
Kemunculan vidio tiga pengusaha besar itu menambah dunia maya semakin ramai dan memanas. Banyak diantara mereka penasaran mengenai kebenaran berita itu terutama bagi kaum hawa yang mengidola dua makhluk ciptaan Tuhan itu. Pasalnya selama ini perusahaan Nathan dan Roy adalah perusahaan yang bersebrangan dan saling berkompetisi dalan setiap tender disetiap tahunnya.
Sejak dulu, Nathan tidak pernah mau satu tender dengan perusahaan Roy ataupun Mario dan kini berita itu muncul menjadi perbincangan hangat para netizen baik di layar kaca maupun layar handphone. Tak hanya itu, sesuai dugaan Maya sebelumnya, Noval menggunakan kesempatan emas itu untuk melaporkan perkara ini ke pihak yang berwajib atas tuduhan tindak kekerasan. Sejak pagi beritanya muncul disemua stasiun televisi swasta, laki-laki itu sibuk melakukan klarifikasi disana sini membuat pihak pendukung Nathan dan Roy geram.
Nathan menutup laptopnya setelah melihat pemberitaan dirinya di semua situs internet. Dia mendesah lelah sembari menyandarkan tubuhnya disofa panjang diruangan Silvia. Tanpa laki-laki itu sadari, sejak tadi Silvia masih setia memandanginya. Dari awal Nathan masuk ke kamar mandi, keluar lagi, dan kemudian duduk membuka laptopnya. Perubahan ekspresi Nathan sejak tiga puluh menit yang lalu tidak Silvia lewatkan. Dia tersenyum geli melihat perubahan laki-laki itu. Seolah menjadi pelipur laranya disaat dirinya tengah terbaring dirumah sakit.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kalau kamu jatuh cinta aku tidak tanggung jawab." ucap Nathan percaya diri tanpa melihat Silvia, dia memejamkan matanya sejenak
Bukannya malu, Silvia malah terkekeh. Sifat sombong yang kecendrungan sok ganteng itu memang tidak bisa hilang dari dalam diri Nathan. Kadang dia galak seperti singa betina, kadang juga dia lembut seperti orang tua yang melindungi anaknya.
"Aku juga tidak akan meminta pertanggung jawabanmu kalau aku jatuh cinta"
Nathan membuka matanya. Menatap Silvia lekat seolah sedang mencari kebenaran dibalik mata sipit perempuan itu.
"Aku tidak yakin. " Nathan menyipitkan matanya, berjalan mendekat ke arah Silvia
Jantung Silvia berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya, tatapan intens yang dilontarkan Nathan membuat Silvia tidak berani membalas tatapan itu. Dia terlalu rapuh untuk mengutarakan semuanya, dia tidak ingin Natha tau bagaimana perasaannya sekarang.
"Apa kamu ingat saat pertama kali aku mencium mu di danau?" tanpa malu atau rasa bersalah Nathan menanyakan hal tabu itu membuat pipi Silvia seperti kepiting rebus. Dia tidak pernah mendapatkan pertanyaan vulgar seperti itu dari laki-laki manapun
Silvia berusaha bersikap biasa seolah tidak terganggu oleh pertanyaan itu, "berani sekali kamu mencium ku" nada suara Silvia terdengar songong tapi, Nathan tau dibalik ucapan gadis itu tersimpan rasa malu
Kini giliran Nathan yang terkekeh, dia duduk ditepi ranjang mendekatkan tubuhnya kearah Silvia. Silvia reflek memundurkan wajahnya ketika wajah Nathan perlahan mendekatinya.
"Tapi kamu suka kan? " goda Nathan masih mengunci tatapan Silvia
Silvia langsung memalingkan wajahnya tidak tahan melihat tatapan mata Nathan, rasanya tubuhnya akan berubah jadi abu setiap kali laki-laki itu menatapnya.
Didetik kemudian Silvia mendorong tubuh Nathan agar menjauhinya, "sorry to say Nath, aku tidak ingat. " jawab Silvia jual mahal
Nathan menghela nafas kasar, tertawa meremehkan, tidak menyangka Silvia akan menguji kesabarannya seperti ini. Dia kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Apa perlu ku ulangi? Dan aku pastikan kamu tidak akan melupakannya. " Wajah Silvia semakin merona, Nathan begitu dekat dengannya. Hanya tinggal beberapa senti lagi bibir Nathan bisa saja bersentuhan kalau diantara mereka melakukan pergerakan.
Tubuh Silvia menegang, dia bahkan tidak bisa menelan salivanya sendiri. Pandangannya terkunci oleh mata abu Nathan membuat dia benar-benar membatu. Nathan bisa merasakan deru nafas tidak beraturan Silvia, bahkan saking dekatnya dia bisa mendengar detak jantung perempuan itu yang seperti genderang perang.
"Aku pantang mencium perempuan tanpa persetujuannya. Kemarin itu pengecualian karena kamu hampir saja mati." ujar Nathan tidak melepas pelukannya pada gadis itu
Belakangan Silvia tidak mengerti dengan sikap lembut Nathan padanya. Sudah beberapa kali Nathan memeluknya seolah mereka sangat dekat, perlakuan Nathan membuat Silvia takut kalau dia akan benar-benar jatuh.
Silvia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau berada dalam pelukan Nathan membuat hati gadis itu tenang dan nyaman. Tapi, Silvia sadar akan posisinya dalam hidup Nathan, semuanya hanya masalah waktu saat nanti semuanya benar-benar berakhir.
Jangan menghapuskan jarak diantara kita Nath, karena aku tak sanggup bila harus jatuh dalam pusaranmu. Saatnya akan datang sewaktu-waktu dan aku tak kan pernah sanggup jika itu terjadi
"Cepat sembuh Silvia. " Nathan menepuk-nepuk pundak Silvia perlahan melepaskan pelukan mereka
^...^
Nathan dan Silvia kembali ke Jakarta setelah kondisi Silvia dinyatakan sudah kembali normal. Baru saja Nathan akan memasuki gerbang rumahnya, ratusan wartawan sudah berkumpul di depan rumahnya lengkap dengan perkakas mereka. Silvia cukup terkejut melihat pemandangan itu, pasalnya dia tidak tau pasti kenapa bisa ada wartawan sebanyak itu di depan rumahnya.
Nathan hanya memasang wajah dingin saat melihat gerombolan itu mulai mendekat ketika melihat mobil Nathan hendak memasuki rumah. Wartawan-wartawan itu langsung menyerbu mobil mereka, tidak perduli, Nathan tetap melajukan mobilnya mendekati gerbang rumahnya.
Silvia hanya bisa diam menyaksikan para wartawan itu meneriakkan pertanyaan-pertanyaan mereka. Lighting kamera tak henti-hentinya mengambil gambar setiap inci pergerakan Silvia dan Nathan. Ini yang Silvia tidak suka begitu juga dengan Nathan yang selama ini hidupnya dijadikan konsumsi publik.
Silvia menoleh ke samping kanannya, melihat Nathan yang masih berusaha melewati kerumunan yang mengganggu jalannya. Tatapan hangat Nathan kini sirna berganti dengan wajah dingin yang menyeramkan, wajah yang selalu dia perlihatkan ketika bertindak kasar.
Akhirnya dengan bantuan beberapa bodyguard Nathan, mobil sport berwarna biru dongker itu berhasil memasuki halaman rumah Nathan. Begitu mobil itu masuk, pintu gerbang langsung di tutup untuk menghindari ada wartawan yang nekat memasuki area rumah Nathan.
Nathan turun dari mobil dengan wajah tidak bersahabat segera mengumpulkan bodyguard nya diruang depan.
"Saya tidak mau tau gimana pun caranya, saya tidak mau melihat ada satu pun wartawan ada didepan rumah saya. Saya beri kalian waktu dua puluh menit untuk membereskan mereka semua, atau kalian semua saya pecat!" Nathan segera beranjak pergi setelah memberikan perintah tegas itu kepada bodyguard nya
Saking kesalnya. Laki-laki itu sampai tidak sadar kalau sendari tadi ada Silvia yang masih berdiri dibelakangnya. Nathan berjalan begitu saja menuju ruang kerjanya, sementara Silvia tidak berani berkata apa-apa. Dia berjalan menuju kamarnya memutuskan untuk segera istirahat.
•••
#**TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 💕**