
Bagaimanapun ceritanya kamu tetap milikku....
_____
Usut punya usut ternyata Grandma Margareta ingin bertemu dengan Reyhan dan Maya untuk membahas acara ulang tahun Natasya yang ke delapan belas tahun. Jika menurut kebanyakan orang, angka tujuh belas adalah angka sakral dalam pertumbuhan seseorang. Namun, berbeda dengan keluarga Alexander yang memilih angka delapan belas sebagai angka yang sangat dihormati dalam keluarga itu.
Setiap anggota keluara Alexander yang menginjak usia delapan belas tahun, mereka akan menggelar pesta besar-besaran dan mengundang semua koneksi mereka. Itu sudah menjadi tradisi turun temurun dalam keluarga itu.
Margareta sampai di rumah yang dia tuju, di sana Reyhan dan Maya sudah menunggu ke datangannya. Ini pertama kalinya dia menginjakan kakinya di rumah itu semenjak sepuluh tahun yang lalu. Dia masih ingat betul bagaimana wajah Reyhan saat Putrinya memberikan rumah ini untuknya. Margareta bisa memahami bagaimana penderitaan Reyhan selama ini, karena itu dia bersedia kembali ke Indonesia saat mendengar kalau cucu sulungnya telah salah paham pada Ayahnya sendiri.
Reyhan memeluk mantan ibu mertuanya ketika perempuan tua itu muncul dari balik pintu rumahnya. Perempuan cantik yang sudah mulai menua itu, mengingatkannya dengan Alexandra - mantan istrinya. Senyumnya dan gurat kecantikannya sama persis seperti Alexandra, membuka kembali luka yang selama ini coba dia kubur dalam-dalam.
Reyhan dan Maya menyambut Grandma Margareta dengan tangan terbuka, meskipun status diantara mereka hanya mantan mertua dan mantan menantu. Bagi Reyhan Margareta adalah orang tua yang dia hormati, biar bagaimanapun ke pahitan dimasa lalu, Margareta tetap Nenek dari putra dan putrinya.
Margareta yang tahu betul bagaimana kisah keluarganya, tidak menyimpan dendam sedikitpun pada Reyhan atau Maya. Malah dia sangat senang karena sekarang cucunya bertambah dua.
Ada rasa bahagia yang terbesit dihatinya ketika melihat Roy dan Mario memperlakukannya dengan sangat hormat dan penuh perhatian
"Terimakasih sudah menginjakkan kaki mu lagi disini. " ujar Reyhan melepaskan pelukkannya
Margareta tersenyum ramah. Matanya menoleh pada sosok wanita berkursi roda di samping Reyhan. Wanita dengan wajah asli indonesia itu melontarkan senyum yang manis namun, terkesan canggung.
"Apa kabar, Maya? "
"Baik aunty. Aunty apa kabar? " ujar Maya dengan suara pelan
Margareta kembali tersenyum, "as you see. I am fine. Kamu hebat melahirkan putra-putra tampan dan pintar seperti mereka." Margareta menoleh ke arah Mario dan Roy secara bergantian
Maya hanya tersenyum kaku.
"Grandma, silakan duduk. Memangnya kalian nggak capek berdiri terus?" celetuk Roy
Mereka tertawa renyah kemudian mengambil posisi duduk pada sofa panjang berwarna biru dongker itu. Reyhan serta yang lainnya menunggu Grandama Margareta berbicara lebih dulu. Reyhan sangat mengenal mantan mertunya, dia tidak akan membuang waktunya kalau bukan untuk hal yang penting.
Grandma Margareta tadi sengaja meminta Anastasya untuk membeli kue kesukaannya, agar gadis itu tidak ikut dalam pembicaraan hari ini.
"Dua hari yang lalu Anastasya menelpon Mama sambil nangis-nangis. Dia cerita kalau Nathan tidak menganggapnya adik lagi dan dia juga meminta bantuan Mama untuk membantu kamu bicara sama Nathan. Mama tau betul bagaimana sifat Nathan yang sangat keras kepala, sepuluh tahun dimata dia kamu itu adalah orang yang patut dibenci."
"Mama juga minta maaf tidak bisa menceritakan yang sebenarnya pada Nathan saat itu, karena Alexandra melarang Mama. Alexa tidak ingin Nathan menghancurkan rencananya untuk menikahkan kamu dengan Maya. " jelas Margareta panjang lebar
Setelah sekian lama semuanya berlalu, akhirnya hari ini dia bisa mendengar alasan atas pertanyaannya selama bertahun-tahun
"Siapa yang akan menghancurkan pernikahan siapa? "
Suara dingin itu sontak membuat semua orang menoleh dan membulatkan matanya. Semua tidak menyangka dengan sosok yang baru saja menyela pembicaraan mereka dan berdiri dihadapannya dengan wajah datar.
"Kenapa semuanya diam? Bukankah seharusnya pertanyaan itu dijawab?"
Ya. Suara dingin yang membuat setiap hati bergetar saat mendengarnya itu adalah milik Nathan. Disamping laki-laki itu Silvia berdiri dengan wajah bersalah. Seharusnya dia tidak memaksa Nathan untuk datang kesini, Silvia benar-benar tidak tau kalau situasinya akan menjadi seperti ini.
Silvia pikir, Grandma Margareta hanya mampir biasa untuk membahas acara ulang tahun Anastasya seperti yang sudah ia rencanakan dengan Roy dan juga Mario. Tapi, rupanya dia datang disaat yang tidak tepat
Semuanya terbungkam, bingung bagaimana menjelaskannya. Sementara Nathan sudah seperti gunung meletus yang siap meledakkan laharnya.
Nathan hendak mendekat. Silvia menahan lengan kokohnya. Namun, dengan hentakan keras Nathan melepaskan tangannya hingga badan Silvia sedikit terlempar ke belakang.
"NATHAN! " Margareta berdiri dengan sorot mata menyalang, "keluarga Alexander tidak pernah mengajarkan kamu bersikap kasar pada perempuan manapun! " tegas Grandama Margareta tidak terima Silvia diperlakukan seperti itu oleh cucu nya sendiri .
Mario mendekati Silvia, membantu kakak iparnya berdiri dan memastikan dia baik-baik saja. Nathan sempat menoleh namun, kembali memalingkan wajahnya tidak perduli
"Silvia, kamu tidak apa-apa kan?" Grandma Margareta menatap Silvia khawatir
"Tidak Grandma, aku baik-baik saja. " jawab Silvia ramah
Gradma Margareta kembali menoleh ke arah Nathan, sorot matanya masih tajam. Saat itu Silvia tau dari mana Nathan mendapatkan sorot mata tajamnya
"Sudah Ma, jangan bertengkar lagi." Reyhan berusaha menjadi penengahi.
"Apa maksud semua ucapan Grandma?" Nathan menuntut penjelasan
Reyhan maju ke depan agar lebih dekat dengan Nathan, "Papa bisa jelaskan semuanya."
"Saya tidak bicara pada anda!" peringat Nathan. Roy sudah mulai geram ditempatnya, tidak terima Papanya diperlakukan seperti itu tapi, Mario menahannya dan memperingatkannya untuk tidak bertindak macam-macam yang nantinya akan membuat semuanya tambah kacau.
"Nathan hormati dia. Dia Papa kamu." Silvia tidak bisa menahan mulutnya untuk memperingatkan tindakan tidak sopan Nathan
"Ini bukan urusan mu. Kamu bukan siapa-siapa di sini!'' ujarnya dingin
Deg.
Kalimat 'kamu bukan siapa-siapa' menjadi sebuah pedang yang menghunus didadanya. Kalimat sederhana ini sanggup membuat Silvia menjahit mulutnya meskipun dia ingin terlibat lebih banyak. Tapi, seperti kata Nathan dia bukan siapa-siapa yang berhak ikut campur dalam urusan keluarga mereka
"Oke. Grandma akan ceritakan semuanya, Grandma harap kamu tidak akan menyesal setelah mengetahui kebenaran ini."
"Sebenarnya Papa kamu tidak pernah meninggalkan Mama kamu apalagi kamu dan Anastasya. Dia adalah menantu pilihan terbaik dari almarhum kakek kamu. Tapi, tiba-tiba Mama kamu di diagnosa mengidap kangker rahim stadium empat karena komplikasi saat melahirkan. Asal kamu tau Nathan, Papa kamu sedetik pun tidak pernah meninggalkan Mama kamu. Bahkan, Papa kamu rela mati untuk kesembuhan Mama kamu. " mata Grandma Margareta mulai berkaca-kaca mengenang putrinya yang sudah lebih dulu menghadap sang halik
"Grandma tidak tau apa yang dipikirkan Mama kamu, hingga dia meminta Papa kamu menikah dengan Maya - sahabatnya. Mama kamu bilang kalau dia tidak akan pernah tenang kalau meninggalkan Papa kamu sendirian dan dia percayakan semua itu pada Maya, Sahabatnya. Papa kamu juga tidak tau hal ini, Nathan. Hari itu, Alexandra mengusirnya dan tidak mau bertemu lagi dengan Reyhan, Papa kamu."
Pandangan Nathan berubah sendu. Grandma melanjutkan ceritanya, "Papa kamu tidak bersalah Nathan, sama sekali tidak. Dia hanya membuktikan kebesaran cintanya terhadap Mama kamu dengan menjalankan permintaan terakhirnya yaitu menikah dengan Maya. Dan Papa kamu melakukan semua itu, tepat dihari saat Mama kamu menghembuskan nafas terakhirnya."
Nathan sulit mempercayai semua itu, membedakan apa yang benar dan salah. "tapi kenapa Mama tidak terus terang pada ku?"
"Karena dia tau kamu tidak akan setuju dan Mama kamu tidak ingin seseorang menghancurkan rencananya." Grandma Margareta kembali duduk diikuti yang lainnya selain Nathan yang masih membeku di tempatnya
Reyhan hanya bisa memandang sedih Putra, menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Nathan. Tiba-tiba saja Maya dengan menggeret kursi rodanya, berjalan mendekati Nathan
Dia menyentuh pergelangan Nathan, "semua ini salah ku Nathan. Mama kamu tau kalau aku sangat mencintai Papa kamu sejak kuliah tapi, semua di luar dugaan. Mama kamu di jodohkan dengan Papa kamu, dan itu yang membuat Mama kamu merasa sangat bersalah padaku."
Nathan masih sungkan untuk menatap wanita yang dia pikir sudah merusak hidupnya itu.
"Tapi, aku yakin cinta Papa kamu tidak pernah padam untuk Mama kamu. Dan sebelum Alexa meninggal, dia menitipkan suami dan anak-anaknya padaku. Jadi, aku mohon jangan biarkan beban ini semakin berat, aku sudah merasa sangat bersalah karena semua ini. Dan aku tidak ingin memisahkan Papa kamu dari anak-anaknya. "
Nathan masih tidak bergeming. Maya menghela nafas pasrah, setidaknya dia sudah mencoba. Dia berjalan menjauh, Roy membantu mendorong kursi rodanya dan pria itu mengusap air mata ibunya seolah memberikan semangat kalau semuanya akan berjalan dengan baik.
Tanpa mereka sadari, Anastasya mendengarkan semua percakapan mereka. Tidak ada yang miss satu pun dari telinganya, dia hanya bisa menitihkan air mata menyaksikan semua kebenaran yang selama ini tidak dia ketahui. Jadi, seperti itu perjuangan Mamanya untuk membahagiakan kelurganya? Sementara yang yang terjadi sekarang?
Nathan tidak tau harus berkata apa lagi. Otaknya seakan tidak bisa mengolah semua informasi yang ia terima. Sulit rasanya mencerna semuanya, kebenaran yang jauh lebih menyakitkan dari senjata tajam manapun.
Nathan membuang wajahnya membelakangi mereka, matanya kemudian bertemu dengan mata Anastasya yang mulai sembab karena dibanjiri air mata
"Natasya Sini! " seru Nathan dingin membuat Anastasya langsung menunduk karena takut. Jujur, dia takut bertemu dengan Nathan setelah kejadian dan perlakuan buruk Nathan padanya.
"Kamu dengar kan? " lanjut Nathan kembali mengintrupsi
Dengan setengah hati sembari menunduk, dia berjalan mendekati Nathan. Dia sudah pasrah jika Nathan akan memarahinya lagi. Dia akan menerima semua kemarahan Nathan. Anastasya menghentikan langkahnya tepat di depan kakaknya tapi, dia masih belum memiliki cukup keberanian untuk mengangkat kepalanya
Nathan memandangi adiknya dan diluar dugaan, dia menarik Anastasya dalam pelukannya. Masih terkejut dengan reaksi sang kakak, Anastasya tak sanggup menahan air matanya dan saat itulah tangisnya pecah.
"Maafkan kakak." Ujar Nathan setulus hatinya sembari membelai rambut panjang Anastasya
Bahu gadis itu naik turun tidak beraturan, dia tidak bisa mengucapkan apa-apa selain air mata yang terus mengalir dan suara tangis yang menyita mulutnya.
Semuanya tersenyum haru menyaksikan moment indah itu. Sementara Silvia berharap semoga ini akan menjadi akhir yang indah. Enam bulan sudah berlalu, dan itu artinya sisa waktu nya tinggal enam bulan lagi. Dan semuanya akan selesai. Setelah itu dia akan kembali pada rutinitas awalnya.
Meninggalkan semuanya dan menganggap semua ini hanya mimpi baginya. Memikirkan semua itu membuat hati Silvia sakit... Sakit sekali
■■■TBC■■■