You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN SATU | Sebuah Petisi Perusak Masa Depan



SEMUAnya seperti mimpi bagi Silvia, melepas masa lajangnya di usia yang baru menginjak 20 tahun, usia yang terbilang masih muda untuk membina hubungan rumah tangga.


Namun, hal itu harus di jalaninya meskipun hal itu tidak diinginkannya. Silvia masih mencintai dunianya sendiri, dia masih senang menikmati masa mudanya. Sampai akhirnya, kabar itu datang. Kabar yang mengharuskannya untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal, yang bahkan belum pernah di temuinya sekalipun.


Ibunya hanya memberikannya sebuah foto yang menggambarkan seorang laki-laki tampan dengan jas ungu yang tampak sangat mahal dan modis.


Silvia akui dia tampan tapi, sebatas itu pengetahuanya tentang calon suami yang bahkan namanya tidak Silvia tau.


Lantaran orang tuanya memiliki hutang, dia harus mengorbankan masa mudanya dan masa depannya yang masih panjang. Menjalani sepanjang hidupnya dengan orang yang tidak ia cintainya.


Dalam sekejap hutang budi itu menghancurkan impian cinta Silvia. Impian yang selama ini dia bangun di setiap menjelang tidurnya. Impian tentang seorang gadis yang menginginkan cinta sempurna, cinta yang membuatnya begitu bahagia. Bukan cinta yang hanya kamuflase belaka, dan sebuah pernikahan yang hanya di dasari oleh sebuah hutang.


Silvia tidak pernah membayangkan hal sekeji itu, istana-istana mimpinya kini telah hancur menjadi pecahan yang tak lagi bernilai.


Dan hari itu Silvia Ningrum mengubur impian cintanya jauh di dasar samudra paling dalam di hatinya. Dia menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang impian dan mimpi. Karena sejatinya kita hidup dalam dunia yang penuh dengan realita yang kejam.


••••


Cuaca cerah menyelimuti kota Jakarta, matahari  tidak begitu menyengat siang ini dan udara juga tidak begitu dingin. Benar-benar pelengkap alam yang amat di dambakan semua orang.


Di sebuah cafe kecil di pinggiran kota terlihat seorang gadis tengah  mengetuk-ngetuk meja dengan jemari lentiknya, ia menatap ke luar jendela, wajahnya berkerkerut di topang oleh sebelah tangannya. Dia tampak sangat frustrasi hari ini.


Cafe the mulia adalah tempat favoritnya yang selalu dia kunjungi setelah pulang dari kampus. Tak heran jika pegawai di sana sudah familiar dengan dirinya.


Dia Silvia Ningrum, gadis berusia dua puluh tahun yang saat ini mengenyam pendidikan di fakultas seni indonesia.


Gadis yang gemar menari sejak kecil yang bahkan menjadikan seni tari sebagai bagian dari dirinya.


Sejak kecil dia adalah anak yatim piatu, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Sementara kakak perempuannya memilih mengakhiri hidupnya karena suatu alasan yang tidak bisa dia ungkapkan.


Selama itu, Silvia di titipkan pada sebuah keluarga yang saat ini menjadi orang tua angkatnya yang sudah merawatnya sejak kecil dan membiayai semua keperluan hidupnya. 


"Menikah?" 


Bukan main terkejutnya Silvia saat mendengar tutur kata dari kedua orang tua angkatnya.


Ibu dan Ayahnya yang selama ini membesarkannya dengan sepenuh hati hanya bisa tertunduk sedih. Mereka juga sebenarnya tidak mau mengorbankan Silvia, bagaimanapun bagi mereka Silvia tetaplah anak yang amat mereka sayangi.


Tapi, keadaan memaksa mereka untuk melakukannya. Mereka tidak punya pilihan lain, meski mereka tau ini bukanlah keputusan yang bijak.


"Maafkan kami Silvia tapi, kami tidak punya cara lain. Ini satu-satunya jalan untuk melunasi hutang kita pada keluarga Bagaskara."


"Tapi, tidak dengan menikah Bu. Kita bayar saja dengan uang, Silvia bisa kok mencari pekerjaan sampingan lain untuk membantu melunasi hutang kalian."


Ayahnya mendesah, "nak, kamu pikir dari mana Ayah mendapatkan uang untuk sekolah kamu dan membangun usaha pabarik gula itu?"


"Bukannya hutang harus dibayar dengan uang? Tidak harus dengan pernikahan."


"Hutang itu tidak sedikit, Ayah tidak sanggup melunasi hutang seratus milyar belum lagi bunga-bunganya. Dan Ayah juga sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian itu."


Saat itu dunia Silvia seakan di ambang kehancuran. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, disisi lain dia tidak mau menyanggupi perjanjian itu tapi, disisi lain juga dia tidak bisa membiarkan orang yang amat berjasa dalam hidupnya menderita.


Biar bagaimana pun saat ini hanya Silvia yang mereka bisa andalkan.


Silvia menggelengkan kepalanya berulang-ulang berusaha menyadarkan diri dari lamunannya.


Dia mengacak rambut panjangnya frustrasi. Tidak memperdulikan bagaimana penampilannya sekarang.


Kata itu bahkan tidak pernah ia sebutkan selama dua puluh tahun ia hidup. Dan sekarang, apa? Dia harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak dirinya kenal.


Takdir macam apa ini?


Rasanya Silvia ingin berteriak pada dunia agar semua orang tau kalau dia belum siap menikah. Dia bahkan tidak pernah kepikiran akan menikah di usia muda seperti ini. Sampai sekarang pasangan saja dia belum punya dan sekarang seorang laki entah berantah akan menikah dengannya.


"Aaarrgggghhhhhhhh...."


Teriaknya tanpa sadar, membuat penghuni cafe menatap ke arahnya.


"Ini hot chocolate-nya." seorang pelayan cafe meletakkan cangkir putih dan makanan pendamping dimeja Silvia


"Terimakasih." jawab Silvia acuh tak acuh


"Anda baik-baik saja, kan?"


"Huh?" Silvia menoleh, ia baru sadar kalau pelayan itu belum beranjak dari mejanya.


Pelayan itu pasti menganggapnya aneh, apalagi dengan sikap gila yang baru saja ia lakukan.


"Saya tidak apa-apa."jawab Silvia dengan senyum malu


Pelan itu mengangguk dan pamit pergi. Saat itulah Silvia benar-benar malu sampai harus menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


 


Silvia berjalan dengan langkah gontai memasuki sebuah rumah sederhana yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.


Hari ini menjadi hari yang benar\-benar kacau untuknya. Berkali\-kali ia berpikir ulang tapi, tetap saja dia tidak bisa menemukan jalan keluar apapun. Lagi pula darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk melunasi semua itu?


Apa takdir akan benar\-benar sekejam ini padanya dengan membiarkannya mengorbankan masa depannya?


Di ruang tengah, tampak seorang laki\-laki dan perempuan paruh baya sedang menunggu kedatangannya, membuat Silvia kembali harus menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya.


"Kamu sudah pulang, sayang?" wanita setengah baya yang tak lain adalah ibu angkatnya itu menghampiri Silvia


Mereka kemudianduduk di sofa di sebelah laki\-laki yang hampir seumuran dengan ibunya. Itu Ayahnya.


"Maafkan kami, sayang. Kami tidak bisa melakukan apa\-apa dan malah mengorbankan kamu demi melunasi hutang\-hutang itu."


"Ayah sudah memutuskan, kamu tidak perlu menikah. Ayah akan menerima tuntutannya saja dan meminta keringanan hukuman pada keluarga Bagaskara."


"Maksud Ayah penjara?"


Ayahnya mengangguk.


"Mereka akan melaporkan masalah ini ke polisi kalau Ayah menyalahi kontrak perjanjiannya."


"Tidak! Aku tidak setuju." Silvia menggeleng keras, dia diam sejenak. "Aku bersedia menikah." lanjutnya lagi


Pernyataan Silvia mengejutkan kedua orang tuanya, mereka tidak menyangka kalau Silvia menyanggupi semua itu. Ada rasa lega mengalir di dada mereka.  mereka tidak bisa membanyangkan kalau keluarga Bagaskara akan murka pada keluarganya.


■■Tbc■■