You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA SATU | Ku Pikir Aku Bernilai



Nathan, buka sepatunya! " teriak Sivia kesal


Sepatu selalu menjadi objek pertengkaran mereka, setiap hari Nathan selalu tidur di kasurnya tanpa membuka sepatunya. Silvia sudah memperingatkan Nathan berkali-kali, tapi laki-laki itu tidak pernah mendengarkan ucapanya. 


Malam ini, cukup melelahkan menghadiri acara bisnis itu membuat Silvia harus berdiri berjam-jam dari awal acara hingga acara selesai.


"Silvia, kamu selalu mempermasalahkan hal-hal kecil. "  jawab Nathan acuh


"Yentu saja, ini kamar ku. Lagi pula, kamu kenapa masuk ke kamarku, sana pergi! "


Nathan bangkit dari posisi tengadahnya, duduk di atas ranjang sembari menyilangkan kedua tangannya dan menatap Silvis aneh. Silvia benci tatapan itu, tatapan yang selalu membuatnya membatu.


"Ini rumahku, jadi aku bebas mau tidur di mana saja. " jawabnya dengan nada tengil


Silvia mendesah lelah, memutar bola matanya malas, yang dia inginkan saat ini bukanlah perdebatan tapi tempat istirahat yang nyaman. Seluruh sendinya serasa mau lepas dari posisinya.


"Oke Up To You! '' baru saja Silvia akan beranjak pergi, Nathan tiba-tiba menariknya dan memposisikan tubuh Silvia tepat disampingnya, wajah perempuan itu sempat terbentur dengan hidung Nathan menciptakan suasana canggung untuk Silvia.


Nathan menggenggam tangannya erat, menatap Silvia lekat tanpa berkedip. Sementara Silvia malah terbujur kaku seolah tatapan itu telah menyihirnya menjadi batu.  Silvia tidak mengerti kenapa Nathan melakukan itu, akhir2 ini sikap laki-laki itu begitu hangat terhadapnya benar-benar jauh berbeda dengan Nathan yang pertama kali dia kenal. 


"Mau kemana? "


Silvia masih terdiam, namun beberapa saat kemudian perlahan memundurkan Tubuhnya dan memberikan jarak diantara mereka. Jujur saja, Silvia tidak biasa kalau harus berada didekat laki-laki, selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki manapun. 


"Aku bertanya dan kamu tau pertanyaan itu butuh jawaban."


Silvia tersadar dari lamunannya, dia menatap Nathan yang saat ini menatapnya dengan tatapan tengilnya, seperti biasanya.


"Huh? Maaf, barusan kamu nanya apa? "


"Oh my god Silvia!" Nathan menepuk dahinya, kenapa Silvia bisa sepolos itu - benaknya berpikir


"Oke lupakan pertanyaanku, sekarang aku sudah lelah dan aku mau tidur."


"Ya sudah, silakan. " Silvia kembali berdiri hendak pergi dari kamar itu, meskipun dia tau itu kamarnya tapi, seperti kata Nathan, semua yang ada di rumah ini adalah miliknya. Dan bagi Silvia itu adalah sebuah tanda agar dia pergi.


Lagi-lagi Nathan kembali menariknya, kali ini dengan sentakan yang lebih keras hingga membuat tubuh Silvia jatuh di atas tubuh Nathan. Silvia tidak bisa mengontrol mata agar tidak membulat sempurna, dia benar-benar terkejut dengan posisi dirinya saat ini.  Sementara Nathan malah tersenyum jahil seolah puas melihat rona malu di wajah Silvia. 


Baru saja Silvia hendak bangkit dan menjauh, tangan Nathan lebih dulu mengunci tangan Silvia hingga gadis itu tidak bisa bergerak sedikitpun. Dengan susah payah Silvia berusaha melepaskan genggaman tangan Nathan dari pinggangnya,  namun tidak juga berhasil. Tangan Nathan sangat kuat hingga mustahil untuk tubuh kecil Silvia melawannya. 


"Nathan! " Silvia masih belum menyerah melepaskan tangan Nathan dari tubuhnya


"Sudahlah Silvia, kamu tidak akan bisa menang dariku. Aku datang kemari bukan untuk tidur sendirian. "


Silvia mengerutkan dahinya. Apa maksud perkataan Nathan.


Nathan menarik tubuh Silvia agar berada disampingnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, dan kemudian seolah Silvia itu adalah guling, Nathan memeluknya sangat erat, meletakkan kepalanya di perut rata Silvia.  Seperti anak kecil yang memeluk ibunya, itulah Nathan.


Sementara Silvia hingga menit-menit selanjutnya hanya diam membisu merasakan pergerakan dan sentuhan Nathan diseluruh tubuhnya. Dan kalian tau?  Nathan adalah tipe laki-laki yang kalau tidur selalu berubah posisi dan anehnya, bagaimanapun perubahan posisinya, dia tidak pernah mepaskan tangannya dari tubuh Silvia meskipun laki-laki itu sudah tertidur lelap.


•••


Mentari pagi bersinar begitu cerahnya, memasuki sela-sela rumah melalui lubang-lubang kecil pentilasi udara dan jendela kaca yang memantulkan sinar cantiknya. 


Di rumah Nathan, sejak subuh tadi sudah sibuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Mulai dari membersihkan setiap sudut rumah besar itu, menyiapkan sarapan, membersihkan koleksi mobil Nathan dan menata halaman. Satu hal yang harus mereka ingat,  kalau bunga-bunga yang ada dihalaman tidak boleh mati ataupun layu. Dan itu menjadi tugas terberat bagi para gardener dirumah itu, sebab setiap pagi Nathan pasti akan memeriksa bunga-bunga itu. 


Bagi ini Silvia sudah siap dengan setelan blouse mocca dan celana jeans-nya, rambut yang di kuncir kuda dan polesan make up tipis diwajahnya dan tak lupa tas selepangnya yang berwarna hitam. Hari ini Silvia jadwal kuliah Silvia sangat padat, ada beberapa ujian yang harus dia lakukan dan beberapa tugas yang harus dia selesaikan. Melelahkan memang, dan Silvia tau hari ini akan menjadi hari yang berat  buatnya! 


"Siapa yang mengizinkan kamu kuliah? " suara bariton menyebalkan itu tiba-tiba merecokin pikiran Silvia


Tidak jauh beda dengan Silvia, Nathan sudah siap dengan setelan jas mahalnya, sepatu kulit buatan disigner ternama, jam tangan branded yang melingkar dipergelangan tangannya. Semua begitu sempurna menempel ditubuh laki-laki itu, hingga Silvia bisa menarik kesimpulan 'dia tampan'


Silvia hanya menghela nafas malas, malas untuk berdebat dengan laki-laki yang dengan terpaksa dia akui sebagai suaminya.  Entah kenapa Silvia berpikir Jik siang hari  dia san Nathan seperti putri dan penyihir, tapi ketika malam tiba mereka seperti putri dan pangerannya. Sebuah kamuflase yang sangat jauh berbeda. 


"Kita sudah membicarakan ini Nathan" Silvia menarik salah satu bangku di meja makan, bersiap untuk memulai sarapannya tanpa memperdulikan Nathan yang masih berdiri disampingnya


"Semakin lama, kamu semakin kurang ajar Silvia. Aku memperingatimu. " ekspresi wajah Nathan mulai berubah


Silvia masih tidak begitu mengacuhkan ucapan Nathan, dia masih fokus dengan sebatang roti dan selai dihadapannya.  Dan itu membuat Nathan naik darah karena merasa diacuhkan.


"Silvia kamu ingat? Kamu di sini hanya sebagai pembantu di mataku, jadi jangan coba-coba bersikap kurang ajar kepadaku! ''


Kalimat itu membuat Silvia menjatuhkan garpunya, entah kenapa kata 'pembantu'itu membuat hatinya sakit, apalagi diucapkan oleh Nathan sendiri.  Kehangatan Nathan belakangan ini membuat dia lupa kalau dia tidak lebih dari seorang pembantu di mata Nathan.  Dan Silvia menyesali itu. 


"Dan Silvia... " ucapan Nathan terpotong oleh ucapan Silvia


"Cukup! Kamu tidak perlu menjelaskan deskripsi pembantu padaku, aku sudah cukup tau posisiku di matamu." Silvia bangkit dari duduknya


"Bahkan kursi ini tidak pantas untuk aku duduki, apalagi duduk semeja denganmu. " mata Silvia mulai berkaca-kaca, namun dia berusaha kuat dan tegar dihadapan Nathan, meski laki-laki itu tau Silvia sedang berusaha mengimbanginya


"Apa sekarang aku juga harus memanggilmu tuan Nathan? "lanjutnya


Masih dengan sikap dingin dan nada berwibawanya, Nathan berusaha membuat Silvia mengerti maksud dari ucapannya.


"Bukan itu maksud perkataanku Silvia."


"Baiklah, mulai sekarang aku adalah pembantumu tuan Nathan. Terimaksih sudah mengingatkan posisiku di rumah ini, kalau aku tidak jauh berbeda seperti pelayan-pelayanmu. "  Silvia berbalik, beranjak dari hadapan Nathan. Namun,  tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya dan menghentikan langkahnya


Pelayan itu membawa sebuah nampan yang berisi susu hangat yang beberapa menit yang lalu diminta oleh Silvia. 


"Nyonya, ini susunya. " ucapnya dengan sopan


Dengan wajah memendam amarah Silvia memperingati pelayan itu, "mulai sekarang jangan panggil aku Nyonya!" Silvia berlalu meninggalkan pelayan itu. 


Nathan meremas kepalanya, dia tidak menyangka kalau Silvia akan sesensitif itu dengan ucapannya dan sekeras kepala itu. Perempuan itu tidak bisa mengontrol amarahnya, itu adalah satu point yang dapat ditangkap oleh Nathan dari sikap Silvia barusan. 


Jujur, Nathan tidak berniat untuk mengatakan hal itu. Bukan tujuannya untuk mengingatkan Silvia tentang perjanjian bodoh itu, Nathan hanya ingin Silvia mendengar ucapannya dan tidak mengacuhkannya.  Semua orang juga tau kalau selama ini tidak ada seorangpun yang berani mengacuhkannya. 


•••


Sesampainya di kamar, Silvia mengganti bajunya, dia telah memutuskan kalau dia tidak akan kuliah lagi sampai perjanjian bodoh ini berakhir. Satu tahun, dia harus menunggu untuk kembali meneruskan kuliahnya. Hidup bersama laki-laki berhati batu itu sudah membuat kepalanya seakan meledak dan Silvia ingin segera mengakhiri semua ini. Perjanjian itu dan Nathan. 


•••


■■■TBC■■■