
MENGEJUTKAN! NATHAN ALEXANDER MENGAKUI KALAU DIA MEMILIKI ADIK LAKI-LAKI DAN ORANG ITU TAK LAIN ADALAH MUSUH BESARNYA DIDUNIA BISNIS!
BENARKAH ROY DEVANO ADALAH ADIK NATHAN ALEXANDER?
BERITA HOT! NATHAN ALEXANDER MEMILIKI ADIK LAKI-LAKI
ROY DEVANO DAN NATHAN ALEXANDER SAUDARA?
Itu beberapa headline news yang paling banyak diperbincangkan oleh netizen saat ini. Jutaan like dan ribuan komentar disetiap kirimannya. Ada yang menganggap itu hanya gimick, ada juga yang menganggap kalau vidio itu hanyalah editan semata.
"Kalian dengar kak Nathan bilang apa di vidio terakhir?" ujar Anastasya
Mario dan Roy memasang wajah syok sekaligus tidak percaya. Mana mungkin seorang Nathan Alexander melakukan itu? Reyhan juga tak kalah syoknya, ada desiran bahagia dihatinya jika memang benar dividio itu adalah Nathan. Penantiannya selama ini tidak sia-sia. meski mungkin Nathan belum mengakui nya secara gamlang ya, setidaknya Reyhan tau kalau perlahan kebencian dihati Nathan mulai memudar.
"Ini beneran Nathan yang bicara seperti itu? " Reyhan memperjelas
Roy langsung menggeleng cepat, "tidak mungkin! Pasti Ada yang nggk bener nih, bisa aja vidio ini di edit"
Mario menyentuh dagunya, dahinya berketut dan matanya menyipit, "sepertinya tidak mungkin, fakta bahwa kak Nathan yang membantu Roy itu saja sudah cukup membuktikan kalau sebenarnya kak Nathan itu perduli dengan kita semua. Buktinya dia membatu kamu Roy, dan kalau Kak Nathan benar mengucapkan itu, itu nilai plus bagi kita. " Mario menganalisis
"Anas udah nggak sabar liat kak Nathan tinggal bareng sama kita semua. "
Roy menyipitkan mata ke arah Anasyasya, "ehhh, Anas jangan menghayal ketinggian. Kalau sampai itu terjadi itu tandanya dunia udah mau kiamat. " Anastasya memanyunkan bibirnya, memeletkan lidahnya ke arah Roy.
"Tapi, di balik semua fakta itu, saat ini Nathan pasti sedang berada dalam masalah. Media pasti mengejar-ngejarnya untuk menuntut penjelasan, dan Mama yakin Noval itu pasti tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkan Nathan." wajah cemas tersirat diwajah Maya, hal yang diutarakan Maya memang sangat lumrah terjadi dikalangan pembisnis. Perasingan yang ketat membuat mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan satu sama lain. Tidak jarang banyak pengusaha yang bangrut dengan cara-cara licik
"Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi. " sahut Anastasya, ada nada ketakutan dibalik suaranya jika hal itu benar-benar terjadi
"Mario tidak akan membiarkan hal itu terjadi. " tekat Mario membuat Roy lagi-lagi melengos. Sampai saat ini Roy masih tidak mengerti kenapa Mario sangat memuja Nathan. Padahal entah sudah berapa kali Nathan mengacuhkannya dan bahkan tidak mengakuinya sebagai adik, tapi Mario tidak pernah berhenti menganggap kalau Nathan adalah kakaknya.
^...^
Perlahan jari-jemari Silvia bergerak-gerak samar, sangat lemah bahkan hampir tidak terlihat. Silvia memuka matanya pelan-pelan, menyesuaikan lensanya dengan pencahayaan yang ada disekitar. Kepalanya terasa sangat berat saat dia berusaha bangun.
Dia mengerutkan dahinya, mulai menyelidiki dimana dia sekarang. Terakhir kali dia ingat dia sedang piknik didanau bersama Nathan. Nathan menunduk memperhatikan warna baju yang dia kenakan, lagi-lagi baju putih rumah sakit yang dia temukan.
Silvia melihat sekitar, dia baru ngeh kalau sejak tadi ada Nathan disebelahnya. Laki-laki itu sedang tertidur pulas sambil menggenggam sebelah tangannya. Silvia menarik sedikit ujung bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Silvia mengulurkan tangan kirinya, meraih rambut Nathan dan membuat gerakan lembut disana.
"Silvia? " Nathan menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
Silvia melontarkan senyum termanis yang dia punya, "hai Nath, maaf kalau aku membangunkan mu. "
Nathan bernafas lega. Dia lega karena Silvia baik-baik saja, dan gadis itu bisa tersenyum untuknya. Nathan tidak tau perasaan apa yang dia rasakan saat ini tapi, yang jelas dis bahagia melihat Silvia bisa tersenyum lagi.
Nathan merengkuh tubuh mungil Silvia dalam dekapannya, membuat Silvia beberapa saat terkejut. Namun, Silvia membalas pelukan Nathan
"Kenapa hobi mu selalu saja membuatku khawatir. Apa kamu tau bagaimana paniknya aku saat melihat kamu terbaring disini berjam-jam?"
"Nathan, aku baik-baik saja. Kalau kamu pikir aku akan semudah itu mati, kamu salah. Aku ini kuat karena itu kamu beruntung memiliki istri seperti ku. " gurau Silvia yang mencoba mencairkan suasana
Nathan menatap Silvia lekat, memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu. Caranya tertawa, tersenyum, nada tengilnya, rasanya semua itu adalah hal-hal kecil yang membuat hati Nathan tenang.
"Silvia... " panggil Nathan lembut
"Hmmm.. "
Raut wajah Nathan berubah serius, "kamu bilang kamu sudah menyadari sesuatu yang belum aku sadari. Maksud kamu apa? "
Seketika Silvia langsung terdiam, saat ini dia sama sekali tidak punya jawaban atas pertanyaan Nathan mengenai hal itu. Silvia menunduk, tidak cukup berani memandang hazel abu milik Nathan, dia takut pertahananya akan runtuh dan semuanya menjadi tambah rumit. Biarlah untuk saat ini cukup dia yang mengalami hal bodoh ini, dia tidak ingin membuat keadaan bertambah buruk.
"Kenapa kamu diam? "
"Karena aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan kamu itu Nath. "
Nathan tidak mengerti, "pasti ada alasan kenapa kamu bisa mengatakan itu. "
Silvia menatap Nathan sendu, "
alasannya adalah kamu, Nathan"
■■■TBC■■■
jangan lupa like 👍 comment dan favorite 😘