
Malam itu menjadi malam terburuk bagi Silvia, karena pertemuannya dengan Dilan malah memancing kemarahan Nathan yang selama ini tidak Silvia tau.
Silvia merasakan tenggorokannya begitu sakit dan sulit baginya untuk bernafas, cengkraman tangan Nathan di lehernya membuat dia tak henti-hentinya meringis kesakitan. Ingatan Silvia kembali pada saat Nathan bersikap kasar pertama kali padanya. Tanpa belas kasihan sedikit pun Nathan dengan leluasanya menyakiti Silvia yang saat ini berstatus sebagai istrinya.
Nathan tidak memperdulikan ringisan dan tangisan pilu dari Silvia, berulang kali Silvia berusaha menjelaskannya dan meminta maaf, tapi Nathan sedikit pun tidak mau mendengarkannya.
Suasana di rumah itu sangat mencekam malam itu, semua pelayan di rumah itu tidak berani mendekat ke ruang tengah dimana majikkannya sedang marah besar. Pelayan-pelayan itu hanya bisa melihat diam-diam dari balik dinding sambil berbisik kasihan melihat Silvia di perlakukan kasar seperti itu.
Sebelumnya, Nathan tidak pernah semarah ini dengan siapapun. Ini adalah kali pertama, Nathan kehilang kontrol emosi dirumahnya sendiri. Para pelayan itu menatap iba kearah Silvia, ingin rasanya mereka menolong perempuan malang itu, tapi mereka tidak punya cukup keberanian untuk menghadapi tuannya.
Tidak ada yang berani mendekat disaat Nathan sedang murka, semuanya spontan menjauh dan berlari ketakutan. Silvia adalah wanita pertama yang sampai saat ini masih bertahan dengan sikap kasar Nathan.
"FUCKING SHITTT!!!! " umpat Nathan sembari menampar wajah Silvia hingga gadis itu tersungkur ke lantai
Rasanya Silvia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri, dia lebih memilih untuk tetap berlutut dilantai. Terlalu banyak air mata yang telah dia tumpahkan malam ini, membuat semua tenaganya terkuras habis.
Nathan menendang meja kaca di hadapannya hingga membuat posisi meja itu sedikit bergeser dari tempat sebelumnya.
"DASAR PEREMPUAN MURAHAN!!! BERANI-BERANINYA YA KAMU BERTEMU DENGAN LAKI-LAKI ITU DI RUMAH SAYA!!! " bentak Silvia yang masih terduduk dan menunduk, tidak berani menatap laki-laki dihadapannya itu
"JAWAB! APA KAMU TIDAK PUNYA MULUT, HAH? " Nathan kembali mencengkram dagu Silvia dan kemudian melepaskannya dengan hentakan keras dan kasar
Silvia masih belum membuka mulutnya, bibirnya bergetar, rasanya dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Rasa takut yang sekarang dia rasakan membuat dia tidak bisa berpikir apa-apa selain pergi secepatnya dari hadapan Nathan. Ingin rasanya Silvia berlari menjauh, tapi dia tidak cukup memiliki kekuatan bahkan untuk berdiri sekalipun.
Hanya air mata yang terus mengalir dari pipi gadis itu, keadaannya benar-benar hancur. Tangannya memar akibat cengkraman tangan Nathan, wajah gadis itu pucat pasi karena ketakutan, seluruh tubuhnya bergetar dan lemas. Seumur hidupnya, Silvia tidak pernah di perlakukan seperti ini, dia selalu hidup dalam limpahan kasih sayang meskipun hidupnya berkecukupan.
Silvia tidak pernah berpikir kalau Nathan akan semarah dan sekejam ini padanya. Meski seribu kali dia meminta maaf pada Nathan, tapi laki-laki itu tidak berhenti menyakitinya.
"Dengar Silvia, ini peringatan terakhir buat kamu! Kalau sampai saya lihat lagi kamu dengan laki-laki sialan itu, saya tidak akan segan-segan membunuh kalian berdua dengan tangan saya!! " ancam Nathan
"Saya bisa melakukan apa pun kalau kamu melanggar aturan saya!!" lanjutnya lagi dengan wajah memerah padam dan mata tajam membunuhnya
Silvia tetap menunduk, pikirannya los dan tidak bisa mengimbangi ucapan Nathan.
BRAKKKKK
Nathan kembali membanting sebuah miniatur kayu yang ukurannya cukup besar dan terletak rapi dimeja hias ruang tengah. Miniatur itu terbelah menjadi dua ketika mendarat hebat dilantai. Setelah itu Nathan beranjak pergi meninggalkan Silvia dan ruang tengah yang sunyi.
Saat itu barulah kepala pelayan dirumah itu berani menghampiri Silvia.
"Nyonya baik-baik saja? Mari saya bantu berdiri? " Arum kepala pelayan yang menggantikan posisi Shopia dirumah itu membantu majikannya yang tergeletak lemas dilantai
"Nyonya saya antar ke kamar ya? " dengan penuh perhatian, Arum menyangga kedua bahu Silvia menjadi tongkat untuk majikannya berdiri
Tidak ada respon apapun dari Silvia, bahkan tidak ada sekedar anggukan kepala. Arum bisa mengerti keadaan Silvia setelah apa yang terjadi, majikkannya pasti sangat syok saat ini dengan segala perlakuan tuannya.
"Ratnaaaa... " teriak Arum kemudian
Taklama setelah itu muncul seorang perempuan 30 tahunan yang memakai pakaian sama dengan Arum.
"Iya Buk Arum? "
"Tolong siapkan air putih dan teh hangat buat Nyonya Silvia, antarkan ke kamar beliau. " ucap Arum memberikan intruksi untuk bawahannya
Ratna mengangguk sopan, "baik Buk, " dia beranjak pergi menuju dapur untuk mempersiapkan semuanya.
Arum menggiring Silvia ke kamarnya, hingga saat itu juga Silvia tidak mengatakan sepatah katapun.
"Apa nyonya perlu sesuatu? "
Tidak ada respon dari Silvia
"Baiklah, lebih baik nyonya istirahat dulu, kalau perlu sesuatu silakan panggil saya. Saya permisi dulu"
Arum meninggalkan kamar majikkannya.
•••
"Anastasya, kamu kenapa? Kok bingung gitu? " tanya Maya saat melihat Anastasya keluar dari kamarnya dengan wajah frustrasi
Anastasya menghela nafas lelah, "ini nih Mama Maya, tugas Fisika Natasya susah bangettt.. Padahal Natasya udah ikutin semua contoh-contohnya tapi, nggak ketemu juga hasilnya. Natasya kan jadi bete.. " keluhnya
Dengan penuh perhatian, Maya mendengarkan putri tirinya itu, memahami sangat betul masalah Anastasya.
"Ya udah, minta bantuan kak Roy aja. Dia jago loh pelajaran itu, Kak Roy pasti tau jawabannya. " Maya memberikkan solusi
"Benar kata Mama Maya, sayang. " Rehan, Papanya tiba-tiba muncul dari belakang mereka
Anastasya tidak yakin dengan usul itu, "kenapa nggak Papa aja sih yang ngajari Natasya?"
"Aduh sayang, Papa ini udah tua, Papa udah lupa sama yang begituan. Lagipula ya, Kak Roy itu kan ngurus perusahaan besar, dia juga lulusan luar negeri, pasti tau soal pelajaran anak SMA." jawab Rehan
Anastasya kembali menghela nafas.
"Iya, dulu saat SMA Roy itu selalu juara kelas. " Maya kembali meyakinkan
Bukannya Anastasya ragu dengan kepintaran kakak tirinya itu, hanya saja dia tidak begitu yakin untuk meminta bantuan dengan Roy. Apalagi mereka tidak seakrab saat Anastasya bersama dengan Nathan. Meskipun Nathan sering memarahinya, tapi mereka cukup dekat untuk beberapa alasan.
"Natasya takut, nanti dimarahin. "
Maya dan Rehan tertawa bersama melihat wajah menggemaskan putri mereka
"Udah, coba aja dulu. "
Dengan berat hari Anastasya melangkahkan kakinya menuju kamar Roy, mengikuti saran Ayah dan Mamanya meskipun dia tidak sepenuhnya yakin.
Seandainya saja PR itu bukan hal mendesak, Anastasya tidak akan mau meminta bantuan kakak tirinya itu, lebih baik dia meminta bantuan sahabatnya saja. Tapi, berhubung PR nya harus dikumpulkan besok dan sahabatnya tidak masuk, maka apa boleh buat Anastasya harus berusaha sendiri. Lagi pula dia sudah berjanji pada Ayahnya untuk menjadi siswa yang baik dan sungguh-sungguh belajar.
Anastasya menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
Tokk.... Tokk... Tok...
"Siapa? " teriak Roy dari dalam kamarnya
"Anastasya, Kak" jawab Anastasya dengan suara sedang
Roy mengerutkan dahinya, "masuk. "
Sekali Lagi Anastasya menarik nafas dan kemudian membuka pintunya. Terlihat Roy sedang asik menikmati waktu istirahatnya bermalas-malasan diatas bednya.
Roy memandang Anastasya penuh tanda tanya, ada perlu apa adik tirinya itu datang ke kamarnya?
Jujur saja, hingga saat ini Roy juga belum terbiasa dengan kehadiran Anastasya di rumahnya. Selama ini dia tidak pernah tau bagaimana rasanya punya adik dan menjadi kakak, karena itu dia masih belajar bagaimana cara bersikap pada adik perempuannya.
"Tumben lo ke kamar gue, ada apa? " Roy berbicara santai
Anastasya memicingkan matanya, "bisa nggak sih Kak jangan ngomong lo gue lo gue? "
"Bukannya disekolah bahasanya juga kayak gitu? "
"Iya beda lah, kan itu sama temen kalo sama kakak masa lo gue lo gue," rajuk Anastasya
Roy menghela nafas mengalah, "oke. Kalau gitu Anas ngapain dateng ke sini? "
Anastasya merasa lebih baik dengan panggilan itu.
Ragu-ragu Anastasya memandang kakaknya, "Kak Roy sibuk atau nggak? "
"Kalau untuk hal yang nggak penting, Kakak sibuk. Kalau penting, nggak sibuk. " jawabnya tengil
Anastasya berpikir dan menyadari ternyata Roy sebelas dua belas dengan kakaknya Nathan, sama-sama menyebalkan dan memiliki sifat tengil yang membuat Anastasya rasanya ingin menggaruk dinding.
"Kak Roy bisa bantuin kerjain PR aku? Aku nggk bisa..." rengek Anastasya dengan wajah memelas
"Sini liat. " jawabnya setengah hati, jadi seperti ini rasa punya adik
Anastasya menyodorkan buku Fisika nya pada Roy, untuk beberapa saat laki-laki itu mencermati soal didalam buku itu.
"Anas sekarang kelas berapa? " Roy menatap adiknya dengan tatapan mengintrogasi
"Kelas tiga. " jawab Anastasya pelan
Roy tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menyeret Anastasya keluar, "ikut kakak. "
Roy berhenti dihadapan Rehan dan Maya yang kebetulan saat itu sedang berbincang dengan Mario yang baru saja pulang dari kerja.
"Pa, kita harus cariin Anastasya guru les privat."
Usul Roy berhasil membuat Anastasya terkejut dan membulatkan bola matanya.
"Memangnya kenapa Roy? " Rehan bingung
Roy menyodorkan buku pelajaran Anastasya, "Coba Papa liat, itu pelajaran kelas satu dan Anastasya nggak bisa ngerjain itu"
Seketika itu Anastasya memasang wajah cemberut, sudah dia duga seharusnya sejak awal dia tidak meminta bantuan kakak nya itu.
"Bukan Anas nggak bisa, Anas kan nggak tau caranya. Kalau Anas tau caranya pasti Anas bisa kok. "
"Sama aja" jawab Roy
Anastasya kesal, " ya udah kalau kakak nggak mau bantuin Anas, ya nggak usah. Malah suruh-suruh Anas les." dumbel gadis berambut panjang itu
Roy menyilangkan kedua tangannya didada dan menghadap Anastasya, "Bukan masalah itu Anas, kamu itu sudah kelas tiga, kalau mengerjakan soal seperti ini aja nggak bisa, gimana nanti kalau ujian? Masak adiknya Roy Fisika aja nggk bisa." oceh Roy panjang lebar sementara kedua orang tuanya dan Mario malah tersenyum melihat perdebatan mereka
"Pokoknya Anas nggak mau! Sekolah delapan jam aja kepala Anas mau pecah apalagi ditambah les privat, Anas bisa gila. "
Jawaban Anas berhasil membuat yang lainnya tertawa kecuali Roy. Dan seperti nya Roy tidak main-main dengan ucapannya.
"Lagian, Kakak ngapain sih repot-repot ngurusin sekolah Anas, urus aja kerjaan kak Roy. "
"Karena lo adik gue, kalau bukan gue ogah ngurusin lo. "
Anastasya memeletkan lidahnya kesal.
"Sudah-sudah. Apa kata kakak kamu itu bener Natasya, sebentar lagi kamu kan ujian jadi udah bukan waktunya main-main lagi, kamu harus fokus belajar biar bisa kuliah di tempat yang bagus. " ujar Rehan memberikan penjelasan agara Anastasya mengerti
Mario mengangguk, "lagi pula les privat itu bagus buat bantuin kamu ngerjain PR dan materi-materi yang Anas belum ngerti. "
Anastasya menghela nafas, sepertinya kali ini dia kalah terbukti dari semua orang mendukung usulan Roy. Mau tidak mau Anastasya harus mengikutinya
"Oke semua setuju, besok Aku akan cari guru les paling mahal buat Anas. Dan lesnya di rumah, biar Papa dan Mama bisa awasin Anas. " Roy membalas mengejek ke arah adik nya dan berlalu pergi dengan gaya sok kegantengannya
"Terus PR Anas gimana? " teriak Anastasya
"Ya udah sini! " Roy balas berteriak dan Anastasya berlarian kecil menyusul Roy, membuat semua orang dirumah itu geleng-geleng menyaksikan tingkah mereka.
•••
Nathan perlahan satu demi satu meneguk gelas alkoholnya. Di temani dengan cahaya remang-remang dia telah menghabiskan begitu banyak botol minuman alkohol di bar pribadinya dirumah besar itu. Bahkan dia tidak sempat untuk mengganti bajunya, semua masalah yang terjadi hari ini membuatnya benar-benar gila. Pertama perjanjian gila itu, adiknya, kebangkrutan perusahaan dan sekarang masalah istrinya.
Rasanya Nathan ingin melampiaskan semua amarahnya detik ini juga, dia benar-benar sendiri sekarang. Baginya tidak ada yang bisa dia percayai bahkan adiknya sendiri sudah merusak kepercayaannya sendiri dan dia menganggap istrinya tidak jauh beda dengan perempuan-perempuan yang selama ini hanya mempermainkanya.
■■■TBC■■■