
Petir menggelegar di malam hari, langit hitam dan kabut tebal menghiasi langit kota jakarta. Hujan deras mengguyur tanpa kasihan, menimbulkan suara yang amat keras saat berjatuhan. Udara dingin menyelimuti atmosfer, angin berhembus semakin kencang menjadi pendukung cuaca buruk malam ini.
Nathan tersadar dari tidurnya yang nyenyak, dia mengernyitkan dahi, ada sebuah suara yang mengganggu tidurnya selain suara hujan yang begitu kencang. Laki-laki dengan tubuh tegap itu bangkit dari ranjangnya, membenarkan piyamanya sebelum keluar mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya.
Samar-samar Nathan mendengar suara isakan dan teriakan bersamaan dengan suara petir yang menggelegar, tidak begitu keras tapi, Nathan dapat mendengarnya. Kondisi rumahnya sudah sepi, beberapa lamu sudah dimatikan, lagi pula siapa yang masih berkeliaran tengah malam seperti ini.
Nathan berdiri di ambang pintu kamarnya, suara isakan itu semakin terdengar jelas, Nathan menoleh ke sebelah kamarnya dan dia sangat yakin suara itu berasal dari kamar Silvia. Dengan langkah lebar-lebar Nathan menuju kamar Silvia, wajah cemas seketika terlukis diwajahnya, dia berharap Silvia baik-baik saja.
Toookkkk...
Tookkkk...
Tookkkk....
"Silvia buka pintunya!" teriak Nathan, menggedor pintu Silvia tak sabaran
Tidak ada jawaban yang pasti dari dalam kamar Silvia hanya suara tangis yang samar-samar Nathan dengar. Nathan menyentuh knop pintu itu, ternyata Silvia tidak mengunci kamarnya. Tanpa berpikir panjang Nathan segera masuk.
Kamar Silvia sangat gelap, Nathan baru sadar kalau sejak tadi lampu di rumahnya padam mungkin karena hujan deras jadi listrik di padamkan. Nathan tidak menyadari itu karena memang dia selalu tidur mematikan lampu, itu adalah kebiasaannya sejak dulu.
"Silvia? " dia mengedarkan pandangannya, tidak menemukan Silvia di ranjangnya.
Jendela sebelah kamar Silvia terbuka, membuat angin bebas masuk ke kamar gadis itu, percikan-percikan hujan juga mulai membasahi pinggiran jendela hingga masuk ke lantai kamar. Nathan berjalan mendekati jendela itu dan menutupnya rapat-rapat. Kemudian dia mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar itu, hingga akhirnya pandangannya berhenti di pojok antara ranjang dan meja kecil di sebelah ranjang.
Di sana Silvia meringkuk, memeluk kedua lututnya, memebenamkan kepalanya sambil kedua tangannya menutupi telinganya. Bahunya bergerak naik turun, suara isakannya mulai melemah.
Nathan menghampirinya, berjongkok dihadapan Silvia
"Silvia, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?"
Silvia mendongakkan kepalanya, melihat siapa orang yang barusan melontarkan pertanyaan itu kepadanya. Matanya berbinar ketika melihat ternyata orang itu Nathan. Dengan gerakan yang tak terduga Silvia langsung memeluk Nathan, dia seperti baru saja menemukan malaikat penyelamatnya. Sementara tubuh Nathan menegang, Nathan tidak tau kenapa detak jantungnya berpacu sangat cepat setiap kali dia bersentuhan dengan Silvia.
"Nathan.... " Silvia kembali terisak, semakin mengeratkan pelukkannya
Nathan mengelus punggung Silvia, "tenang Silvia, aku disini. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? "
Silvia masih tidak melepas pelukkannya, dia merasa sangat nyaman berada dipelukkan Nathan, rasa takutnya beberapa jam yang lalu seolah menguap dalam hitungan detik.
"Aku takut gelap, tadi tiba-tiba lampunya mati dan petir menggelegar keras sekali. Aku takut Nathan" isak Silvia
"Ya, sudah kamu jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa. Sekarang, sebaiknya kamu tidur, sudah malam. " Nathan melepaskan pelukkannya, menatap wajah Silvia yang penuh dengan air mata. Entah dari mana asal dorongan itu, membuat Nathan mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Silvia
Silvia menggenggam kedua tangan Nathan yang membingkai wajahnya, matanya menatap lekat laki-laki dihadapannya itu.
"Kamu tidak akan meninggalkanku kan Nath? Aku takut... "
Nathan melihat sangat jelas sorot mata keatkutan diwajah Silvia. Dia pun mengangguk meng-iya-kan.
Silvia menarik sedikit ujung bibirnya hingga terlukis sebuah senyum sederhana yang entah kenapa membuat hati Nathan sedikit lebih tenang.
Nathan menggendong tubuh Silvia, dan Silvia hanya pasrah menerima perlakuan Nathan, baginya saat ini Nathan adalah pelindungnya, satu-satunya orang yang bisa membuatnya lebih tenang. Dengan gerakkan lembut, Nathan membaringkan tubuh Silvia diranjangnya dan menarik selimut untuk gadis itu.
Silvia menjegal tangan Nathan, "Nath... Disini" Silvia menepuk bagian ranjang disebelahnya
Untuk sesaat Nathan menatap Silvia aneh, apa Silvia sadar dengan apa yang dia minta barusan?
Nathan masih bergeming, tapi Silvia terus memukul sisi ranjang disebelahnya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti mau Silvia, Nathan membaringkan tubuhnya tepat disebelah Silvia, dan mengejutkan Silvia langsung memeluk Nathan dan melatakkan kepalanya diatas dada bidang Nathan, baru kemudian gadis itu memejamkan matanya.
Untuk kedua kalinya Nathan dibuat menegang, tapi disisi lain dia juga membalas pelukkan Silvia, mengelus-elus rambut gadis itu dengan penuh perhatian.
"selamat malam Silvia" Nathan mengecup singkat puncak kepala Silvia sebelum memutuskan untuk ikut memejamkan matanya.
Ini adalah kedua kalinya mereka berada dalam satu kamar. Sebuah kisah yang sulit diartikan namun begitu bermakna untuk diingat
•••
Matahari bersinar begitu pekat pagi ini, setelah hujan kemarin udara di Kota Jakarta menjadi sangat bersih, sejuk dan fresh. Matahari pagi yang perlahan memasuki kamar, menerpa wajah tampan Nathan yang membuat laki-laki itu sedikit terusik. Nathan membuka matanya, merentangkan kedua tangannya dan merenggangkan beberapa ototnya yang terasa kaku. Dia melihat ranjang sebelanya, tidak ada Silvia disana. mungkin dia sedang sarapan dibawah, begitu pikir Nathan.
Nathan berjalan kembali ke kamarnya, dia harus bersiap-siap karena hari ini ada pertemuan penting dengan investor asing dari belanda. Dia tidak mau terlambat karena dalam sejarah hidup Nathan, kata terlambat itu tidak pernah ada.
Nathan menghentikan langkahnya saat sampai dilorong yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Silvia dan beberapa ruangan lain di lantai dua. Didinding lorong itu terpajang sebuah foto berukuran sangat besar hingga memenuhi dinding. Difoto itu tampak seorang perempuan dengan gaun putih, laki-laki tua dengan jas tuxedo hitam, foto dirinya dan juga Anastasya. Ya, itu adalah foto keluarga satu-satunya nya yang dimiliki keluarga itu.
Dulu Nathan sangat susah diminta untuk hadir dalam acara foto keluarga, hingga ketika foto itu diambil Mamanya harus berbohong dan memohon pada Nathan agar mau hadir dan foto bersama. Dan terbentuklah foto itu yang sekarang terpajang rapi dirumahnya, hanya menjadi sebuah hiasan tak bermakna.
•••
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti disebuah gedung pencakar langit yang cukup tinggi meskipun tidak setinggi gedung-gedung lainnya yang ada disebelahnya.
Jejeran orang-orang berjas hitam rapi dan elegan menyambutnya dipintu masuk disertai dengan beberapa petugas keamanan yang berada disekitar mereka.
Laki-laki pemilik sedan itu turun dari mobilnya dengan balutan jas berwarna abu dengan merk dan kualitas jauh lebih baik daripada orang-orang yang menyambutnya didepan pintu. Dia mengeratkan dasi dan jasnya sebelum memutuskan masuk ke dalam gedung itu.
Dia menempati posisi paling depan sementara orang-orang tadi mengekorinya dibelakang. Dengan gagas dan penuh karismanya dia menghipnotis setiap karyawan yang memandang kearahnya. Banyak kalimat pujian yang terlontar karena ketampanan dan kekayaan yang dimilikkinya. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya diseluruh penjuru indonesia ini.
Semua karyawan menunduk hormat, namun yang dihormati hanya berjalan lurus tanpa perlu repot-repot melontarkan senyumnya.
Sedemikian rupa sesui dengan tema pertemuannya hari ini.
"Selamat datang Pak Nathan di hotel kami. " seorang laki-laki dengan kemeja hitam yang menjabat sebagai manager dihotel itu menjabat tangan Nathan dan memberikan ucapan selamat datang
"Terimakasih. " ucap Nathan tersenyum kaku
"Mari Pak, mereka sudah lama menunggu anda." manager itu merentangkan tangannya dan mengarahkan Nathan ke sebuah ruangan pribadi yang tidak kalah mewahnya
"Perkenalkan Pak Mario dan Pak Roy, mereka adalah pemegang kekuasaan di pelabuhan tanjung periuk. " dengan entengnya Manager itu memperkenalkan ketiga pengusaha ternama itu.
Sorot mata ketiganya begitu tajam, terutama antara Nathan dan Roy. Seolah memiliki karakter yang sama, siluet mata mereka seakan memancarkan petir yang siap menghanguskan bumi. Sementara Mario bersikap lebih tenang, diantara mereka bertiga Mario memang tipe laki-laki yang selalu berkepala dingin, dia tidak pernah mengikuti emosinya dan gegabah dalam bertingkah.
Manager hotel yang berada diantara mereka mulai merasakan ketegangan diantara ketiganya, dia pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan tiga pengusaha yang saling berseteru itu.
"Apa-apaan ini? Untuk apa kalian merencanakan semua ini? " suara Nathan terdengar dingin dan datar, tidak ada senyum ataupun ekspresi lainnya diwajah tampannya
Roy mendengus sebal, kalau bukan karena Mario memaksanya, dia tidak akan repot-repot membuang waktunya untuk berada di situasi seperti ini. Mario terlalu mengharapkan Nathan yang sama sekali tidak perduli dengan perjuangannya selama ini. Bagi Roy, Nathan adalah laki-laki yang tidak akan pernah mengerti jika diberitahu dengan bahasa manusia.
"Ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengan Kak Nathan. " jawan Mario dengan nada sopan
"Aku tidak pernah memiliki adik seperti kalian! " pekik Nathan membuat Roy tidak bisa tinggal diam, namun Mario mencegah adiknya agar tidak berbuat diluar batas
"Kak, untuk apa kita membuang-buang waktu hanya untuk mendengarkan penghinaan si Brengsek ini! " maki Roy tidak kalah kasarnya
"Roy!" Mario mengintrupsi, Roy mendengus sebal dan memalingkan wajahnya
Nathan menyilangkan kedua tangannya, "apa yang dikatakan saudara kamu itu benar, kalian hanya membuang-buang waktu. "
"Kak, sampai kapan kita akan bermusuhan seperti ini? Sudah delapan belas tahun dan sebentar lagi Anastasya akan berulang tahun. Apa karena ego, kakak rela kehilangan adik kakak sendiri?" Mario mencoba membuat Nathan mengerti
"Harus berapa kali saya bilang kalau saya bukan kakak kalian, lagi pula Anastasya sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Dan sejak dia meninggalkan rumah, saya sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi dengannya. "
BUGGGHHHHHGG.....
sebuah bogeman keras meluncur dari tangan seorang Roy dan mendarat sempurna di pipi kanan Nathan. Nathan tidak sempat menyadari reaksi spontan itu hingga dia tidak bisa menghindarinya. Pukulan bertenaga itu cukup membuat tubuh Nathan tidak seimbang beberapa saat, namun Nathan berhasil mengontrol dirinya dan kembali menegakkan tubuhnya.
"ROY!!! " Bentak Mario, mata laki-laki itu memerah padam
Roy berusaha mengontrol dirinya, tatapannya masih tajam penuh amarah pada Nathan, sementara Nathan sibuk mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan cairan merah kental.
"Lo Kakak paling brengsek yang pernah gue temuin! Gue nggak akan pernah biarin Anastasya punya kakak kayak lo!" sungut Roy berusaha menahan diri
"Cukup Roy! " Mario menahan bahu adiknya
Roy memutuskan untuk meninggalkan ruangan, dia tidak ingin lepas kendali jika berlama-lama disana.
"BERENGSEK!!!!" Roy meninju pintu ballroom itu hingga mengeluarkan suara dentuman yang keras
Kini tinggal Mario dan Nathan didalam ruangan itu, mereka berdua sama-sama kegilangan kata-kata.
"Kalian berdua memang seperti sampah! " itu adalah kalimat penutup dari Mario sebelum menuju Roy
Mario tidak bisa menahan kekesalanya, sejak awal dia hanya ingin bicara dengan kepala dingin, dari hati ke hati tapi, dua saudaranya itu menghancurkan semuanya dan pada akhirnya pertemuan ini tidak membuahkan hasil apa-apa. Malah membuat semuanya semakin rumit.
Jika kalimat tidak bisa membuatmu mengerti, maka biarkan kekuatan ikatan yang akan menjelaskannya
•••
TINGGNUNG......
Bel rumah bergaya eropa kuno itu berbunyi nyaring lebih dari tiga kali. Silvia yang sedang sibuk dengan ritual membacanya, mengernyitkan dahinya. Apa tidak ada satupun pelayan yang membukakan pintu?
Silvia keluar dari perpustakaan besar dirumah itu, berjalan mendekat kearah pintu besar yang menjulang tinggi berwarna kecoklatan itu. Baru saja Silvia hendak membukakan pintu, kepala pelayan dirumah itu mencegahnya.
"Kenapa Arum?"
Arum menunduk, "maaf nyonya, yang datang itu adalah non Anastasya. "
"Loh, justru itu kenapa kalian tidak membukakannya pintu? " Silvia menatap Arum bingung
Arum hanya bisa menunduk, "maaf Nyonya, sesuai perintah Tuan Nathan, nona Anastasya tidak diperbolehkan masuk."
Silvia tidak habis pikir dengn perintah konyol Nathan yang tidak mengizinkan adiknya sendiri masuk ke dalam rumahnya. Semua ini tidak masuk akal bagi Silvia, apa yang dipikirkan laki-laki itu? Bisa-bisanya dia membuat perintah konyol seperti itu.
"Buka pintunya. " Silvia mengintrupsi
"Tapi Nyonya? "
"Buka! Masalah Nathan itu urusanku, sekarang buka pintunya."
Arum hanya bisa mengangguk mematuhi dan membuka pintunya. Terlihat seorang gadis dengan pakaian khas remajanya berdiri didepan pintu, dia menghela nafas lega ketika pintu yang sendari tadi dia ketok akhirnya terbuka juga.
■■■TBC■■■