
"Kumohon jangan lakukan ini tangisku semakin mundur. siapapun tolong aku"
Braakkk
"Hah... tidak salah predikat tertinggi itu untukmu, membuly yang lemah nona Lee-wei" menyingrai menatapnya sinis.
"Kenapa kalau diam? lalu bisa dia juga ikut" seringaiku melihatnya semakin mundur.
"Sialan kau Lee"
"Sesama ******** janah mengumpat Xia"
"Braakkk... kau tidak kapok juga ******"
"Apa kau merindukan sentuhan ku nona Lee?
"Sialan apa ya gan kalau lihat hah?
"Kau memang sangat merepotkan sialan desisku menjambak rambutnya.
"Brukkk... kau tak apa?
"Janah menyentuh ku"
"Kenapa kau melindungi gadis yang tidak tahu kalau itu Xia? desisku
"Hah... dia hampir saja dilecehkan"
"Biarkan saja Xia"
"Tapi Yangji, aku tidak tega melihatnya"
"No.....nona"
"Kalian merindukanku?
"Maafkan kami nona, ini tidak akan pernah terjadi lagi maafkan kami nona"
"Cepat pergi dari sini atau kalian akan habis"
"Terimakasih nona Qian"
"Kau tak apa? biarkan saja dia Xia, itu bukan urusanmu"
"terimakasih sudah membantuku" membungkuk singkat.
"Tak apa, tidak perlu sungkan" Xia
"Terimakasih nona Qian"
"Kita pergi"
"Plakkkk apa masalah mu ******?
"Hah apa masalahku? aku tidak suka kau membuly orang. apa kau pikir aku akan diam setelah apa yang tadi kau lakukan? kau salah aku akan membunuhmu" desisku menjambak rambutnya.
"Persetan kau sialan" Teriak Lee-wei
"Ku anggap itu pujian untukku nian Lee atau kau akan menyesal. jangan lupa aku tidak akan membiarkan mu lepas kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa kulakukan" desisku menamparnya keras.
"Sialan kau"
"Hah dasar gadis bodoh"
"Obati lukamu ucapku memberikan nya obat.
"Terimakasih nona Qian"
"Tidak perlu berterimakasih" Qian.
"Yangji apa kau sudah mengerjakan nya? Xia
"Mengerjakan apa?" menatapnya tidak mengerti.
"Apa kau tidak mengingatnya Yangji?"
"Aku tidak ingat" ketuaku sedari tadi aku sudah berusaha mengingat tapi aku tidak bisa mengingat nya.
"Tugas dari prosesor Lin" jawabku.
"3 hari lagi"
"Baguslah, bantu aku mengerjakannya!" Yangji.
"Kau selalu memerintah ku" kesalku.
"Kumohon, aku akan meneraktir mu" bujuk ku.
"Kau tidak bohong?"
"Tidak Apun yang aku mau"
"Apapun?"
"Apapun yang kau mau" balasku.
"Baiklah jangan menarik ucapan mu"
"Hah.... tidak masalah"
"Bagus" seringai ku menatapnya berbinar.
"Apa sebanyak ini?" menatap buku didepanku.
"Tidak masih ada lagi. kau tidak masuk 2 kali dan kau mengeluh? menatapnya kesal. ayolah dia sudah banyak membuat masalah pada prosesor dan sekarang dia mengeluh.
"Jangan mengeluh cepat kerjakan" perintahku menatapnya garang.
"Tanganku mau patah lirihku mengerjakan tugasku"
"Itu salahmu sudah kau tahu tapi kau tetap melakukannya. ejek ku menatapnya jahil.
"Aku akan kekantor apa kau mau makan?"
"Kau sangat pengertian Xia. bawakan aku Ramen" ucapku semangat
"Minuman? terserah kau saja" Yangji
"Akh..., akhirnya siap juga ucapku merilekskan otot-otot ku.
"Apa yang kau lakukan disini? minggir aku mau duduk
"Terserah ku, ini bukan tempatmu" dengusku menahan marah.
"Kubilang minggir apa kau tuli?"
"Ini bukan milikmu. lagian namamu tidak ditulis disini"
"Minggir Qian"
"Tidak akan tuan Wang"
"Kau sangat keras kepala" desisku
Nama Chang tercetak dilayar handphone Yangji. aku tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselku.
"Aku merindukanmu" ucapku memulai pembicaraan.
"Aku juga merindukanmu" Chang
"Kau dimana?" Yangji
"Didepan kampus" Chang
"Baiklah aku kesana" ucapku tampa menutupi rasa gembiraku.
" Aku merindukanmu" memutuskan sambungan teleponku.
"Apa yang kau lakukan lepaskan aku" desisku mencoba melepas pelukannya.
"Siapa?"
"Bukan urusanmu" meninggalkannya.
"Kau milikku hanya milikku Yangji"