
"Noval telah melaporkan anda ke kantor polisi atas tuduhan tindak kekerasan. Ke mungkinan mulai besok laporan itu akan diproses. " jelas Robert dengan lugas
Nathan menaikan sebelah kakinya dan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa. Dia tidak berniat untuk menimpali ucapan pengacara kepercayaannya itu, dia lebih memilih sibuk dengan pikirannya sendiri
"Ini sangat perbahaya, kasus ini bisa menggulung tikarkan usaha Anda, Nathan. Kalau pun kita membayar para petugas, saya rasa yang ingin menjatuhkan anda lebih banyak. Noval bisa saja bekerja sama dengan orang-orang yang ingin menjatuhkan anda. Selain itu, anda juga tau kalau Noval itu memiliki geng mafia dan memiliki bisnis gelap dibidang persenjataan."
Nathan menopang dagunya, dahinya berkerut, "si Brengsek itu memang sialan. Berani sekali dia mengibarkan bendera perang pada Nathan Alexander."
Nathan kemudian meraih ponselnya diatas meja. Mencari-cari sebuah nomer disana dan kemudian menempelkan benda elektronik itu ditelinganya.
"Halo Dave... " ucap Nathan
"Haloo Nathan, sudah lama kamu tidak menelponku. Ada masalah apa? " jawab orang diseberang sana
"Aku ingin minta tolong untuk mencari info tentang seseorang. Aku sangat membutuhkan bantuan SA mu karena ini menyangkut hidup mati banyak orang. "
"hahahahaha... " terdengar tawa diseberang sana, "aku pikir ada masalah apa. Kalau masalah itu gampang, kirim saja detail orangnya ke email. Besok aku akan langsung memberi tau hasilnya. "
"Terimakasi Dave, " sambungan telpon itupun terputus, Nathan meletakan kembali handphonenya
Nathan kembali menatap Albert, "kamu tenang saja Albert, masalah ******** itu biar menjadi urusanku dengannya. Tugas mu cukup mengawasi perusahaan, jangan sampai ada celah untuknya mencari kelemahan kita."
"Dulu aku bisa mentoleransinya tapi kali ini, aku tidak akan biarkan miliknya tersisa sedikit pun. Dia telah mengusik kehidupanku dan tidak ada kata ampun untuknya lagi. " ujar Nathan dingin seperti pertanda sebuah petaka akan segera terjadi pada Noval. Kata-kata Nathan saja membuat Albert merinding, apalagi membayangkan apa yang akan bossnya itu lakukan.
Pertemuan itu pun berakhir. Diakhir dengan Nathan menandatangani sebuah berkas yang dibawa oleh Albert. Laki-laki setengah baya dengan jas hitam itu meninggalkan ruangan dengan menenteng tas kantor ditangannya.
Selepas kepergian pengacaranya, Nathan kembali merebahkan tubuhnya disandaran sofa. Rasanya tidak hanya badannya saja yang lelah tapi, juga kepalanya. Hidupnya semakin rumat karena kebodohannya yang mengakui Roy adalah adiknya dihadapan banyak orang. Dia sendiri bingung kenapa kalimat itu bisa keluar dari mulutnya.
"ARRGGHHH... " Nathan mengerang saat mendengar ada suara-suara ribut diluar. Kembali membuka matanya, merasa terganggu Nathan memutuskan untuk melihat sendiri dari mana asal keributan itu
^...^
Ide gila muncul dikepala Mario. Dia memaksa Roy dan juga Anastasya untuk ikut melancarkan idenya. Sampailah hari ini menjadi hari pertama dia menginjakan kakinya dirumah Nathan. Roy menatap kakaknya tidak percaya, tadinya dia berpikir mungkin Mario ingin pergi ke suatu tempat untuk meneraktir adik-adiknya tapi, ternyata dia malah datang ke kandang singa.
"Lu masih waras kan, Yo? Ngapain lu ngajakin kita ke kandang singa beginian? Gue males ah kalau harus berdebat lagi, gue kan baru keluar dari rumah sakit. Lu mau kalau nanti tu singa ngehajar gue? " mereka bertiga berdiri didepan pintu rumah Mario
Para bodyguard tidak berani melarang mereka karena ada Anastasya ikut dalam rencana mereka.
Anastasya hanya bisa memandang nanar pintu putih yang menjulang tinggi dihadapannya, "Kakak Mario yakin kita bakalan masuk? Nanti kalau Kak Nathan ngusir kita gimana? "
Mario tersenyum misterius, sebenarnya dia Juga tidak yakin tapi dia yakin kali ini Nathan tidak akan marah. Setidaknya itu harapannya.
"Pulang aja deh, perasaan gue nggak enak." ringis Roy. Bukan apa-apa, Roy malas kalau harus menghadapi hati batu Nathan
"Kenapa kalian jadi penakut gini sih? "
Bagaimana tidak takut, terakhir kali Anastasya bertemu dengan kakaknya dalam suasana yang tidak baik begitu juga dengan Roy. Walaupun Nathan mengatakan kalau Roy itu adalah adiknya, bukan berarti laki-laki itu mengakui mereka sebagai adik-adiknya. Tapi, pola pikir Mario paling berbeda diantara mereka, Mario dengan gamlangnya langsung menyimpulkan kalau sekarang Nathan sudah mengakuinya sebagai adik. Mustahil! Begitu kata Roy.
Roy sendiri tidak bisa percaya, bagaimana orang sepintar Mario bisa sebodoh ini dalam hal seperti ini. Bahkan dia tidak menyerah meski dengan segala perlakuan Nathan.
"Oke. Ayo kita masuk! " Mario mendorong kedua adiknya dari belakang, memaksa mereka untuk masuk
Anastasya hanya bisa menarik nafas sambil berdoa semoga tidak terjadi perang dunia ke tiga. Dewi fortuna berpihaklah pada kami
•••
Nathan menuruni tangga, betapa terkejutnya dia melihat tiga mahkluk yang entah darimana asalnya sedang asik main PS diruang tengah miliknya. Dua diantara mereka adalah laki-laki sementara satunya adalah perempuan. Apa-apaan ini?
Tiga orang itu masih asik memainkan game faithing di layar kaca sampai tidak menyadari kedatangan Nathan. Bagaimana mereka bisa masuk dan Bisa-bisanya mereka datang ke sini tanpa rasa malu sedikitpun. Apa mereka tidak kapok dengam segala ucapan kasar yang sudah Nathan lontarkan untuk mereka?
Ternyata bukan hanya mereka saja yang ikut andil dalam kegiatan itu, Silvia juga. Terlihat dari sikap Silvia yang membawakan mereka minuman dan beberapa makanan ringan. Kelihatannya Silvia sangat senang dengan ke hadiran mereka, sejak tadi gadis itu tak henti-hentinya tersenyum.
"EKKHHHMMMM... " Nathan berdehem keras, bersender pada salah satu pilar sambil melipat kedua tangannya didada
Mereka tidak memperdulikan Nathan, meskipun mereka mendengarnya tapi mereka bersikap seolah tidak mendengar apa-apa.
"EKKKHHHMMM.. " sekali lagi Nathan berdehem, kali ini lebih dalam. Tapi, perlakuan yang sama juga diterimanya
Karena jengkel akhirnya Nathan meraih remote tv di atas meja dan menekan tombol power. Dalam hitungan detik, tv berlayar datar itu pun mati seketika.
Empat pasang mata itu serempak menoleh ke belakang melihat Nathan berdiri tak jauh dari mereka dengan wibawa yang membahana.
"Hai... Kak..Nathan" sapa Mario terbata-bata sembari tersenyum tidak bersalah
"Aku pikir kamu sedang bekerja di ruang kerja mu Nath. " Silvia berusaha mencairkan suasana. Dia menyadari ketegangan yang sedang menyelimuti mereka
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke ruangan ini dan seenaknya memakai fasilitas rumah saya. " Nathan memasang wajah datar
"Sama adik sendiri jangan pelit-pelit." celetuk Roy
"Kata siapa kalian adik saya? "
Roy menatap Nathan songong, "wah.. wah pura-pura amnesia. "
"Terserah. Yang penting sekarang kalian keluar dari sini karena saya mau istirahat." perintah Nathan dengan nada malas, hari ini dia tidak mau membuang-buang tenaganya untuk marah
"Kebetulan malam ini kami akan menginap dan Silvia sudah menyiapkan kamar untuk kami. Iya kan kakak ipar? " Mario menoleh ke arah Silvia
Silvia tersenyum manis, ''tentu saja kak Mario. "
Nathan melemparkan tatapan tidak percaya pada Silvia. Tapi, gadis itu seperti biasa tidak pernah takut dengan tatapan Nathan
Nathan yakin ini pasti hanya mimpi.
#TO BE CONTINUE#
AN:
what do you thing guys?
Jangan lupa tinggalkan jejak