
"Kenapa kau tidak bisa bersabar Chen? hah kau membuatku harus melawan mereka desahku.
"........"
"Awasi wanita itu"
"......."
"Berikan setiap jam apa yang dia lakukan"
"......"
"Ini akan semakin sulit. aku tidak akan melepaskan mu lagi bodoh. kau salah mencari lawan.
"Zen" panggilku
"Iya tuan"
" Dimana Yangji?" melihatnya menundukkan kepalanya. hah sudah kuduga bocah itu membuat masalah lagi.
"Tadi pagi nona buru buru pergi tuan, sepertinya ada yang dilakukan nona. Tapi nona bilang kalau nona akan ke kampus lebih dulu tuan" jelasku tidak berani menatapnya.
"Pergilah kau awasi Megumi"
"Baik tuan. saya undur diri" membungkukkan badanku singkat.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya sialan! hah apa dia sudah tahu siapa Yangji sebenarnya? tidak mungkin dia......."
"Kenapa kau datang?" menatapnya tidak suka.
"Dimana bocah itu?
"Itu buka urusanmu"
"Yangji adikku" desisku tidak suka.
"Dia bukan adikmu! kau harus ingat itu Sheng. Dia bukan adikmu"
"Jangan membuatku muak Qian Cheng! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau inginkan hah? kau salah kalau aku tidak tahu apa yang kau lakukan siaran sana" seringainku melihatnya menahan marah.
"Itu bukan urusanmu Sheng Li urus saja adikmu jangan membuat masalah lagi aku tidak akan membantunya. kau ingat itu"
"Bukan kah ini waktunya? adikku Hanay menuntut balas atas kematian paman dan bibi"
"Kau salah, kau tidak tahu siapa lawan mu dan siapa dipihakmu" lirihku. "Bersabarlah jangan sampai membuat mereka waspada wanita itu tidak akan membiarkan Chen Li lolos. kau harus melindunginya"
"Biarkan saja Chan membunuh brengsek itu, bukan kah itu bagus"
"Maslah nya kau tidak tahu Sheng Li desisku menahan amarah. Kau tidak tahu siapa yang melindungi wanita licik itu.
"Kau ingat adikku tewas tapi sampai sekarang masih belum diketahui pasti, dan kau tahu wanita itu pelakunya tapi dia membunuhnya tidak secara langsung" desahku
"Apa maksudmu?" Sheng
"Aku tidak tahu pasti tapi ini seolah geme yang dibuat paman" lirihku.
"Jangan bercanda Cheng"
"Kau pasti ingat bagaimana paman meninggal bukan?" menatapnya miris
"Aku ingat paman sangat yakin tapi..... Xin Qian meninggal"
"Paman yang membunuhnya"
"Kau salah Sheng Li bukan paman tapi wanita itu. seolah-olah Paman. yang membunuh Xin".
"******kumohon kakak aku mau ikut yah, aku sangat merindukan ayah. kumohon aku tidak akan mengacau"
"Tidak kau tidak boleh ikut"
"Aku benci kakak" kesal ku memunggungi nya.
"Kau sedang sakit Xin"
"Aku sehat kakak, lihat aku kuat aku sangat merindukan ayah.
"Jangan bicara seperti itu seolah.....
"Kak Aan kau datang? kenapa tidak bilang padaku? aku tahu kalau pasti menyembunyikan sesuatu dariku, aku tahu itu baiklah aku akan menebaknya
"Tidak ada Xin" ucap Sheng yang baru saja datang.
"Wah kalian datang, tidak seru" dengusku.
"Aku ingin menemui ayah, aku merindukan ayah, sangat merindukan nya" ucapku memproutkan bibirku kesal.
"Baiklah kita berangkat tapi, kau harus makan dan minum obat atau tidak sama sekali. kakak tidak terima penolakan minum obat atau tidak pergi" ancam Aan
"Huh baiklah tapi jangan bohong"
"Tidak akan" Sheng Li
"Xin masih sakit, kenapa kalian mengijinkannya? bagaimana kalau dia terluka aku akan menghajar kalian kalau Xin sampai terluka" Cheng Qian
"Kau terlalu mengekangnya Cheng" Aan
"Aku tidak mengekangnya. hanya saja aku tidak mau kalau Xin sampai drop lagi"
"Kau berlebihan Cheng, santai lah" Sheng Li
"Hah, baiklah terserah kalian" ujarku memalingkan muka.
"Kenapa kau sangat takut kalau Xin ikut, dia sangat menyukai geme dan itu paman buat untuk Xin"
"Aku tahu tapi aku takut kalau ini yang terakhir kalinya kau melihat Xin aku sangat menyanyangi nya.
"Sudahlah itu tidak akan terjadi aku yakin paman tidak akan membiarkan wanita itu melukai Xin, aku akan membunuhnya kalau dia sampai menyentuh Xin" ucapku mencoba menyemangati nya.
"Apa yang kalian bicarakan?" Sheng Li mendudukkan bokongnya
"Tidak ada"
"CK kau tidak pandai berbohong Aan" kesalku
"Ini soal Wanita itu" jelasku
"Wanita itu sudah tidak bekerja di sana lagi paman memecatnya"
"Tetap saja"
"Mungkin kau benar Cheng, kau tenang saja pengawasan disana sangat ketat.
"Kuharap"
"Kau sudah siap Xin?"
"Sudah kak, kita berangkat" ucapku semangat.
"Semangat lah jangan membuatnya murung"
"......"
"Buat Xin bahagia" Sheng Li
"....."
"Aku sangat merindukan ayah! kuharap ayah menyukai nya" Xin
"Kita sudah sampai" Aan
"Cepatlah kak"
"Jangan berlari nanti kau terjatuh" peringat Cheng
"Ayah" teriakku memeluknya
"Kenapa kau datang mmm? memeluknya erat
"Aku bosan dirumah ayah" ucapku melihat teman setim ayah sibuk bekerja
"Ayah kapan siap?" Tampa mengalihkan pandanganku
"sudah siap"
"Benarkah? apa aku boleh mencobanya? antusias
"Paman Qian"
"Kalian datang dengan Xin?
"Iya paman" Aan
"Paman dimana Xin? Cheng
"Bermain geme"
"Aku akan menyusulnya" Cheng dan Aan serempak.
"Aku akan membunuhmu xin Qian! kau akan hancur ********, kau kan hancur sama seperti yang kurasakan kau akan hancur bahkan memilih mati"
"Kau di sini?
"Iya bibi ada apa?
"Tidak ada Xin,nkau harus fokus bermain jangan......
"Apa yang.....
"sakit..... bibi"
"Hah... aku sudah selesai jangan mengagu keluargaku lagi sialan" memutuskan sambungan.
"Maaf Xin tapi aku tidak mau kehilangan putriku maaf, maafkan aku"
"Xin" teriakku melihatnya bersimbah darah
"Bangunlah Xin, kumohon bangunlah Xin kumohon kau tidak boleh......meninggalkanku aku mencintaimu Xin" lirihku memeluk tubuhnya yang sudah mengujur kaku.
"Li dimana paman?
"Paman.......
"Dimana Paman dan Aan?
"Aan...! bangunlah lirihku melihat tubuhnya mengukur kaku.
"Kau tidak akan lolos ******, aku membunuhku kau harus mati.
"Kau mau kemana Li?"
"Melenyapkan yang seharusnya"
"Jangan gila Li teriakku menahan lengannya.
"Hah..., aku akan.membunuh wanita ****** itu****"
"Hah kau tenang saja aku tahu apa yang diinginkan wanita itu"
"Shion" panggilku mendekatinya.
"Cheng dimana Yangji?
"Belum pulang" jawabku
"Apa kau lapar?"
"Tidak Cheng aku ingin makan Ramen"
"Baiklah kau tunggu disini akan kau buatkan"
"Ano Cheng aku ingin Yangji yang memasaknya" menatapnya takut.
"Kau tunggu sebentar aku akan menelpon nya. ucapku tersenyum simpul melihatnya mengidam. aku akan benar benar membunuhmu Peng andai saja kalau bukan karena tugasmu sudah kuartet kau kesini"
"Li kapan kau datang? menatapnya tidak enak
"Sudah lama"
"Benarkah? tapi aku tidak melihatmu"
"Kau dimana?"
"Aku sudah dijalan kak, ada apa? menatap fokus ke jalanan"
"Belikan ramen"
"Tumben Kakak makan ramen? menyeritkan dahiku. tidak biasanya kakak makan makanan berlemak itu.
"Bukan aku. tapi Shion" jelasku.
"Shion-nee? apa Shion-nee mengidam? antusias
"Mungkin saja, kakak juga kurang yakin"
"Baik alah kau akan cepat pulang" memutuskan sambungan.
"Aku pulang" teriakku
"Kanapa kau sangat suka teriak?" kesalku
"Ini bukan rumahmu, kenapa kau disini?" ketus ku
"Ini juga bukan rumahmu"
"Kau...."
"Yangji!"
"Kakak"
"Dimana kakak?
"Di dapur"
"Kenapa kakak yang masak, biar aku saja" Yangji
"Kakak ada yang aku aku bicarakan" ucapku serius
"Nanti saja kita makan malam dulu"
"Baiklah"