
Silvia memasuki kamarnya dengan mata yang di penuhi air mata. Dia tidak tau kenapa dia menangis? Harusnya ini tidak boleh terjadi, harusnya dia sadar kalau pernikahannya dengan Nathan hanyalah sebuah perjanjian bisnis untuk melunasi hutang-hutang Ayahnya.
Tapi, entah kenapa saat melihat Nathan dan perempuan itu membuat hatinya sakit dan dadanya sesak. Apa dia cemburu? Tidak. itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh ada perasaan diantara dia dan Nathan, Nathan hanyalah status untuknya.
Tidak mungkin seorang Nathan akan jatuh cinta padanya. Tidak mungkin!
KLEETEKK....
Cepat-cepat Silvia mengapus air matanya ketika mendengar suara langkah kaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik Nathan. Belakangan ini, Silvia sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Nathan, sedikit demi sedikit Silvia sudah mengenal kepribadian laki-laki itu walaupun tidak semuanya.
Nathan duduk tepat di belakang Silvia, di pinggir ranjang besar kamar itu. Beberapa menit pertama, laki-laki itu hanya terdiam dan mengamati punggung Silvia yang memilih membelakanginya meskipun wanita itu tau kedatangannya.
Entah kenapa Nathan merasa sangat bersalah, hatinya tidak tenang sebelum mendengarkan suara Silvia. Kenapa dia harus peduli? Bukankah pernikahannya hanyalah sebuah formalitas dan perjanjian? Tapi, tidak bisa dipungkiri hatinya tetap merasa kalau dia sudah menyakiti wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya.
"Silvia..." dengan nada hati-hati, Nathan berusaha membuka pembicaraan
"Tinggalkan aku sendiri!" Dingin. Itulah jawaban yang didapat Nathan dari mulut Silvia
Nathan memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan ke arah tembok, seolah di tembok itu ada pemandangan yang sangat indah.
"Silvia, bukan kah menurutmu ini terlalu berlebihan?" Nathan melempar pertanyaan tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Yaa...maksudku, kita ini kan hanya-"
"Pura-pura! Iya aku tau itu, kamu tidak perlu mengingatkan ku tentang semua itu." Jawab Silvia dengan nada ketus
Nathan mengangguk-angguk, "lalu, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"
Silvia paham akan sindiran Nathan. Ya, Nathan memang benar, tidak seharusnya dia menangis seperti ini. Tapi, apa salah juga jika dia menangis? Bukankah dia juga seorang wanita, meski semua ini pura-pura tapi, baginya pernikahan bukanlah sebuah permainan.
Silvia berbalik memandang kearah Nathan, "kamu sendiri sedang apa? Untuk apa datang kesini? Untuk apa kamu perduli?"
Nathan terdiam. Dia menatap Silvia dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Apa Silvia salah bicara.
"Dengar Tuan Nathan Alexander yang terhormat, mungkin bagi anda semua ini hanyalah perjanjian di atas kertas, tapi bagiku pernikahan bukan main-main. Terserah anda menganggap seperti apa, tapi aku tidak akan pernah merubah pandanganku."
Kalimat tegas yang diucapkan Silvia, berhasil membuat Nathan kehabisan kata-kata. Laki-laki dengan paras memukau itu, bisa melihat amarah dan keteguhan hati dari balik mata Silvia. Sebelumnya, Silvia tidak memiliki keberanian untuk berhadapan dengannya, tapi hari ini dia melihat sisi lain dari diri Silvia.
"Baik. Terserah kamu Silvia. Tapi, ingat, aku tidak akan bertanggung jawab jika hatimu terluka, karena semua itu adalah pilihanmu sendiri."
Suasana berubah menjadi tegang dan mencekam. Kedua orang itu saling berhadapan dan beratu tatap satu sama lain. Ada rasa yang tidak bisa dideskripsikan di balik tatapan mereka.
"Orang seperti anda tidak akan pernah mengerti!"
Silvia meninggalkan ruangan dengan penuh amarah, meninggalkan Nathan dengan segala kebingungan. Apa maksud perkataan Silvia tadi? Orang seperti dirinya?
||■■■||
Padatnya kota Jakarta tak menyurutkan niat laki-laki itu untuk mengunjungi kediaman orang tuanya. Setelah sekian lamanya tidak menginjakan kaki di rumah besar bergaya spanyol itu, akhirnya hari ini dia memutuskan untuk berkunjung dengan banyak pertimabangan.
Laki-laki bertubuh tinggi, kuĺit putih dan berparas menawan itu, adalah Mario Devano, Pengusaha sukses di bidang teksil. Dia adalah salah satu pengusaha yang diperhitungkan se-Asia Tenggara. Setelah menyelesaikan pendidikannya, dia memutuskan untuk menerusakan perusahaan milik Papa-nya.
Namanya cukup dikenal dikalangan para pembisnis sukses lainnya. Meskipun, pamor seorang Mario baru mencapai asia tenggara, namun majalah-majalah terkenal sudah memulai memuat informasinya dan bahkan Mario beberapa kali sempat menjadi cover majalah ternama.
Dengan pembawaan maskulinnya, Mario turun dari mobil marcedez biru dongker miliknya. Itu adalah mobil keluaran terbaru yang harganya setara dengan tiga rumah mewah dikompleks perumahan tempat tinggalnya.
Dia berhenti sejenak, merapikan jas hitam mahalnya dan dasi berwarna senada. bibirnya sedikit tertarik, dia membuka kaca mata hitamnya dan melemparkan pandangannya kesekeliling rumah besar dihadapannya.
"Masih tetap sama. Nyaman dan damai." bisiknya
Dia melangkah dengan penuh irama, membuka pintu utama dan kemudian masuk. Suasana di rumah itu sepi, dari luar tampak seperti tidak berpenghuni, di sepanjang ruang tamupun sepi dan lengang, tidak ada orang sama sekaĺi disana.
Mario tidak heran, dia tau dimana dia harus menemui orang ruanya. Dia terus berjalan hingga kebelakang bagian rumah itu. Ada sebuah paviliun kecil yang terletak di tengah-tengah taman belakang, paviliun bercat putih bersih dengan jendela kaca yang mengintarinya. Tampak sangat indah dan elegant.
Mario berjalan mendekati paviliun, benar saja dugaannya. Seorang laki-laki setengah baya, namun terlihat masih muda dan tampan, tengah asik melukis di atas sebuah kanvas putih berukuran sedang. Dia tampak sangat serius hingga tidak menyadari kedatangan Mario di sana.
Di dalam paviliun itu di penuhi dengan ratusan lukisan dengan berbagai macam tema, cerita dan warna. Dinding-dinding di penuhi dengan karya buatan tangannya, bahkan membuat beberapa lukisan harus dijajarkan dibbawah lantai karena dinding sudah kehabisan kapasitasnya.
"Seberapa banyak Papa akan mengumpulkan lukisan-lukisan itu? Sampai ruangan ini penuh?"
Laki-laki itu menatap terkejut dan kemudian sumringah, "Marioo putraku..." dia berdiri dan kemudian memeluk Mario dengan penuh semangat dan kerinduan yang mendalam.
"Apa kabar Pa? Papa sehat kan?"
"Dasar anak durhaka, kamu meninggalkan Papamu sendiri setelah sekian lama dan sekarang datang tanpa mengabari Papa." dia menampar pelan pipi putranya.
Mario hanya tersenyum tak bersalah.
Laki-laki itu kembali duduk dan melanjutkan kegiatannya.
"Baru saja. Papa tenang saja, mulai sekarang aku tidak akan kemana-mana."
"Benarkah?"
Mario mengangguk, "Mario sudah memutuskan untuk tinggal di indonesia."
"Bagus itu! Seharusnya sejak dulu kamu dengerin nasehat Papa."
Tiba-tiba tangan Tuan Devano berhenti bergerak di atas kanvas, wajahnya tiba-tiba berubah murung. Dia teringat sesuatu, setiap kali melihat Mario dia selalu teringat dengan sosok itu. Sosok tangguh yang sekarang menjauh.
"Ada apa Pa?"
"Its okay! Papa baik-baik saja." Tuan Devano berusaha tersenyum dihadapan putranya.
Dia tidak ingin Mario tau kalau sampai detik ini, dia masih mengharapkannya kembali. Devano tau betul bagaimana karakter anak-anaknya, dia tidak ingin membuat keributan lagi. Cukup saat itu saja!
"Oya pa, Roy dimana?"
"Ahhh... kamu seperti tidak tau adikmu saja. Dia itu tidak akan pulang sebelum pekerjaannya benar-benar selesai. Kadang Papa berpikir untuk meledakan kantor itu supaya dia pulang."
Mario tertawa,"bagus dong Pa, itu tandanya dia itu pekerja keras. Papa harusnya bangga."
"Iya. Papa selalu bangga dengan anak-anak Papa, tapi adik kamu itu lohh...aduhh ampun deh! Papa bingung ngadepin dia." Ryan mengerutkan dahinya sembari meletakkan kuasnya diatas meja. Tangan kanannya menaikkan kaca matanya yang melorot hingga hidung.
"Iya udah Papa tenang aja, nanti Mario coba bicara sama dia." ujar Mario memeluk bahu kiri Papanya dan tersenyum manis kearah laki-laki setengah baya itu, berusaha menenangkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
________
Sebuah sedan hitam meluncur dengan kecepatan tinggi dan berhenti didepan halaman rumah dengan rapi, persisi seperti pembalap yang berhasil memasuki garis finish.
Si pemilik mobil itu pun kemudian keluar dengan busana serba hitamnya, dia bersiul-siul riang sembari memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuknya. Dia melangkahkan kakinya dengan irama lagu yang sedang dia senandungkan lewat siulannya.
Langkahnya terhenti, oleh seseorang yang menghalangi jalannya.
"Ettt.... mau kemana?" Mario memberi isyarat untuk berhenti
"Mario? Loe udah balik?" katanya dengan ekspresi wajah terkejut bercampur bahagia dan kemudian memeluknya beberapa detik.
"Iya, seperti yang loe liat." Laki-laki itu tersenyum bahagia.
"Baguslah. Jadi, sekarang Papa nggak bakal ceramah lagi setiap pagi. Ngebosenin banget."
"Roy, loe darimana aja? Jam segini baru pulang, pantes aja Papa ngomel terus."
Roy memutar bola mata malas, "ahhh... loe sama aja kayak Papa." Roy berjalan melewati Mario, mengacuhkan ucapan Mario.
"Ehhh...gue belum selesai bicara! ROY!" Mario menghela nafas kesal dan mengikuti Roy hingga ke kamarnya. Hari ini ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Roy.
"Apalagi sih Riooo? Ganggu aja! Gue mau tidur! Capek! Keluar dari kamar gue!" gerutunya kesal.
"Ada yang mau gue tanyain sama loe." Nada suara Mario berubah serius, membuat Roy penasaran dan bertanya-tanya.
"Soal apa?" Roy menatap kakaknya lekat
"Soal---"
"Tunggu," Roy memotong kalimat Mario, sepertinya dia tau kemana arah pembicaraan mereka. "Kalau loe mau nanyain soal DIA, gue nggak mau bahas itu sekarang. Lagian ngapain sih loe masih aja nanyain ******** itu, buang-buang waktu!"
Mario menghela nafas, "Roy, jaga ucapan loe. Biar gimanapun, dia itu tetep---"
"Udalah yo,"
"Roy, loe tau sendiri sampai sekarang Papa masih suka mikirin anaknya. Sampai kapan kita akan bermusuhan seperti ini, sudah bertahun-tahun. Semua ini salah paham."
Ekspresi wajah Roy berubah drastis, dia membuang pandangannya dan menghela nafas berat. Dia tidak habis pikir, kenapa kakaknya itu bisa semudah itu mengucapkan kata-kata itu.
"Asal loe tau, orang itu nggak bisa diajak ngomong. Loe tau kan, dia orangnya kayak gimana? Sampai kapanpun dia nggak akan mau dengerin kita. Sama Papanya sendiri dia nggk peduli, lalu untuk apa? Udalah yo, gue malahan berpikir untuk membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Loe nggak lupa kan dengan apa yang udah dia lakuin sama Mama?"
Apa kata Roy memang ada benarnya juga, tapi jujur Mario tidak tahan jika melihat Papanya setiap hari bersedih dan merasa bersalah karena kejadian dimasa lalu. Biar bagaimanapun juga kesalahpahaman yang terjadi bertahun-tahun lamanya, harus segera diluruskan. sebenarnya, dari lubuk hati terdalamnya, dia masih berharap suatu hari keluarganya kembali harmonis dan bisa berkumpul lagi, meski dia tidak tau entah kapan itu.
■■■TBC■■■