
Malam ini, tepat tanggal 26 Maret 2019, pesta ulang tahun Anastasya digelar disebuah hotel mewah bintang lima. Mengusung tema princess yang membuat para tamu undangan diwajibkan menggunakan dresscod bertemakan putri dan kerjaan.
Sebuah ballroom hotel yang awalnya biasa-biasa saja hanya diisi oleh warna dinding, disulap menjadi ruangan yang sangat mirip seperti aula istana di film-film barbie dan disney. Memadukan warna-warna cerah menjadi satu kesatuan yang sangat indah, membuat ruangan itu seakan menjadi tempat nyata terindah di dunia.
Anastasya sangat mengidolakan Putri Cinderella karena itu ruangan itu lebih banyak menggunakan warna biru langit dan putih meskipun ada beberapa bagian yang menggunakan warna-warna cerah lainnya. Ada banyak miniatur bunga-bunga dan hiasan-hiasan kerajaan kuno, bahkan disetiap pilarnya disulap menjadi pilar indah berwarna gold.
Di tengah-tengah ruangan berdiri sebuah kue setinggi tiga meter membentuk istana disney. Dan beberapa bunga-bunga raksasa disampingnya menambah kesan indah pada kue itu. Sementara disebelah kiri ruangan, berjejer puluhan jenis hidangan mewah dari berbagai negara, karena memang tamu undangan kali ini tidak hanya kolega bisnis keluarga Alexander di indonesia saja. Dan disisi kanannya adalah deretan bar-bar yang menyajikan minuman mewah dari alkohol hingga non alkohol. setiap tamu yang datang akan disuguhkan dengan kemewahan seorang raja dan bisa dipastikan siapa pun tidak mau beranjak dari pesta malam ini.
Ada satu bagian lagi yang paling penting yaitu panggung selebar empat meter yang sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan peralatan musik super lengkap yang sejak dua jam lalu sudah memainkan lagu-lagu disney seperti lagu Sonna Rale yang berjudul Strong.
Anastasya menuruni tangga dengan balutan kostum indah Cinderella lengkap dengan mahkotanya. Disebelah kanannya, grandma Margareta mendampinginya sembari melemparkan senyum termanisnya pada para tamu yang saat ini menatap mereka. Anastasya begitu cantik membuat semua orang terpukau menatapnya. Roy dan Mario serta Papanya sudah menunggu didasar tangga sebelah kiri sementara Nathan dan Silvia disebelah kanan.
Nathan dengan balutan tuxedo hitam dan Silvia mengenakan gaun merah dengan motif mutiara yang berkulau. Rambutnya disanggul seperti rambut princess kebanyakan, serta lehernya dihiasi sebuah kalung berlian mewah. Dia juga tak kalah cantik, hingga Nathan beberapa kali mencuri-curi pandang padanya
"Terimakasih atas ke datangannya, saya ucapkan pada seluruh tamu undangan yang telah hadir malam ini di acara ulang tahun cucu saya yang ke delapan belas tahun." Grandma Margareta membuka acara
Tempuk tangan riuh kemudian terdengar nyaring, menggema diseluruh ruangan.
"Langsung saja kita mulai acaranya" lanjutnya
Semua orang kemudian berjalan mendekati kue raksasa itu dengan membentuk lingkaran tak beraturan. Grandma Margareta mengiring cucu perempuannya dibarisan paling depan. Lagu selamat ulang tahun pun mulai dimainkan begitu meriah, semua tamu undangan ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan ringan mengikuti irama
Tiup lilinnya.... Tiup lilinnya... Tiup lilinnya sekarang juga... Sekarang.... Juga.... Sekarang..juga...
Begitu lagu selesai, Anastasya langsung meniup lilin ulang tahunnya setelah sebelumnya membuat make a wish. Mata gadis itu berkaca-kaca saat pembawa acara memintanya memberikan potongan kue pertama Anastasya.
"Selamat ulang tahun sayang, Papa sangat bahagia melihat putri Papa sudah tumbuh dewasa." ujar Reyhan memeluk putrinya dan kengecup puncak kepala Anastasya setelah Anastasya memberikan kue pertamanya pada sang Papa
Anastasya berlinang air mata bahagia, dia bergeser mendekati Nathan yang saat itu tengah asik mengobrol dengan salah seorang rekan bisnisnya. Nathan sedikit terkejut melihat Anastasya memberikan kue kedua nya untuk dirinya
"Terimakasih sudah membesarkan aku selama delapan belas tahun ini. Terimakasih sudah menjadi ibu dan Ayah untukku." ungkap Anastasya disela tangisnya
Nathan tersenyum manis, senyum yang sangat langka bagi semua orang untuk dapat melihatnya. Laki-laki itu mengusap air mata adik perempuannya, sementara Anastasya menyuapi Nathan dengan kue di tangannya.
"Selamat ulang tahun my little princess." Nathan memeluk adiknya erat
Kue selanjutnya kemudian diberikan kepada grandma Margareta, Maya, Mario dan Roy. Acara lalu dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan dari beberapa art seni yang segaja diundang untuk mengisi acara
"Kak Roy kado! " todong Anastasya menengadahkan tangannya
Roy menyeruput wine di tangannya, "kok kak Roy doang yang di todong? Tuh kakak kamu yang lebih tua-tua duluan" ujarnya santai
Roy mengerutkan dahinya, meletakkan kembali gelas wine di tangannya di meja bar di belakangnya
"ini minta hadiah atau ngerampok sih? Suka-suka kakak lah mau kasi hadiah apa weeee." ledeknya
"Nggak mau! Kak Roy udah janji mau beliin aku ferrari terbaru. Pokoknya besok pagi ferrari nya harus udah ada di rumah. kalo nggk Anastasya laporin ke Papa kalo kak Roy lagi deket sama tukang bunga di kompleks"
Roy membulatkan matanya, kesal. Bagaimaja Anastasya bisa tau kalau dia sedang dekat dengan pegawai bunga itu?
"oooo jadi sekarang Roy Bagaskara doyannya sama penjual bunga? " Mario tiba-tiba muncul menyela obrolan mereka
"Diem lo! Ya nggak mungkin lah gue suka sama penjual bunga secara gitu selera gue high class" kilah Roy
Mario memanyunkan bibirnya meremehkan, "ya udah kalo gitu si cantik buat gue aja. Gue sih nggk masalah."
Mata Roy langsung menyalang ke arah kakaknya, sementara Mario dan Anastasya malah menertawai Roy dengan puasnya.
"Silvia! " seru Roy saat melihat sosok Silvia lewat di hadapannya. Dia tidak tahan terus-terusan berada di dekat Mario dan Anastasya, Bisa-bisa image nya hilang karena terpancing oleh mereka .
Silvia menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Tadinya, dia berniat menemui Grandma Margareta untuk menghilangkan rasa bosannya karena Nathan lebih suka berbincang dengan rekan bisnisnya daripada dirinya.
"Mau kemana?" Roy berjalan mendekati Silvia meninggalkan Mario dan Anastasya yang masih sibuk mengejeknya dibelakangnya a
Silvia mengedikan bahunya, "bosan di sini. "
"Nathan kemana?"
Silvia memajukan mulutnya menunjuk ke arah Nathan yang sedang berbincang dengan para pengusaha di sana.
"Dia itu bener-bener berhati batu ya? Masak tega cuekin istrinya. Ckkkk,,, malah asik ngobrol sama pengusaha nggak penting itu."gerutu Roy
Silvia tertawa kecil, "sudah tidak apa-apa, dia kan memang gila bisnis."
Tiba-tiba ide gila muncul di kepala Roy, laki-laki itu kemudian tersenyum misterius sembari menatap Silvia lekat. Silvia mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan arti tatapan Roy. Dia berusaha memahami maksud saudara iparnya itu, tapi gagal.
Roy berdecak kesal, "gitu aja nggak ngerti. "
📖📖📖