You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN TIGA BELAS | Anastasya oh Amastasya



Terkadang demi kebaikannya, kita harus menyakitinya...


______________


happy reading.


Jangan lupa like dan follow sebelum baca wkwk ..


*  *


Gadis itu berlari sangat kencang masih dengan seragam SMA yang melekat ditubuh rampingnya. Sementara seorang laki-laki cungkring, berkumis tebal dan memakai pakaian PNS,  berusaha mengejarnya.


"ANASTASYAAAAA....BERHENTI!!" teriak bapak itu sembari menjulurkan tongkat kayu yang ada ditangannya.


Sementara si pemilik nama tidak memperdulikan panggilan itu dan malah terus berlari menjauhi laki-laki itu. Dia tersenyum girang, tampak sangat senang menjalani aksi kejar-kejaran itu.


"ANASTASYA, KALAU KAMU TIDAK BERHENTI JUGA BAPAK TIDAK AKAN MENGIZINKAN KAMU IKUT ULANGAN!!" lagi-lagi guru itu berteriak, namun kali ini dengan acaman.


Tapi, semua itu tidak membuahkan hasil. Anastasya tidak memperdulikannya sama sekali, dia malah terus keasikan berlari. Gadis itu tidak bodoh yang bisa percaya ucapan gurunya itu. Kalau dia berhenti, bisa tamat riwayatnya disekolah itu.


Nafas laki-laki itu hampir habis hanya karna satu makhluk menyebalkan yang bernama Anastasya. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Anastasya berlari secepat itu memutari lapangan sekolah dan berusaha menghindarinya seperti seekor kelinci yang berusaha menghindari predatornya.


Anastasya menoleh ke arah belakang, melihat gurunya dengan nafas terengah-engah ditengah lapangan.


"Kasihan." gumannya sambil tersenyum puas. Dia mengibaskan rambut carlynya yang dicat warna-warni seperti pelangi dilangit yang biru.


Dia berbalik, namun langkahnya terhenti.


"Mau kemana Anastasya?" tanya dengan nada penuh penekanan


Sial.


Bisiknya dalam hati.


"Ehhhh... Bu Paula. Apa kabar buk?" Anastasya menyengir polos tanpa rasa bersalah.


"Tidak perlu basa-basi, sekarang kamu ikut ke ruangan saya!" perintah ibu Paula tegas, membuat Anastasya yang keras kepala menjadi sedikit menunduk walaupun hanya beberapa detik.


"Salah saya apa buk?" protesnya dengan wajah memelas. Kalau masalah akting, Anastasya jagonya. semua jenis akting bisa dia perankan, itu adalah jurus andalannya disaat-saat kepepet seperti ini.


Bu paula, guru seberat 80 kg itu, memandang Anastasya dengan mata melotot dan wajah memerah padam.


"Masih tanya apa salah kamu? Lihat dibelakang kamu, pak Dodo hampir pingsan cuma gara-gara satu siswa bermasalah seperti kamu!! Saya tidak bisa mentolerin kamu lagi Anastasya."


(Ruang kepala sekolah)


"Ibu tidak habis pikir sama kamu Anastasya, selaluuuu saja membuat masalah di sekolah ini. Kamu itu perempuan, seharusnya kamu bersikap seperti perempuan kebanyakan, jangan seperti laki-laki over dosis!!" Paula tidak bisa lagi menahan kekesalannya terhadap salah satu muridnya, sudah cukup selama ini dia bersabar karena kelakukan Anastasya. Kali ini dia tidak bisa mentolerin anak itu lagi, sekalipun kakaknya adalah penyumbang dana terbesar disekolah itu.  Kali ini Anastasya sudah sangat keterlaluan.


"Apa sih yang ada dikepala kamu itu? Apa kamu tidak pernah berpikir akibat dari semua yang sudah kamu lakukan. Kamu membuat 10 guru memundurkan diri karena tidak tahan sama perlakuan kamu, kemarin kamu membuat cucu ketua yayasan babak belur, dan sekarang kamu membuat Riko hampir gila karena sandiwara kamu itu."


"Itu bukan salah saya buk," Anastasnya menyender ke kursi dan mengangkat salah satu kakinya dengan kedua tangan dilipat didada. "Dianya aja yang penakut, masa iya gitu aja langsung gila. Dasar lebay! Ibu jangan terlalu percaya sama dia."


Paula mendesah kasar, rasanya dia ingin sekali membuang Anastasya ke laut terdalam dimuka bumi ini, kalau saja dia tidak ingat siapa Anastasya sebenarnya.


"Saya sudah menghubungi kakak kamu, sebentar lagi dia akan datang ke sini." Paula kembali duduk dibangku berputarnya


"WHATT!!?" triak Anastasya yang membuat Paula spontan menutup kedua telinganya.


"Lama-lama say bisa BUDEG ngeladenin kamu, tau!!!" ujar Paula kesal dan menatap Anastasya sinis


Raut wajah Anastasya berubah menjadi tidak terbaca. Yang tadinya santai menjadi memancarkan siluet amarah dari dua mata blesterannya.


"Ibu nggak bisa gitu dong, nelpon kakak saya tanpa memberi tahu saya." t¹qeriak Anastasya tidak terima, bisa abis dia kalau kakaknya tau semua kelakuannya selama ini disekolah.


Wajah Anastasya berubah cemas, dia harus pergi dari sini sekarang sebelum kakaknya datang, kalau tidak dia harus siap menerima amukan dari kakaknya yang menurutnya super duper kejam.


"Issss... ibu bikin masalah aja deh, ah!!" Omelnya kesal


"Kok kamu jadi ngomelin saya? Yang bikin masalah itu kamu! Itu juga rambut pake dicat-cat segala macam rainbow cake!!" Balas bu Paula kesal.


"Kok Ibu jadi bawa-bawa rambut saya? Suka-suka saya dong, mau rainbow cake kek, moon cake , star cake, terserah saya! Uang-uang saya! Emangnya ibu kalau kesalon nyari diskonan?" Balas Anastasya tidak tanggung-tanggung.


Paula semakin meradang, anak dihadalannya ini memang sangat keterlalu, tidak ada hormatnya sedikitpun pada gurunya.


"Kamu memang anak tidak tau sopan santun! Keluar dari sini! KAMU SAYA KELUARKAN DARI SEKOLAH INI!!" bentak Paula tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


"KE-LU-ARRRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!"


Spontan Anastasya langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Suara itu membuat gendang telinganya serasa mau pecah, kerasnya mengalahkan suara trompet kerajaan inggris.


Tanpa banyak berpikir, Anastasya langsung berlari keluar, dia sudah tidak tahan dengan suara Toa milik Bu Paula.


_____________________


BUUUKKKK....!!


Nathan membanting dokumen ditangannya dengan kasar. Wajahnya tampak tidak bersahabat, Sementara Anastasya hanya bisa menunduk tidak berdaya dihadapan kakaknya.


Just for information, Sialnya Anastasya tidak bisa melarikan diri dari kejaran-kejaran bodyguard-bodyguard milik kakaknya itu, hal hasil disinilah dia sekarang, duduk dikursi panas penjaga neraka itu.


"Di keluarkan!" Nathan menekankan kalimat itu


"MEMALUKAN!!" Ucapnya lagi dengan intonasi tinggi


Anastasya memang tipe gadis pemberontak, susah diatur dan tidak mau mendengarkan pendapat siapapun. Tapi, kalau sudah berhadapan dengan Nathan, dia hanyah gadis kecil yang tidak berdaya, sama seperti itik yang kehilangan induknya.


"Kakak membayar sekolah mahal-mahal bukan untuk ini Anastasya! Kamu sudah membuat malu keluarga ini!" Nathan berusaha meredam emosinya, dia tidak ingin hilang kendali dan melakukan hal-hal kasar terhadap adiknya itu.


"Keluarga? Keluarga yang mana kakak maksud? Aku tidak pernah merasa punya keluarga di sini!" Anastasya membela diri. Kata Keluarga itu tidak bisa membuatnya berdiam diri menerima ocehan Nathan terhadapnya. Semua orang juga tau bagaimana kisah keluarga Alaxander.


Nathan menatap adiknya memperingati, "Anastasya, jaga bicara kamu."


Anastasya melengos, "aku muak dengan semua ini kak!! Asal kakak tau, karena kekeras kepalaan kakak, aku tidak bisa merasakan bagaimana rasa memiliki Papa!"


"Kamu tidak tau apa-apa, STOP SEBUT-SEBUT NAMA DIA DI DEPAN KAKAK!!" bentak Nathan


Anastasya berdiri mengimbangi posisinya dengan kakaknya, mereka sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Nathan tidak bisa mengontrol dirinya setiap kali membahas tentang masalah keluarganya. Begitu juga dengan Anastasya yang tidak terima dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini.


"Kalau saja Kakak bisa memaafkan Papa, aku tidak akan seperti ini. Dulu, aku memilih tinggal bersama kakak karena Kakek.  Tapi, sekarang kakek sudah tidak ada, jadi aku berhak memilih ingin tinggal bersama siapa, termasuk Papa!" Tegas Anastasya seolah tak terbantahkan.


"Jangan kamu pikir, kakak akan diam saja mengijinkan kamu tinggal bersama laki-laki tidak bertanggung jawab itu."


Anastasya meradang, "laki-laki tidak bertanggung jawab yang kakak sebut itu adalah Papaku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghinanya, termasuk KAKAK!!"


Nathan mengepalkan tangannya, suasana benar-benar tegang saat itu, semua bodyguard yang berdiri diruangan itu hanya bisa diam dan menyaksikan pertengkaran sengit antara adik-kakak itu. Tidak ada yang berani melerai mereka ataupun ikut campur.


Nathan menarik nafas dalam-dalam, memalingkan sejenak wajahnya. Dia tidak menyangka adiknya akan menentangnya seperti itu. Dan Nathan tidak pernah sekalipun membayangkan akan bertengkar seperti ini dengan adiknya sendiri.


Nathan menatap adiknya kembali, setelah hatinya sedikit lebih tenang dan bisa berpikir jernih. Kemarahan masih terlihat diwajah mereka, namun Nathan berusaha bersikap lebih tenang.


"Besok, kamu berangkat ke London dan belajar disana." nada suara Nathan kembali normal


Ucapan Nathan berhal membuat Anastasya tak kalah terkejut dan membuatnya dua kali lebih marah saat ini, dan bahkan membuatnya membenci orang yang berdiri dihadapannya itu.


"Sekarang kakak, ingin membuangku?" Anastasya mencibir


"Albert...." Nathan tidak memperdulikan ucapan adiknya dan malah memanggil Albert bodyguardnya


merasa terpanggil, Robert akhirnya berani mendekat setelah sekian lama berdiri di pojok ruangan menjadi penonton perang saudara itu.


"Iya Tuan?"


Nathan membelakangi Robert dan Anastasya, "bawa Anastasya ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar sampai besok pagi keberangkatannya ke London."


"Siap Tuan." Jawab Robert tegas


Anastasya benar-benar tidak menyangka kakaknya akan melakukan semua itu terhadapnya.


"Mari Non, "


"Aku tidak akan pernah memaafkan ini Nathan Alexander!!!" Air mata Anastasya menetes di pipi cantiknya, perlahan semakin deras mengalir, dia menghapus kasar butiran-butiran bening itu. Anastasya tidak melawan ketika dibawa oleh Robert karena dia tau semua itu hanya akan membuang tenaganya saja..


Nathan sebenarnya tidak tega memperlakukan itu pada adik satu-satunya itu. Tapi, dia lebih tidak rela kalai Anastasya memilih tinggal dengan Papanya. Sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan itu terjadi, dan ini adalah salah satu jalan terbaiknya.


TO BE COUNTINUE


_________________