
Mereka mengelar kain dibawah sebuah pohon, kemudian duduk diatasnya dan menikmati bekal mereka yang sudah dipersiapkan oleh Silvia. Nathan mengakui kalau masakan Silvia cukup membuat lidahnya puas.
"tempat ini adalah tempat favorit kakak perempuanku, dulu kami sering menghabiskan waktu disini berdua, berjam-jam bahkan bisa sampai malam. Kakak ku sangat menyukai tempat ini, kata dia hanya aku dan seseorang yang dia sayang yang diajaknya kesini. Aku tidak pernah tau siapa orang yang dicintai kakak ku hingga saat ini." Tanpa beban Silvia mulai menceritakan sedikit tentang dirinya. Sebenarnya tujuan Silvia mengajak Nathan kemari hanya untuk membuat pikiran Nathan lebih tenang. Karena selama ini Silvia sadar, satu-satunya orang yang paling tersakiti diantara keluarga Nathan adalah dia sendiri. Silvia hanya ingin membantu Nathan mewujudkan apa yang tidak bisa Nathan wujudkan.
"bukannya kamu adalah anak tunggal?" Nathan membuka suaranya
Silvia bergeser lebih dekat dengan Nathan, menyandarkan kepalanya dibahu Nathan tanpa rasa canggung sedikitpun, "ada sebuah rahasia yang tidak kamu ketahui Nath. Sebenarnya aku bukan anak kandung dari kedua orang tuaku, mereka adalah ayah dan ibu angkatku. Saat itu usiaku sepuluh tahun ketika orang tuaku meninggal dalam kecelakaan. Saat itu usia kakak ku dua puluh tahun, dia harus melanjutkan kuliahnya di Jakarta, tapi dia tidak ingin meninggalkan aku di panti asuhan, hingga akhirnya dia menitipkan ku pada orang tuaku sekarang. Setiap enam bulan sekali, dia datang ke bandung dan mengajakku menghabiskan waktu disini dan membawakan barang-barang yang aku suka. Dia baik sekali." Silvia menghapus butiran bola-bola bening yang reflek berjatuhan dipipi tirusnya.
Nathan mendengarkan dengan seksama, dia tidak menyangka kalau Silvia memiliki kisah sepahit itu. Pasti berat bagi Silvia untuk menjalani semua itu, tapi perempuan itu terlihat tetap tegar meski kisah masa lalu yang pahit terus membayanginya. Silvia mendongakkan kepalanya, menatap Nathan yang masih menatapnya lekat, kemudian meraih kedua tangan Nathan.
"Nath, semua orang pasti punya kisah masa lalu yang pahit, tapi itu bukan berarti menjadi alasan kita membenci seseorang. Masa lalu itu adalah kenangan yang membuat kita tetap kuat saat ini. Aku tau bagaimana rasanya berada diposisi kamu, tapi sekali saja aku mohon dengarkan penjelasan mereka. Sudahi semua permusuhan ini, Nath. Adik kamu Anastasya sangat mengharapkan semua itu, kamu sayang kan sama dia?" Nathan melengos, Silvia menggenggam tangan Nathan lebih erat, membuat Nathan kembali menoleh kearahnya.
Mata Silvia berkaca-kaca, "aku tidak ingin kamu selalu sendirian hingga nanti aku pergi dari hidupmu," Nathan mengernyit, "kamu dan aku sama-sama tau kalau hubungan ini akan berakhir dalam kurun waktu setahun. Aku ingin melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan kamu pada orang tua angkatku. Meski aku tidak tau seperti apa masa lalu yang kamu lewati dan sepahit apa itu, tapi satu hal yang aku tau, kamu membutuhkan mereka semua. Kamu menyayangi mereka Nath, buktinya kemarin kamu tidak tinggal diam ketika Roy sekarat dirumah sakit. Berapa lama kamu membutuhkan waktu untuk menyadari semua itu Nathan?"
Nathan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dia kehilangan kata-katanya hanya karena hal mengejutkan yang diutarakan Silvia. Apa yang dipikirkan gadis itu, Nathan tidak bisa mengerti, setelah apa yang dia lakukan pada perempuan itu, kenapa Silvia malah bersikap sebaik ini padanya?
Disisi lain ucapan Silvia memang benar, tapi sulit rasanya jika harus bertatap muka lagi dengan ayahnya setelah sekian lama. Rasa sakit yang telah membatu dihati Nathan seolah membelenggunya dengan rantai kebencian yang entah kapan bisa dia lepaskan. Setiap kali dia mengingat ayahnya, kenangan masa lalu itu menghantuinya seakan menyadarkannya dari kelemahan yang selama ini membuatnya rapuh.
"Kamu tidak akan pernah mengerti, Silvia. Lukanya mungkin saja bisa sembuh tapi, bekasnya tidak akan pernah hilang " sahut Nathan
"Tapi, aku mohon sekali saja kamu dengarkan penjelasan mereka, setelah itu terserah kamu mau tetap membenci mereka atau berdamai dengan semuanya.."
Silvia tidak perduli Nathan mau mengatainya apa, yang jelas saat ini yang Silvia butuhkan adalah jawaban 'iya' dari mulut Nathan. Dia tidak ingin hal lain selain membuat Nathan mau berdamai dengan keluarganya, karena Silvia tidak ingin Nathan menyesal dikemudian hari. Sebisa mungkin dia ingin mencegah hal itu terjadi. Nathan terdiam sejenak, memepertimbangkan ucapan Silvia
Mata Silvia menggenang, ada puluhan tetes air mata yang coba dia tahan dihadapan Nathan, Nathan bisa melihat kesungguhan Silvia, tapi dia tidak bisa mengerti kenapa gadis itu menangis. Menatap Nathan sedekat ini membuat dada Silvia sesak, seperti dia bisa merasakan rasa sakit Nathan dari sorot mata keangkuhannya.
"Kenapa kamu tidak membenciku Silvia? Apa alasanmu melakukan semua ini untukku?"
Air mata Silvia tumpah, cepat-cepat dia menghapusnya, "ada alasan yang tidak seharusnya aku utarakan tapi seharusnya bisa dimengerti oleh kamu. Aku tidak butuh alasan untuk melakukan semua ini, dan aku tidak butuh kata untuk menjelaskannya. Karena lambat laun kamu pasti akan tau, meski diwaktu yang terlamat."
"Tapi, satu hal yang harus kamu tau, sejak awal hingga saat ini aku tidak pernah membenci mu. Sekarang aku hanya ingin berdamai dengan mu Nath, sampai waktunya kita harus menyudahi semua ini."
Langit dihiasi oleh awan hitam super tebal, cahaya matahari yang menyinari begitu terangnya berubah menjadi gelap gulita. Tak sempat Nathan dan Silvia menyelamatkan diri, hujan deras lebih dulu jatuh mengguyur mereka. Mereka kelabakan dan segera berlari mencari tempat berlindung, Nathan menarik tangan Silvia menuju sebuah gubuk kecil yang tidak jauh dari sana. Setidaknya itu lebih baik, dibandingkan harus berlari menuju mobil mereka yang jaraknya cukup jauh.
Hujan deras mengguyur kota bandung, menghadirkan udara beku yang sangat dingin. Silvia memeluk tubuhnya sendiri, bibirnya berubah warna menjadi biru, dan tubuhnya bergetar kedinginan. Nathan melihat hal itu, dan tiba-tiba mendekap Silvia dari belakang, memberikan kehangatan pada gadis itu. Silvia tidak menolak perlakuan Nathan, dia malah semakin membenamkan tubuhnya di tangan lebar Nathan.
"Kamu tidak apa-apa?" Nathan menatap Silvia khawatir karena tubuh Silvia memberikan reaksi yang tidak seperti orang kedingina biasanya. Samar-samar Silvia mengangguk
Nathan memeluknya lebih erat, tatapannya tertuju pada mulut Silvia yang membiru. Jelas sekali kalau Silvia sedang tidak baik-baik saja. Tanpa pikir panjang lagi, Nathan memberikan tindakan menyelamatan pertama. Nathan mencium bibir Silvia, membuat Silvia sontak terkejut karena merasakan sesuatu kenyal menyentuh bibirnya. Awalnya itu hanya menjadi ciuman biasa, namun kelembutan bibir Silvia, perlahan membalas ciumannya dan berusaha mengimbangi Nathan.
Nathan membalikkan tubuh Silvia menghadap kearahnya dan lebih dekat, hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka. Tangan Nathan menarik pinggang Silvia lebih dekat, Sementara Silvia memeluk punggung Nathan. Adegan Ciuman itu berlangsung sangat lama, mereka begitu intens seolah tidak memikirkan hal lainnya selain melampiaskan hasrat mereka masing-masing.
Mereka melepaskan tautan bibir diantara mereka ketika mereka sudah kehabisan nafas, udara yang dingin berubah menjadi hawaa panas yang membara. Nathan dan Silvia saling menatap lekat satu sama lain, berusaha menormalkan nafas mereka.
BRUKKKK.....
Tubuh Silvia oleng dan terjatuh, Nathan langsung menangkapnya. Suhu badan gadis itu sangat dingin hampir seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya, wajahnya sangat pucat karena kedingiana. Nathan panik, dia tidak tau harus bagaimana, semua baju mereka basah, tidak ada yang bisa digunakan untuk menyelimuti Silvia. Hingga ide gila itu pun muncul dikepalanya, Nathan tidak yakin melakukan itu, tapi nyawa Silvia lebih penting dari pada segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi lagi.
Maafkan aku Silvia, tapi ini demi keselamatanmu
Nathan melucuti satu persatu pakaian Silvia, sebenarnya dia sudah biasa melakukan semua ini dengan perempuan-perempuan ****** yang pernah tidur bersamanya, namun melakukan hal itu terhadap Silvia membuat jantungnya rasanya lepas dari tempatnya. Satu per satu Nathan menanggalkan gaun Silvia, memperlihatkan tubuh mulus Silvia hanya dengan balutan pakaian dalam. Nathan menarik nafasnya, berusaha mengontrol dirinya, dia melepaska kaitan di bra Silvia hingga menampakkan sesuatu yang seharusnya tidak diperlihatkan. Nathan tau, Setelah ini Silvia pasti akan sangat membencinya, tapi keselamatan perempuan itu menjadi prioritasnyan sekarang.
Setelah tubuh Silvia tidak mengenakan sehelai benang pun, kini giliran Nathan yang melepaskan pakaiannya, memperlihatkan tubuh kekarnya dan dada bidangnya tanpa balutan kain. Nathan mengangkat tubuh Silvia dipangkuannya, kemudian mendekap erat tubuh gadis itu, mencoba memberikan kehangatan untuknyaa.
Mati-matian Nathan berusaha menahan dirinya ketika dua gundukan itu menyentuh dadanya, tubuh indah Silvia membuat Nathan benar-benar di skak mattt..
^....^
■■■TBC■■■