maafkan aku ya, Nath? " Bisik Silvia dengan suara lembut


"Iya,  aku maafkan. " jawab Nathan masih dengan suara terpejam.  Bola mata Silvia membulat sempurna, dia pikir Nathan tidak mendengar  semua ucapannya,  dia pikir Nathan sudah tertidur lelap.  Wajah Silvia langsung merona, pipinya seperti kepiting rebus. Dia merutuki dirinya sendiri karena sudah mengatakan kalimat bodoh itu. 


Perempuan itu hendak beranjak pergi karena malu,  namun sebuah tangan menahannya.  Silvia menoleh terkejut ketika tangan itu menariknya hingga tubuhnya terhuyung kesisi ranjang tepat di sebelah Nathan.  Nathan mendekapnya, memeluk Silvia seperti sedang memeluk guling,  menarik sedikit selimutnya agar selimut itu juga menyelimuti istrinya. 


"Jangan kemana\-mana. Ini perintah. " Nathan mengeratkan pelukkannya sementara Silvia membeku dalam pelukan Nathan. 


"Aku tidak menyangka, memelukmu akan sehangat ini. " sambung Nathan sembari mendekatkan kepalanya didada Silvia. 


Perlahan Silvia menyentuh kepala Nathan, membelainya dengan penuh kasih sayang hingga Nathan tertidur lelap.  Malam itu menjadi malam pertama mereka tidur satu ranjang. Membuka harapan baru untuk hidup yang lebih baik.  Mungkinkah Nathan sudah mulai berdamai dengan masa lalu? 


■■■TBC■■■