You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN EMPAT BELAS | Sebenarnya Apa Kata Hati Mu?



Baiklah semuanya, kelas kita cukupkan sampai disini. Sampai jumpa di ujian minggu depan."


Dosen itu menutup kelasnya, semua mahasiswa mulai membereskan buku-buku mereka. Setelah tiga jam di dalam kelas, akhirnya mereka bisa mengistirahatkan otak mereka  sebelum mempersiapkan diri untuk ujian minggu depan.


Silvia memasukkan buku-buku kecilnya kedalam tas slempang hitamnya,  sementara tangan kirinya memegang dua buku tebal yang kalau di timbang, beratnya bisa sampai  satu kilo.


Semua mahasiswa telah meninggalkan kelas, begitu juga dengan Silvia. Mata pelajaran untuk kuliahnya hari ini sudah selesai, dia harus segera pulang sebelum Nathan menyadari kepergiaannya. Kalau suaminya tau, bisa habis riwatnya.


"SILVIAAAA...." seorang gadis muda dan cantik, berambut hitam panjang, berlari berhamburan ke arahnya, membuat Silvia menoleh kaget kearahnya.


Gadis cantik itu memeluk Silvia erat, dan Silvia juga membalas pelukkanya. Dia adalah Risma, teman kuliah Silvia tetapi beda jurusan. mereka saling mengenal ketika awal masa orientasi awal masuk kuliah dan kemudian mereka menjadi teman dekat.


Risma adalah wanita yang baik, dia satu-satunya anak dari keluarga kaya yang mau menjadi teman Silvia tanpa memandang status sosialnya. Risma juga selalu menolong Silvia di saat Silvia sedang  kesusahan dan membutuhkan bantuan.


 


"Aku seneng banget kamu masuk kuliah lagi. Kamu tau nggk? Satu bulan ini aku merasa kesepian, ngapa-ngapain harus sendirian.." ungkapnya dengan nada merajuk


Silvia hanya tersenyum manis menghadapi sikap manja sahabatnya yang satu itu.


"Iya, maafkan aku.Tapi, itu bagus biar kamu bisa belajar mandiri."


Risma mengiyakan.


"Jadi gimana? Apa dia tampan? Kaya? Dan yang paling penting dia masih muda kan Sil?" tanya Risma tanpa jeda


Silvia mengerutkan keningnya, mencoba menelaah apa maksud pertanyaan Risma. Setelah beberapa menit, Silvia baru mengerti, rupanya Risma menanyakan soal Nathan yang sekarang adalah suaminya- suami palsunya.


Silvia hanya mengangguk dan hal itu malah membuat Risma semakin penasaran karena kurang puas dengan jawaban Silvia. Karena baginya mengangguk itu punya seribu makna


"Ahhh... Cerita dong Sil seperti apa dia? Aku penasaran banget dan gimana rasanya melepas masa lajang kamu? Seru nggak? Kalau seru aku mau juga dong. " Risma menggoyang-goyangkan ujung lengan baju Silvia, merengek seperti anak kecil minta dibelikan mainan oleh ibunya.


Risma memang gadis yang polos, tapi ya... sedikit oon.


Jujur Silvia malas membahas soal itu.  Silvia menghela nafas malas.


"Biasa aja sih." Jawabnya singkat


Risma mengerutkan dahi, "kok biasa aja sih? Ah...  mana mungkin biasa aja, malam pertama kamu gimana? Kok jawabannya singkat gitu sih Sil?" Tanyanya kurang puas.


Pertanyaan itu spontan membuat Silvia tersedak dan matanya membulat terkejut. Pertanyaan macam apa itu, pikir Silvia. Jangan kan malam pertama, dia saja tidak tidur seranjang dengan Nathan, bagaimana bisa malam pertama?


"Ris, jangan bahas ini yah? Duhhh,, apalagi pertanyaan kamu itu, ngelantur tau nggak." Silvia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Risma.


Risma mengekori Silvia dari belakang, masih belum menyerah untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat rasa ingin taunya terpuaskan.


"Kamu kenapa sih Sil? Kamu ada masalah? Cerita dong, bukannya kamu bahagia ya nikah sama orang kaya itu? Siapa ya namanya?" Risma menatap ke atas, mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuknya, mengingat-ingat.


Bahagia dari hongkong- benak Silvia


"Nathan." Sahut Silvia lebih dulu


"O...iya-iya, Nathan. Gimana ya dia?" Risma berguman sendiri


Silvia memutar bola mata malas, "emangnya kamu nggak tau siapa dia? Bukannya kamu selalu aktif di sosmed?"


Risma semakin bingung dengan perkataan sahabatnya itu,"emangnya dia artis? Gubernur? Mentri? Dpr? Yang nama Nathan kan banyak."


Tiba-tiba langkah Silvia terhenti membuat Risma juga ikut menghentikan langkahnya. Di depan mereka, berdiri seorang pemuda yang seumuran dengan mereka, menatap kearah mereka lekat.


"Dilan." bisik Risma pelan diiringi dengan wajah yang sedikit terkejut dengan kehadiran laki-laki itu, hal yang sama juga terjadi pada Silvia.


"Aduh... mau apalagi sih dia?" ujar Risma tidak suka.


Dilan berjalan mendekat kearah Silvia dan Risma, tatapannya tidak bisa ditebak. Silvia tidak tau apa yang akan dilakukan laki-laki itu kali ini, dia juga bingung harus berbuat apa.


"Kamu tau nggak Sil, hampir sebulan ini dia neror aku cuma buat nanyain kamu dimana." bisik Risma ditelinga Silvia, takut Dilan mendengar ucapannya.


Mata Silvia membulat sempurna ketika Dilan tiba-tiba memeluknya sangat erat. Seolah tidak bertemu Silvia bertahun-tahun.


"Kamu kemana aja sih Sil? Aku khawatir banget, kamu nggak ada kabar sebulan ini." ujarnya dengan nada sendu, terlihat dia benar-benar menghawatirkan Silvia. Sementara Silvia tidak tau harus berkata atau berbuat apa terhadap Dilan.


Risma hanya menontoni adegan itu dengan wajah malasnya.


Dilan melepaskan pelukkannya, "kamu kemana aja Sil?"


Silvia bingung  harus menjawab apa, dia memandang Risma berusaha mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu, tapi tidak berhasil. Risma hanya diam dengan ekspresi tidak sukanya itu.


Dilan menyadari ada yang aneh dari sikap Silvia, "kita harus bicara." Dia menarik tangan Silvia tanpa persetujuan Silvia terlebih dahulu, membawa Silvia menjauh dari Risma.


"Dilan.. sakit, lepasin!"


Risma langsung berlari menyusul mereka, takut Dilan akan gelap mata dan melakukan hal-hal yang aneh terhadap Silvia. Dilihat dari wajah dinginnya, sepertinya orang itu tidak baik-baik saja.


 


Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti dengan atraksi sempurna di depan sebuah gedung perkampusan. Seluruh mata  menghentikan langkah mereka dan menatap kagum kearah pemilik mobil itu.


Mata mereka tidak berkedip sedikitpun ketika sedan itu melakukan rising di depan kampus mereka, yang kemudian terparkir rapi di depan pintu utama gedung bertingkat itu.


Tak lama kemudian sang pemilik mobil  keluar dengan memakai kaca mata hitam dari brand terkenal, swetter hitam dan celana kain yang berwarna senada. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sixpack dan sangat cocok dengan baju yang digunakannya.


Semua orang yang hadir disana  terkejut dengan mulut terbuka dan mata yang membulat sempurna, mereka tidak menyangka bahkan sebagian dari mereka tidak percaya dengan apa yang ada didepan mereka.


"Nathan Alexander!!!" Guman salah satu diantara mereka


"Ini bukan mimpi kan? Nathan Alexander ke kampus kita.." jawab yang lainnya kegirangan


"Ngapain ya dia ke sini?" Beberapa diantara mereka juga menatap bingung, sepanjang sejarah ini pertama kalinya pemilik perusahaan transportasi dan perhiasan terbesar diasia itu bertandang ke kampus mereka yang popularitasnya biasa saja.


Nathan berjalan memasuki gedung tanpa memperdulikan masa yang bergerombolan dibelakangnya menatap dirinya. Bagi Nathan itu hal yang biasa dia dapatkan dari para netizen terutama kaum hawa. Bahkan Nathan tidak perduli sama sekali dengan mereka. Tujuan laki\-laki itu bukan untuk menebar pesona kepada mereka, tapi untuk hal yang jauh lebih penting dari sekedar itu.


Boleh Nathan akui, gedung itu memang cukup besar hingga membuatnya cukup kelelahan mencari\-cari orang yang sedang dicarinya. Sebenarnya dia malas sekali melakukan itu, tapi entah apa yang mendorong Nathan untuk datang kesani. 


Langkahnya terhenti ketika dia sampai di taman belakang kampus, taman itu tidak terlalu ramai, tapi ada satu hal yang menyita pandangannya disana. Dia bejalan mendekat, agar lebih jelas mendengar pembicaraan mereka.



"Silvia, semua itu tidak benarkan? Pernikahan itu palsukan? Aku yakin itu cuma rekayasa aja, nggak mungkin kamu menikah."


Dilan berharap Silvia menjawab, tidak.


"Dilan, maafkan aku." Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan


Dilan berlutut di hadapan Silvia, membuat Nathan  yang melihat dari kejauhan sedikit terkejut karena perlakuan laki\-laki itu terhadap istrinya.


"Jadi seperti ini mahasiswa jaman sekarang? Udah tau punya suami, masih aja usaha. Dasar pelakor!" Gerutu Nathan , kedua tangannya dilipat didepan dada sembari menatap tidak suka kearah Dilan dan Silvia. "Pemandangan macam apa ini?" Lanjutnya kesal.


Disisi lain, Dilan masih berusaha meyakin kan Silvia seolah dia tidak perduli kalau Silvia sudah menikah.


"Silvia, aku mencintai kamu dari dulu, aku sayang sama kamu." Ungkapnya dengan setulus hati membuat Silvia bingung harus menyikapinya seperti apa. Disisi lain dia juga tidak tega menyakiti Dilan, tapi disisi lainnya dia juga sangat tidak mungkin menerima cinta laki\-laki itu.


"Dilan.." Silvia menuntun Dilan untuk berdiri, "aku ini sudah menikah Dilan, aku sudah memiliki suami. Jadi, tidak mungkin bagiku untuk menjalan hubungan dengan laki\-laki manapun." Silvia berusaha membuat Dilan mengerti tanpa harus menyakiti hatinya, yah setidaknya mengurangi rasa sakit itu.


Selama ini, Silvia menyadari kalau Dilan menyimpan perasaan untuknya. Tapi, bagi Silvia Dilan tidak lebih dari sahabat yang dia anggap seperti kakak sendiri.


Raut wajah Dilan berubah, tampak Dilan tidak menerima penjelasan Silvia


"Tidak Silvia, " Dilan mencengkram kedua siku Silvia erat hingga membuat Silvia tak sadar meringis kesakitan


"Dilan..." ringis Silvia


"Aku mencintai kamu sejak dulu Silvia, tapi kenapa kamu malah menikahi orang lain? KENAPA???"  Dalam sekejap Dilan berubah menjadi sosok yang lain, sosok yang tidak biasanya. Silvia menatap Dilan ketakutan, aura Dilan benar\-benar menakutkan saat itu. Silvia seperti tidak mengenal laki\-laki yang berada dihadapannya ini. Dilan benar\-benar gelap mata karena emosi yang menguasai dirinya.


"Kamu tau, aku seperti orang kesurupan mencari kamu sebulan ini. Dan ini jawaban yang aku dapatkan setelah semua yang aku lakukan selama ini?"


"Dilan... aku benar\-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu." ujar Silvia merasa bersalah


"Omong kosong." Dilan mendorong Silvia kasar


"Apa\-apaan ini!  Berani\-beraninya dia menyentuh istri  Nathan Alexander!"


Nathan berjalan mendekat ke arah   Silvia, langkah kakinya bergerak cepat. Emosi tampak jelas di wajah tampannya, kedua tangannya mengepal, rasanya dia ingin sekali menghajar laki\-laki yang bernama Dilan itu. Yang berani\-beraninya bersikap kasar kepada istrinya\- ya setidaknya sekarang Silvia adalah istrinya, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk melindungi wanita itu.


"Sayang...." Nathan mendorong tubuh   Dilan pelan, sebagai isyarat agar Dilan menjauh dari Silvia. 


Silvia terkejut bukan main melihat Nathan tiba\-tiba muncul dihadapannya. Kepalanya mulai memunculkan banyak pertanyaan dan memperkirakan kemungkinan\-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Nathan, kamu\-\-"


Nathan mengaitkan jari jemarinya disela\-sela jemari kiri Silvia. Membuat Silvia membeku dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Sayang, aku cariin kamu dari tadi, ternyata kamu disini. Bukannya kita ada janji makan siang ya?" ujar Nathan dengan nada yang  manis yang dibuat\-buat.  Dia memperlakukan Silvia sangat mesra didepan Dilan, seolah mereka adalah pasangan suami\-istri yang saling mencintai.


Nathan menatap kearah Dilan penuh arti, sayangnya hanya laki\-laki yang mengerti apa maksud dari tatapan itu. Dilan pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, hanya dengan menatapnya Nathan berhasil membuat Dilan pergi menjauh.


Nathan melepaskan tangan Silvia dengan sentakan yang cukup keras setelah memastikan Dilan benar\-benar pergi jauh.


"Apa\-apaan semua ini? Bermesraan dengan laki\-laki lain, dikampus lagi, ini itu tempat umum!" omel Nathan, dia benar\-benar terlihat kesal


Silvia mengerutkan dahinya, "biasa aja dong nada bicaranya, emangnya kenapa?" Jawab Silvia santai


"Kenapa kamu bilang?" Nathan tidak habis pikir, dia mengusap wajahnya frustrasi


"Kamu nggak lagi cemburukan?" Tanya Silvia tersenyum jahil.


"Cemburu? Aku? NEVER DO IT!! untuk apa aku cemburu, kamu mau dekat dengan laki\-laki manapun itu bukan urusanku!"


Gadis cantik dihadapan Nathan itu mengangguk\-angguk.


"Kalau begitu besok aku akan menerima cinta Dilan."


"Coba saja! Akan aku patahkan kepala kalian berdua!!" Ancam Nathan membuat Silvia tertawa keras.


Nathan... Nathan


Laki\-laki aneh yang labil


TO BE CONTINUE


\\\\\\\\\_