XIREN the moon

XIREN the moon
bagian 31



Akh... hanya teriakan yang terdengar dari ruangan itu. ruangan yang tidak bisa dikatakan baik. bagaimana tidak darah memenuhi ruangan itu menyisakan sejumlah orang yang sudah tak bernyawa berserakan dilantai.


Membuat siapapun yang melihatnya tidak akan tahan. tubuh manusia berserakan dilantai bahkan sudah dikatakan tidak lagi utuh. semua organ tubuh nya berserakan dilantai membuat ruangan itu bau amis karena darah yang masih segar.


"Sialan"


"...."


"Dasar tidak berguna, bagaiman mungkin kau kecolongan hah? apa yang kau lakukan hingga hal ini terjadi bodoh! apa kau mau mati hah? dor.... dor... peluru itu menembus lengan bawahannya. meregang nyawa di depannya.


"Dasar bodoh" dengus nya menatap mayat itu tak berminat. buang mayatnya perintahnya meningglkan ruangan itu.


"Kerja bagus. kau melakukannya dengan baik" seringainku mendapatkan laporan yang cukup memuaskan.


"Pergilah"


"Baik tuan" membungkuk hormat meninggalkan ruangannya.


"Hah kita lihat apa kau akan membunuhnya? kuharap kau melakukannya ******. kau sendiri yang akan membunuhnya seringainku penuh kemenangan.


"Jangan berpikir gegabah lakukan dengan tenang. ya lakukan dengan tenang" memijit pelipisnya mencoba menahan sakit kepala ku.


"Aku tidak akan diam Cheng Qian, kalian harus hancur" mengingat bagaimana bawahan ku tewas mengenaskan bahkan semua organ tubuh nya berserakan.


"Akh... sialan kau Cheng Qian" raung ku memukul kaca di ruangan ku. "Hah kau harus mati, aku yang akan membunuhmu brengsek"


akh..


TOKYO


"Apa kau sudah selesai? menautkan alis melihatnya kesusahan berjalan.


"Bantu aku Peng" kesalku harus menahan rasa sakit di sekujur tubuhku. "Ini semau karena mu, kalau saja aku tidak ikut aku tidak akan seperti ini"


"Hn maaf merepotkan mu" membantu nya berjalan.


"Lupakan saja" kesalku menatapnya tajam.


"CK... kau ini ya, aku sudah minta maaf kenapa kau masih seperti ini" menghempaskan tangannya kuat.


"Akh.... apa yang aku lakukan. hah? kalau mau membunuhku ambil saja pistol lebih mudah aku tidak akan kesakitan seperti ini lagi"


"Baiklah kalau begitu aku akan membunuhmu"


"Kau bercanda kan? ayolah aku Hanay bercanda... janah lakukan ini


"Hn jangan membahayakan nyawamu lagi Cho, atau aku akan benar benar melakukan nya. membunuhmu dan memberikan dagingnya pada hiu peliharaan Li". ujarku mencoba menahan tawa melihatnya sudah pucat pasi. bahkan sangat pucat.


"Tentu saja...


"Kau sangat kejam


Aku hanya meringis melihatnya yang sedang merajuk ayolah aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku membunuhnya dia temanku aku masih waras untuk melakukannya. "Aku tidak mungkin membunuh temanku sendiri Cho" ucapku merangkulnya.


"Sakit sialan" ringis ku menahan sakit dipindak ku. mungkin aku harus dirumah sakit selama seminggu atau bahkan lebih. membayangkannya saja sudah membuatku lemas.


"Apa kau bisa sendiri?" menatapnya serius.


Aku menatapnya jengkeh ayolah aku bukan anak kecil lagi. "Kau tenang saja aku tidak akan terluka aku baik baik saja" ucapku tersenyum simpul.


"Baiklah aku pergi aku akan mengunjungimu nanti"


"Hah" menghela napas panjang


"Tuan kau tak apa?" dengan raut cemas yang menurutku sangat berlebihan.


"Kerumahnya sakit sekarang" perintahku memainkan handphone ku.


"Maaf tuan muda Cho"


"Lihat saja" dengusku mengingatkan nya.


"Baik tu....tuan"


"Tetap awasi Peng" perintahku memutuskan sambungan telepon.


"Kakak ada apa?" melihatnya mondar-mandir sedari tadi.


"Dia yang melakukannya" lirihku hampir berupa bisikan.


"Maaf aku tidak memberitahumu" menundukkan kepala.


"Hah menghela napas panjang. apa Hongli sudah tahu masalah ini? menatapnya meminta penjelasan


"Sudah" bukan Yangji yang menjawab tapi Hongli.


"Kalian... apa kalau a pikir ini permainan yang selalu kalian mainkan? menatapnya geram.


"Aku tahu jangan mengingatkan nya lagi" Yangji


"Apa yang akan kau lakukan? apa kau akan tetap diam seolah masalah ini hal sepele? menatapnya tidak percaya.


"Hah aku sudah membereskannya kakak tenang saja" tersenyum miris kearahnya. aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengahadapi kegilaannya. ini sangat diluar nalar ku.