You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN DUA DELAPAN | Mencair



Suara dentuman musik bervolume tinggi memekakan telinga, gemerlap lampu disko menyilaukan pengelihatan, asap rokok bertebaran dimana-mana, bau alkohol sudah menjadi pengaharum ruangan. Semua orang asik mengerakkan badannya mengikuti alunan musik DJ, laki perempuan seolah tidak ada bedanya di sana. Tanpa rasa malu, kaum hawa di sana menggoyangkam tubuhnya, memperlihatkan lekuk sensasional mereka. Pakaian yang mereka pakai pun adalah pakaian minim yang memperlihatkan beberapa bagian tubuh mereka yang tidak seharusnya diperlihatkan. Bahkan mereka tidak keberatan jika beberapa para hidung belang yang tidak mereka kenal mencolek dan menyentuh mereka dengan lancangnya.


Semua orang yang datang kesana hanyalah orang-orang yang mencari kesenangan, tempat hiburan itu dibagi menjadi beberapa section. Ada dance floor, dimana semua orang bebas berjoget dihadapan satu sama lain tanpa ada satu pun yang melarang mereka. Di beberapa sisi ruangan juga terdapat ruangan VVIP yang biasanya dihuni oleh orang-orang berkelas dengan kantung tebal serta harta yang tidak akan habis tujuh keturunan. Para golongan kolongmerat itu tidak pernah masalah jika harus membuang-buang uang mereka hanya untuk hal-hal yang tidak begitu penting bagi orang kebanyakan.


Tak hanya itu, terdapat juga bar-bar yang menyediakan berbagai minuman dengan harga yang pantastis per gelasnya. Di tempat dengan pencahayaan minim itu menjadi ajang memamerkan kekayaan mereka dan tempat menglampiaskan hawa nafsu para kaum adam yang berasal dari golongan kaya raya.


Roy adalah salah satu pelanggan tetap di sana, hampir semua pengusaha kaya menjadi member di club ternama di Jakarta itu. Itu sudah menjadi sebuah tren baru dikalangan para pengusaha muda, sudah menjadi tempat lumrah yang harus mereka datangi setiap minggunya. Di tempat itu juga, Roy sering mengadakan pertemuan dengan rekan dan sahabat-sahabat bisnisnya sambil menikmati bergelas-gelas vodka atau wine.


Namun, kali ini berbeda, dia tidak datang dengan seorang teman ataupun rekan kerja, melainkan sendirian. Roy meletakkan gelas terakhirnya setelah memasukan isinya ke tengorokannya. Entah itu sudah gelas ke berapa yang sudah dia teguk, yang jelas dimejanya sudah berjejer lima botol wine dalam keadaan kosong. Sejak dulu, Roy memang seorang peminum berat, berbeda dengan kakaknya Mario yang lebih memilih gaya hidup bersih dari segala hal yang di hararamkan.


Tujuh puluh persen kesadarannya sudah mengawang di angkasa, wajah nya sudah mulai memerah dan matanya sudah tidak bisa fokus . Roy bangkit dari tempat duduknya, berusaha menyeimbangkan tubuhnya sebelum memutuskan untuk berjalan keluar. Kepalanya sangat pusing, matanya mulai berkunang-kunang , tidak bisa melihat dengan jelas. Laki-laki dengan gelar S2 pendidikan menejemen bisnis di Amerika itu, meletakan tangannya didinding. Perlahan berjalan dengan bantuan tembok yang menyangga tubuhnya.


Tubuh Roy terhuyung jatuh kelantai ketika keluar dari ruangan VVIP itu, hingar bingar suara musik membuat kepalanya semakin pening.


"Tuan anda baik-baik saja?" seorang pelayan dengan pakaian lengkap hitam-putih dan dasi kupu-kupu membantu Roy berdiri. Roy sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, bahkan untuk menjawab pertanyaan waiter itu mulutnya tidak sanggup.


"Apa perlu saya carikan anda taksi? Sepertinya anda sangat mabuk" waiter itu berinisiatif


Roy menggoyang-goyangkan sebelah tangannya sambil menggeleng samar. Waiter itu pun mengerti dan segera pergi melanjutkan pekerjaannya setelah memastikan Roy bisa berjalan walau dengan gerakan abnormal.


Roy berjalan dengan tubuh yang terombang-ambing diantara kerumunan orang-orang yang sedang asik menikmati suasana . Hingga akhirnya ....


BRUUUKKKKKKKK!


tubuhnya tidak sengaja menabrak seorang pemuda dengan jas silver mengkilat yang sedang memegang segelas wine. Wine ditangannya pun tumpah mengotori jas mahalnya dan membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang, Roy mengehentikan langkahnya, merasakan sebelah tangannya membentur sesuatu.


Pemuda berjas itu memancarkan aura iblisnya, tidak terima dengan perlakuan Roy yang mendorongnya dan menyebabkan baju mahalnya kotor.


"BRENGSEK!" maki dengan dengan nada kasar


Roy hanya memandang laki-laki yang baru saja meluncurkan umpatan ke arahnya. Dia sama sekali tidak perduli. Kepalanya pusing. Roy memutuskan untuk beranjak pergi, namun pemuda itu tiba-tiba menarik kerah bajunya dan membanting Roy ke salah satu meja. Tubuh Roy terpelanting menambrak meja hingga menimbulkan suara yang amat keras.


Puluhan pasang mata menatap kearah mereka, menghentikan sejenak aktivitas mereka karena tontonan didepan mereka jauh lebih menghibur daripada alunan music yang dimainkan DJ terkenal disana.


"Bukannya itu Roy Devano dan Noval Danio?" seorang wanita berbisik dengan teman wanita disebelahnya


"Iya, apa yang mereka lakukan? Sejak kapan mereka saling mengenal?" sahut satunya lagi


"Harus diabadikan nih," wanita sebelahnya mengeluarkan hanphonenya dan mulai merekam adegan separing antara dua tokoh pembisnis itu, "lumayan buat nambah uang jajan" lanjutnya


Dua wanita yang tadi menatap kearahnya,"emangnya lu nggak takut? Di kasi pelajaran sama mereka baru tau rasa lu"


Pemuda yang disebut Noval Danio itu terus gencar melemparkan serangannya pada Roy tanpa mendapat perlawanan apapun dari Roy. Roy sudah sangat mabuk membuat laki-laki itu tidak bisa membalas serangan yang menghantam tubuhnya berkali-kali.



Nathan baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan salah satu rekan kerjanya ketika dia mendengar suara ribut\-ribut dari area tengah club. Matanya menyipit, berusaha melihat dari jarak jauh siapa yang telah menciptakan keributan di clubnya. Tidak banyak yang tau kalau club ternama itu adalah club milik Nathan, karena memang laki\-laki itu menyembunyikkannya. Sebenarnya sudah lama dia ingin meratakan club peninggalan kakeknya itu, namun hingga kini rencana itu belum terealisasikan. Kerumunan orang membuat pandangan Nathan tidak bisa menangkap siapa pelaku yang berada di balik lingkaran yang di ciptakan oleh para penonton adegan sembarangan itu.



Tidak berpikir lama, Nathan menerobos kerumunan dan terkejut mendapati Roy tergeletak di lantai dengan keadaan berdarah\-darah tanpa bisa melawan serangan lawannya. Nathan menatap Noval seorang pengusaha yang tentu tidak asing untuknya, laki\-laki itu sama sekali tidak memiliki begas luka sedikitpun di wajah ataupun bagian tubuhnya. Pertandingan ini sama sekali tidak adil.



Roy sudah tidak sadarkan diri di lantai.



Entah kenapa dan entah dari mana hasrat itu muncul, Nathan langsung maju dan memukul Noval tepat di hidungnya hingga membuat laki\-aki itu terhuyung ke belakang karena tidak siap dengan serangan mendadak Nathan.



"BRENGSEK!" sekali lagi Nathan melontarkan tinjuan beruntun di wajah dan perut Noval. Untuk beberapa saat Noval menatap Nathan bingung, kenapa tiba\-tiba Nathan ikut campur dan balas memukulnya




Noval memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah, dia rasa tulang hidungnya retak karena bogeman tadi.



"Nathan, kenapa kamu memukul ku?"



"Masih tanya brengsek? Berani sekali kamu menyentuhnya, hah \*\*\*\*\*\*\*\*?"



Noval mengernyit, "lalu kenapa? Kamu tidak berhak ikut campur urusanku dengan \*\*\*\*\*\*\*\* itu, memangnya kamu siapa? Kamu kenal dia?''



Nathan menatap tajam Noval, "sekali lagi kamu sebut dia \*\*\*\*\*\*\*\*, aku tidak akan segan\-segan membuat mulut kotor mu itu tidak bisa mengeluarkan kata\-kata lagi!" ancam Nathan dengan nada dingin dan menakutkan



Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, tidak bisa menelan ludah mereka.



Mendengan ancaman itu, Noval tertawa meremehkan. Seolah semua itu hanya lelucon tidak lucu.



"Dan dia adik ku, jangan berani\-beraninya kamu menyentuhnya lagi atau aku akan pastikan besok kamu akan menjadi gelandangan."



Pernyataan Nathan perhasil membuat semua orang membuka mulutnya lebar\-lebar, membulatkan mata mereka dan bertanya apakah mereka tidak salah mendengar?



Semua mulai berbisik\-bisik "sejak kapan Nathan punya adik laki\-laki?" tapi, Nathan tidak perduli, dia menghampiri tubuh Roy dan membopongnya segera pergi dari tempat laknat itu.



Sesampainya di pintu masuk, para ajudannya terkejut melihat bos mereka membawa seseorang yang terluka parah. Mereka mengambil alih tugas Nathan dan membawa Roy ke mobil Nathan.



Nathan kembali masuk ke club, bertemu dengan seorang laki\-laki setengah baya dengan jas hitam dan jenggot yang mulai memutih,



"Tutup club ini sekarang juga, usir mereka semua dan jangan izin kan Noval Danio datang kemari lagi."



Laki\-laki setengah baya itu mengangguk mengerti. Nathan langsung beranjak meninggalkannya dan menyusul ajudannya yang telah siap di mobil.



Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, akan ku pastikan dia tidak akan lepas dari gengaman ku dan club sialan itu akan aku ratakan dengan tanah.



#TBC