
Jangan lupa vote sebelum baca 😘
Komentar kalian sangat berharga loh buat aku..
•••
Aku tidak ingin terbiasa dengan kehadiranmu karena..
Ku sadari hingga saat waktunya tiba, aku harus siap kehilangan sosok mu kapan saja...
^...^
Silvia duduk di pinggir jendela kamarnya, menatap nanar hamparan perumahan di depannya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, yang membuatnya akhir-akhir ini tidak tenang. Tidak bisa di pungkiri memang perlahan rasa bencinya berubah menjadi rasa peduli yang semakin hari semakin dalam. Bukan Silvia tidak mencoba untuk mencegah rasa itu hadir dalam hubungan tabu ini. Tapi, Silvia tetap tidak bisa
Silvia tau dia salah dalam hal ini, seharusnya dia tidak membiarkan semua ini terjadi sejak awal. Tapi, sekuat apapun gadis itu menolak dia tetap tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ya, perasaan bahwa Silvia telah jatuh cinta.
Untuk gadis biasa sepertinya bahkan tidak berhak memiliki perasaan seperti ini terhadap laki-laki itu. Dia sadar, sangat sadar kalau dia hanyalah anak dari mantan supir keluarga itu yang memiliki drajat yang sama dengan pelayan-pelayan di rumah itu. Dan itu pun hanya sebagian dari aib hidupnya. Silvia tidak bisa meneruskan sandiwara ini lebih lama lagi, dia tidak mau berakhir menyedihkan karena perjanjian bodoh yang dia lakoni.
Silvia memandangi foto berukuran kecil di tangannya, tanpa sadar dia meneteskan air mata. Rasa sakit itu tidak akan pernah hilang, dia tidak akan pernah melupakan bagaimana nasib buruk itu menimpa hidupnya dan kakaknya.
Di saat-saat seperti ini Silvia sangat membutuhkan sosok kakak yang selalu ada untuknya kapan pun dia membutuhkannya. Kakaknya sudah seperti orang tua bagi Silvia, seandainya peristiwa itu tidak pernah terjadi saat ini dia pasti tidak akan berada di sini. Dia tidak akan menandatangani kontrak itu dan mengorbankan masa depannya.Â
"Kak, kenapa orang seperti kita selalu mengalami penderitaan seperti ini? Kenapa semua ini terjadi pada kita?"
Delapan tahun sudah semuanya berlalu, tapi rasanya rasa sakit itu baru saja terjadi. Luka itu masih baru dan berbekas di hatinya. Selama ini Silvia selalu berusaha menjalani hidupnya yang sebatang kara, karena kini hanya orang tua angkat nya lah yang dia punya. Demi membalas kebaikan mereka, hingga Silvia menyanggupi permintaan ini.Â
"Semua ini tidak adil. Papa pergi, Mama pergi, Kakak juga pergi. Tapi, kenapa kalian tidak membawaku juga?" air mata semakin deras berjatuhan di pipi mungilnya membuat mata sipitnya memerah karena terlalu banyak menangis
Silvia merengkuh foto itu dengan kedua tangannya, memeluknya erat. Hanya itu satu-satunya yang dia punya untuk mengenang sosok kakak yang amat dia sayangi.Â
Ia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjangnya, dia harus tidur. Karena hanya itu cara terbaik untuk melupakan semua rasa sakit yang dia rasakan. Itu sudah menjadi kebiasaan Silvia saat dia tidak sanggup menghadapi pahitnya hidup. Saat semua masalah datang memenuhi kepalanya dan menyita ratusan tetes air matanya.Â
Dia selalu percaya, saat dia bangun nanti dia akan melupakan semuanya, walau hanya sebentar. Silvia yakin seiring berjalannya waktu, dia akan baik-baik saja dan suatu hari semuanya akan berakhir bahagia.Â
^...^
"Nathan..." seorang wanita dengan paras cantik memanggilnya dengan penuh semangat dan senyum merekahnya
Nathan menoleh sembari tersenyum, dia bahagia orang yang selama ini dia tunggu akhirnya datang juga. Perempuan dengan kemeja putih, celana jeans dan rambut terurai itu berlari ke arahnya. Nathan menunggu ditempatnya sambil merentangkan kedua tangannya. Dalam hitungan detik, perempuan itu sudah berada dalam pelukannya.
Perempuan itu bergelanyut manja dilehernya, Nathan mencium kening perempuan itu dengan kecupan mesra.
"Kamu lama sekali beb, aku sudah sangat merindukanmu. "
Perempuan itu tersenyum bahagia, "ya gimana, aku harus menemui adikku kemarin dia ulang tahun. Oya, dia senang sekali menerima hadiah kalung dari mu. Katanya dia ingin bertemu dengan mu. "
Nathan tertawa renyah, manis sekali, tawa yang membuat semua orang terpikat padanya .
"Aku pasti akan bertemu dengannya tapi, nanti setelah kita lulus kuliah sekalian liburan."
"Janji? " ujar perempuan itu dengan raut wajah senang bak seorang anak yang baru saja mendapatkan mainanya dari orang tuanya
Nathan mengangguk mengiyakan, gadis cantik dihadapannya itu langsung memeluknya mencurahkan rasa bahagianya. Mereka adalah pasangan yang paling bahagia, begitu kata teman-teman sekampus mereka. Semua orang menatap iri setiap kali melihat kemesraan mereka.Â
Nathan dan Sahara adalah dua insan yang di pertemukan di salah satu universitas terkenal di Jakarta. Pertemuan mereka berawal dari hobi yang sama yaitu bermain piano, mereka bertemu di sebuah perkumpulan musik mahasiswa. Dan sejak saat itulah entah bagaimana alur ceritanya mereka menjadi sangat dekat hingga menjalin sebuah hubungan.
Nathan bahagia bersama Sahara begitu juga sebaliknya. Nathan tidak pernah mempermasalahkan darimana asul-usul Sahara yang dia tau, saat itu dia sedang jatuh cinta dan dia sangat mencintai wanita yang saat ini menjadi kekasihnya itu.Â
Hubungan mereka sudah berjalan dua tahun ketika kejadian yang tak diinginkan itu terjadi. Yang seketika menghancurkan hubungan indah mereka.
"Nath, aku hamil. " ucap Sahara sore itu seolah menjadi pertanda berakhirnya kisah cinta mereka. Sahara menatap Nathan sendu menunggu jawaban dari pria itu.Â
"Sayang, kamu dengar aku kan? "
Sahara membuyarkan lamunan Nathan, dia menatap perempuan dihadapannya yang memandangnya penuh harap. Nathan benar-benar tidak tau harus mengambil keputusan apa disaat seperti ini karena jujur dia belum siap menjadi seorang ayah. Dia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya dan masa depan nya masih sangat panjang.Â
Nathan bangkit dari duduknya membuat Sahara memandangnya bingung, "aku butuh waktu sendiri. " Nathan meninggalkan Restaurant yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka selama ini
Saat itulah air mata Sahara tumpah, dia tidak pernah berpikir kalau Nathan akan bereaksi seperti itu. Dia pikir Nathan akan bahagia saat mendengar kabar ini, namun yang terjadi malah sebaliknya.
Sejak saat itu Nathan tiba-tiba menghilang, dia tidak pernah datang ke kampus, bahkan Nathan tidak pernah mau mengangkat telpon Sahara. Sementara Sahara mulai putus asa memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini. Bagaimana nasib anaknya nanti kalau lahir tanpa seorang ayah. Tapi, Sahara tidak menyerah dia memutuskan untuk datang ke rumah Nathan, rumah yang tidak pernah dia jamah sama sekali meski dia berstatus sebagai kekasih nya Nathan.
Hujan mengguyur ibu kota, tidak menyurutkan niat Sahara untuk datang mencari Nathan. Tidak mudah untuk memasuki rumah itu, bahkan Sahara hanya diizinkan bicara diluar gerbang tepatnya, dipos penjagaan.
"Saya harus bertemu dengan Nathan, pak. Tolong izinkan saya masuk. Saya mohon pak. " ringis Sahara memohon sambil menahan hawa dingin yang mulai merayapi tubuhnya
"mohon maaf dek, kami tidak bisa mengijinkan orang lain masuk sembarangan kerumah ini. Lagi pula, Den Nathan sudah berangkat ke Amerika pagi tadi. Jadi, percuma saja. Lebih baik adek pulang dan keringkan bajunya nanti bisa sakit. "
Deg.
Seperti sebuah belati yang menusuk relung hatinya yang paling dalam, seperti itulah perasaan Sahara saat ini. Dia hancur sehancur-hancurnya, tidak menyangka Nathan akan sepengecut ini. Tega sekali Nathan, laki-laki yang dia cintai melakukan ini padanya. Padahal selama ini Sahara telah yakin bersama Nathan dia akan membangun istana kecilnya. Namun, mimpi itu sirna seperti istana pasir yang terhempas ombak
^...^
Nathan membuka matanya, nafasnya terengah-engah tidak beraturan. Ada gurat ketakutan dan juga kesedihan di wajahnya. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Lagi-lagi mimpi itu datang. Mimpi yang selalu mengganggu tidurnya setiap malam.Â
Nathan mengusap wajahnya kasar, berusaha menenangkan dirinya, dia meraih segelas air yang ada di atas meja sebelah ranjangnya. Dengan gerakan cepat, dia meneguk air itu hingga habis.
Lebih baik.
Rasa bersalah yang selama ini menghantui hidupnya selama delapan tahun ini, seolah tak membiarkannya tidur dengan tenang. Kesalahan terbesar dalam hidupnya yang tidak akan pernah bisa dia perbaiki sampai kapan pun. Dan bahkan dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri setelah apa yang terjadi di masa remajanya.
Nathan bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju ruangan yang terletak di sebelah kamar mandinya. Perlahan dia menyentuh knock pintu dan membukanya. Dia di suguhkan dengan pemandangan serba merah darah, ruangan itu terlihat sangat sakral dan gelap. Nathan berjalan mendekati sebuah tembok besar dengan tirai merah yang menjulang di tengahnya.Â
Tangannya meraba kaitan di sisi kanan tirai itu, menariknya sedikit dan kemudian tirai itu terbuka secara otomatis, menampilkan foto wanita cantik dengan senyum manis merekah menghadap kamera.Â
Nathan berdiri memandangi foto itu, melipat kedua tangannya di dada. Tersenyum getir ke arah foto itu, perlahan air matanya menetes melihat senyum manis itu seperti belati baginya. Setiap kali memandang foto itu penyesalan itu semakin membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Rasa cinta Nathan terhadap wanita itu sampai saat ini tidak berkurang sedikitpun. Dalam hidupnya, perempuan itu adalah satu-satunya penyesalan terbesarnya.Â
Nathan masih ingat jelas ketika foto itu di ambil. Saat itu mereka sedang study tour ke Bali dan Nathan sendiri lah yang mengambil foto itu. Saat itu Sahara sangat bahagia, dia sangat menyukai pantai dan itu adalah kenangan terindah Nathan bersama perempuan itu.Â
"Sahara, apa kamu belum memaafkan ku? Atau kamu sedang merindukan ku?" untuk pertama kalinya seorang Nathan Bagaskara menitihkan air matanya
"Aku merindukanmu Sayang, maaf kan kebodohanku yang tidak bisa mencegah mu pergi." ujar Nathan sendu, kemudian dia tersenyum getir
"Aku harus bagaimana? Bahkan sampai detik ini kamu tidak pernah hilang dalam ingatanku. "
Percayalah cinta, ...
Setiap kamu jatuh, kamu tidak akan bisa melepasnya
^...^
#TO BE CONTINUE #
A/N:
aku datang lagi guyss hehehe...Â
Ayo.. Yang penasaran tunjuk tangan!Â
Jangan lupa tinggalkan jejak love you guyss 😘😘😘😘