
"Apa aku harus diam? hah hah hah.... mereka membunuh semua keluarga Kanagawa mereka membunuh nya bahkan kalau sedang mengandung mereka bunuh" mengingat semua keluarga tewas dengan cara yang sangat keji.
"Bersabarlah kau.....
"Aku yang akan melakukannya sendiri"
"Kau tahu Yuta mereka juga membunuh keluargaku tapi apa yang bisa kulakukan? tidak ada. Aku menuntut tapi apa kasus itu ditutup dan ******** itu bebas"
"Hah... kau tahu aku sangat benci diriku. Aku benci Setipa malam aku harus bermimpi melihat mereka membunuh keluargaku dan kau tahu, aku gila aku depresi karena itu. Tapi aku tidak bodoh, aku melakukan nya aku bisa. aku punya semua bukti dan kau tahu bukti itu ada, aku memilikinya. Hah tapi apa yang mereka katakan, kau pasti tahu kasus ditutup pihak keluarga tidak ingin mengungkapkan kasus itu. kau tahu siapa yang melakukannya? kau tahu siapa dibalik itu semua hah? tidak kau tidak tahu dan yang melakukannya atasanmu. Atasamu yang kau segani, atasan yang kau hormati. Tapi, aku salah, kau sangat salah, kau tidak mengenalnya, kau dibutakan kehormatan. apa dengan kekuasaan kau bisa membuat orang bungkam? tidak aku salah Kanagawa kau sangat salah kalau kau berpikir begitu, tidak semuanya bisa dan aku akan membutikan nya. mereka.... harus sengsara"
"Apa kau sudah selesai bicara Yuta?"
"Akan ku jelaskan! keluargaku tewas, apa kau pikir aku tidak tahu siapa yang membunuhnya kakakku mati keracunan, adikku semua organ tubuh nya hilang, ibuku mati dengan keadaan telanjang apa kau tahu siapa pelakunya? kakakku semua organ tubuhnya berserakan dan ayahku bahkan hanya kepalanya yang tinggal bahkan polisi menyelidiki kasus itu tapi kasus itu berhenti ditengah jalan aku punya bukti mereka lupa kalau ada cctv diruangkan itu. aku menyimpannya dan mimpi itu selalu datang aku seperti mayat hidup aku harus dirawat mereka lirik keluarga Kanagawa sudah tewas semua tapi aku hidup, aku masih hidup dan mereka membantuku keluarga itu, keluarga yang sudah membunuh keluargaku menolongku dan kau tahu aku tutup mulut. tidak seperti kau yang meraung-raung aku diam buakn karena aku bodoh tapi aku ingin merak hancur dari dalam" teriakku
"Hah.... jangan bercanda kau tetap bungkam dan kau menikmati apa yang sudah kau punya. Jangan salah aku tidak akan membiarkan Maslah ini lebih lanjut"
"Dengar aku baik baik Yuta-san ku benar, kau sangat benar, tapi kau tidak mengunakan pikiranmu apa kau pikir polisi akan melakukan. semua yang kau inginkan? tidak aku salah kau harus melakukan bagaimana mereka lakukan"
"Hah... apa yang akan kau lakukan?
"Tuan Qian Cheng yang akan membantuku"
"Dia lebih berkuasa"
"Hah kau pikir ini permainan saham? menatapnya remeh.
"Tentu saja kekuasan yang melindungi ******** itu dan aku akan melakukan hal yang mereka lakukan"
"Kau sangat yakin?"
"Aku sangat yakin"
"Jangan gegabah aku akan membantumu aku ingin ******** itu segera mati"
"Kau mau kemana?" melihatnya berkemas.
"Aku merindukan Shion-nee"
"Apa dia ada disini?"
Yangji menatap teman nya. "Tentu saja kakak sudah ada disini dia tinggal bersama kak Cheng"
"Kyaaay aku tidak sabar bertemu dengannya. kapan aku pergi? apa aku boleh ikut? aku sangat merindukan Shion-nee"
"Jangan menggangu nya" ucapku
"Kenapa? bilang saja kau tidak ingin mengajakku"
"Aku selalu bermanja-manja dengan kakak, kenapa aku harus iri?
"Janah ikut kalau begitu" melihatnya kesal membuatku tidak tahan untuk mengusilinya.
"Jangan dekat-dekat dengan ku" ketus ku.
"Baiklah aku akan pergi"
"Kau.... apa kau mau meninggalkan ku?"
"Tentu saja"
ihlu
"Tidak lucu"
"Aku tidak membuat lelucon" ucapku melajukan mobilku.
"Hah.... aku tidak marah aku kepala saja kau selalu menang dariku" memproutkan bibirku.
"Hah baiklah aku minta maaf kau tidak mau kan kalau Shin lebih memilih ku?" menatapnya jahil.
"Aku akan mengurungnya kalau begitu" ucapnya menggebu-gebu membuatku tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Hah aku hanya bercanda kalau dia meninggalkan aku akan membunuhnya" seringainku.
"Kau mau membunuhnya? kau sangat kejam Yangji" ucapku menatapnya tidak percaya.
"Kenapa? kau tidak ingin mmm?"
"Tentu saja aku tidak mau kalau Shin mati"
"Aku hanya bercanda jangan dibawa serius" ucapku mengacak rambutnya.
"Kau tidak akan melakukannya kan?" menatapnya intens.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya. tapi aku akan membunuhnya kalau dia menyakitimu"
"Syukurlah kulit kau akan membunuhnya"
"Panggil aku kakak" dengus ku
"Kita seumuran"
"Tidak aku lebih tua darimu An" dengus ku menahan kesal.
"Baiklah aku akan memanggil mu kakak"
"Bagus, turunlah kita sudah sampai" ucapku meninggalkan nya.