You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN TIGA TUJUH | Rahasia Nathan



"GOOD MORNING... SPADA! HELLO MY SWEET HEARTS"


Nathan hampir saja memuntahkan sarapannya saat melihat orang tua dengan gaya glamor di hadapannya. Nathan membulatkan matanya dan bibirnya sedikit terbuka, dia meletakkan sendoknya kembali di samping piringnya. Sementara Roy, Mario, Anastasya dan Silvia hanya melongo tidak tau siapa wanita tua itu.


Wanita itu mendekat diikuti oleh dua pelayannya yang membawakan dua koper besar miliknya.  Anastasya bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri wanita itu seraya memeluknya, sementara Nathan memutar bola mata malas. Sepertinya sebentar lagi hidupnya akan bertambah sengsara dengan kehadiran wanita itu di rumahnya.  Sudah cukup Silvia dan ketiga orang aneh ini yang merusak hari-harinya. 


"Ohh... My sweet hearts Grandma miss you so much..." ujarnya dengan gaya bahasa yang sedikit over menurut Nathan


Grandma Margareta. Dia adalah seorang perancang busana yang sangat terkenal di Eropa, yang sudah memulai karirnya sejak usia remaja. Keahliannya dalam menggambar baju-baju unik membuat semua orang menyukai rancangannya. Saat ini, di usia nya yang sudah semakin tua, dia sudah mendirikan beberapa butik yang tersebar di Eropa dan Amerika dan dia berencana untuk membuka beberapa cabangnya di Asia.  Grandma Margareta adalah nenek kandung Nathan dan Anastasya yang merupakan Istri sah almarhum kakeknya dan ibu dari Belle Alexandra, Ibu Nathan. 


Grandma Margareta mepaskan pelukkannya dan beralih menatap Nathan dan yang lainnya yang masih duduk di meja makan sambil memperhatikannya. 


"Nathan, apa seperti ini kamu menyambut Grandama? Tidak perlu pesta penyambutan. Ya,  setidaknya peluk grandma atau apalah. " ucap Gradma Margareta merentangkan kedua tangannya


Meskipun usianya tidak muda lagi, gaya kekiniannya bisa mengalahkan anak muda zaman sekarang. 


"Grandma, untuk apa datang kemari? " tanya Nathan to the point


Grandma Margareta mengalihkan pandangannya pada Mario dan Roy, "Grandma dengar cucu Grandma sudah bertambah ya, " ucapnya dengan senyum ramah, "sebentar-sebentar kalau Grandma tidak salah,  kamu Mario dan kamu Roy kan? " sambungnya menunjuk Roy dan Mario bergantian


Mario dan Roy membalas dengan senyum ramah, "salah Grandma. Aku Mario dan itu Roy. " Mario mengoreksi sembari menunjuk dirinya sendiri dan Roy


Grandma Margareta tertawa renyah, menertawakan kesalahannya. "maklum, faktor umur jadi, yahh.. You know lah"


Mario dan Roy mengangguk memaklumi. Kini Grandma Margareta beralih menatap Silvia yang duduk anggun melemparkan senyum kaku ke arahnya. Sampai saat ini Silvia tidak mengerti dengan struktur keluarga Nathan, wajar dia tidak tau dia wanita tua yang saat ini berdiri dihadapannya


"Kamu pasti Silvia, istri pilihan kakeknya Nathan kan? "


Silvia mengangguk canggung, "iya Grandma. "


"Ohhh dearr.... " Grandma langsung berhamburan memeluk Silvia, membuat perempuan itu sedikit terkejut namun, beberapa saat kemudian Silvia membalas pelukkannya. 


"Maafkan Gradma ya tidak bisa datang di acara pernikahan kalian, grandma sibuk sekali mengurus pembukaan cabang yang baru di Swiss dan Newzeland. Padahal Grandma sudah mempersiapkan tiket untuk datang ke sini loh..."


Silvia tersenyum kaku, "iya tidak apa-apa Grandma"


"Grandma sudah tidak sabar mendapatkan cucu dari kamu dan Nathan." ucapan Grandam Margareta membuat Nathan langsung tersedak. Dengan penuh perhatian Silvia menyodorkan segelas air putih untuk Nathan


Nathan meraihnya, "kamu tidak apa-apa kan Nath? " Nathan menggeleng dan Silvia bernafas lega


"Kalian so sweet juga ya.. " celetuk Roy memecahkan keheningan yang melanda mereka beberapa detik


Nathan melontarkan tatapan penuh peringatan pada Roy, tapi Roy menanggapinya santai. 


"O..ya, Mario, Roy, Grandma ingin bertemu dengan Papa dan Mama kalian. Kalian bisa mengantar Grandma kan? "


"Tentu saja Grandma. " ucap Mario penuh semangat


"Bagus kalau gitu. Tapi, sebelum itu Grandma mau membersihkan diri dulu. Kalian lanjutkan sarapannya.  Sampai nanti sweet hearts" sebelum pergi Grandma Margareta mencium kening Anastasya 


Nathan berdiri, wajahnya menampilkan raut yang tidak enak dipandang. Dia menatap Anastasya intens, Anastasya mengerti dengan arti tatapan itu tapi, dia hanya bisa menunduk. Rasa takutnya pada Nathan setelah kejadian itu masih membayang-bayanginya, biasanya dia akan dengan senang hatinya melawan kakaknya itu. Tapi, untuk kali ini sepertinya tidak. 


"Pasti kamu kan yang meminta Grandma datang ke sini? " tanyanya dingin. Nathan berjalan mendekati Anastasya, tapi Roy langsung berdiri di depan Anastasya seolah menjadi benteng pelindung gadis itu


"Jangan sakiti adik ku. " ucap Roy tak kalah dinginnya. Anastasya mendongak terkejut, dia tidak menyangka kalau Roy akan bersikap seperti itu untuk melindunginya dari kekejaman Nathan


Mario menarik Roy mundur. Roy sedikit meringis karena lagi-lagi kakaknya memintanya untuk mengalah pada Nathan yang sampai sekarang pun masih bertahan dengan hati batunya. 


Anastasya menarik tangan Roy,  memajukan tubuhnya hingga terlihat oleh Nathan,  "maafin Natasya kak, aku tidak bermaksud mengadu pada grandma,  tapi aku hanya minta tolong grandma untuk membantuku membuat kakak mengerti." jelas Anastasya sambil menunduk takut, dia belum cukup berani melihat mata yang memandangnya penuh kebencian itu. 


Sebenarnya Nathan tidak tega melihat Anastasya seperti itu, rasanya dia ingin merengkuh Anastasya dalam dekapannya. Selama ini Anastasya adalah adik kesayangannya, yang sepanjang pertumbuhan gadis itu Nathan tidak pernah absen dari kata tanggung jawabnya terhadap Anastasya. Tapi, egonya seakan menahan Nathan untuk melakukan itu.


Roy menarik tangan Anastasya dan menggiring gadis itu menjauh dari Nathan. 


"Anas, ada permainan baru di dufan, mending kita main ke sana." ujarnya samar-samar terdengar oleh Nathan. 


Tak lama kemudian, Mario menyusul Roy dan Anastasya. Dia merasa canggung kalau terus bersama Nathan dan Silvia dalam keadaan seperti ini. 


"Kamu tidak kasian melihat adik kamu? Dia pasti takut sama kamu Nath,  jangan biarkan dia menjauh dari kamu. Dia melakukan semua ini untuk kamu,  dan lihat!  Roy dan Mario sangat menyayangi Anastasya meskipun mereka baru dekat." Silvia menepuk-nepuk pundak Nathan sebelum Silvia juga beranjak dari tempat itu.


^...^


Silvia memasang wajah kesal pasalnya sejak tadi dia memanggil-manggil nama Nathan, tapi laki-laki itu tidak juga merespon panggilannya. Sejak tadi juga Silvia sudah mengelilingi rumah untuk mencari keberadaan Nathan tapi, dia tetap tidak menemukan sosok laki-laki itu. Sejak tadi Silvia tak henti-hentinya mendumbel sendiri, kakinya rasanya sudah mau lepas gara-gara mengelilingi rumah hanya untuk mencari sosok menyebalkan itu.


Langkahnya terhenti saat melewati kamar Nathan. Kenapa dia tidak kepikiran untuk mencari Nathan dikamarnya? Laki-laki itu pasti sedang asik-asik tidur sekarang. Tanpa permisi lebih dulu, Silvia nyelonong masuk ke kamar mewah laki-laki itu.  Dia tidak perduli, Nathan mau marah atau tidak yang dia pikirkan adalah sekarang menemukan laki-laki itu dan meminta pertanggung jawabannya karena sudah membuat kakinya gempor akibat mencarinya. 


Kosong.  Itulah yang terjadi saat Silvia memasuki kamar Nathan. Kamar itu sangat rapi seperti tidak pernah tersentuh oleh manusia. Untuk beberapa menit Silvia melupakan rasa marahnya dan lebih memilih mengagumi ruangan dengan kasur super besar itu. Kamar Nathan benar-benar seperti ruangan premium yang dimiliki oleh orang kaya kebanyakn.  Seharusnya Silvia tidak perlu heran, toh Nathan punya segalanya. Bahkan mungkin kekayaannya bisa membeli sebuah pula sekaligus.  Jangankan rumah seperti ini,  semua pesawat yang menerbangkan ribuan orang setiap harinya adalah milik Nathan.  Jadi,  hanya untuk ruangan seperti ini bukan masalah besar bagi seorang Nathan Alexander.


Kamar Nathan memiliki luas dua kali dari kamar Nathan. Nuasa kamar itu lebih banyak memainkan warna coklat dan gold yang membuat aura kemewahannya semakin menonjol. Tidak heran, karena Nathan memang menyukai hal-hal yang berbau kemewahan.  Disisi barat ranjang ada sebuah lemari berukuran besar yang menjulang tinggi, sementara disisi kanan kamar itu ada kaca besar yang memungkinkan Nathan bisa melihat suasana taman belakang ketika berbaring ditempat tidurnya. Sementara space disamping pintu Nathan menyulapnya menjadi tempat kerja dadakan.  Ada meja dan segala macem peralatan kerja Nathan disana.  Dinding-dindingnya dihiasi dengan berbagai macam miniatur lukisan benda-benda aneh yang membuat ruangan itu semakin cantik. 


Silvia melangkahkan kakinya lebih dalam, dia terhipnotis dengan disign kamar Nathan yang berbeda dengan ruangan-ruangan lain. Sampai satu pintu disebelah kamar mandi menyita perhatiannya, pintu itu tampak biasa-biasa saja, polos. Tanpa ukiran atau pun hiasan sejenisnya, tapi entah kenapa pintu itu malah menarik perhatiannya.


Silvia menyentuh knock pintunya, knock berwarna Silver itu dingin sekali tidak seperti knock pintu biasanya. Tidak tau kenapa pintu itu sangat mencurigakan.


"Apa yang kamu lakukan dikamarku?" suara dingin itu membuat Silvia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dihadapannya


Silvia membalikkan badannya, disana hanya berjarak beberapa meter darinya Nathan berdiri dengan wajah dingin.  Menatapnya tajam dan penuh ketidak sukaan


Jantung Silvia berpacu berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Silvia meremas tangannya sendiri, tidak berani menatap wajah Nathan yang menyiratkan kemarahan yang terpendam dibalik suara dinginnya


"SIAPA YANG MENGIZINKAN KAMU MASUK KE KAMARKU!? AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU JANGAN PERNAH MENYENTUH SESUATU YANG TIDAK SEHARUSNYA KAMU SENTUH! " bentak Nathan membuat Silvia beberapa kali terkejut karena intonasi suaranya


Air mata pun tak bisa dia cegah untuk tidak membasahi pipinya. Silvia hanya bisa menunduk takut sambil meremas ujung bajunya.


Nathan mengusap wajahnya frustrasi, membuang muka beberapa detik sebelum kembali menatap Silvia.  Selama ini tidak pernah ada orang yang berani menyentuh pintu rahasianya selain dirinya dan tindakan lancang Silvia benar-benar melukai kesabarannya.


"Keluar! Aku tidak ingin melihatmu!"


"Tapi Nath,  aku--" Silvia berusaha menjelaskan


"KELUAR!! "


Silvia menghela nafas pasrah dan berjalan menuju pintu. Dia tidak punya pilihan lain salain menuruti kemauan Nathan.


Silvia tidak tau seberapa penting kamar itu bagai seorang Nathan, hingga menyulutkan emosi laki-laki itu sedemikian rupanya.


Entah kapan Nathan akan bersikap baik padanya, entah kapan Nathan akan menerimanya dengan lapang dada meskipun Silvia tau pernikahannya hanyalah sebuah skenario belaka. Haruskan Silvia menghapus semuanya? Haruskan Silvia menyerah dengan semua ini?  Jujur,  Silvia masih berharap keajaiban itu masih ada untuknya.


#CONTINUE#