XIREN the moon

XIREN the moon
Bagian 34



"Jangan menyentuh nya" desisku


"Bukannya kau bilang....


"Lepaskan"


"Baiklah aku akan lepaskan tapi.... brakkk tidak semudah yang kau pikirkan" mendorongnya. "Menyenangkan melihatmu terluka"


"Kau tak apa?


"...."


"Janah lewati batasan mu tuan"


".... kau siapa beraninya memerintah ku hah?" teriakku tepat di depan wajahnya.


"Sudah kubilang jangan....


"Brakkk... kau sangat banyak bicara" memukulnya brutal.


"Apa ini yang aku sebut pukulan? sangat lemah. tapi yang ku sebut pukulan ini tuan Jung" brakkk... tubuh itu terpental jangan pernah menyentuhnya" menekankan lengannya.


"Kau tak apa?" membantunya berdiri


"Terimakasih sudah membantuku" membungkukkan badan. kalau kau tidak ada mungkin aku sudah....


"Anggap saja itu kebetulan, Saya sangat tidak suka melihat ada yang dibully" jelasku melihatnya.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuannya"


"Baiklah aku pergi" meninggalkan nya ditanam.


"Hah.... kau kemana saja? kau membuatku kwartir" lirihku memeluknya.


"Aku baik baik aja saja" ketusku menatapnya jengkel. ayolah aku sudah dewasa tidak perlu berlebihan juga.


"Maaf, tadi...


"Siapa yang melakukannya? menatapnya tajam. Aku baru meninggalkan nya sudah ada lebam di wajahnya.


"******** itu menggangu ku"


"Lain kalau aku tidak akan meninggalkanmu" menyamakan langkah dengannya.


"Terserah kau saja"


"Jadi dari mana?


"Aku..." tunjuk ku pada diriku


"Iya kau, menang siapa lagi yang kutanya? hanya kota berdua yang disini" ketusku entah kenapa aku tidak tahu harus apa dia sangat.... sangat menjengkelkan.


"Menemui Paman"


"Ada masalah?" menatapnya serius.


"hanya memberikan laporan" jawabku santai.


"Kau tidak berbohong?


"Kapan? kau bilang kapan aku bahkan tidak bisa menghitung kau sudah berbohong padaku" desisku mengingatnya


"Itu bukan keinginanku"


"Tetap saja sama"


"Apa kau marah?" merangkulnya mensejajarkan langkah dengannya.


"Tidak"


"Chen Li kau marah" sungut ku.


"....."


"Ini tuan" menyerahkan file.


"Pergilah" menatap file itu tanpa minat.


"Apa aku harus melakukannya?" Ini sangat berat untuknya tapi akan kulakukan apapun.


"***Maaf aku tidak akan mengulangi nah lagi maafkan aku ayah, kumohon jangan lakukan ini" Tangis anak kecil meratapi nasibnya


"Sudah kubilang jangan melakukannya, kenapa kau keras kepala? apa aku mau mati bocah" teriakku mencambuknya.


"Aku tidak melakukannya, bukan aku yang melakukannya ayah, kakak yang melakukannya kenapa ayah memukulku?


"Masih berani kau melawanku hah?" plakkkk tamparan keras yang dia dapatkan dari ayahnya. membuat darah mengalir dari bibirnya.


"Jangan melakukanya lagi bocah" meningglkan anak itu yang meraung-raung mengingat tubuhnya sudah sangat sakit***.


Mimpi itu lagi kenapa mimpi itu selalu ada lirihku tersenyum miris. mengingat bagaimana orang tuaku menyiksaku. karena kesalahan yang bukan kulakukan. tapi aku yang disiksa.


"Kau bahkan menyiksaku, aku membencimu, aku sangat membencimu kenapa kau lakukan itu hiks hiks.. hiks.. kau selaku melakukannya kalau kau melakukan kesalahan walaupun itu bila kesalahanku kau akan selalu menghukum ku. aku membenci mu aku sangat membenci ********. kenapa kau melakukannya? hah kenapa kau melakukannya kenapa kau tidak bunuh saja aku" tangisku mengingatnya semua yang dia lakukan padaku.


"Kau membunuh adikku kau pembunuh" terbaikku mengancurkan ruangan itu.


"Aku benci kau ********, kenapa kau Harau hidup hah? kau tidak pernah menyangyagi anak anakmu, kau membuat mereka menjadi pembunuh" hiks... hiks hiks kau pembunuh" Akkkkh hah hah hah


"Buka pintunya" teriakku menggedor pintu.


"Pergi dari sini"


"Kumohon buka pintunya"


"Aku... hiks hiks hiks....


Brakkk... suara pintu dibuka paksa membuat pintu itu rusak.


"Hiks... hiks.... aku Hanay diam melihatnya menangis di sudut ruangan. itu membuatku mengingatnya sua yang sudah Yangji alami.


"Aku akan membunuhnya kalau dia melukaimu lagi! Haagen menangis sudah cukup air mata yang kau keluarkan, jangan menagis lagi" memelukknya erat.


"Ayah...


"Tidak... kau tidak boleh menangisi nya lagi! kau harus bahagia Yangji" menatapnya yang masih menangis.