
Untuk apa Kakak membela dia? Memangnya dia pernah peduli sama kakak? " Roy membalas dengan intonasi tinggi.
Ryan Devano memijit pelipisnya, pertikaian diantara anak-anaknya membuat kepalanya benar-benar pusing. Kekeras kepalaan Nathan selama ini, membuat kesalah pahaman itu berlangsung lama. Dia tidak tau lagi bagaimana caranya agar Nathan mau mendengarkan penjelasannya.
Jujur saja, bukan ini yang laki-laki itu itu inginkan. Ryan ingin putra sulungnya kembali, namun bertahun-tahun usahanya tidak pernah berhasil.
Sementara itu Roy tidak bisa memendam emosinya, persamaan karakter antara Roy dan Nathan yang sama-sama tempramen, malah memperkeruh suasana. Beda halnya dengan Mario yang mencoba menengahi dan menyikapi masalah itu dengan dewasa. Mario besyukur, mereka bisa dipertemukan lagi walaupun dalam keadaan yang kurang baik.
Mario Devano, anak pertama dari pernikahan kedua Ryan Devano, laki-laki yang berhati baik dan penyabar yang baru saja menyelesaikan tugas bisnisnya di Landon. Dia adalah anak kecil pertama yang saat antusias menyambut kedatangan Nathan sepuluh tahun silam. Meskipun Nathan tidak pernah bersikap baik terhadapnya, namun bagi Mario, Nathan tetaplah kakak idolanya.
Mario kecil sangat mengidolakan Nathan yang dianggapnya sempurna dalam segala hal, yang menjadi anak sulung kebanggaan papanya. Sejak kecil Nathan adalah panutannya, hingga sampai saat ini, kesuksesannya terinspirasi dari seorang Nathan. Diam-diam,Nathan selalu menggali informasi soal kakaknya itu dari berbagai penjuru media, mulai dari majalah, internet sampai rekan-rekan bisnis yang membicarakannya.
"Roy, dia itu kakak kita. Tidak pantas kamu berteriak seperti itu." dengan sabar Mario mengingatkan adiknya
Roy melengos malas, dia sama sekali tidak habis pikir dengan pemikiran kakaknya yang kelewatan sabar seperti Mario. Sementara Nathan, menatap Mario dengan tatapan tanpa arti. Bagaimana mungkin Mario bisa membelanya seperti itu? Apa yang laki-laki itu pikirkan, setelah perlakuan kasarnya selama ini?
Ryan tersenyum bangga, putranya Mario ternyata sepemikiran dan memiliki karakter yang sama dengannya. Sebuah senyum tipis tersungging diwajahnya, dan seolah secercah harapan untuk memperbaiki keluarganya telah tumbuh.
"Memangnya dia pernah menganggap kakak, adiknya? " tanya Roy sinis
Mario hanya diam. Roy benar, entah Nathan menganggapnya adik atau tidak. Mungkin saat ini bagi Nathan dia tidak punya keluarga sama sekali.
"Anastasya ayo pulang!" Nathan berjalan mendekat, bersiap menyeret adik perempuannya untuk mengikuti perintahnya.
Anastasya memegang lengan Papanya dan bersembunyi dibelakang punggung Ryan. Wajah Anastasya menampakkan ketakutan yang luar biasa, dia tau kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau kakaknya yang keras kepala itu sudah menindaknya tegas.
"Berhenti. " Roy berdiri didepan Ryan dengan gagahnya, dengan mata menangtangnya
"Ini rumahku, tolong jangan bertindak kasar. Kamu sudah dengar sendiri kan? Anastasya tidak mau ikut dengan mu. Jadi, pintu keluar ada disebelah sana. " Roy merentangkan tangannya kearah pintu utama rumah itu yang berada disebelah kirinya.
Nathan kalah telak, posisinya lemah saat itu, dan pada akhirnya laki-laki itu tidak bisa memaksa adiknya untuk mengikuti kemauannya.
Anastasya sebenarnya tidak tega meninggalkan kakaknya, tapi keinginanya untuk hidup bersama dengan papanya jauh lebih besar. Selama ini Nathan memang memnjadi sosok bertanggung jawab dalam hidup Anastasya, tapi kekeras kepalaan Nathan dan tempremennya membuat Anastasya tertekan dan sulit untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Motor Dilan berhenti di halaman depan rumah besar Nathan, Silvia sudah memperingatkan laki\-laki itu untuk menurunkannya diujung jalan saja. Tapi, Dilan tidak menghiraukannya, pemuda itu seolah sedang menantang Nathan dengan mengantar Silvia pulang sampai depan halamannya.
Jantung Silvia berdetak tidak menentu, dia gundah, perasaannya tidak enak, gadis itu takut kalau nanti Nathan akan murka ketika melihat Dilan ada disini, apalagi mengantarkannya pulang. Cepat\-cepat Silvia menyuruh Dilan pergi, dia tidak mau Nathan melihat Dilan dan akhirnya menimbulkan perdebatan.
"Terimakasih." itulah kata penutup dari Silvia sebelum motor Dilan melaju dengan gagahnya meninggalkan halaman rumah.
Sore itu suasana rumah sangat berbeda dari biasanya. Kalau biasanya aura rumah itu sangat menyeramkan, kali ini aura rumah itu sangat menyeramkan. Halaman depan tampak sepi tanpa seorang bodyguard. Biasanya selalu ada dua bodyguard yang berjaga didepan pintu.
Ketika Silvia masuk ke ruang tamu, ruang itu tampak sangat lengang tidak seperti biasanya. Jam segini seharusnya para maid melakukan ritual bersih\-bersihnya dan menyiapkan menu hidangan makan malam. Tapi, Silvia tidak melihat seorangpun yang ada disana. Terbersit tanda tanya besar dihatinya. Apa yang terjadi?
Dengan rasa penasarannya, Silvia melangkahkan kakinya masuk lebih dalam, mencari tau kemana perginya orang\-orang. Sejujurnya saat ini Silvia takut akan satu hal yaitu Nathan.
PRANNNKKKKKKKK.. !!!!!!!
Suara benda jatuh itu membuat jantung Silvia seakan jatuh ke lantai. Gadis itu menatap disekitarnya, didapur, ruang tengah, perpustakaan, ruang tv,dan ruang meeting Nathan, tidak ada siapa\-siapa disana. Dari mana asal suara itu?
Silvia berlari\-lari kecil menaiki tangga, menduga kalau suara itu berasal dari lantai dua. Pasti ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi dirumah ini. Dengan gerakan yang dipercepat, langkah kakinya berhenti disebuah ruangan dengan pintu menjulang tinggi yang terbuka lebar.
Perlahan dia mendekat, takut\-takut Silvia berharap Nathan tidak melakukan hal\-hal yang mengerikan.
Di ruangan dengan disain coklat mencekam itu, Nathan tengah berdiri menghadap Jendela, membelakangi Silvia. Kondisi kamarnya sangat mengenaskan, pecahan barang\-barang ada dimana\-mana, disebelah kanan pintu ada sebuah guci besar yang jatuh dan pecah. Silvia menduga, suara keras tadi berasal dari pecahan guci raksasa itu.
"Bagus, sekarang dia sudah berani menginjakkan kakinya dirumahku. " suara kecil namun penuh penekanan itu berhasil membuat Silvia seakan sulit bernafas. Nafasnya tercekat ditenggorokan dan ulu hatinya berubah menjadi dingin.
Nathan membalikkan badanya, menatap Silvia dengan tatapan tidak bersahabat, ada amarah yang terambat dalam dimatanya.
Nathan berjalan mendekat, memposisikan dirinya dua langkah dihadapan Silvia. Silvia menunduk tidak berani menatap suaminya, bahkan untuk bernafaspun sangat sulit bila berdekatan dengan Nathan.
Nathan mencengkram pipi Silvia dengan tangana kirinya, membuat Silvia meringis kesakitan. Nathan memaksa Silvia untuk mendongak dan menatapnya. Perlahan, air mata Silvia mengalir karena rasa sakit yang diakibatkan oleh tangan besar Nathan.
"harus berapa kali aku peringatkan kepadamu Silvia? " suaranya lebih mirip suara geraman daripada suara manusia yang sedang berbicara.
"Nathan, lepaskan aku. Sakit... Tolong! " ringis Silvia
Nathan melepaskan tangannya dengan kasar hingga membuat Silvia sedikit terdorong ke belakang. Nathan sedikit berbalik, Tanganny meraba buah gelas dari sebuah meja yang tepat berada disamping kirinya.
PRANKK....!!!!
Dia melempar gelas itu kearah Silvia, Silvia memejamkan mata ketakutan, namun gelas itu tidak mengenai gadis itu. Nathan sengaja melakukannya, hanya sebagai ancaman dan upaya meluapkan amarahnya kepada Silvia.
"Nathan, sebenarnya kamu ini kenapa? "
Pertanyaan itu membuat Nathan menatao tajam Silvia.
"Berani\-beraninya kamu mengizinkan dia menginjakkan kaki dirumahku dan yah... Mengantarkan pacarnya pulang. Ini rumah ku! Tidak seorangpun yang boleh masuk tanpa izin dariku!! Kamu pikir saya tidak tau?"
"Nathan, kamu bicara apa? Dilan hanya mengantarku pulang. Tidak lebih dari itu."
"wanita murahan! " bisik Nathan yang terdengar oleh Silvia
"kamu bilang apa barusan? " Nada suara Silvia berubah penuh penekanan, dia tersinggung dengan ucapan Nathan yang dirasanya sudah sangat keterlaluan
"Aku bilang, wanita murahan! " jawab Nathan mantap tanpa keraguan.
"wanita murahan? Lebih murahan mana, kamu yang sudah menurunkan istrinya ditengah jajan? Lebih murahan mana kamu yang menikahi wanita murahan sepertiku? Itukan yang mau kamu denger? "
"sekarang aku jadi berpikir kalau Dilan 100 kali lebih baik dari pada kamu. Setidaknya dia tidak pernah menelantarkanku dan menyakitiku. Kamu punya segalanya, tapi satu hal yang tidak kamu punya 'Cinta'. Kamu sendiri yang membuat semua orang yang kamu sayangi pergi meninggalkan kamu. " Silvia mengeluarkan semua isi hatinya
"kamu tidak tau apa\-apa tentang hidupku. '' jawab Nathan penuh penekanan.
"Anastasya, adik kamu. Kamu pikir kenapa dia tumbuh seperti itu? Karena kamu yang menghancurkannya.! "
"CUKUP!!!! " bentak Nathan
Silvia langsung menutup mulutnya rapat. Apa dia sudah keterlaluan Pada Nathan? Seharusnya Silvia tidak membawa\-bawa nama Anastasya. Adik Nathan yang tumbuh menjadi pemberontak dalam kehidupan Nathan.
Meski tidak sering bertemu, Silvia cukup tau bagaimana karakter Anastasya, siswa SMA yang selalu menimbulakan masalah bagi kakaknya. Selama ini, menurut penglihatam Silvia, hubungan Nathan dan Anastasya tidak pernah baik. Mereka selalu terlibat dalam perdebatan yang ujung\-ujungnya membuat Nathan bertindak tegas pada adiknya.
Selama pernikahannya dengan Nathan, hanya sekali dua kali dia bertemu dengan Anastasya. Karena memang Nathan tidak mengizinkan Anastasya tinggal bersamanya. Anastasya tinggal di sebuah paviliun yang letaknya 10 menit perjalanan dari rumah itu. Paviliun itu dijaga oleh 10 bodyguard yang siang malam tetap siaga mengawasi Anastasya. Setiap minggu Nathan rutin mengunjungi paviliun itu untuk mengecek keadaan disana.
Kemanapun Anastasya pergi, beberapa bodyguard selalu mengikutinya termasuk ke sekolah. Anastasya tidak diizinkan membawa mobil seorang diri ataupun pergi kemana\-mana sendiri. Hal itulah yang membuat Anastasya tidak memiliki seorang teman selama dia SMA. SD, adalah masa terakhir dimana dia bisa tau bagaimana rasanya memiliki seorang teman. Dan itu semua berlangsung enam tahun. Enam tahun Anastasya harus hidup sebagai tahanan, tidak memiliki kebebasan, dan selalu dibebani dengan tuntutan dari Nathan.
Hari itu Nathan benar\-benar dalam kondisi tidak baik. Permasalahan keluarga yang sudah berlangsung bertahun\-tahun itu membuatnya sangat terbebani. Di tambah adiknya, orang yang dianggapnya sebagai keluarga satu\-satunya itu pergi meninggalkannya. Laki\-laki yang dikelilingi oleh kesuksesan dan harta berlimpah itu, merasa sendiri.
Tuhan... Kau memberikan aku kemewahan untuk menutupi kemiskinan diriku.
"kamu punya segalanya, harta, kekuasaan, kemewahan, tahtah, semuanya... Tapi, nyatanya kamu itu hanyalah seseorang yang berdiri sendiri ditengah gurun pasir. "
■■■Tbc■■■