You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA DUA | Rasa Yang Pernah Timbul



Perlahan Nathan mulai berhasil membangkitkan kembali perusahaannya yang sempat mengalami kerugian besar karena membatalkan pertemuannya dengan pangeran William. Dia berusaha menumbuhkan kembali kepercayaan para relasinya dan juga investor perusahaannya, baik dalam atau pun luar negeri.  Bukan hal yang mudah untuk meyakinkan para pembisnis besar itu, karena memang mereka juga tidak ingin begitu saja percaya pada orang yang salah dan pada akhirnya akan menyebabkan kerugian pada mereka. 


Namun, Nathan berhasil melakukan itu semua, bukan hanya karena nama perusahaannya yang sudah dikenal, tapi juga karena kinerja dan kepandaiannya dalam berbisnis.  Hal itu membuat para pembisnis muda maupun pembisnis senior memuji kinerjanya dan diam-diam mengagumi Nathan. Namun, tak jarang juga para pembisnis yang iri padanya dan berusaha menjatuhkannya dengan berbagai cara mereka.


Pagi ini sesuai dengan scedule yang dibuat oleh sekretarisnya, Nathan meninjau perkembangan disalah satu bandara terbesar dipulau jawa, yaitu Bandara Soekarno-Hatta. Diikuti oleh beberapa relasinya, pemgacara, asisten pribadi, sekretaris, ajudan dan para petinggi perusahaan.  Mereka berjalan beriringan menelusuri setiap sudut Bandara hingga mengundang perhatian banyak orang untuk menatap kearah mereka. 


Semua mata tertuju pada mereka, ada gerombolan orang-orang berjas mahal dan orang-orang penting.  Sementara para karyawannya tak henti-hentinya tersenyum dan sedikit menundukan kepala memberikan salah setiap kali Nathan melintas dihadapan mereka. Disaat-saat seperti ini tidak ada satu karyawanpun yang beranjak dari tugas mereka, semuanya berusaha menjaga sikap dihadapan bos mereka. Mulai dari kerapian pakaian, tingkah laku, dan cara kerja mereka akan menjadi sorotan penting untuk penilaian Nathan. 


Karena Nathan tidak pernah berpikir panjang untuk memberhentikan karyawan yang tidak produktif dan tidak masuk dalam kualifikasi pegawainya. 


Setelah satu jam lebih Nathan berkeliling, kegiatannya dilanjutkan dengan mengumpulkan para pemimpim setiap direksi yang mengawasi di lapangan secara langsung. Mereka diantaranya Director of airports Engineering, Director of Airports Service and Facility, Director of Hc, dan Director of general Finace.


"Saya benar-benar kecewa dengan Kinerja kalian semua di outlet ini. " Nathan membuka suara setelah duduk dan menyandarkan tubuhnya dikursi khusus pimpinan


Mereka semua menunduk begitu mendengar kalimat pembukaan Nathan yang bukan merupakan kabar baik atau sebuah pujian.


"Hanya sebulan saya melewatkan survei rutin di bandara ini, tapi kekacauan yang terjadi disini luar biasa seolah-olah bandara ini sudah bertahun-tahun tidak terurus. Kalian tau, bandara ini adalah bandara terbesar dan bandara pusat di Indonesia.  Tapi, kenyataannya bandara di Pontianak lebih baik dari bandara ini! " Nathan masih mempertahankan image nya dihadapan para bawahannya, dia berusaha meredam emosinya dan memilih cara yang lebih halus untuk menegur bawahan nya.


"Engineering, saya mau semua kerusakan di bandara ini segera diperbaiki, tidak boleh ada kerusakan sekecil apapun disini. Saya beri waktu tiga hari untuk menyelesaikannya." lanjut Nathan


"Baik, Pak. Perintah akan saya laksanakan sebaik-baiknya. " jawab laki-laki berjas hitam dan berkaca mata bening yang menyandang jabatan sebagai Director of Engineering


"Ya, harus!  Yang saya butuhkan action bukan hanya ucapan saja. "


"Baik pak. "


Nathan menegakkan tubuhnya, meraih sebuah map berwarna hijau yang merupakan data hasil observasi nya hari ini.  Beberapa saat dia meninjau kembali isi berkas itu, membolak-balik kertasnya membuat para pemimpin devisi tegang dan mempersiapkan diri untuk menerima semburan amarah Nathan.


Nathan kemudian melempar map itu di atas meja, membuat para bawahannya sedikit tersentak kaget.


"Saya lihat ada beberapa karyawan yang tidak disiplin selama tiga bulan ini, dan saya mau HC menindak lanjuti ini semua. Saya tidak membutuhkan karyawan yang tidak produktif, jadi kalau pemecatan itu diperlukan maka, itu akan lebih baik. Karena saya tidak mau perusahaan ini rugi hanya karena orang-orang yang tidak memberikan kontribusi apapun diperusahaan saya!"


Perkataan itu begitu halus diucapkan oleh Nathan, namun sangat menusuk dihati para bawahannya. Pertemuan itu pun selesai saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Itu tandanya Nathan harus kembali melanjutkan tugasnya yang lain.  Para karyawan di bandara itu bernafas lega ketika Nathan meninggalkan tempat itu. Layaknya seperti anak SMA yang gurunya tidak hadir, seperti itulah kebahagiaan mereka.


Ketegasana Nathan dan mulut pedasnya memang sudah terkenal dikalangan para karyawan bahkan pembisnis lainnya. Itu selalu menjadi senjata untuk melupuhkan orang-orang yang tidak mengikuti aturannya. Dan dalam sebulan tak jarang Nathan memecat karyawannya yang tidak mengikuti aturannya.


•••


Nathan memandang kearah jendela mobil mewahnya, melihat pemandangan pesisir jalan yang dilewatinya. Pikirannya melayang pada masalah-masalahnya yang rasanya sulit dia pecahkan. Anastasya, adik perempuannya menyita pikirannya beberapa minggu ini. Sudah hampir dua minggu dia tidak pernah melihat adik kandungnya sendiri dan bahkan Nathan tidak tau bagaimana kabar gadis kecil kesayangannya itu. 


Meskipun Nathan tidak bisa menerima keputusan Anastasya yang lebih memilih tingga bersama keluarga yang selama ini dibenci oleh Nathan. Dia masih tidak bisa berdamai dengan semua yang telah terjadi, meskipun itu ayahnya sendiri.


Jujur saja, Nathan sangat merindukan adiknya, biar bagaimanapun mereka telah melewati banyak hal sepanjang usia mereka saat ini.  namun,  layaknya bumi,  mereka memiliki kutub yang berbeda. Anastasya yang sangat merindukan sosok keluarga, sementara Nathan tidak pernah percaya dengan kata 'Keluarga'itu.


"Kita sudah sampai, tuan." ucapan sopirnya menyadarkan Nathan dari aktivitas melamunnya


Nathan memandang sekitarnya, dahinya berkerut


"Kenapa kita kesini? "


Sopir itu bingung mendengar pertanyaan majikkannya, apa maksudnya? 


"Tadi tuan bilang ingin bertemu dengan nona Anastasya."


Nathan mengerutkan dahinya "saya? Kapan saya bilang begitu? Lagi pula untuk apa saya bertemu dengannya. " jawab Nathan dingin, membuat sopirnya geleng-geleng kepala


"Jadi, kita pergi saja tuan? "


"Tentu saja. " jawabnya ketus


Baru saja mobil Nathan hendak beranjak dari tempat itu, tiba-tiba saja seseorang mengetuk kaca mobilnya. Sopir Nathan kembali menghentikan mobilnya dan membuka kaca disebelah Nathan.


"Pak Nathan? Saya tidak salah mengenali seseorang kan? " tanya wanita itu dengan nada suara sumringah dan gimik cerianya yang menurut Nathan tidak sesuai dengan usianya


Nathan tersenyum kaku, "tentu saja ibu Monica," dengan terpaksa Nathan turun dari mobilnya dan menyapa perempuan bergaya glamor itu


Monica, dia adalah salah satu guru yang intensitas menyapa Nathan lebih banyak dibandingkan guru-guru yang lain.  Nathan tidak pernah tau alasanya kenapa, yang jelas setiap kali bertemu dengan guru Anastasya yang satu ini membuat Nathan rasanya ingin segera pergi dari hadapannya secepat yang dia bisa. 


"Selamat siang ibu Monica." Nathan tersenyum kaku menyapa perempuan dihadapannya yang seolah kegirangan melihatnya


"Siang Pak Nathan, sudah lama anda tidak pernah ke sini lagi. Biasanya anda selalu datang kesini untuk melihat perkembangan Anastasya, apa semuanya baik-baik saja? "


Nathan mengangguk, "tentu saja ibu Monica. Ibu sendiri kenapa ada disini, bukan seharusnya mengajar di kelas? "


"Iya, saya sedang ada tugas di luar dan tidak sengaja melihat mobil anda di sini.  Kenapa anda tidak masuk? "


Nathan mengumpat dalam hatinya, mengapa dia harus bertemu dengan guru cerewet yang satu ini. Sekarang dia bingung harus menjawab apa. 


"Oya,  saya sampai lupa. Belakangan ini Anastasya sudah berubah total, dia rajin dan tidak membuat masalah lagi di sekolah, nilainya juga bagus. Seperti yang anda ingin kan selama ini. "


Hati Nathan serasa perih mendengar itu, tapi dia juga bahagia kalau Anastasya benar-benar menjadi anak yang baik disekolah. Sayangnya itu tidak terjadi saat Anastasya bersama dengannya. 


"Itu berita yang sangat bagus. " Nathan tersenyum ketir


Nathan ikut menoleh dan melihat Anastasya dari kejauhan, gadis itu belum menyadari keberadaan Nathan di sana. Dan Nathan bersyukur untuk itu. 


Cepat-cepat Nathan pamit undur diri dari hadapan Monica,  membuat Monica menatap aneh kelakuan Nathan. Perempuan itu merasa ada yang tidak beres dengan Nathan yang tiba-tiba kabur begitu melihat Anastasya.


Nathan memasuk kedalam mobil, seceat mungkin sebelum Anastasya melihatnya.


Monica masih enggan beranjak dari tempatnya,  "anda tidak ingin menemui adik anda?  Sepertinya dia sedang menunggu jemputan?  Kenapa kalian tidak pulang bersama? "


"Saya permisi dulu. "


Dan mobil Nathan melaju dengan cepat melewati kerumunan anak-anak sekolahan yang berhamburan pulang meninggalkan sekolah. Nathan melihat Anastasya dari balik jendela mobilnya  ketika melewati kerumunan itu. 


"Anda pasti sangat merindukan adik anda, tuan"


"Sudah, fokus saja menyetir! " jawab Nathan dengan nada garang


Sopir itu hanya bisa Menghela nafas.  


•••


"Dilan,  kamu sedang apa disini? Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang. " Silvia menatap Dilan dengan tatapan cemas dan khawatir, sesekali dia melihat sekitarnya, rumah itu kosong tidak ada penjaga satupun di sana. 


Dilan menatap Silvia dengan tatapan aneh yang membuat Silvia bertanya-tanya dalam benaknya. Bagaimana caranya Dylan bisa masuk kerumah itu? Dan kemana perginya para penjaga Nathan? 


Silvia juga tidak menyangka orang yang mengetuk pintu itu adalah Dilan. Akan timbul masalah besar jika Nathan melihat Dilan di sini.  Silvia benar-benar bingung harus melakukan apa. 


"Dilan, aku mohon pergi dari sini. "


Bukan mengindahkan ucapan Silvia, Dylan malah memeluk Silvia, begitu spontan membuat Silvia tak sempat menghindar. Silvia melepaskan pelukkannya, dan mendorong Dylan menjauh darinya. 


"Dilan, apa yang kamu lakukan? Pergi dari sini Dilan, aku mohon."


"Aku sudah tau semuanya Silvia, maafkan aku sudah bersikap kasar pada mu tempo hari. "


Silvia mengerutkan kan dahinya, tidak paham dengan ucapan Dilan.  Sebenarnya apa yang diinginkan laki-laki itu darinya.


"Tau soal apa? " jantung Silvia berdetak kencang menunggu jawaban Dilan, dia berharap Dilan tidak tau soal penjanjian itu


Dilan meraih kedua tangan Silvia, "aku tau kamu terpaksa kan menikah dengan laki-laki itu? Kamu tidak mencintainya. Kamu tidak bahagia kan bersamanya? Jujur saja Silvia."


Saat itu juga Silvia rasanya tidak bisa menelan salivanya sendiri. Dia bingung harus mengatakan apa?  Dan memberikan jawaban apa?  Tapi,  yang membuag Silvia lebih bingung, darimana Dilan tau itu Semua? 


Belum sempat Silvia menjawab, sebuah sedan hitam memasuki halaman. Dan Silvia tau betul siapa orang yang ada di dalam sedan itu.  Jatungnya seolah berhenti berdetak, dia memegang kepalanya yang dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa.  Bagaimana ini?  Tamat sudah riwayatnya kalau Nathan tau keberadaan Dilan disini.  Lagi pula semua nya sudah terlambat, Nathan pasti sudah melihat Dilan. 


"EKHEEMM!! "


Silvia langsung terjungkat terkejut. MATI! 


Sementara Dilan tetap bersikap tenang,  meskipun Nathan melancarkan tatapan membunuhnya.


Silvia menutup matanya, tidak memiliki cukup keberanian untuk melihat wajah Nathan.


"Apa-apaan ini? Berani sekali kalian berdua-duaan di rumah saya! " mata Nathan menyala melihat tangan Dilan menyentuh tangan Silvia


Cepat-cepat, Silvia melepaskan genggaman tangan Dilan.


"Saya datang kesini untuk bertemu dengan Silvia." Dengan penuh percaya dirinya, Dilan mengutarakan maksud kedatangannya


"Anda pikir rumah saya ini Mall, yang orang bisa keluar masuk seenaknya? " ujar Nathan Dingin


"ALBERT....!!!! "


tak lama kemudian Albert, kepala ajudan di rumah itu berlarian menghampiri majikakannya.


"Iya, Tuan?"


"Kenapa orang asing ini bisa masuk ke sini!?" Nathan menatap mengintimidasi Albert


Sementara Albert hanya bisa menunduk tidak berani menatap Tuannnya. 


"Maaf Tuan, semua ajudan saya drop untuk membantu menyeting alat keamanan baru. "


"BODOH!!" murka Nathan, dia mengepalkan tangannya, menahan dirinya agar tidak melakukan kekerasan terhadap kebodohan ajudannya itu


"Sekarang usir orang ini dari rumah saya dan bawa Silvia masuk!! "


Nathan berjalan melewati Silvia dan Dilan. Sedangkan Albert langsung melaksanakan perintah. 


Silvia menghela nafas lega, setidaknya tidak terjadi baku hantam diantara Dilan dan Nathan. Dan dia harus menyiapkan mental sekuat baja untuk menghadapi kemarahan Nathan.


■■■TBC■■■