
Nathan memijat pelipisnya dengan tangan kanannya yang bertumpu di atas meja kaca yang biasa menemaninya menyelesaikan tumpukan dokumen-dokumen. Rasanya kepalanya akan segera meledak karena kelebihan kapasitas. Sampai detik ini dia belum bisa menemukan jalan keluar untuk menutupi kerugian perusahaannya, sementara tidak lama lagi akan diadakan rapat direksi dengan semua pemilik saham.
Kepala laki-laki berdarah campuran itu tidak juga menemukan titik terang, belum lagi masalah media yang mulai menyebar hingga berita internasional khususnya Asia. Pamornya yang begitu gemilang, menyebabkan masalah kecil dalam kehidupannya mengakibatkan kerugian besar. Para wartawan sialan yang pada dasarnya tidak menyukai Nathan lantaran sikap arogan laki-laki itu, membuka kesempatan untuk membalas dendam kepadanya.
Itu benar-benar strategi yang bagus dan tepat-pikir Nathan, dia pasti akan membalas semua perbuatan wartawan-wartawan yang menjadikan dirinya ladang rezeki. Tiba-tiba ponselnya berdering, tidak ada nama yang tertera di layar ponsel itu, dengan malas Nathan mengangkatnya.
"Halo...."
"Hallo Brother...." terdengar suara riang dari seberang sana. Tak perlu waktu lama, Nathan sudah tau siapa pemilik suara itu.
Tubuhnya menegang, matanya menatap tajam seolah orang yang meneleponnya saat ini sedang berada di hadapannya.
"ENYAHLAH!" suara berat Nathan mengubah atmosfer ruangan itu begitu mencekam.
"Wow...Woww... santai Brother. Jangan emosi seperti itu, rilex" katanya sembari tertawa mengejek
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni ******** seperti dirimu." Nathan mengepalkan tangannya semakin erat
"Aku tau kau sedang amat kebingungan sekarang. tapi, bukankah tidak baik melampiaskan pada adikmu ini, kak?" dia semakin berani mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak ingin di dengar oleh Nathan
"PERSETAN!"
Tawanya semakin keras, seolah puas telah membangunkan singa tidur dalam diri laki-laki itu.
"Tadinya, aku ingin menawarkan sebuah bantuan, tapi melihat sikapmu seperti ini, siapa yang mau membantumu?" katanya sombong
Nathan tertawa sumbang, "DENGAR! NATHAN ALEXANDER TIDAK PERNAH MENERIMA BANTUAN DARI PENGHIANAT MANAPUN!"
Tutt....tuttt...
Nathan memutuskan sambungan teleponnya dan seperkian detik kemudian membanting ponselnya hingga menjadi kepingan-kepingan tak berguna. Kalau saja saat ini ******** itu ada di hadapannya, mungkin bisa di pastikan laki-laki itu akan terkapar berbulan-bulan di rumah sakit. Nathan tidak akan pernah lupa dengan semua kejadian dimasa lalu yang telah dilakukan ******** itu dan keluarganya. Hingga darah penghabisan pun Nathan tidak akan pernah sudi memaafkannya apalagi menjalani hubungan dengannya.
*FLASBACK
Saat itu Nathan baru duduk di bangku kelas 1 SMA di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Dia adalah anak pintar dan pendiam disekolahnya, jarang bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman\-temannya, namun Nathan adalah anak yang berbakat. Nilai akademik dan non akademiknya sama bagusnya.
Sebelumnya Nathan adalah anak yang aktif dan penurut, namun setelah keluarganya hancur berantakan dan Ibunya meninggal, dalam sekejam semua itu merubah jati diri Nathan yang sebenarnya. Dia menjadi siswa yang suka menyendiri dan cuek pada lingkungannya menyebabkan dia tidak punya teman satu pun. Nathan juga tidak pernah tertarik menjalin hubungan apa pun, persahabatan ataupun yang lainnya, hanya buku\-buku tebal yang menjadi teman perjalanannya sejak remaja. Masa remajanya berlalu begitu saja tanpa konflik\-konflik keremajaan, banyak hati yang dia patahkan karena sikap dan tingkah lakunya. Sejak saat itu Nathan hanya punya kakeknya sebagai tameng kehidupan.
Sore itu Papanya datang untuk menjemputnya, dengan terpaksa Nathan ikut. Walau rasa marah dan dendam masih dia simpan sampai saat itu, di mana baginya sudah tidak ada orang lagi yang bisa dia sebut sebagai Papa. Bagi Nathan, Papanya sudah lama mati terkubur bersama rasa sakit yang telah membuat hatinya mati rasa. Matanya sibuk mengamati jalanan dari luar jendela, memandang setiap pemandangan yang di lewatinya, baginya benda\-benda mati yang berjejer di jalan itu jauh lebih menarik daripada mendengarkan ocehan laki\-laki di sampingnya.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah bergaya Spanyol tepat ketika senja menghiasi langit Jakarta. Rumah itu begitu bercahaya dihiasi dengan lampu hias remang\-remang yang mengeluarkan cahaya oranye. Rumah besar meski tak sebesar rumahnya, namun menciptakan kehangatan bagi siapa pun yang memandangnya. Kehangatan yang tidak pernah menghiasi rumahnya yang mewah bak istana itu.
"Ayo masuk Nath." Dengan lembut Papanya menatapnya dengan penuh kasih sayang
Namun sebaliknya, Nathan malah melemparkan tatapan tajam yang menunjukkan ke tidak sukaannya. Sadar akan ekspresi putra sulungnya itu, laki\-laki yang saat itu berumur kepala tiga langsung memalingkan wajahnya dan berjalan menuju pintu utama.
Tidak perlu mengetuk. Pintu itu tidak dikunci.
Baru dua langkah Nathan melangkahkan kakinya, seorang anak laki\-laki berusia 10 tahun berlarian ke arahnya dan memeluk kakinya. Wajah Indonesianya yang tampan layaknya pribumi asli, membuat perbedaan yang kontras dengan wajah campuran miliknya
"Kakak......akhirnya aku bisa ketemu kakak juga. Aku senang banget, tau enggak Papa selalu cerita tentang kakak. Katanya kakak pintar main basket dan main piano, kakak mau kan ngajarin aku?"
Nathan mematung, memandang ke arah Papanya yang menatapnya dengan tatapan memelas.
"Nathan... Papa\-" belum sempat Papanya menjelaskan, seorang wanita cantik berdarah Asia dengan memakai dress anggun menghampiri mereka dengan senyum merekah di bibirnya.
Dan hari itu Nathan mengerti kenapa Papanya meninggalkan dia dan mamanya.
Flashback off*
TAKK....TOOKKK...TAKK...TOOK...
Suara highheels setinggi tujuh sentimeter itu mengetuk lantai rumah besar milik Nathan. Dia Alexa, gadis cantik yang memilik tubuh super model itu adalah sekretaris pribadi Nathan sekaligus cucu teman kakeknya yang kebetulan juga dulu satu universitas di London dengannya.
Langkahnya anggun, jalannya menyilang, rambut panjangnya digerai dan dress ketat berwarna merah darah yang melekat ditubuhnya, menampilkan setiap lekukan tubuhnya yang bagaikan gitar Spanyol, ditambah lagi dengan wajah cantik dan seksinya, membuat laki-laki mana pun akan bertekuk lutut padanya. Kecuali Nathan.
Ya, sejak dulu Alexa tidak pernah berhasil menaklukkan satu laki-laki spesies langka menurutnya. Segala upaya yang telah dia lakukan untuk memikat hati Nathan tidak pernah berhasil dan sia-sia. Tapi, bukan Alexa namanya kalau dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Langkahnya berhenti tepat di ruang kerja Nathan. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung memasuki ruangan itu seolah rumah itu adalah miliknya. Itu adalah salah satu ke tidak sopanan yang melekat pada dirinya. Di sana di meja kerjanya, Nathan tengah tertidur pulas, dengan melipat kedua lengannya sebagai bantal. Tampak sangat kelelahan, terlihat dari laptopnya yang masih menyala dan kertas-kertas dokumen yang berantakan di atas mejanya.
Alexa berjalan mendekat, dengan langkah anggunnya menghampiri Nathan yang masih belum menyadari kedatangannya. Dia berdiri di samping kiri Nathan, jari-jari rampingnya menyentuh pundak laki,-laki itu dengan sentuhan sensual. Tubuh Nathan hanya mengelit namun, matanya masih tertidur pulas.
Dengan langkah nekat, Alexa mendekatkan bibirnya di pipi Nathan dan menciumnya tanpa rasa malu. Hal itu langsung membuat Nathan bangun dan menatap terkejut ke arah Alexa, menatap sekretarisnya dengan ekspresi tidak suka.
"Apa yang kau lakukan Alexa?"
Alexa hanya mengedikkan bahu dan tersenyum dengan wajah tak bersalah. Dia berjalan memutari meja Nathan dan duduk di sebuah kursi di depan meja kerjanya. Dia menyilangkan kedua kakinya, hingga memperlihatkan pahanya yang putih, kemudian sedikit menunduk memperlihatkan belahannya yang menjadi aset berharganya. Namun semua itu tidak sedikit pun membuat Nathan tergoda, baginya Alexa bukan apa-apa. Dia tidak membutuhkan wanita liar seperti Alexa yang hanya akan merusak hubungan orang lain.
"Selamat pagi babe, sepertinya kamu kecepaan mengerjakan semua berkas-berkas ini. Bagaimana kalau kita bersantai sebentar?"
Nathan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menatap Alexa dengan tatapan meremehkan, dia tersenyum miring dan menyilangkan kedua kakinya.
"Alexa, kau tau semua itu sia-sia. Kau tidak akan pernah berhasil dan lebih baik kau praktikkan semua itu pada laki-laki lain. "
Alexa tetap mempertahankan senyumnya sebagai tanda kalau dia tetap teguh pada pendiriannya dan tidak akan pernah mundur selangkah pun dari tujuan awalnya. Kadang-kadang Nathan juga tidak habis pikir dengan perempuan yang satu ini karena bertahun-tahun mencoba mendekatinya dengan pesona memikatnya, segala cara dia lakukan, tapi sedikit pun Nathan tidak pernah memandangnya.
"Kenapa? Apa kamu takut kalau pada akhirnya kamu jatuh ke pelukanku dan kalah karena pesonaku?" dengan sombong dan penuh percaya dirinya Alexa menatap penuh menggoda ke arah Nathan
Nathan tersenyum miring, "Kau tau seleraku sangat tinggi, aku tidak suka memakai barang-barang yang sudah dipakai, kau tau seperti barang bekas." Ucap Nathan tanpa memikirkan perasaan Alexa
Rona wajah Alexa langsung berubah drastis, antara malu dan marah tidak bisa didefinisikan dengan jelas, yang pasti saat ini wajahnya tidak secerah beberapa menit awal yang lalu. Rasa jengah menyelimuti wajah cantiknya, Alexa kehabisan kata-kata namun matanya tetap beradu dengan sepasang mata dingin di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, Alexa tersenyum kembali, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Nathan. Dengan beraninya dia duduk di pangkuan Nathan dan memberikan gerakan-gerakan sensual di bagian tubuh laki-laki itu. Nathan tidak bereaksi sedikit pun, dia hanya diam dan membiarkan Alexa melakukan apa pun yang dia mau. Hanya senyuman meremehkan yang Alexa dapat dari Nathan, laki-laki itu benar-benar tidak terpengaruh dengan aksi Alexa.
"Baiklah. Kita lihat, apakah kau bisa menolak ini."
Dengan gerakan tiba-tiba, Alexa mencium Nathan, aksi beraninya itu membuat Nathan tidak siap dan gelagapan menerima serangan frontal itu,
Mereka berdua terhanyut dalam atmosfer rasa yang membuat mereka seolah berada dalam dunianya sendiri. Beberapa lama Nathan terlena, dia mengakui Alexa adalah perempuan yang nikmat dan pandai berciuman, namun sedetik kemudian Nathan sadar kalau Alexa bukanlah orang yang dia inginkan.
PRANGGGGGGKKKKKKKKK.....
Suara benda jatuh itu mengagetkan mereka sekaligus menghentikan ritual mereka. Tidak jauh dari pintu, Silvia berdiri mematung sambil memegang nampan yang sudah kosong di tangannya. Silvia tidak bisa berkata-kata, apa yang dia lihat barusan benar-benar membuatnya terkejut dan tidak tau harus melakukan apa. Nathan dan Alexa langsung bangkit dan memisahkan diri. Mata Nathan melotot karena tidak menyangka akan ada Silvia di ruangan itu, sementara Alexa hanya tersenyum puas dan bangga. Itulah yang dia inginkan, bagus baginya jika hal itu terjadi.
"Maaf." lirih Silvia tersadar dan langsung berlutut untuk memungut sisa-sisa pecahan gelas yang tadi dia jatuhkan.
Nathan mendorong Alexa menjauh dan berjalan mendekati Silvia.
"Silvia, apa yang kamu lakukan?"
"Maaf kalau aku mengganggu waktu kalian, tadinya aku hanya ingin mengantarkan kopi ini." lirih Silvia dengan suara yang hampir tidak terdengar. Entah kenapa, Silvia merasa hatinya sakit sekali, membuatnya sulit bernafas. Dia berperang melawan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Nathan dan juga perempuan itu.
"Babe...biarkan saja dia." Alexa berusaha memperkeruh suasana.
Nathan menoleh dan menatap marah ke arah Alexa, namun pandangannya kembali fokus pada Silvia.
"Aku permisi dulu." sembari menunduk, Silvia berbalik bersiap untuk pergi dari tempat menyakitkan itu.
"Tunggu Silvia.." Nathan menahan tangan wanita yang saat ini menyandang status sebagai istrinya.
"Sudahlah sayang, biarkan dia pergi." Alexa tiba-tiba memeluk tangan kiri Nathan dan bersandar di sana, membuat Silvia semakin sakit melihat pemandangan itu.
"ALEXA! LEPASKAN TANGANKU!" dengan keras Nathan mengentakkan tangan Alexa menjauh, "LEBIH BAIK KAMU PERGI DARI SINI SEKARANG!"
"Permisi..." Silvia meninggalkan ruangan itu.