You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN ENAM | Berdamai Sejenak



Saat itu aku tak menyadari, perhatian kecil mu membuatku jatuh hati.



Silvia melangkahkan kakinya perlahan, menatap seksama keadaan disekitarnya sembari merentangkan tangan menyentuh benda\-benda mahal yang terpajang indah di sepanjang lorong yang ia lewati. Sekarang dia telah resmi menjadi istri dari pemilik istana megah itu, istri dari seorang laki\-laki kolongmerat yang amat dihormati.



Mulai saat ini, Silvia tidak lagi harus tinggal di rumah sempit di perkampungan kumuh, dan bahkan kedua orang tuanya juga telah diberikan tempat baru yang lebih layak di sebut sebagai rumah. Entah itu karena kemurahan hati Nathan, atau hanya untuk menutupi rasa malunya.



Rumah Nathan terletak di antara permukiman mewah nan elit, merupakan rumah bergaya spanyol yang dipadukan dengan gaya klasik, didominasi oleh warna coklat. Rumah itu sangat luas bahkan lebih pantas disebut istana, halaman depannya dipenuhi berbagai macam tanaman eropa yang didekorasi sedemikian rupa. Ada pohon yang berbentuk orang\-orangan, bunga dan jantung. Hampir semua bunga yang terpajang disana sama sekali tidak dikenali oleh Silvia.



Sementara di bagian pertama rumah itu, setiap orang yang masuk akan disambut oleh suasana klasik yang kental dengan berbagai miniature dari Italia. Semua barang\-barang disana didominasi oleh warna coklat dan emas. Di ruang tamu terpajang sebuah lukisan besar yang sangat indah namun, Silvia sama sekali tidak mengerti. Entah lukisan itu sedang menceritakan tentang apa.



Silvia menatap kagum saat melihat keindahan rumah itu, gadis yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku kuliah itu seolah tidak bisa berkata\-kata untuk menggungkapkan apa yang saat ini ada dihadapannya. Dia tidak pernah bermimpi akan menjadi istri seorang bilioner, jangankan bermimpi\- membayangkan saja dia tidak pernah. Selama ini Silvia hanya menjalani hidupnya dengan normal dan hanya memikirkan bagaimana caranya lulus dari kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga dia bisa membuat orang tuanya bangga.



Tapi, semuanya sudah terjadi, tidak ada gunanya menyesali dan mengeluh tentang semuanya, yang harus dia lakukan adalah bagaimana menjalani perannya sebagai seorang istri Nathan untuk satu tahun kedepan. Hanya satu tahun. Ya! itu adalah perjanjian yang sudah mereka sepakati dihari pernikahan mereka. Perjanjian bodoh yang membuat mereka memutuskan untuk berdamai satu tahun ini.



Silvia menghentikan langkahnya di depan sebuah kaca besar dan tinggi yang menampakkan pemandangan indah taman belakang. Di sana ada kolam renang dengan sofa\-sofa khusus di sepanjang pinggir kolamnya. Silvia sangat menyukai kolam karena berenang sudah menjadi hoby keduanya setelah menari. Gadis itu tersenyum lebar sembari melipat kedua tangannya didepan dada, menatap kolam itu dengan raut wajah berseri. Rasanya dia ingin sekali menceburkan diri sekarang juga dan berenang sepuasnya. Setidaknya ada satu hal yang dia sukai dirumah ini, yang bisa menjadi kekuatannya untuk bertahan. Kolam renang!



Silvia kembali tersenyum. Sepertinya itu bukan ide yang buruk.



Dengan wajah berseri, Silvia membalikkan badannya dan berjalan menuruni tangga. namun, tiba\-tiba seorang pelayan menghampirinya. Seorang wanita setengah baya, dengan mata yang tajam dan berwajah flat seperti majikannya. Silvia baru menyadari semua penghuni rumah ini rata\-rata memiliki wajah datar dan dingin seolah itu sudah menjadi keharusan di rumah ini.



"Ada apa?'" tanya Silvia bingung, dia harus menunda rencananya untuk sementara waktu dan itu membuatnya sedikit kesal.



"Nyonya mau kemana?'" tanyanya dengan nada penuh tata karma



"Mau berenang, emangnya kenapa?" jawab Silvia penuh percaya diri



"Maaf Nyonya, Tuan Nathan sudah berpesan katanya Nyonya tidak boleh berenang."



Silvia menatap Pelayan itu dengan tatapan datar sembari menarik kepalanya kebelakang, dia sama sekali tidak mengerti.



"Maksudnya? dan kenapa saya tidak boleh berenang?" Silvia menatap kesal merasa terusik dengan ucapan pelayan itu.



Pelayan itu hanya diam dan menunduk. Sementara Silvia menghela nafas kecewa. Baru saja dia membayangkan berenang di bawah sana, merasakan sejuknya air kolam dan ketenangan suasananya. Tapi, semua itu hancur begitu saja hanya karena satu perintah bodoh itu.



Peraturan macam apa itu? Punya kolam renang tapi tidak boleh berenang.




"Nyonya mau kemana? Apa tidak mau sarapan dulu?" lagi\-lagi pelayan menyebalkan itu menghentikan langkah Silvia membuat Silvia menahan kesal.



"tidak terimakasih!'" jawabnya sembari menoleh dan kemudian lekas pergi.



Silvia merebahkan tubuhnya kasar di atas queen bed sizenya, tak lama kemudian ponselnya berdering. Sekali, dihiraukannya. Dua kali, dihiraukannya. Tiga kali, Silvia tidak tahan mendengar suara berisik ponselnya.


"Ponselnya yang rusak atau kamu yang budek?" belum sempat Silvia mengatakan 'halo' orang diseberang sana lebih dulu berbicara dengan nada sinis, membuat Silvia semakin naik darah.


"Maaf salah sambung!" jawabnya sarkasme


Orang diseberang sana terdengar tertawa mengejek, "tidak mungkin aku salah mengenali nomer istriku"


Seketika itu Silvia langsung membisu, matanya melotot dan spontan menjauhkan ponselnya dari telinganya. Jadi itu, Nathan? - pikirnya.


"Kamu belum mati kan Silvia?'" katanya mengejek


Silvia berdehem sebelum berbicara, berusaha menormalkan suaranya, "tenang saja Tuan Nathan, aku tidak akan mati secepat harapanmu."


Nathan kembali tertawa.


"Aku dengar kamu tidak sarapan karena merasa kesal tidak diizinkan berenang?'"


Shit !


Silvia mengupat dalam hati, pasti pelayan menyebalkan itu yang mengadu pada bosnya.


"Tidak. Aku hanya tidak terbiasa sarapan" kilahnya


"Dengar Silvia, aku paling tidak suka dibohongi dan lagi pula kamu tidak bisa membohongiku. Aku tau semuanya. Bahkan saat ini kamu tengah berbaring di ranjang, aku tau. Karena aku punya sisi tv, so jangan macam-macam."


Silvia spontan mendongakkan kepalanya, meneliti setiap sudut yang memungkinkan ada kamera sisi tv milik laki-laki sombong itu di sana.


"Mustahil untuk menemukannya, jadi jangan buang-buang waktu." ujar Nathan


Semua ucapan Nathan semakin membuat Silvia yakin kalau di kamarnya benar-benar ada sisi tv. Mulai sekarang dia harus lebih hati-hati karena bisa saja Nathan berbuat hal macam-macam. Namanya juga laki-laki aneh, tidak ada yang tau apa yang ada di kepalanya.


"Aku tidak perduli!" Ketus Silvia


"Terserah! Yang jelas sekarang aku mau kamu sarapan dan ingat jangan coba sekali-kali berenang kalau aku tidak ada di rumah. Jangan membantah, ikuti saja perintahku dan tunggu aku pulang besok lusa." Tiba-tiba nada Nathan berubah menjadi sedikit melembut di telinga Silvia dan beberapa saat membuat gadis itu merasa nyaman mendengarnya.


Namun, Silvia tidak ingin menarik kesimpulan apapun,dia tidak mau terjebak dalam lubang hitam yang nantinya akan menghancurkan dirinya sendiri.


Sadar Silvia, sadar!


"Untuk apa aku menunggumu?" Silvia jual mahal


"Tentu saja untuk berenang. Aku tidak mau nanti ada surat kabar yang mengatakan istri Tuan Nathan tenggelam di kolam renang. Itu sama sekali tidak lucu."


Tanpa disadari, ucapan Nathan membuat Silvia tertawa geli. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi. Tapi, Silvia bisa memastikan hal itu tidak akan terjadi karena gadis bertubuh ramping itu adalah ahli olahraga renang sejak SMP.


"Excusme, apa ada sesuatu yang lucu disini?" ucap Nathan dengan nada maskulinnya


"Tidak.." sahut Silvia diiringi oleh suara cekikikan


"Dengar Silvia, aku serius."


Silvia bangkit dari tempat tidurnya dan berdiri di depan jendela besar di sebelah kiri ranjangnya, menatap langit yang mulai mendung, "iya-iya Tuan Nathan"