
Keduanya terlalur dalam keheningan. tidak ada yang memulai pembicaraan semuanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Aku sudah melakukannya" ucap seorang yang baru datang dengan tenang
"Jangan bercanda Ho kau tidak akan tahu masalah ini"
"Aku tahu! Aku sangat tahu apa yang kulakukan. mereka membunuh ayahku. kau bilang aku tidak tahu? apa yang tidak kutahu hah? kalian menyembunyikan masalah ini dariku apa aku harus diam? diam seolah tidak tahu apa-apa" menatapnya sinis. hah menghela napas panjang. aku akan melakukannya.
"Apa kau tahu Hongli aku berusaha melindungi mu tapi kau tidak peduli! kau egois Hongli"
"Kau bilang aku egois? kalau aku egois kau apa? kau seperti pahlawan yang melindungi ku. aku tidak butuh itu aku ana melakukannya sendiri" sinis ku mengepalkan tangan.
"Lalu kau akan mencarinya menawarkan nyawamu padanya! kau gila" teriakku melihatnya sinis. aku tahu aku salah tapi aku hanya ingin melindunginya ia tidak akan tahu siapa lawannya sebenarnya. orang yang sangat dihormatinya.
"Hah... kau egois"
"Kau benar aku egois Hongli. tapi kau kan berterima kasih kalau kau tahu siapa yang membunuh paman" teriakku kalap.
"Kau benar, aku tidak tahu siapa yang membunuhnya tapi aku tahu wanita itu bawahan wanita itu" menutup mata mencoba menahan emosiku yang bisa meledak kapan saja.
"Janah memaksaku" desisku menghempaskan tangannya kasar.
"Akhhh.. apa yang ku lakukan kau menyakitiku" ringis ku menahan sakit di lengan ku.
"Kau pantas mendapatkannya" sinis ku meninggalkan ballroom hotel.
"Aku tidak akan lepaskan mu Wang Yihan kau milik ku, hanya milik ku" seringai ku melihatnya semakin menjauh.
"Dasar bodoh" melajukan mobilku meninggalkan hotel.
Aku menatap malas ponselku. panggilan dari Naya bahkan aku malas mengangkatnya.
"Kau dimana Wang Yihan?"
"......"
"Jangan permalukan ayah Wang Yihan" ucapku mencoba menahan marah.
"Sudah kubilang aku tidak menyukainya" sinis ku memutuskan sambungan.
"Dasar anak bodoh. apa yang harus kulakukan sayang apa aku bisa melakukannya kuharap kau tidak marah padaku. maaf aku tidak bisa menjaganya" menatap foto pernikahanku dengan istriku. ibu Wang Yihan.
"Bagaimana keadaannya?
"Syukurlah, aku sangat mencemaskan nya" menatap fotonya dengan putraku. ya putraku dengan Shion.
"Kapan aku akan kembali? mereka merindukan mu Peng" mengalihkan pandangannya menatap pantai.
"Entahlah aku tidak tahu. Cheng Qian masih membutuhkanku"
"Pulanglah Shion merindukanmu dan putramu" melihatnya semakin berubah. tidak terurus bahkan ada rambut halus tubuh di dagunya.
"Maaf aku harus pergi. senang bertemu denganmu, kuharap aku tidak pernah bertemu denganmu lagi" meninggalkannya.
"CK, dasar bodoh"
"Bagaimana keadaannya?" menatap dokter itu meminta penjelasan.
"Tidak ada perubahan signifikan" menatap gadis yang tertidur lelap.
"Apa taun Qian sudah tahu?"
"....."
"Kuharap kau mengambil keputusan dengan cepat, gadis ini dalam bahaya" menepuk pundaknya.
"Aku. menyukainya tidak aku mencintainya" melihatnya membuatku semakin bersalah.
"Aku pergi pikirkan tentang mereka"
"Aku menyukaimu apa aku salah? menyukainya? apa kau tidak bisa bahagia? menitihkan aii mataku. aku tidak bisa meninggalkan mu kurapap kau bisa mengerti.
"Tetap awasi bocah itu"
"Baik nona"
"Dan jangan membuat bocah itu waspada"
"Baik nona saya permisi" membungkuk hormat meninggalkan ruangannya.
"Kuharap kau bertahan, aku akan melindungi mu walau aku harus mempertaruhkan nyawa.
"Aku akan pergi ke Jepang" memutuskan sambungan telpon. menghela napas panjang.
aku merindukanmu kenapa aku tidak tahu kalau kau bersama bocah nakal itu.