You're My HeartString

You're My HeartString
BAGIAN ENAM BELAS | Kesempatan



ciitttttttttt......


Tubuh Silvia dan Nathan sedikit terlempar kedepan, beruntung mereka dapat mengontrol diri sehingga tidak terbentur dengan kaca mobil.


Nathan membanting ponselnya dengan kasar pada sebuah box yang letaknya tepat disampingnya. Setelah menerima panggilan yang entah dari siapa, wajah Nathan langsung berubah.


Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras dan bola matanya memerah, membuat Silvia lagi-lagi harus merasa takut berada didekat laki-laki itu.


"SHIT!! " untuk kesekian kalinya Silvia mendengar umpatan dari mulut Nathan


"Nathan, ada apa? " Silvia menatap khawatir


"Turun! " perintahnya dengan tegas dan suara dingin, membuat perempuan disebelahnya mati kutu


Silvia sama sekali tidak mengerti dengan karakter aneh Nathan. Baru beberapa menit yang lalu dia tidak mengizinkan Silvia pulang sendiri, dan sekarang tiba-tiba saja laki-laki itu memintanya turun ditengah jalan seperti ini.


Apa dia melakukan kesalahan?


"Nathan kam-" Silvia menatap suaminya bingung


"Turun sekarang!" dengan nada geram Nathan memaksa Silvia agar segera turun dari mobilnya


Silvia sama sekali tidak mengerti kenapa Nathan menyuruhnya turun ditengah jalan. Daripada memperdulikan semua pertanyaan akan kebingungannya itu, Silvia lebih memilih cepat-cepat turun dari mobil mewah itu, daripada dia harus melihat tatapan Nathan yang menatapnya seperti menatap seekor binatang.


Sakit. Itulah yang dirasakan Silvia saat ini. Ada rasa perih menggelenyar didadanya. Entah kenapa dia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki yang saat ini notabane nya adalah suaminya.


Tanpa perlawanan, Silvia turun dari mobil, tidak mengucapkan sepatah katapun. Begitu juga dengan Nathan, bahkan dia tidak melihat ke arah Silvia sedikitpun, seolah tidak perduli.


Mobil Nathan melaju sangat kencang, meninggalkan pinggir jalan tempat dia menurunkan Silvia. Dalam sekejap, mobil Nathan sudah tidak terlihat lagi dalam jangkauan mata. Lenyap begitu saja diantara puluhan kendaraan yang mengiasi hiruk-pikuk jalanan.


Sementara kepergian Nathan, Silvia mulai melangkahkan kakinya. Berjalan kaki menuju halte terdekat ataupun mencari kendaraan umum yang bisa membawanya kembali pulang. Selepas semua itu, hati perempuan itu jauh lebih sakit saat ini, terbukti dengan bulir air mata yang mulai membasahi pipinya.


Sembari menunduk, berusaha kuat dan tidak mengeluarkan air mata, Silvia berjalan menyusuri trotoar. Udara panas menemaninya, suara bising kendaraan menjadi penonton setianya, hatinya benar-benar sakit.


"Silvia! " seruan itu membuat Silvia spontan menoleh


"Dilan.. " cepat-cepat dia menghampus air matanya, tidak ingin Dilan tau dan berpikir macam-macam


"Apa yang kamu lakukan ditengah jalan seperti ini? " Dilan turun dari motor ninja berwarna biru dongkernya, meletakkan helmnya dan berjalan lebih dekat dengan Silvia.


Pertanyaan Dilan membuat Silvia kelabakan menjawabnya, Silvia menoleh kekanan dan kekiri berusaha mencari jawaban yang tepat.


"Aku sedang jalan-jalan. Kebetulan dosenku memberiku tugas observasi." itulah jawab terbaik yang bisa Silvia temukan dalam kepalanya.


Dilan menyilangkan tangannya didepan dada, menatap Silvia menyelidik. "aku bukan anak SD yang bisa kamu bohongi dengan mudah. "


Silvia berusaha mengalihkan pandangannya dari Dilan.


"Ngomong-ngomong dimana suami kamu itu? Dia pasti membuang kamu ditengah jalan seperti ini, iya kan? Aku tidak perlu berbohong pada ku. "


"Itu hanya asumsi kamu saja Dilan." Silvia membela diri


Dilan tersenyum miring.


 


Mobil hitam legam itu terparkir dengan kasar di sebuah halaman rumah besar bergaya klasik. Suara decitan rem yang luar biasa karena ditimbulkan oleh si penggendara yang bringas itu, membuat para penjaga dan satpam disana berdiri siap siaga.


Para penjaga disekitar rumah itu langsung merapat dan bersiap kalau nanti terjadi hal yang membahayakan di rumah itu. Nathan keluar dari mobilnya dengan tatapan membabi buta. Dia membanting pintu mobilnya dengan kasar dan keluar seolah tidak ada yang dia takuti di dunia ini.


Para penjaga itu berdiri dihadapannya dengan tubuh kekar dan pertahanan yang cukup kuat untuk memblokir jalan Nathan memasuki rumah itu.


Amarah Nathan benar\-benar mencapai batas paling akhir saat ini. Sudah tidak ada lagi kesabaran dalam dirinya, dan bahkan dia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Yang ada dikepalanya hanyalah bagaimana caranya melampiaskan emosinya.


"Minggir!" suaranya dingin dan tertahan.


Hanya dengan sorotan matanya, Nathan mampu membuat penjaga\-penjaga itu merinding dan berpikir dua kali untuk menyerang duluan.


"Tidak bisa Tuan, anda tidak bisa seenaknya memasuki rumah ini. " ungkap salah satu penjaga sebagai perwakilan penjaga yang lainnya


Nathan menatapnya dengan tatapan mengintimidasinya, tampak jelas amarah membara dari mata biru lautnya.


"Aku tidak akan mengulang perkataanku. minggir kalau kalian masih ingin selamat."


Mendengar ancaman Nathan, semua penjaga itu langsung minggir dan membukakan jalan untuknya. Tanpa berpikir panjang lagi, Nathan langsung memasuki rumah itu.


"Anastasya ... KELUAR!!" teriak Nathan


Tidak ada jawaban.


"ANASTASYA KELUAR!! JANGAN MEMANCING KESABARAN KAKAK! "


senyap.


"Jangan memaksa kakak untuk berbuat KASAR!!!"


PRANGGGGGKKK!!!


Nathan membanting sebuah vas kaca yang letaknya tidak jauh dari jangkauannya.


Dari dalam rumah muncul seorang pemuda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Nathan. Lebih muda beberapa tahun darinya.


Pemuda itu memakai setelah jas berwarna silver, berjalan dengan sombongnya kearah Nathan. Dia melonggarkan dasinya dengan kasar.


"Berani\-beraninya membuat keributan di rumah orang lain. Apa seperti ini sikap seorang Nathan Alexander? " ujarnya dengan tatapan meremehkan, sembari tangganya menggulung lengan panjang kemejanya.


Melihat wajah pemuda itu membuat emosi Nathan malah semakin naik, kedua tangannya mengepal, siap melancarkan tinjuan bebobotnya.


"Aku tidak percaya, akhirnya kau menginjakkan kaki di rumah ini setelah sepuluh tahun lamanya. " dia tertawa mengejek


"Di mana Anastasya? "


"Beri saya satu alasan kenapa saya harus memberi tahu anda? "


Sorot mata Nathan menajam, "saya tidak punya urusan dengan anda. Waktu saya terlalu berharga untuk meladeni manusia tidak penting seperti anda. "


Pemuda itu mengedikkan bahunya dengan santai.


"ANASTASYA!!!!"


Pemuda itu tertawa keras seolah dia sedang menonton film lawak.


"Pada akhirnya kamu selalu membuat orang\-orang meninggalkan kamu. Ciiihhhh! "


Kali ini Nathan tidak bisa menahan emosinya, dia menarik kerah kemeja pemuda itu dan bersiap memukulnya.


"Tutup mulutmu ********!"


"Nathan, lepaskan dia! "


Tiba\-tiba laki\-laki setengah baya muncul ditengah\-tengah perseteruan dua pemuda itu. Di belakang laki\-laki itu, Anastasya berdiri seolah sedang bersembunyi. Menunduk, tidak memiliki keberanian menatap Nathan.


Nathan langsung melepaskan tangannya dari kerah baju pemudanya. Tatapannya tertuju pada dua orang disebelahnya. Nathan tidak tau harus berkata apa sekarang.


Dia sama sekali tidak menyangka akan berhadapan lagi dengan laki\-laki setengah baya dihadapannya sekarang. Selama ini Nathan berusaha mengubur semua masa lalunya, tapi hari ini Anastasya membuka kembali luka lama itu.


Adiknya sendiri menentangnya dan memaksanya untuk berbuat seperti ini. Dan membuatnya menginjakkan kakinya dirumah yang selama ini diharamkannya.


"Anastasya ayo kita pulang. "


Anastasya menggeleng.


"Biarkan Anastasya tinggal bersama Papa."


"Saya tidak bicara dengan anda. " sinis Nathan.


"Heiii... Jangan kurang ajar pada Papa Saya! " pemuda itu menarik keras baju Nathan


"ROY! " laki\-laki setengah baya itu menggeleng memberikan isyarat kepada putranya untuk tidak membuat keributan


Roy melepaskan remasannya dengan setengah hati.


"Anastasya... " Nathan memanggil penuh penekanan


Anastasya berjalan, keluar dari persembunyiannya dibalik punggung papanya.


Dengan takut\-takut Anastasya menatap kakaknya, "aku tidak mau tinggal bersama kakak. Aku ingin tinggal bersama Papa, aku ingin tetap disini. "


"Anastasya, jangan gila. Sampai kapanpun kakak tidak akan mengizinkan kamu tinggal bersama laki\-laki itu!! "


"Laki\-laki yang kakak maksud itu adalah Papaku. Terserah Kakak tidak mau mengakuinya, terserah kakak mau membencinya, yang jelas aku tidak. Kakak tidak bisa memaksaku mengikuti kemauan kakak. Aku muak dengan semua ini kak! Aku muak dengan semua keegoisan dan tempramen kakak!! " ujar Anastasya dengan nada frustrasi


Nathan benar\-benar tidak menyangka adik kandungnya sendiri akan berkata seperti itu kepadanya, kakaknya sendiri.


"Anastasya, apa kamu lupa,apa yang sudah dilakukan laki\-laki itu terhadap Mama? Apa kamu lupa bagaimana perjuangan Mama saat DIA pergi bersama wanita lain? Apa kamu lupa bagaimana kakak membanting tulang demi kehidupan kamu? "


Anastasya hanya bisa meneteskan air matanya sembari menunduk, bahunya naik turun tidak beraturan.


"Nath... "


"JANGAN MEMANGGILKU DENGAN PANGGILAN ITU! ANDA TIDAK BERHAK!! " teriak Nathan


"Sampai kapan kamu akan bersikeras seperti ini. Berikan Papa kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. " laki\-laki setengah baya itu menatap Nathan dengan tatapan memohon


Roy berjalan mendekat kearah Papanya, dan tak lama kemudian Mario muncul dari balik pintu utama. Dia sangat terkejut kedatangannya dikejutkan dengan pemandangan menegangkan itu.


"Manusia seperti dia tidak akan pernah mengerti dan lagipula untuk apa Papa memohon padanya, tidak pantas!"


"Roy, jaga bicara kamu." Mario menegur adiknya yang bicara kasar kepada Nathan


Semua mata menatap ke arah Mario. Mata Mario berkaca\-kaca menatap Nathan. Sudah sangat lama dia menantikan moment seperti ini.


Tatapan Nathan sedikit melembut saat melihat kedatangan Mario.


■■■TBC■■■