You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA SEMBILAN |



Silvia berlari sepanjang lorong rumah sakit, baru saja dia menerima kabar kalau Nathan sedang berada di rumah sakit. Wajahnya memancarkan khawatir yang amat dalam, sepanjang perjalanan dia berdoa semoga laki-laki bermata singa itu baik-baik saja. Bahkan Silvia tidak sempat mengganti baju tidurnya karena saking paniknya, dia juga tidak sadar kalau dari tadi dia hanya mengenakan sandal jepit.


Silvia mendesh frustrasi karena ruang yang dia cari tidak kunjung dia temukan. Cukup lama dia menyusuri setiap lorong rumah sakit itu, hingga akhirnya di lorong terakhir dia menemukan sosok Nathan dengan jas hitamnya berdiri menghadap sebuah ruangan sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada .


Silvia langsung berlari mendekat, membuat Nathan terkejut karena kehadirannya


"Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan? Tidak ada yang lecet atau sakit kan? Kamu sehat kan Nath?' ujar Silvia dengan sekali tarikan nafas sembari membolak-balik tubuh Nathan ke kanan dan ke kiri.


Nathan hanya menatap Silvia bingung, apa yang terjadi pada wanita dihadapannya ini?


"Nath!" seru Silvia


"Bagaimana kamu bisa ada disini?" Nathan menatap Silvia lekat menuntut jawaban


Silvia tidak menghiraukan pertanyaan Nathan, "kamu baik-baik saja kan?" tanyanya ulang


Reflek Nathan mengangguk meskipun masih dengan wajah berkerutnya.


Silvia langsung memeluk Nathan, menghela nafas bersyukur dan lega karena Nathan baik-baik saja. Tubuh Nathan menegang ketika kedua tangan Silvia memeluk ttubuhnya, Nathan semakin tidak mengerti kenapa Silvia akhir-akhir ini berubah sangat perhatian. Nathan tidak suka itu, karena setiap kali Silvia melakukannya membuat jantungnya berdetak jutaan kali lebih cepat dari biasanya. Bahkan Nathan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun disaat seperti ini.


Silvia melepaskan pelukkannya,"tadi Robert menelponku katanya kamu masuk rumah sakit, aku panik dan langsung ke sini. Tidak lihat pakaian ku?"


Nathan memperhatikan Silvia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia baru sadar kalau Silvia mengenakan piyam bermotif doraemon berwarna pink yang sangat mencolok dan menggelikan bagi Nathan.


"Memalukan" cibirnya


Silvia hanya mengerucutkan bibirnya


"Kalau kamu sehat-sehat saja, lalu siapa yang sakit?" Silvia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal


"Seseorang" jawab Nathan malas


Silvia memutar bola matanya,"ya aku tau, kalau binatang kamu tidak akan datang ke sini."


Nathan tidak menggubris Silvia.


"Seseorang itu siapa?" rupanya gadis keras kepala itu masih penasaran


Nathan tidak berniat untuk menjawabnya.


Silvia berjalan mendekati ruangan di depan mereka, mengintip dari balik pintu kaca ruangan. Terlihat dokter dan beberapa suster sedang mengobati pasien didalamnya, pasien itu tidak sadarkan diri, ada selang yang terkait di tangan dan hidungnya.


Silvia membulatkan matanya, kembali menatap Nathan yang kini sudah duduk dikursi tunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


"Roy! Itu benar Roy adik kamu kan, Nath?" Silvia berjalan mendekat dan duduk disebelah Nathan


"Dia bukan adik ku"


Silvia menghela nafas, meski Nathan tidak mengakui secara langsung, tapi Silvia tau Nathan masih sangat peduli. Hanya saja gengsinya terlalu tinggi. Maklum lah orang kaya.


"Kepedulian kamu sudah menjawab semuanya, Nath. Kamu telah kalah! Hanya tinggal menunggu waktu, kamu mengakui kekalahanmu."


Nathan menoleh, tidak mengerti dengan ucapan Silvia, "apa maksud kamu?"


Silvia tersenyum tengil, "tidak maksud apa-apa, hanya saja ini pertanda kalau gunung es itu akan segera mencair."


Silvia tidak sengaja melihat tangan Nathan yang sedikit terluka karena pukulan tadi, tanpa canggung dia meraih tangan Nathan, meletakannya dipangkuanya, dan meniupnya beberapa saat. Nathan menatap Silvia kaget.


Silvia menoleh dan tersenyum hangat kearah Nathan, "aku bangga padamu Nath."




Anastasya sampai di rumahnya pukul delapan malam dengan keadaan basah kuyup, membuat seluruh keluarganya terkejut dan khawatir. Gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam rumah , sambil memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan dan mata memerah yang mulai sembab. Dan di saat yang bersamaan, Reyhan, Maya dan Mario sudah menunggu Anastasya di ruang tengah, sejak tadi mereka sangat menghawatirkan Anastasya yang belum juga pulang.



Sebenarnya Anastasya enggan mengentikan langkahnya, tapi dia tidak bisa pergi begitu saja melewati papa, mama dan kakaknya yang menatapnya kebingungan ketika melihat kondisinya yang berantakan.



"Anas, kenapa bisa basah kuyup begitu?" Reyhan menatap Anastasya intens



"Kehujanan, Pa" jawab Anastasya pelan



"Kehujanan? Kamu kan bawa mobil sayang"



Bodoh. Anastasya memaki dirinya sendiri.



"Anas, ceritain nanti. Sekarang Anas mau ke kamar dulu, ganti baju." Akhirnya dengan alasan itu, Anastasya berhasil kabur dari tatapan mengintimidasi keluarganya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Anastasya belum siap untuk menceritakannya, terlalu sakit untuknya bahkan hanya untuk membagi luka itu pada orang lain.



Setelah mengganti bajunya, Anastasya duduk dipinggir ranjang, tidak sengaja melihat sebuah foto mini dimeja dekat ranjangnya. Ya, foto itu dia pajang beberapa hari yang lalu, foto dirinya bersama Nathan. Difoto itu Nathan sangat bahagia memeluk Anastasya yang masuh berusia sepuluh tahun. Anastasya sangat ingat moment itu, moment ketika Nathan menjahilinya dan memeluknya hanya untuk mendapatkan maaf dari Anastasya. Dia rindu itu.



Anastasya menidurkan foto itu, tidak ingin melihat foto itu karena terlalu sakit bagiya untuk mengingat semuanya.



Ma, apa kak Nathan sudah tidak sayang lagi pada adik perempuannya?



Anas kangen...



■■■TO BE CONTINUE■■■